Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter I

Alarm baru berbunyi tapi Doyoung sudah rapi dan siap untuk berangkat kuliah pagi ini. Sengaja bangun lebih awal sebab ingin menghindari pembicaraan dengan kedua orang tuanya di meja makan. Karena Doyoung tahu, obrolan itu akan berujung dengan pertengkaran, meskipun hanya karena masalah kecil.

Semua penghuni rumah sudah paham betul kalau hubungan orang tua Doyoung seharusnya diakhiri sejak jauh-jauh hari, tapi di antara mereka tidak ada yang ingin mengajukan gugatan terlebih dahulu. Itu sama saja seperti kalah di perang sengit yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Membuat Doyoung sebagai anak tunggal mereka muak karena di rumah yang sebesar ini, tidak lagi diisi cinta di dalamnya.

Doyoung bersenandung pelan sambil menyapa beberapa pegawai di rumahnya, tentu disertai senyum manis yang bisa memikat hati siapa saja. Ini bahkan belum jam enam pagi, dan lagi-lagi ia berhasil mendahului orang tuanya yang hendak sarapan di meja makan.

"Aku jalan Ma." Pamit Doyoung saat melihat Ibunya keluar dari kamar, meski hanya terdengar sebagai formalitas karena tidak mendapat jawaban apapun setelahnya.

Doyoung duduk di kursi belakang kemudi, menarik napas panjang sebelum akhirnya menyalakan mesin dan menginjak gas menuju kampus. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya dua puluh menit jika tidak ada kemacetan yang berarti.

Tapi ia menghabiskan hampir satu jam di perjalanan, mengendarai mobil dengan pelan dan tak jarang mendapat klakson kesal pengguna jalan lain, padahal Doyoung hanya ingin menghabiskan paginya dengan tenang.

Tangan kanan Doyoung sibuk mencatat apa yang dijelaskan oleh dosen di depan kelas, tidak menghiraukan ocehan teman-temannya yang sejak tadi justru berbicara di jejeran kursi paling belakang.

"Nanti malem ikut kan?" Doyoung mengangguk, membuat temannya yang lain bersorak kegirangan.

Siapa yang tidak senang jika donatur tetap mereka ikut hadir ke pertemuan yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan. Tapi tidak apa, lebih baik daripada harus berdiam diri di rumah yang selalu terasa seperti neraka.

Lebih baik ia merelakan sedikit uang untuk teman-temannya, menghabiskan banyak waktu di luar rumah meski tidak paham dengan apapun yang mereka bicarakan.

Setidaknya itu berhasil membuat Doyoung membuang jauh pikiran soal keadaan orang tuanya, ia memiliki banyak teman di sana-sini, ramah kepada semua orang, dijuluki mahasiswa paling sopan karena selain bergaul dengan mahasiswa lain, Doyoung juga tidak jarang membantu dosen yang membutuhkan.

Kim Doyoung terlalu sempurna di mata semua orang.

Berbagai ocehan tidak penting terus keluar dari mulut teman-temannya, Doyoung hanya menanggapi dengan senyum tipis atau tawa yang terdengar dipaksa. Kalau boleh jujur ia sudah sejak tadi menahan kantuk, biasanya Doyoung tidur sebelum jam sepuluh agar dapat bangun pagi keesokan harinya, dan ini hampir jam sebelas tapi obrolan mereka masih belum menunjukkan tanda akan selesai.

"Kim Do, sini lah di tengah masa mojok aja lo kayak botol kosong." Lagi-lagi Doyoung tertawa, ia menggeser tubuh untuk lebih dekat dengan teman-temannya.

"Nih minum." Ucap salah satu temannya sambil menyodorkan gelas berisi bir yang Doyoung beli.

Doyoung pun menggeleng. "Gue bawa mobil." Ucapnya kemudian.

"Dikit doang gak akan ngaruh kali?" Penolakan tidak pernah ada di kamus Doyoung, ia akan selalu berusaha membuat teman-temannya senang jika berada di dekatnya.

Sebuah kebiasaan buruk tapi Doyoung bisa apa untuk menghentikan itu semua, sejak kecil ia memang dituntut untuk terus memprioritaskan kebahagiaan orang lain jauh di atasnya.

Setelah menenggak minuman yang temannya berikan, Doyoung melirik jam dan mulai mencari alasan agar ia dapat pulang terlebih dahulu. Beruntung karena tidak ada yang bertanya lebih jauh, membuat laki-laki berambut merah itu dengan cepat berjalan ke arah basemen, menuju mobil yang ia parkir di sana.

Doyoung memijit keningnya pelan, efek alkohol yang hanya satu tegukan itu berhasil membuat kepalanya pening. Ia sedikit menyesal karena tidak membeli minuman lain malam ini. Jarak dari tempat berkumpul teman-temannya menuju rumah tidak begitu jauh, sekitar lima belas menit jika Doyoung mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal.

Ia melirik jam, belum genap pukul sebelas, orang tuanya pasti sudah tertidur sekarang. Doyoung akhirnya menginjak gas dan mulai bergerak pulang. Dirinya beruntung karena jalanan cukup lengang, membuatnya bebas mengendarai mobil dengan pelan di tengah jalan.

Tapi keberuntungannya tidak sebesar itu, tepat di pintu masuk perumahan tiba-tiba ban mobilnya pecah. Masih dengan kepala yang berputar ia keluar untuk memeriksa keadaan, tidak ada satu orang pun di sini, bahkan satpam yang berjaga juga tidak berada di tempat. Membuat Doyoung mau tidak mau meninggalkan mobilnya begitu saja dan berjalan kaki menuju rumah.

Doyoung memeriksa ponsel yang ada di sakunya, ternyata salah satu pekerja yang ada di rumah mengirim pesan dan berkata bahwa lagi-lagi orang tuanya bertengkar hebat malam ini, membuat beberapa barang yang ada di rumah hancur berantakan.

Dengan langkah gontai Doyoung berjalan menuju taman yang ada di area perumahan, duduk di atas salah satu ayunan sambil menatap langit gelap yang bahkan tidak menampakkan bintang sama sekali.

Entah sudah berapa kali ia menghembuskan napas berat hari ini, berharap beban yang bertahun-tahun ada di pundak ikut menghilang bersamanya. Tapi kenyataannya beban yang ia tanggung justru bertambah tiap hari.

Dan Doyoung dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya, laki-laki dengan rambut hampir menutupi seluruh matanya itu membuat Doyoung terperanjat dari lamunannya.

"Berat ya?"

Doyoung kebingungan atas kalimat yang laki-laki itu ucapkan. "Lo ngomong sama gue?" Doyoung balik bertanya.

"Ya iya kan di sini cuma ada lo."

Masih dengan ekspresi kebingungan Doyoung memeriksa jam yang ada di pergelangan tangan, pukul sebelas lewat sebelas, dirinya pikir hanya ia yang cukup gila karena berada di tengah taman yang minim cahaya malam ini.

"Maksudnya?"

"Hidup lo, berat ya?"

Doyoung tertawa miris, tidak tahu harus menjawab apa. Di mata orang lain hidup Doyoung adalah idaman mereka semua, teman-temannya bahkan berlomba-lomba agar bisa merasakan hidupnya saat ini.

"Biasa aja." Jawab Doyoung pada akhirnya.

"Mata lo gak bisa bohong."

Kali ini tawa Doyoung lumayan keras, ia kembali menatap laki-laki yang ada di sampingnya. "Lo bahkan gak bisa liat muka gue dengan jelas, tapi malah ngomong gitu." Balasnya lagi.

"Gak perlu mata jernih buat liat aura negatif yang terpancar dari badan lo."

Tubuh Doyoung yang semula berayun seketika berhenti, angin yang berhembus sedikit berbeda dari biasanya, jauh lebih dingin dan berhasil membuatnya merinding.

"Lo, manusia kan?" Kali ini giliran Doyoung yang bertanya.

Pertanyaan aneh tersebut langsung dibalas dengan gelak tawa manusia yang ada di sampingnya. "Kenapa? Gue mirip setan ya?"

Netra Doyoung melirik ke bawah, ia bernapas lega saat melihat kaki laki-laki yang ada di sampingnya ternyata menapak tanah.

"Watanabe Haruto." Lanjut laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.

Dengan ragu Doyoung menyambar uluran tangannya. "Kim Doyoung." Balasnya pelan.



















...

udah ada yang bisa nebak belum genrenya apa... btw pendek banget ya sorry :( seperti biasa update tiap hari kecuali hari kiamat ok

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com