Chapter IV
Tepat pukul sebelas malam, alarm yang ada di ponsel Doyoung kembali berbunyi. Membuat pemiliknya yang tidur sejak sore tadi kembali bangun dan bersiap untuk pergi ke taman yang ada di ujung perumahan.
Samar-samar telinganya menangkap pembicaraan orang tuanya dari luar, dan malam ini ternyata keduanya kembali bertengkar, membuat Doyoung bingung bagaimana caranya keluar dan melewati pertikaian yang sepertinya tidak akan selesai dalam waktu sebentar.
Setelah memakai jaket tebal yang sangat jarang ia gunakan, Doyoung akhirnya membuka jendela yang menghadap langsung dengan taman depan rumahnya. Untungnya tidak ada jarak tinggi di antara keduanya, membuat ia lebih mudah menyelinap keluar dari celah sempit di sana.
Doyoung melirik jam yang selalu ia gunakan di tangan kiri, lagi-lagi tepat pukul sebelas lewat sebelas, ia berjalan santai karena tidak ingin terlihat begitu terburu-buru ingin menghampiri Haruto.
Keduanya sudah berjanji untuk kembali bertemu malam ini, setelah pukul sebelas malam di tempat pertama dan kedua pertemuan mereka. Dan netra Doyoung kembali menangkap sosok orang yang mulai hari ini ia yakini untuk menampung semua cerita soal hidupnya.
Haruto yang sedang duduk di atas ayunan besi langsung melambaikan tangan begitu melihat Doyoung di pintu masuk taman, membuat laki-laki manis itu tanpa sadar tersenyum dan sedikit berlari ke arahnya.
"Udah lama nunggu?" Tanya Doyoung, Haruto refleks menggeleng.
"Nggak, baru aja dateng."
Doyoung akhirnya duduk di kursi yang ada di hadapan Haruto, ayunan besi itu mulai bergerak perlahan karena beban yang ada di kedua sisinya.
"Nah gitu dong pake jaket, lo kan jadinya gak bakal masuk angin." Ucap Haruto sambil menunjuk pakaian yang Doyoung kenakan.
"Kemarin-kemarin kan kesininya dadakan, gue mana sempet nyiapin jaket." Balas Doyoung, ia merapatkan jaketnya karena udara dingin yang terus berhembus sejak tadi.
"Oh berarti sekarang well prepared nih ya?"
Tanpa sadar Doyoung mengamati sosok laki-laki di hadapannya, rambut hitam legam yang cukup panjang bahkan hampir menutupi seluruh matanya, tinggi badan yang Doyoung yakin pasti jauh dibanding dirinya, serta setelan pakaian tidur yang selalu membalut tubuhnya.
"Gue baru paham kenapa lo marah kalo gue liatin segitunya."
Mata Doyoung berkedip berulang kali, berusaha mengumpulkan kesadaran atas lamunan singkatnya barusan. "Sorry kalo gak sopan, gue cuma berusaha buat gak ngelupain muka lo aja."
Haruto tertawa, kepalanya tertunduk karena entah kenapa ia merasa malu ketika mendengar kalimat Doyoung.
"Kenapa?" Tanya Doyoung heran, di dua pertemuan sebelumnya Haruto tidak pernah tertawa sekeras ini.
Kepala laki-laki itu menggeleng. "Nggak, gapapa." Setelah mengatur napas ia kembali menatap Doyoung yang masih terlihat bingung di hadapannya. "Gimana? Sekarang udah mau cerita?" Lanjutnya lagi.
Kali ini giliran Doyoung yang menghembuskan napas berat lalu menyandarkan tubuhnya ke bagian belakang kursi. "Gue bingung harus mulai dari mana."
Tangan Haruto terulur untuk menyambar tiang penyangga, berusaha membuat ayunan kembali bergerak pelan. "Ya dari awal boleh, malam kita masih panjang dan gue siap luangin waktu cuma buat denger semua cerita lo."
Doyoung menutup mata, berusaha mengingat awal dari semua masalah di rumahnya. Tanpa sadar ia tersenyum karena beberapa memori indah yang terlintas di pikiran. "Awalnya keluarga gue baik-baik aja, meskipun orang tua gue sibuk kerja dua-duanya tapi mereka selalu nyempetin diri buat nemuin gue, ngajak gue ngobrol, bahkan makan malam bareng di meja makan tuh gak pernah ketinggalan..."
Haruto diam, manik hitamnya menatap Doyoung yang masih bertahan di posisinya, seakan mempersilakan laki-laki manis itu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kayaknya sejak gue SMP deh, mereka mulai suka ribut. Ribut kecil tapi lama, lo paham gak rasanya tinggal satu rumah tapi kayak nggak ada orang di dalamnya? Kayak gitu. Rumah gue berasa kosong sejak itu, padahal orang tua gue gak kemana-mana. Tapi gue bisa apa, bener apa yang lo bilang kalo di rumah, gue gak pernah diajarin buat menyelesaikan masalah. Kayak misalnya nih hari ini mereka ribut besar, terus gak ada usaha buat baikan sama sekali dan beberapa hari kemudian masalahnya menguap gitu aja, gak ada solusinya. Udah hampir delapan tahun, bayangin tuh masalah senumpuk apa."
Dari tempatnya Haruto dapat melihat air mata yang mengalir dari ujung mata Doyoung, tangannya bergerak hendak menghapus air mata tersebut, tapi gerakannya berhenti karena ia sadar kalau mereka belum sedekat itu sekarang.
Haruto menarik tangannya sendiri saat melihat Doyoung membuka mata. Laki-laki bersurai cokelat itu menghapus air matanya sendiri dengan kasar, ia mendengus lalu melempar senyum manis ke Haruto. "Gitu doang masalah gue, gak berat kan?"
Kedua sisi bibir Haruto terangkat untuk membalas senyuman Doyoung. "Lo gak boleh ngomong gitu, it's okay not to be okay Doyoung, lo gak perlu buat excuse dan bilang kalo masalah lo gak berat, orang lain belum tentu bisa bertahan kalo mereka ada di posisi lo sekarang."
"Lo mahasiswa psikologi ya? Kok kayaknya paham banget soal ginian?"
Haruto lagi-lagi tertawa, dan Doyoung mulai merasakan perasaan nyaman karena reaksi yang ia buat jauh di luar ekspektasinya, biasanya orang akan berkata bahwa luka yang Doyoung rasakan tidak ada apa-apanya dibanding luka milik mereka.
"Gak butuh belajar psikologi buat kasih comfort ke orang lain, cukup memposisikan diri sebagai lawan bicara aja, kalo gue sih yakin banget gak akan bisa bertahan di tempat lo. Lulus SMA gue langsung kabur kali ke Arab biar gak ketemu mereka."
"Kenapa harus Arab?"
"Ya kalo Bandung kedeketan, ntar posisi gue dilacak terus dijemput deh, males banget kalo gitu mah percuma gue kabur."
Tawa keras Doyoung menguar di taman yang sepi, Haruto bahkan harus mencubit paha laki-laki itu agar ia diam karena ini sudah lewat tengah malam, orang sekitar pasti terganggu atau takut jika mendengar tawa jelek miliknya.
"Sakit?!" Protes Doyoung.
"Ya lo ketawa gede banget, ntar disangka setan gimana?"
Doyoung berdecak kesal dan kemudian kembali tertawa kecil saat mengingat kalimat Haruto sebelumnya.
"Menurut lo, gue harus gimana? Punya saran solusi gak?"
Haruto menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Doyoung. "Gue yakin lo pasti udah nyoba berbagai cara tapi gak berhasil kan? Delapan tahun, orang sepinter lo pasti gak akan diem aja selama itu."
Kali ini Doyoung mengangguk, setuju atas semua ucapan Haruto. "Tapi gak ada yang berhasil." Cicitnya pelan.
"Gapapa, lo udah berusaha aja tuh udah bagus, gak ada tindakan yang sia-sia di dunia ini."
"Oke jadi menurut dokter saya harus gimana ya? Kalo saran yang dokter kasih gak berhasil, saya percuma dong cerita panjang lebar?"
Haruto memperbaiki postur tubuhnya, kali ini ia duduk tegak di kursi ayunan, tangan kanannya bergerak untuk menarik kedua tangan Doyoung untuk dibawa masuk ke dalam genggaman. "Saran saya, mending kamu cari pacar buat jadi tempat bersandar."
"Apaan saran jelek kayak gitu mah anak SMP juga bisa ngasih." Protes Doyoung, tapi ia membiarkan Haruto terus menggenggam tangannya dengan lembut.
Lagi-lagi Haruto tertawa, tanpa sadar keduanya mulai nyaman dengan kehadiran satu sama lain, meskipun ini adalah pertemuan ketiga mereka, mereka tidak lagi canggung atau saling melempar tuduhan seperti kali pertama. Manik hitam Haruto memandang lurus ke wajah manis Doyoung yang tersenyum di hadapan. Kedua tangan Doyoung yang terasa dingin kini mulai menghangat karena usapan pelan yang ia berikan.
"Lo tau gak, semua orang tua selalu bilang kalo anak adalah alasan untuk bertahan di hubungan gak sehat yang mereka sendiri jalanin. Padahal kenyataannya gak gitu, dan mau sekuat apapun usaha lo buat bikin mereka akur kayak dulu, kalo dari diri mereka sendiri gak ada keinginan buat baikan, ya itu gak akan kejadian. Jadi, dibanding cari cara buat bikin mereka berubah, lebih baik lo cari orang lain yang bisa bikin lo bertahan, jadiin alesan mereka buat bikin lo makin kuat tiap harinya." Ucap Haruto panjang lebar.
"Gue gak gampang percaya sama orang lain." Sanggah Doyoung pelan.
"Tapi faktanya lo malah duduk di sini dan ceritain semua masalah di depan orang yang baru dua kali lo temuin."
"Kan kemarin lo sendiri yang bilang kalo lebih baik cerita sama orang asing?"
"Point nya bukan itu, Doyoung."
"Terus?"
"Lo gak boleh terus-terusan underestimate sama orang di sekitar lo, gue yakin banyak di antara mereka yang siap buat jadi temen lo beneran, dan siapa tau bonus jadi pacar kan?"
"Kenapa harus mereka? Kan ada lo, lo gak mau jadi orang itu?'
Haruto hendak melepas pegangan di tangan Doyoung, tapi Doyoung justru menggenggam tangannya dengan kuat, menahan laki-laki itu untuk diam di tempat dan menjawab pertanyaannya.
"Lo gak tau gue orangnya gimana, siapa tau gue orang jahat yang niat nyulik lo terus jual organ tubuh lo ke pasar gelap?"
Tubuh Doyoung bergerak maju, ia menatap lekat wajah Haruto yang tidak menunjukan emosi sama sekali. Sejak pertemuan pertama mereka, Doyoung tidak pernah berhasil membaca raut lawan bicaranya sekalipun.
"Yaudah, sekarang gantian lo yang cerita soal diri lo dan semua masalah yang lo tanggung. Siapa tau gue bisa ngasih modal buat bisnis ilegal lo itu?" Ucap Doyoung pada akhirnya.
Haruto mengangkat tangannya untuk ia bawa ke depan mulut, ia mengecup bagian belakang tangan Doyoung sebelum kemudian kembali menatap Doyoung yang wajahnya mulai memerah. "Besok, besok kita ketemu lagi di sini dan gue bakal ceritain semuanya."
...
ayoo siapa yang udah bisa nebak sebenernya Haruto nih apa ya...
btw btw sorry oot aku mau nanya dikit, kalian udah siap sedih belum? kalo udah aku mau drop what if imaji yang udah lama ada di draft wkwk, kalo belum gapapa nanti aku drop bonchap ethereal aja hehe.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com