Chapter XII
Haruto bohong soal bagaimana cara ia membayar biaya rumah sakit, sedikit bersyukur karena harus mengelabui Ibunya perihal alasan kepergian dia tengah malam. Bermodalkan uang yang seharusnya ia pakai untuk bekal selama satu bulan ke depan, Haruto berhasil membuat kepala Doyoung diobati dan mendapat empat jahitan.
"Terus sekarang gimana?" Tanya Doyoung, kini mereka berjalan beriringan ke tempat parkir yang ada di depan gedung, tangan Doyoung tidak berhenti mengusap perban yang menutupi sebagian kecil belakang kepalanya.
"Balik sono, ngajak ketemuan malah bikin repot orang aja." Canda Haruto, Doyoung merengut lalu mendorong lengan Haruto.
"Lo tega? Kalo balik nih bisa-bisa bukan kepala gue doang yang luka."
"Loh terus maunya gimana? Lo mau ikut gue balik?" Pertanyaan Haruto membuat Doyoung ikut berpikir, ini masih jauh dari pagi hari dan ia tidak mungkin pulang saat orang tuanya masih ada di rumah.
"Ntar marah-marah lagi kalo beneran gue bawa balik, lo kan hobinya marah." Goda Haruto lagi, Doyoung berdecak kesal lalu mempercepat langkahnya.
Membuat Haruto harus sedikit berlari untuk menyusul Doyoung yang hampir sampai ke tempat parkir. "Jangan cepet-cepet, lo gak pusing apa? Kepala lo gak sakit?"
Doyoung menggeleng, ia menatap Haruto yang merangkulnya dari samping. "Kata dokter nanti berasa sakit dikit kalo pengaruh biusnya habis."
"Sekarang belum habis?"
"Belum, tapi nanti kalo sakit banget disuruh minum obat yang dikasih."
Haruto mengangguk paham, kini mereka sampai di tempat parkir yang gelap karena penerangan seadanya. "Jadinya gimana? Mau gue anterin balik ke rumah atau ke rumah gue?"
"Emang boleh ke rumah lo?"
"Boleh, nanti gue kenalin sama nyokap."
"Udah jam segini?"
"Ya kenalannya pagi-pagi, lo istirahat dulu di kamar gue."
"Ngerepotin gak?"
"Ngerepotin lah! Tapi gimana lagi emangnya lo mau pulang terus ketemu monster penunggu rumah lo itu?"
Doyoung tertawa, ia memandang Haruto yang sibuk memakai helm bogo berwarna cokelat tua di kepalanya. "Yaudah, gue suka bikin lo repot."
Haruto naik ke atas motor, kemudian menepuk jok kosong yang ada di belakangnya. "Naik, kita meluncur ke kediaman indah keluarga Watanabe." Ucapan Haruto lagi-lagi membuat Doyoung tidak dapat menahan tawa.
"Bawa motornya yang bener ya pak?"
"Siap sayang, tapi tolong pegangan dulu, soalnya aku gak mau bikin kepala kamu bocor lagi."
Haruto meringis saat Doyoung memukul punggungnya, tapi saat ia mendengar tawa khas Doyoung yang padahal terdengar sangat menyebalkan itu, senyuman lebar tersungging di wajahnya.
Motor matic Haruto mulai meninggalkan area klinik, membelah jalanan sepi pinggir kota pada pukul dua pagi. Ponsel Haruto juga tidak berhenti berdering sejak tadi, ia tahu Ibunya khawatir setengah mati. Tapi Haruto yakin, Ibunya akan senang saat melihat sosok yang sangat menyerupai adiknya tiba-tiba ia bawa ke rumah malam ini.
***
Doyoung bingung dengan sambutan hangat yang Ibu Haruto berikan begitu beliau melihat wajahnya di depan pintu, wanita paruh baya itu bahkan tidak segan untuk memeluk tubuh Doyoung yang sedikit bergetar karena terkena angin malam.
"Mirip adek ya Bu?" Tanya Haruto, Ibunya mengangguk lalu melempar senyum teduhnya.
"Ini yang bikin kamu keluar tiap malem, Kak?"
"Iya, tapi Ibu gak percaya sama aku."
"Ketemu di mana kak yang modelnya begini?"
Ternyata hobi Haruto yang asal ceplos saat bicara itu keturunan dari Ibunya.
"Di taman komplek orang kaya itu, Bu. Yang lagi Ibu peluk tuh harta orang tuanya gak bakal habis meskipun dipake judi slot bertahun-tahun."
Ibu Haruto menuntun Doyoung untuk duduk di sofa ruang tamu, ia kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan berbagai macam makanan yang tersedia di sana. "Makan ya, nak? Nanti baru istirahat di kamar kakak."
Doyoung mengangguk canggung, tapi tangannya bergerak ke arah cemilan yang ada di atas meja. "Makasih tante."
"Ibu, panggil Ibu aja."
"Oh.. iya, makasih Bu."
Haruto tertawa melihat Ibunya yang tidak berhenti tersenyum saat menatap sosok Doyoung yang memang sangat mirip dengan mendiang adiknya. "Calon mantu tuh Bu, jangan diadopsi jadi anak."
Netra Doyoung membulat mendengar ucapan asal yang keluar dari mulut Haruto, ia bahkan menyempatkan diri untuk menendang kaki Haruto yang sedang duduk di sampingnya.
"Loh kok ngatur? Itu terserah Doyoung dia mau jadi anak Ibu atau pasangan orang gak jelas kayak kamu, tapi kamu pasti lebih pilih yang pertama kan, nak?" Pertanyaan Ibu Haruto membuat Doyoung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jangan mau sama Ruto, dia jarang mandi." Lanjut Ibu Haruto lagi.
"Dih asal banget, Bu, Jangan gitu lah aku kan mau branding di depan calon, sana Ibu masuk terus tidur lagi, udah jam berapa ini nanti Ibu telat bangunin Bapak berangkat kerja."
Ibu Haruto akhirnya pamit untuk kembali masuk ke kamar, meninggalkan Doyoung dan Haruto yang masih sibuk menghabiskan cemilan di ruang tamu.
Kediaman keluarga Haruto tidak terlalu besar, rumah dua lantai yang terasa hangat karena diisi dengan banyak foto keluarga di ruang tamu. Doyoung tersenyum karena ia dapat merasakan kehangatan itu di hari pertama kedatangannya.
"Lo laper? Mau gue ambilin nasi aja? Kayaknya masih ada sisa lauk deh."
"Nggak, gak usah. Ini gue gak enak sama nyokap lo makanya gak berhenti makanin cemilan yang dikasih."
Haruto mengangguk paham kemudian melirik jam yang menggantung di sisi ruangan. "Hampir pagi, lo mau istirahat sekarang? Kepala lo udah berasa sakitnya?"
Doyoung mulai menunduk, beberapa jam yang lalu ia merasa ketakutan saat melihat Ayahnya tidak berhenti melempar barang agar ia tidak pergi kemana-mana, dan tidak lama kemudian ia menyaksikan potret keluarga yang jauh berbeda dengan apa yang ia punya.
Tidak, tidak sepatutnya Doyoung iri karena ia yakin, orang seperti Haruto memang pantas memiliki keluarga yang seharmonis ini.
"Doyoung, lo nangis?" Haruto berjongkok di depan Doyoung yang duduk di sofa, memandang wajah lawan bicaranya yang memerah karena menahan air mata.
"Kenapa? Kepala lo sakit lagi ya?" Doyoung menggeleng, ia berusaha mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan Haruto yang menatapnya penuh khawatir.
"Gue ngantuk." Ucap Doyoung singkat sembari mengusap wajahnya.
Haruto bangkit lalu menarik tangan Doyoung untuk bangun dari posisinya. "Ayo tidur, sekalian ganti baju, itu kerah belakang piyama lo ada darahnya dikit."
Keduanya berjalan menuju kamar Haruto yang ada di lantai dua, kamar satu-satunya yang tersedia di sana.
Ternyata Haruto benar, kamar ini jauh lebih kecil dibanding miliknya. Netra Doyoung mengedar ke seluruh kamar, meja belajar lengkap dengan kursi yang ada di pojok ruangan, lemari kecil yang pintunya dipenuhi stiker, dan kasur tanpa dipan berukuran kecil yang sedang Doyoung duduki.
Tidak ada barang selain ini, bahkan kamar mandi pun terpisah di luar ruangan.
"Pake ini, kegedean sih tapi itu kaos paling kecil yang gue punya." Ucap Haruto, menyodorkan kaos yang berukuran cukup besar ke arahnya. "Ganti di sini aja, gue keluar dulu. Kalo udah selesai panggil gue ya."
Doyoung sudah selesai berganti pakaian, Haruto menggelar kasur kecil yang ia bawa dari kamar Ibunya lalu menggelar kasur itu tepat di sebelah kasur yang Doyoung tempati.
"Mau diganti gak bantalnya? Kepala lo beneran udah gak sakit?" Doyoung yang sedang tidur menyamping itu menggeleng pelan, matanya mulai tertutup karena kantuk yang menyerang.
"Lampunya mau dimatiin atau begini aja?" Tanya Haruto lagi.
"Terserah lo aja, tapi biasanya gue cuma pake lampu tidur."
"Yaudah gue matiin ya, tapi lo jangan ngapa-ngapain gue pas lampu mati." Doyoung tertawa, ia mengangguk samar sebelum matanya tertutup sempurna.
Haruto tersenyum, mengusap lembut pipi Doyoung dan kemudian bangkit untuk mematikan lampu. Ia berbaring menyamping di atas kasur lantai yang entah sudah berapa tahun tidak pernah digunakan, memandang wajah Doyoung yang terlihat samar karena minim penerangan.
Ia menyempatkan diri untuk membisikkan kalimat selamat tidur ke arah Doyoung sebelum matanya ikut terpejam di sebelahnya.
...
dua chapter sebelum tamat guyssss tapi gak tau juga sih kalo ada mood uwu uwu nanti paling ditambahin lagi, atau nambah konflik aja apa biar makin seru ya?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com