Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Part II

Perusahaan milik keluarga Junghwan merupakan perusahaan iklan yang bertahan selama puluhan tahun terlepas dari perbedaan generasi, itulah alasan mengapa ayahnya pernah memohon keras pada Junghwan untuk meneruskan warisan sebab selain karyawan, perusahaan juga butuh atasan yang berkembang.

Sebelum mempunyai gelar serta jabatan yang ada di belakang namanya, Junghwan sempat kuliah di bidang berbeda yang sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang keluarganya.

Kepergian Doyoung yang membuat Junghwan berubah, karena orang gila mana yang tahan untuk terus ada di lingkungan yang sama namun tanpa penopang di sampingnya?

"Ini berkas yang bapak minta." Ucap Jaehyun sambil menyerahkan tumpukan kertas ke atas meja Junghwan.

"Karyawan baru mulai kerja hari ini, kan?" Tanya Junghwan, sekertaris pribadinya mengangguk pelan.

"Tapi belum tanda tangan kontrak karena katanya, bapak sendiri yang mau ngomong sama dia?" Kali ini giliran Junghwan yang mengangguk, ia melirik ke arah jendela dan melihat sosok familiar yang berdiri tenang di sana.

"Suruh dia masuk." 

Jaehyun membungkuk sebelum keluar dari ruangan, bicara sebentar dengan Doyoung sebelum membuka pintu dan mempersilakannya untuk bertemu Junghwan.

Doyoung tersenyum, senyumnya sama dengan yang ia tunjukkan terakhir kali. Senyuman formal yang di tiap sentinya bagaikan pisau yang menembus jantung Junghwan.

Bagaimana ia bisa tersenyum secerah itu seolah tidak ada hal buruk yang pernah terjadi di antara mereka?

"Pak So?" Panggil Doyoung, sebab Junghwan hanya diam sejak ia masuk ke dalam ruangan.

Junghwan mengerjapkan mata, menarik napas panjang lalu menyerahkan amplop cokelat yang sudah ia siapkan. "Baca, itu kontrak kamu." Perintahnya.

Masih dengan senyum lebarnya, Doyoung menarik kertas dari dalam amplop. Netranya memindai kata demi kata yang ada di sana, dan ia sekuat tenaga menahan diri untuk tidak tertawa di hadapan bos barunya.

Isi kontraknya sangat tidak masuk akal; Doyoung harus menuruti segala perintah Junghwan bahkan saat bukan di jam kerja, namun ia juga harus menyelesaikan semua pekerjaan yang diemban bersama karyawan satu divisinya. Jika Doyoung menolak, ia harus membayar denda, namun jika Doyoung menerima dan ingin berhenti di tengah jalan, ia juga wajib membayarnya dua kali lipat.

"Kalau saya ancam bapak buat laporin ini ke media, bapak berani bayar berapa?" Tanya Doyoung diiringi tawa, Junghwan hanya menatapnya sebab ia tahu kalau Doyoung tidak akan bertindak sejauh itu.

"Saya bercanda. Jadi, saya cuma harus tanda tangan di sini, kan?" Tanya Doyoung sambil menunjuk bagian kiri bawah kertas.

"Gak ada yang mau kamu tanya soal kontrak itu?" Junghwan balik bertanya, dan Doyoung menggeleng pelan.

"Bapak udah effort ketik kontrak khusus buat saya, saya gak mau ngerepotin lagi." Jawab Doyoung, ia meraih salah satu pulpen dari atas meja Junghwan, menandatangani kontrak karyawan yang lebih mirip kontrak budak, lalu memasukannya kembali ke dalam amplop.

"Hari ini hari pertama saya kerja, mohon bantuannya." Ucap Doyoung seraya membungkuk dan tersenyum formal.

Setelah Junghwan balas seadanya, Doyoung berpamitan dan langsung keluar tanpa Junghwan sempat bicara. 

Meski sempat mengira bahwa Doyoung akan langsung pergi dan tidak memedulikan kontrak yang dirinya buat dengan penuh dendam, Junghwan tetap bersyukur karena Doyoung sebodoh itu untuk mempercayakan perusahaan yang ada di bawah kepemimpinannya langsung.

Ini memudahkan Junghwan untuk melancarkan aksi balas dendamnya.

***

Siksaan dari Junghwan tentu tidak langsung dimulai di hari pertama, ia membiarkan Doyoung berkenalan serta sedikit beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya selama satu minggu. 

Di minggu kedua, Junghwan juga memulai dengan hal-hal ringan seperti memerintahkan Doyoung bekerja hingga larut malam, meminta karyawan satu divisinya untuk mengerjakan yang lain dan meninggalkan Doyoung sendirian bersama tanggung jawab yang sebenarnya tidak terlalu penting, Junghwan juga tidak sebodoh itu untuk merelakan reputasi perusahaan hanya untuk balas dendam.

Pada minggu ketiga, Doyoung sudah terbiasa.

"Kita makan siang dulu, baru lo lanjut kerja lagi, masa sendirian di kantor terus gini sih?" Ucap Sunoo, salah satu teman satu divisi Doyoung. Ia yang pertama mendekatkan diri karena mereka seumuran.

Kebanyakan karyawan di divisi marketing adalah orang tua yang sudah bekerja sejak kepemimpinan ayah Junghwan.

"Gapapa, nanti gue nyusul." 

Belum sempat Sunoo menjawab, suara deringan telepon menginterupsi obrolan mereka, Doyoung langsung meraih gagangnya, dan nyaris tertawa saat mendengar suara yang sangat familiar dari ujung panggilan.

"Ke ruangan saya, sekarang." Perintah Junghwan, Doyoung menyanggupi seperti biasa, berpamitan sebentar pada Sunoo lalu berlari menuju lift di ujung koridor.

Ia disambut oleh Jaehyun yang langsung menyuruhnya masuk karena Junghwan sudah menunggu di dalam.

"Kamu tau restoran steak yang ada di seberang jalan?" Tanya Junghwan tepat setelah Doyoung menutup pintu ruangan, ia sama sekali tidak melepas fokus pada layar komputer di depan.

"Tau, kenapa? Bapak mau saya beliin steak dari sana?" Doyoung balik bertanya karena ia tahu ke mana arah pembicaraan atasannya.

Junghwan mengangguk sebelum melempar kartu ke arahnya, "Beli steak yang paling mahal, tingkat kematangannya harus medium."

"Terus kalau salah, saya harus balik lagi?" Tebak Doyoung, dan Junghwan kembali mengangguk.

"Beli dua porsi." Ucap Junghwan, tepat sebelum Doyoung beranjak dari tempatnya.

Doyoung mengangguk paham, ia berjalan keluar dari ruangan menuju restoran yang diminta Junghwan. Ini adalah kali pertama ia diutus keluar, sebelumnya perintah Junghwan terbatas di area perusahaan.

"Gak makan siang?" Tegur Jaehyun ketika Doyoung melewati meja kerjanya.

"Gak laper, kamu?"

Jaehyun menggeleng, "Hari ini pak Junghwan nyuruh saya pulang cepet karena katanya ada janji."

"Janji apa?"

"Entah, tapi kayaknya kencan buta yang sering diatur sama keluarganya."

Sisa perjalanan menuju restoran yang Junghwan minta kini lebih berat dibanding biasanya, karena Doyoung sibuk memikirkan kalimat Jaehyun.

Delapan tahun mereka tidak bertemu, kemungkinan Junghwan memiliki kekasih baru sudah jelas lebih besar dibanding kemungkinan perasaannya pada Doyoung masih ada.

Butuh waktu hampir satu jam bagi Doyoung untuk mengantre, dan selama itu ia berdiri karena kursi tunggu terisi penuh oleh calon pembeli yang menunggu giliran.

Ia menghela napas berat begitu masuk ke dalam lift, berusaha mengeluarkan beban yang tidak kunjung hilang, efek pembicaraannya dengan sekertaris pribadi Junghwan.

Doyoung tahu bahwa ia sama sekali tidak berhak untuk memikirkan perasaannya sendiri setelah meninggalkan Junghwan selama delapan tahun tanpa kabar, dan seharusnya bersyukur karena Junghwan tidak langsung mengusirnya begitu ia muncul tiba-tiba di depannya.

Suara dentingan lift yang terbuka menyadarkan Doyoung dari lamunan sesaat, ia berjalan lurus ke arah ruangan Junghwan, mengetuk pintunya dan langsung masuk ketika mendengar jawaban.

"Ini pesanan bapak." Ucap Doyoung sambil meletakkan makanan ke atas meja.

"Minumnya, mana?" Tanya Junghwan, membuat Doyoung langsung mendelik ke arahnya.

"Bapak cuma titip steak. Kalau mau minuman, biar saya beli di vending machine depan."

"Saya maunya minuman dari restoran steak ini." Protes Junghwan tidak terima.

"Ya berarti bapak harus tunggu satu jam lagi karena antrean di sana masih panjang."

"Saya gak peduli, beli minumannya sekarang."

Doyoung tersenyum sambil berjalan keluar, walau dalam hati ia sangat ingin menjambak rambut Junghwan.

Untungnya kondisi restoran tidak seramai tadi, ia memesan semua minuman yang ada di sana lalu kembali berlari menuju perusahaan. Walau posisi mereka bersebrangan, tetapi Doyoung tetap harus berjalan cukup jauh karena pintu masuknya menghadap ke arah berbeda.

Cuaca panas, perut yang mulai sakit karena belum diisi apapun sejak pagi, ditambah ia harus membawa belasan minuman kemasan hingga rasanya jari tangannya ingin lepas.

Kali ini misi Junghwan untuk menyiksa Doyoung berhasil di percobaan pertama.

Jaehyun sudah tidak ada di kursinya ketika Doyoung kembali, karena jemarinya sibuk dipakai menenteng bawaan, Doyoung mengetuk pintu ruangan Junghwan menggunakan kepala.

"Masuk." Ucap Junghwan dari dalam.

Ia mendorong pintu menggunakan bagian samping tubuhnya, dan disambut oleh sensasi dingin karena ac ruangan Junghwan jauh lebih terasa dibandingkan di luar.

"Mana kopinya?" Tanya Junghwan yang sudah duduk di sofa sudut ruangan.

"Kopi? Restoran steak itu gak jualan kopi." Protes Doyoung sambil meletakkan bawaannya ke atas meja. "Di situ ada banyak pilihan lain, lagian mana cocok makan steak tapi minumnya kopi?"

"Yaudah kalau gitu bikinin saya kopi di pantry bawah, sekalian panasin steaknya di microwave sana."

"Tapi kan di lantai ini juga ada pantry?"

"Kuncinya dibawa Jaehyun."

Doyoung mengumpat tanpa suara, ia meraih tas belanja berisi steak lalu berjalan meninggalkan ruangan.

Hampir pukul tiga sore, karyawan lain divisinya pasti sedang bersiap pulang, tidak seperti Doyoung yang masih sibuk disiksa oleh Junghwan.

Tadinya Doyoung ingin mengganti gula untuk kopi Junghwan dengan cairan cuci piring, kemudian dia ingat bahwa lelaki itu adalah pemimpin perusahaan besar sekarang.

Setelah melakukan semua tugas, Doyoung kembali ke tempat Junghwan. Kali ini ia tidak mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam, dan tidak menyadari bahwa kopi panas yang dirinya bawa sedikit tumpah dan mengenai tangannya.

Rasa panas itu sangat tidak ada apa-apanya dibanding semua lelah di tubuhnya.

Junghwan sempat melihat bekas kemerahan di tangan Doyoung, namun ia berusaha tidak peduli.

"Makasih, sekarang kamu boleh keluar."

Doyoung mengangguk, ia mengembalikan kartu pada Junghwan lalu bergegas keluar dari sana. Namun di depan pintu, ia malah bertemu sosok wanita asing yang sepertinya teman kencan Junghwan.

Seketika Doyoung menyesal karena malah menyerahkan diri dan harus menahan semua siksaan ini.







...

dibilang ini genrenya romcom

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com