Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter III

Junghwan hanya pergi ke lantai bawah untuk mengambil laptop serta jas yang sengaja ia sampirkan di sandaran kursi, kembali masuk ke ruangan Doyoung untuk menyelimuti tubuh atasannya menggunakan jas milik mereka, lalu duduk di salah satu kursi kosong dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

Ia tidak mungkin meninggalkan atasannya sendirian di kantor sebesar ini, kan?

"So Junghwan-ssi..." Racau Doyoung dengan mata setengah tertutup.

"Mhm." Jawab Junghwan tanpa menghilangkan fokus dari apa yang sedang ia kerjakan.

"Junghwan-ssi..." Panggil Doyoung lagi, kali ini sambil melambaikan tangan, memberi tanda agar Junghwan mendekat ke arahnya.

Yang lebih tinggi menghela napas, melepas kacamata yang bertengger di hidung sebelum berlutut tepat di samping sofa tempat Doyoung berbaring.

"Kenapa, Pak Kim? Butuh sesuatu?"

Doyoung menggeleng, sementara di bibirnya tersungging senyuman yang harusnya indah jika tidak terlalu lebar.

"Terus kenapa manggil saya?" 

Bibir Doyoung merengut maju ketika mendengar nada suara Junghwan yang berubah, "Gapapa, saya cuma mastiin kalau kamu beneran manusia."

Helaan napas kembali keluar dari mulut Junghwan, ia bangkit dan merapikan bantal kecil yang ada di belakang leher atasannya, lagi-lagi membentangkan jas milik mereka yang sengaja dipakai untuk menutupi tubuh Doyoung agar tidak kedinginan.

"Saya manusia, gak mungkin ada hantu yang bisa kerja di jam satu pagi." 

Doyoung mengangguk setuju, dirinya sangat ingin bicara dengan Junghwan, berkata bahwa di balik pintu yang ada dekat meja kerjanya itu adalah ruangan yang berisi kasur lebar juga penghangat ruangan, namun efek dari alkohol yang ia konsumsi membuatnya mengantuk setengah mati.

Setelah mendengar dengkuran halus dari mulut Doyoung, Junghwan bangkit lalu menggeser sofa yang tadinya ia duduki agar lebih dekat. Duduk menghadap meja rendah, dan sengaja menarik tangan Doyoung yang terkulai untuk diletakkan di atas pahanya.

Waktu berjalan cepat bagi Junghwan yang biasanya mudah bosan di kantor, ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya sendiri, juga tugas Pak Lee yang biasa ia bantu bahkan sebelum pukul lima pagi.

Ketika layar laptop di depan menampilkan kata terkirim, Junghwan langsung menekan tombol shut down, menutup benda tersebut dan menoleh ke arah Doyoung yang tidurnya makin lelap.

Dirinya beranjak, meletakkan tangan Doyoung ke atas perutnya sendiri lalu mengambil barang-barang yang sekiranya ia butuhkan ketika bangun nanti.

Karena tidak mungkin Junghwan menemaninya hingga ia terjaga, Doyoung pasti akan berpikir yang aneh dan Junghwan enggan dipandang buruk oleh bosnya sendiri.

Tisu basah, tisu kering, bahkan hingga air mineral kini tersedia di atas meja. Tadinya Junghwan ingin meraih jasnya, namun laki-laki manis yang tertidur di atas sofa malah sedang memeluknya erat. 

Junghwan tertawa pelan, dirinya memastikan tidak ada barang yang tertinggal kecuali jasnya lalu berjalan keluar ruangan.



"What the fuck..." Umpat Doyoung sambil menutup mulut ketika rentetan kejadian tadi malam masuk ke dalam ingatan, namun tidak membuat dua orang yang berdiri di samping kanan kiri tidak mendengar ucapannya.

"Kenapa?" Tanya Jihoon panik, sedangkan Junghwan malah sekuat tenaga menahan tawa.

Doyoung menggeleng, sudut matanya melirik ke arah pantulan wajah Junghwan yang ada di hadapan. Bisa-bisanya ia tertawa di saat seperti ini?

Lift berhenti di lantai dasar dan ketiganya berjalan menuju pintu keluar, Jihoon mengarahkan Doyoung menuju taksi yang sudah dipesan dan memaksa Junghwan untuk menemaninya dan memastikan bahwa atasannya selamat sampai rumah.

"Gak usah, aku bisa sendiri." Tolak Doyoung, tetapi Jihoon tentu saja menentang.

"Kamu itu satu-satunya penerus perusahaan ini, aku bisa dibunuh kakekmu kalau kamu kenapa-kenapa!" Omel Jihoon, ia mendorong tubuh Doyoung untuk masuk ke dalam dan menarik Junghwan yang hanya bisa pasrah ketika lelaki itu ikut memaksanya duduk di sebelah Doyoung.

"Nanti saya transfer uangnya, pastiin Doyoung sampe rumah dengan selamat." Jelas Jihoon, dan Junghwan mengangguk.

Kendaraan mulai melaju, meninggalkan area perkantoran menuju kediaman Doyoung yang ada di daerah Gangnam.

"Rumah kamu di mana?" Tanya Doyoung tanpa menoleh ke arah Junghwan.

Junghwan nampak berpikir sebentar sebelum menjawab, "Your room, cutie." Ledeknya, dan berhasil membuat Doyoung berbalik, memandangnya dengan tatapan tidak percaya.

"Saya mabuk semalam."

"Saya tau, justru aneh kalau bapak gak mabuk tapi bisa ngomong kayak gitu." Jawab Junghwan santai sambil bersandar ke bagian belakang jok. "Saya mau mastiin bapak selamat sampai rumah, setelah itu baru saya pulang." Lanjutnya, sekaligus menjawab pertanyaan Doyoung sebelumnya.

"Jangan dijedotin gitu, pak. Nanti kepala bapak benjol." Omel Junghwan ketika Doyoung malah memukul kepalanya sendiri ke kaca jendela. "Emang gak sakit bekas jatuh semalem?"

"Saya? Jatuh?" Tanya Doyoung, dan Junghwan mengangguk pelan.

"Bapak mau saya antar ke rumah sakit? Takutnya ada yang retak soalnya suara jatuhnya keras banget." Ucap Junghwan, seakan tidak puas mengejek atasannya sejak mereka bertemu di lift tadi.

Dibanding ke rumah sakit, Doyoung lebih baik langsung mengubur diri hingga ia tidak dapat bertemu Junghwan lagi.

***

Setelah kejadian memalukannya di hadapan Junghwan, Doyoung sebisa mungkin berusaha menghindari berada di ruangan yang sama dengan karyawannya itu.

Namun usahanya sia-sia karena suatu pagi, Jihoon datang ke ruangannya bersama Junghwan di sampingnya, berkata mulai hari ini Junghwan lah yang bertugas untuk menggantikan seluruh pekerjaannya.

Doyoung yang hampir lupa dengan insiden memalukan beberapa hari lalu, seakan dibawa kembali saat melihat Junghwan yang nampak menawan. Sepertinya ia tidak terlalu suka mengenakan jas sebab benda itu malah terlampir di pergelangan tangan.

Bagian lengan kemeja putih yang membalut tubuhnya sengaja ia gulung hingga lengan, menampilkan tangan yang—astaga, Doyoung ingat saat dirinya mengusap-usap tangan besar Junghwan malam itu—.

"Kamu gapapa?" Tanya Jihoon karena Doyoung malah diam sejak ia masuk ke ruangan.

Netra Doyoung mengerjap berulang kali, berusaha mengumpulkan kesadaran yang barusan berceceran hanya karena tangan Junghwan. 

"Gapapa. Kamu udah ajarin Junghwan apa yang harus dia kerjain, kan?" Tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan.

Jihoon mengangguk, "Kamu terlalu sibuk sampe gak sadar kalau beberapa hari ini Junghwan udah mulai kerja bareng saya di depan."

Ucapan Jihoon benar, Doyoung tidak bohong pada keluarganya saat ia berkata bahwa kantor sedang dalam masa peak season, yang artinya tidak ada satupun orang yang tidak sibuk di sini, termasuk dirinya.

"Terus, kamu kerja sampai kapan?"

"Jumat ini terakhir, sabtu aku udah harus nginep di hotel yang ada deket wedding hall."

Ah Doyoung hampir lupa, Jihoon akan menikah akhir pekan ini.

"Jangan berangkat sendiri, aku juga undang Junghwan, nanti dateng sama dia aja."

Semuanya setuju dengan ide Jihoon. Doyoung memang malas membawa kendaraan sendiri sedangkan Junghwan juga butuh tumpangan karena mobilnya sedang tidak dapat digunakan.

Hari pertama Junghwan menjadi sekertaris pribadi Doyoung berjalan lancar, sangat lancar karena ia bukan tipe orang yang terus mengomel seperti Jihoon. 

Mungkin dirinya segan, atau tindakan Doyoung masih dalam batas wajar. Tidak ada yang tahu sebab Doyoung nampak sangat menjaga jarak dengan Junghwan, terlebih ketika ia mengingat insiden malam itu.

Begitu juga pada hari kedua, mereka seakan sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang nampak tidak ada habisnya. Doyoung kini mengerti mengapa Jihoon menikah pada akhir bulan, laki-laki itu seakan sengaja menyerahkan semua tanggung jawab pada Junghwan yang untungnya cepat belajar.

Tidak ada kendala dengan segala tugas Junghwan, ia nampaknya belajar banyak dari tugas para atasan yang sebelumnya ia kerjakan.

"Kopi?" Tanya Junghwan, hanya kepalanya yang menyembul dari balik pintu, menatap Doyoung yang duduk di belakang meja kerja dengan penampilan berantakan.

Doyoung menggeleng, "Saya udah habis tiga gelas siang ini." Jawabnya sambil menunjuk gelas kertas kosong di atas meja.

"Yaudah kalau gitu ayo makan siang."

"Saya gak laper."

Junghwan langsung teringat salah satu pesan Jihoon ketika ia masih bekerja, ia berkata bahwa Doyoung adalah orang paling keras kepala yang pernah dirinya tangani. Di balik penampilannya yang nyentrik dan nampak seperti anak konglomerat tidak berguna, faktanya ia adalah orang yang gila kerja.

Namun ia tidak kehabisan akal, Junghwan berlari menuju kafetaria, membeli makanan yang paling mudah dibawa dan kembali mengetuk pintu ruangan atasannya.

"Masuk." Jawab Doyoung pada ketukan ketiga.

"Makan, Pak." Ucap Junghwan yang lebih terdengar seperti perintah, ia meletakkan dua sandwich ke atas meja, juga minuman bersoda. "Besok malam bapak masih harus datang ke nikahan Pak Park, urusan kerjaan bisa lanjut nanti." Lanjutnya.

Doyoung terkekeh, ia memastikan sudah menyimpan semua pekerjaannya sebelum menatap Junghwan yang masih berdiri di depan mejanya. "Thank you." Ucapnya sambil meraih makanan yang ia bawa.

"Makan, saya gak akan keluar sebelum bapak makan."

Kini mereka duduk di sofa yang ada di sudut ruangan, seharusnya Doyoung fokus dengan makanan yang ada di tangan, namun ia malah teringat dengan kejadian yang sangat ingin dirinya lupakan.

"Maaf." Ucap Doyoung tiba-tiba.

"Kenapa? Bapak, habis buat salah?" Tanya Junghwan heran.

"Kejadian di kantor malam itu, maaf saya bersikap kurang ajar ke kamu." 

Beban yang menumpuk di pundak Doyoung seakan terangkat saat melihat Junghwan mengangguk, "Bapak gak buat salah, kok. Tapi kalau bapak merasa bersalah, oke saya maafin."

"Doyoung." Ujar Doyoung lagi.

"Hah?"

"Panggil saya Doyoung, Jihoon juga cuma panggil saya pakai nama. Lagian, kamu lebih tua dibanding saya kan?" 

Doyoung bicara sambil mengunyah sandwich yang ada di mulutnya, membuat Junghwan tersenyum dan langsung mengangguk setuju. "Okay, Doyoung. Pelan-pelan makannya." Jawab Junghwan sembari mendorong gelas minuman ke arah atasannya.

"Besok kamu berangkat—"

"Saya harus jemput kamu jam—"

Keduanya bicara dalam waktu bersamaan, Junghwan langsung diam dan mempersilakan Doyoung untuk menyelesaikan kalimatnya terlebih dulu.

"Besok mau berangkat jam berapa? Kamu jadi jemput saya kan? Biar malam ini mobilnya kamu bawa ke tempat kamu lagi aja."

"Gimana kalau jam enam sore? Acara dimulai jam tujuh."

Doyoung mengangguk setuju, sebenarnya keluarganya yang lain juga turut diundang oleh Jihoon, namun ia tidak ingin berada di tempat yang sama dengan mereka dalam waktu yang lama.

Topik soal pernikahan pasti akan muncul, Doyoung malas menambah beban pikiran saat pekerjaannya di kantor sedang menumpuk.

"Kenapa?" Tanya Junghwan saat melihat raut Doyoung yang tiba-tiba muram.

"Gapapa." Jawab Doyoung sambil tersenyum tipis.

Setelah menghabiskan makan siang bersama, Junghwan pergi ke meja kerjanya yang ada di depan ruangan, meninggalkan Doyoung yang juga kembali duduk di kursi yang sejak pagi ia tempati.

Sebisa mungkin Junghwan menyelesaikan semua tugasnya sore itu, hingga tidak terasa waktu mulai memasuki jam pulang kerja. Sebagian besar karyawan sudah pulang ke rumah, Junghwan bernapas lega saat tugasnya selesai tepat sebelum matahari terbenam.

Ia meregangkan tubuh, mematikan komputer yang ada di atas meja lalu mengambil jas serta tas kerjanya. Tangannya kembali mengetuk pintu ruangan Doyoung, namun ia tidak mendapat jawaban setelah berulang kali memanggil nama atasannya.

"Doyoung?" Panggil Junghwan sambil membuka pintu, dan ia sedikit terkejut saat menemukan orang yang ia cari malah tertidur dalam posisi duduk dengan kepala bersandar di atas meja.

"Doyoung..." Panggil Junghwan lagi, kali ini sembari menepuk bahu atasannya.

"Mhm..." Jawab Doyoung lemah, seakan enggan terbangun dari tidurnya.

Junghwan menghela napas, ia meletakkan barang-barangnya di bawah lalu membawa tubuh yang lebih kecil dengan kedua tangan, berjalan ke arah sofa dan membaringkannya di atasnya.

Dirinya lalu kembali ke meja kerja Doyoung, menyimpan semua pekerjaan yang hampir rampung lalu mematikan komputer serta merapikan berkas yang berantakan di sebelahnya,

Netranya melirik jam yang ada di tangan kiri, jika mereka pulang sekarang, kendaraan yang mereka bawa pasti akan terjebak kemacetan di jalan besar.

Maka Junghwan memutuskan untuk duduk, memandang Doyoung yang tertidur lelap di atas sofa dan menunggu hingga ia terjaga tanpa berniat membangunkannya.






...

alurnya rada lambat ya maafin, ini sama sekali belum masuk ke inti cerita sih... junghwan aja belum terlalu dikenalin... sabar ya nungguinnya :(

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com