Chapter IX
"Beneran udah gak bengkak mukanya?" Tanya Doyoung sambil merangkak naik, mendekatkan wajahnya pada Junghwan yang sedang duduk di sofa.
Refleks Junghwan mundur ketika ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, Doyoung terkadang tidak sadar dengan gerak geriknya yang kerap membuatnya salah tingkah.
"Nggak, udah balik cantik lagi sekarang." Jawab Junghwan, ia menangkup wajah Doyoung dengan kedua tangan. "Lucunya."
Doyoung tersenyum, ikut memegang tangan Junghwan yang masih ada di wajahnya. "Thank you." Ucapnya dengan nada manja.
Siapapun yang melihat adegan tersebut pasti tidak akan percaya jika diberi tahu bahwa mereka bukan sepasang kekasih yang hendak menikah, melainkan dua orang atasan dan bawahan yang saling memberi keuntungan karena tuntutan banyak pihak.
Namun siapa peduli? Bahkan mereka sendiri malah menikmati masa-masa penuh sandiwara yang makin lama makin membuatnya terbiasa.
"Mau fitting dulu, atau makan siang dulu?" Tanya Junghwan pada Doyoung yang sibuk mematut wajah di depan kaca lift.
"Fitting dulu aja, kalau makan dulu nanti aku keliatan gendut." Jawab Doyoung sekenanya, tanpa tahu bahwa Junghwan yang berdiri di samping juga mulai ikut memandangi pantulan wajahnya.
Menikah? Dengan orang seperti Doyoung? Hal ini tidak pernah terpikirkan oleh Junghwan, bahkan di khayalan paling liarnya.
Doyoung adalah sosok yang sempurna, jauh dari kata tidak berguna seperti anak konglomerat kebanyakan, sebab Doyoung justru satu-satunya harapan bagi perusahaan yang telah keluarganya besarkan.
Sikapnya pun demikian, sejak Junghwan bekerja, tidak pernah sekalipun ia melihat Doyoung mencaci maki para karyawan meski kadang pekerjaannya berantakan.
"Kok ngeliatin aku terus?" Tanya Doyoung begitu menyadari bahwa Junghwan tidak berhenti memandangnya dari belakang.
"Kamu cantik banget sih." Goda Junghwan sambil mencolek punggung tangannya.
Sikap konyol Junghwan yang begitu tiba-tiba berhasil membuatnya tertawa, ia yang salah tingkah lalu meraih sebelah tangan calon suaminya, memeluknya erat sambil bersandar ke atas bahunya. "Jangan ngomong gitu terus dong." Ujarnya malu-malu.
Suara dentingan pintu lift membuat obrolan mereka terhenti, Jihoon yang berdiri di depan seketika melempar tatapan tidak percaya dengan pemandangan indah yang tersuguh di depannya.
"What the heck." Umpatnya tanpa sadar, namun Doyoung nampak tidak peduli karena ia malah mempererat pegangannya di tangan Junghwan.
"Jangan pacaran mulu, mana sikap profesionalmu itu?" Sindir Jihoon yang kini ikut berada di dalam lift.
"Siapa yang pacaran?" Tanya Doyoung.
"Kalian lah?"
"Loh, ini calon suamiku." Jawab Doyoung bangga.
Kali ini Jihoon menutup mulutnya sendiri, tidak percaya dengan apa yang atasannya ucap barusan.
"Secepat itu?"
"Love always finds a way." Jawab Doyoung sembari meletakkan dagunya di atas bahu Junghwan dan mengecup sebelah pipi yang lebih tinggi.
Rasanya Jihoon ingin muntah, tetapi ia tidak mungkin merepotkan pegawai lain yang harus membersihkan jejak muntahannya sendiri.
Sekuat tenaga dirinya menahan mual hingga lift akhirnya berhenti di lantai dasar. Ketiganya keluar bersama namun berpisah di lobi sebab Jihoon ingin mengunjungi divisi lain, sementara Doyoung dan Junghwan berjalan lurus menuju mobil yang terparkir di depan gedung kantor.
Perjalanan menuju butik yang telah Ibu Doyoung sewa membutuhkan waktu hampir satu jam karena lokasinya yang cukup jauh, Doyoung bahkan nyaris tertidur di sebelah kalau saja Junghwan tidak terus mengajaknya bicara.
"Kalau tidur sekarang, nanti pas bangun mukanya malah bengkak." Ucap Junghwan sambil mengusap sisi wajah Doyoung.
Doyoung merengek, namun ia tetap berusaha terjaga hingga akhirnya kendaraan yang Junghwan bawa sampai ke tujuan.
Keduanya turun dari mobil, disapa oleh satpam jaga dan langsung diminta masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan.
Sesuai ucapan Junkyu sebelumnya, tema pernikahan mereka didominasi oleh warna biru, warna kesukaan Junghwan.
Karena tidak mungkin menggunakan warna kesukaan Doyoung yaitu kuning menyala, bisa-bisa pernikahan mereka dikira pameran gudetama.
Doyoung yang pertama masuk ke ruang ganti sementara Junghwan menunggu di salah satu sofa yang ada di depan pintu, selama Doyoung di dalam, ia menyempatkan diri untuk membuka ponsel, memantau laporan para ketua divisi yang hari ini gagal dirapatkan.
Sepertinya ia terlalu fokus dengan ponsel di tangan hingga tidak menyadari bahwa pintu di depannya mulai dibuka dari dalam. Begitu kepalanya terangkat, netranya disambut oleh sosok Doyoung yang berdiri mengenakan setelan biru muda, juga wajah yang sudah dihias sedemikian rupa.
"God..." Racau Junghwan tanpa sadar, memuji keindahan makhluk di depannya.
Walau dengan mata yang nyaris tertutup karena menahan kantuk, Doyoung looks so damn ethereal.
"So Junghwan-ssi?" Panggil pegawai yang bertugas merancang setelan pernikahan mereka.
"Yes? Oh, Iya iya." Junghwan bangkit dari tempatnya, melangkah menghampiri Doyoung yang menunggu reaksinya. "Pretty..." Puji Junghwan lagi. Ia lalu menunduk, tangannya bergerak untuk menghapus noda lipstik yang ada di sudut bibir calon mempelainya.
"Perfect." Ucapnya, seakan tidak habis kata pujian yang ia lontarkan.
"Beneran bagus?" Tanya Doyoung, dan Junghwan balas dengan anggukan.
"Sempurna." Jawab Junghwan sembari mengusap surai yang lebih kecil.
Mereka lalu bertukar tempat, masih dengan setelan yang kelak akan menjadi pakaian pernikahan mereka nanti, Doyoung kini duduk di sofa yang sebelumnya Junghwan duduki. Menunggu calon suaminya berganti pakaian.
Untungnya tidak menghabiskan waktu lama karena Doyoung benar-benar nyaris terlelap ketika Junghwan berada di dalam sana.
Doyoung melonjak girang saat melihat Junghwan yang akhirnya mengenakan pakaian yang serupa dengan miliknya, jas biru muda dengan aksen minimalis di ujung kerah serta lengannya, Junghwan terlihat tampan, ratusan kali lebih tampan dibanding biasanya.
Mereka lalu mengambil beberapa gambar, mengirimkannya ke grup obrolan keluarga dan dibalas dengan pujian demi pujian oleh anggota keluarga Doyoung yang lain.
"Nanti bisa gak rambut Junghwan ditata ke atas gitu? Jangan diturunin gini..." Ucap Doyoung, mengoreksi pekerjaan penata rias.
"Kenapa emang?" Tanya Junghwan heran, "Aku jelek, ya?"
Doyoung menggeleng tidak setuju, "Nggak, gak ada yang bilang gitu."
"Terus kenapa?"
"Kamu kalau rambutnya diturunin gini keliatan kayak anak kecil, aku gak mau dikira nikah sama yang lebih muda." Protesnya dengan bibir mengerucut maju.
Dan berhasil membuat semua orang yang ada di sana tertawa, padahal walau rambut Junghwan tidak ditata sama sekali pun Doyoung masih terlihat lebih muda jika dibandingkan dengannya.
Namun Junghwan setuju dengan saran Doyoung, ia akan menuruti segala perintah calon suaminya.
***
Doyoung tertidur pulas selama perjalanan pulang, membuat Junghwan yang mengemudi di sampingnya berusaha keras tidak menimbulkan suara berisik yang dapat mengganggu waktu istirahatnya.
Dan Doyoung tidak kunjung terjaga hingga mobil sampai ke depan rumahnya, Junghwan yang tidak tega membangunkan akhirnya membawa tubuh Doyoung masuk ke dalam rumah dengan cara menggendongnya.
Ia menyapa pegawai yang tengah memasak makan malam sebelum berjalan lurus menuju kamar tidur Doyoung, dengan hati-hati membaringkan tubuh yang lebih kecil ke atas ranjang.
Riasan di wajah Doyoung belum terhapus sepenuhnya, membuat Junghwan berinisiasi untuk membantu, karena Doyoung jelas tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wajahnya satu minggu sebelum pernikahan mereka.
Ia meraih tisu basah yang ada di atas meja, mengusapnya pelan ke wajah terutama bibir Doyoung yang nampak lebih merah muda dibanding biasanya.
Mimpi apa Junghwan hingga ia bisa menikahi makhluk seindah Doyoung di hidupnya?
Pujian demi pujian tidak habis keluar dari mulutnya hari ini, tetapi tidak dapat dipungkiri karena Doyoung memang semenawan itu di matanya.
Doyoung mengerang saat telunjuk Junghwan tidak sengaja mengenai sudut matanya, ia lalu terbangun dan terkejut ketika menyadari bahwa mereka ternyata sudah sampai di rumah.
"Kenapa gak bangunin aku?" Tanya Doyoung, ia menatap Junghwan yang duduk di sampingnya dari bawah.
"Kamu keliatan capek banget." Jawab Junghwan pelan, ibu jarinya bergerak mengusap kantong mata Doyoung. "Begadang terus ya akhir-akhir ini?"
Doyoung mengangguk, ada beberapa pekerjaan mendesak yang harus ia selesaikan sebelum menikah, dan sialnya pekerjaan itu hanya dapat dikerjakan oleh dirinya.
"Kenapa gak minta tolong aku?" Tanya Junghwan, masih dengan suara yang sama pelannya. Jemarinya kini beralih untuk mengusap sisi wajah yang lebih kecil, terasa lembab karena ia baru saja membersihkannya dengan tisu basah.
Doyoung tidak menjawab, ia malah memeluk pinggang Junghwan dan membenamkan wajahnya di sana, menikmati kehangatan yang tidak pernah dirinya dapatkan sebelumnya.
Keluarganya memang penuh cinta, namun Doyoung belum pernah mendapatkan hal serupa dari orang asing, termasuk dari jejeran mantan kekasihnya yang kebanyakan hanya memanfaatkan.
Sangat berbeda dengan Junghwan, meskipun Doyoung memang memberinya uang, namun semua gerak gerik Junghwan, perlakuan lembut Junghwan, rasanya tidak sebanding dengan apa yang sudah ia bayarkan.
Junghwan seakan terus memberi lebih dari apa yang Doyoung butuhkan.
"Masih ngantuk? Mau tidur lagi?" Junghwan kembali bertanya, dan Doyoung menggeleng.
"Aku belum makan." Keluhnya.
"Yaudah ayo makan dulu, habis itu baru lanjutin istirahatnya."
Setelah puas memeluk tubuh Junghwan, Doyoung akhirnya melepas pegangan, bangkit dari ranjang lalu menatap Junghwan yang masih duduk di sebelahnya.
"Kenapa?" Tanya Junghwan bingung.
Doyoung menggeleng dan malah tersenyum lebar sambil mengecup sebelah pipi Junghwan. "Cutie." Ucapnya sebelum beranjak dari ranjang dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Junghwan yang masih belum dapat memproses apa yang Doyoung lakukan padanya barusan.
Keduanya banyak berbincang selama makan malam, membicarakan berbagai hal dari yang penting hingga tidak penting seperti apa yang membuat Junghwan memilih biru sebagai tema pernikahan.
"Little did you know, blue always reminds me of you." Jawab Junghwan jujur.
"Why? Aku jarang pakai baju biru ke kantor."
"Bukan itu. Aku perhatiin kamu sering banget lihat ke atas kalau lagi sumpek sama keadaan, dan apa yang ada di atas? Langit yang warnanya biru, kan?"
Filosofi aneh namun Doyoung setuju karena ia tidak merasa memiliki kalimat pintar untuk membalas ucapan Junghwan.
"So?"
"Pas kita ke rumahmu buat pertama kali, kamu nyuruh aku pakai baju warna biru. Dan kalau kamu sadar, pas kamu mabuk di kantor waktu itu, aku juga lagi pakai kemeja warna biru."
Doyoung terkesan dengan kemampuan mengingat calon suaminya karena kalau boleh jujur, ia tidak terlalu memerhatikan. Dirinya hanya terfokus dengan urat yang nampak jelas di tangan Junghwan.
"Perasaan kamu sekarang, gimana?"
Pertanyaan yang begitu tiba-tiba membuat Doyoung nyaris tersedak, sekuat tenaga ia berusaha menelan makanan yang hampir tersangkut di tenggorokan sebelum menjawab ucapan Junghwan.
"Maksudnya? Perasaan apa?" Doyoung balik bertanya, ia mendorong piring yang nyaris kosong dari hadapan, menatap Junghwan yang sudah menghabiskan makanan jauh sebelum Doyoung menyelesaikan agenda makan malamnya.
"Ya, your feelings about our marriage?"
"Happy." Jawab Doyoung jujur, "Aku seneng karena nikah sama kamu, aku nikmatin semua prosesnya yang emang terkesan buru-buru, tapi karena aku jalaninnya sama kamu ya aku bahagia."
Jawaban Doyoung sangat di luar ekspektasi Junghwan, ia yang tadinya duduk di hadapan buru-buru bangkit dari kursi, berjalan ke arah Doyoung yang malah memandangnya heran karena mendadak Junghwan duduk di sampingnya.
"Kenapa tiba-tiba pindah? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Doyoung dengan nada polosnya.
Junghwan menggeleng, ia menarik kursi Doyoung agar lebih dekat dan tangannya bergerak menuju wajah yang lebih kecil, sedikit mengangkat dagunya agar posisi mereka sejajar.
"I really... really want to kiss you right now."
Suara berat Junghwan membuat jantung Doyoung berdegup kuat, ia pun mengangguk samar, memberi izin pada calon suaminya untuk mengikis jarak yang ada di antara mereka.
Tengkuk Doyoung meremang kala ujung hidung mereka bersentuhan, Junghwan memiringkan kepalanya, mengecup bibir kecil Doyoung berulang kali sebelum menyesap bagian atas dan bawahnya bergantian.
Sementara Doyoung tidak tahu harus melakukan apa, membiarkan Junghwan memimpin permainan sementara kedua tangannya mulai bergerak, melingkar di belakang leher yang lebih tinggi.
Telapak tangan Junghwan terasa panas menyentuh kulitnya, ibu jarinya mengusap bagian depan lehernya secara berulang, memberi sensasi aneh yang belum pernah Doyoung rasakan sebelumnya.
Doyoung nyaris kehabisan napas dan kehilangan akal sehatnya ketika lidah Junghwan masuk ke dalam mulutnya, seharusnya ia jijik karena mereka baru saja selesai makan, namun perasaan itu menguap seiring dengan lidah Junghwan yang bergerak lihai di dalam sana.
Tubuhnya lemas, ia mungkin jatuh dari duduknya kalau saja sebelah tangan Junghwan tidak memegang kuat sisi pinggangnya.
"Junghwan..." Panggil Doyoung saat merasakan cengkraman Junghwan makin erat, "So Junghwan!" Panggil Doyoung lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras.
Kesadaran Junghwan akhirnya kembali, ia mengecup bibir Doyoung sebelum menarik diri, menatap calon suaminya yang memandangnya dengan napas terengah.
"Maaf... Aku gak bermaksud—" Ucap Junghwan sambil melepas pegangannya pada tubuh Doyoung.
Kalimat itu, jelas jauh dari apa yang Doyoung harapkan.
"Gapapa," Jawab Doyoung pada akhirnya.
Ada hal aneh yang sangat sulit Doyoung jabarkan saat Junghwan malah bersikap bodoh setelah ciuman mereka, apa Junghwan menyesal karena baru saja menciumnya? Apa Junghwan tidak memiliki perasaan yang sama dengan apa yang Doyoung rasakan juga?
"Hati-hati." Ucap Doyoung yang berdiri di depan pintu rumah, melambaikan tangan pada Junghwan yang ada di dalam mobil, hendak pulang ke apartemennya yang akhir-akhir ini terlalu sering tidak berpenghuni.
Satu minggu sebelum pernikahan mereka, haruskah Doyoung bakar surat perjanjian yang ada di kamarnya lalu meminta Junghwan untuk benar-benar menjadi suaminya?
...
kebanyakan basa basi ih maaf :( besok nikah beneran deh janji, aku cuma mau bikin mereka keliatan deket gituu sebelum nikah beneran huhuhu
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com