Chapter VIII
Tanpa sadar Doyoung mencengkram paha Junghwan ketika kakeknya selesai bicara. Ia tahu bahwa cepat atau lambat, mereka pasti diminta untuk menikah, namun tidak menyangka akan secepat ini kata keramat itu keluar.
Because for God's sake, hari ini adalah hari pertama Doyoung memperkenalkan Junghwan ke depan keluarganya.
"Kecepetan, kek!" Protes Doyoung dengan intonasi yang cukup tinggi.
Selain itu, Doyoung juga tidak ingin buru-buru menyelesaikan kontraknya dengan Junghwan. Sebab jika mereka menikah, maka makin dekat pula keduanya dengan kata perceraian.
Sementara Junghwan yang duduk di sampingnya terus diam, berusaha membuang jauh-jauh pemikiran bahwa sepertinya Doyoung sangat tidak ingin menikah dengannya.
"Kalian emang masih muda, tapi kakek kan udah tua. Kalau kakek meninggal besok, gimana?"
Doyoung berdecak kesal, kakeknya selalu mengandalkan ultimatum terbesarnya yang sama sekali tidak bisa Doyoung sangkal.
"Awal bulan depan, gimana? Kita semua bisa kan kosongin jadwal?"
Hampir semua orang yang duduk melingkar di meja makan setuju, kecuali dua pemeran utama yaitu Doyoung dan Junghwan.
"Junghwan? Gimana? Gak ada proyek besar kan bulan depan?"
Pertanyaan dari Ayah Doyoung membuat Junghwan mengangguk canggung, ia tersenyum sebelum menjawab. "Gak ada Pak, semua proyek besar selesai pertengahan bulan ini."
"Kan, awal bulan depan paling cocok. Biar nanti kalian bulan madu pas hari ulang tahun Doyoung, setuju?"
"Setuju. Nanti Mama sama Junkyu yang cari wedding organizer buat urus semuanya, kalian tinggal duduk manis di rumah." Sambar Ibunya.
Satu bulan, mereka hanya memiliki waktu satu bulan untuk mempersiapkan segalanya. Kepala Doyoung mulai pening saat melihat semua orang begitu bersemangat membicarakan pernikahan yang kelak diakhiri dengan perceraian.
Doyoung akhirnya pasrah, menjawab semua pertanyaan yang keluarganya lontarkan dengan sesekali melibatkan Junghwan.
"Tidur di sini aja, Junghwan libur juga kan besok?" Ucap Ayah Doyoung yang mengantar anak serta calon menantunya ke halaman depan.
"Kita masih banyak kerjaan, dan lagian Junghwan gak bawa baju ganti." Elak Doyoung sambil mempererat pegangannya di tangan Junghwan, memberi tanda agar ia membantu mencari alasan.
"Iya, Pak. Saya masih ada beberapa kerjaan di rumah." Junghwan ikut menanggapi.
"Papa. Panggil saya Papa, sebentar lagi saya bakal jadi orang tua kamu juga."
Junghwan tersenyum, dan Doyoung berani bersumpah demi apapun yang ia miliki di dunia bahwa senyum Junghwan saat ini adalah senyum paling indah yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Papa..." Ucap Junghwan tanpa sadar, ada perasaan bahagia yang sulit ia jelaskan ketika pria paruh baya di depannya kini menatapnya bangga.
Ayah Doyoung ikut tersenyum, ia menepuk sebelah bahu Junghwan. "Jagain Doyoung ya, nak. Pastiin dia selamat sampai rumah."
Sepasang kekasih itu akhirnya berjalan berdampingan menuju kendaraan yang akan membawa mereka pulang, dan senyum Junghwan belum luntur bahkan ketika mereka selesai memasang sabuk pengaman.
"Thank you, Junghwan." Ucap Doyoung saat mobil mulai bergerak menjauh dari kediaman keluarga besarnya.
"Suddenly? Why?" Tanya Junghwan heran.
"Makasih karena udah mau nikah sama aku, aku kira kamu bakal bilang nggak begitu kakek nyuruh kita buat cepet-cepet cari tanggal."
"Aku pikir malah kamu yang gak mau nikah sama aku." Jawab Junghwan jujur, ia masih ingat bagaimana raut wajah Doyoung ketika kakeknya bicara soal pernikahan.
"Nggak gitu." Ucap Doyoung dengan nada manja, persis ketika ia bicara dengan keluarganya. "Aku cuma takut kamu gak nyaman karena tiba-tiba mereka bahas nikah di pertemuan pertama kamu sama keluarga." Jelas Doyoung dengan ekspresi sedihnya.
Nyaris tengah malam, jalan raya Seoul tidak terlalu ramai meski hari ini adalah akhir pekan, kebanyakan orang mungkin sudah kembali ke rumah atau justru sedang berangkat menuju tempat hiburan malam yang baru buka di kedai besar pinggir jalan.
Biasanya Junghwan menghabiskan waktu libur dengan tidur seharian di rumah, berdiam diri tanpa berniat bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya. Ia bersyukur karena kantor tempatnya bekerja dipenuhi dengan manusia berumur yang hanya fokus memikirkan keluarga.
Tetapi sejak ia menjadi sekertaris pribadi Doyoung, hidupnya berubah nyaris seratus delapan puluh derajat. Junghwan kini selalu keluar rumah, pergi ke tempat selain kantornya, dan rumah Doyoung adalah tempat yang paling sering ia kunjungi.
"Harusnya aku yang bilang gitu, thank you Doyoung." Ucap Junghwan saat mobil berhenti di belakang lampu merah.
"Makasih karena udah lunasin hutang keluargamu?" Canda Doyoung, ia meletakkan telunjuknya di atas punggung tangan Junghwan yang tengah memegang tuas, membuat gerakan melingkar berulang di sana.
"Right, and also for letting me calling your father Papa. God, I just realized that I missed him so bad."
Tidak ada kesedihan dalam nada bicara Junghwan, seolah itu adalah hal biasa yang kerap ia ucapkan, namun Doyoung yang mendengarnya malah tidak dapat menahan air mata.
Empatinya terlalu besar, terlebih pada Junghwan.
Sekuat tenaga laki-laki manis itu menahan, namun sepertinya gagal karena kini isakan mulai keluar dari mulutnya, membuat Junghwan yang sibuk memarkirkan mobil di garasi depan rumahnya seketika menoleh.
"Kenapa?" Tanya Junghwan panik, ia buru-buru menyalakan lampu yang ada di atas untuk melihat jelas wajah Doyoung yang ternyata sudah dipenuhi air mata.
"Kenapa kamu malah ngomong gitu? Aku sedih, Junghwan." Rengek Doyoung sambil menarik ujung lengan kemeja yang Junghwan gunakan.
"Aku ngomong apa?" Junghwan balik bertanya, seingatnya ia tidak mengucap apapun begitu Doyoung tidak membalas kalimatnya.
Doyoung menggeleng, ia hendak menunduk namun Junghwan malah menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ibu jarinya bergerak, menghapus jejak air mata di masing-masing pipi calon suaminya.
"Kamu jangan gampang nangis karena aku dong." Bisik Junghwan pelan, "Baru tadi Papa nitip anak bungsunya ke aku, masa belum satu jam keluar dari rumah udah nangis aja?"
Kali ini Doyoung berhasil tertawa berkat kalimat Junghwan yang terdengar menggelikan.
"Norak banget sih." Ucap Doyoung sambil berusaha menyingkirkan tangan Junghwan dari wajahnya.
Dan Junghwan ikut tertawa, ia mulai mencubit gemas kedua pipi bulat Doyoung. "Nah, kalau ketawa gini kan cantiknya makin keliatan."
Pujian serta sentuhan Junghwan membuat jantung Doyoung berdegup tidak karuan, siapa yang tidak mudah jatuh hati pada laki-laki setampan dan sebaik laki-laki yang masih duduk di sampingnya?
Tetapi untuk saat ini, Doyoung masih enggan menjalin hubungan. Walau perasaannya pada Junghwan makin kuat tiap harinya, ia belum mau menghadapi konflik yang berpotensi besar membuatnya mengalami hal yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Tebakan Junghwan waktu itu benar, Doyoung pernah terjebak dalam hubungan tidak sehat tetapi tidak ada satupun orang yang tahu termasuk keluarga besarnya bahkan Park Jihoon yang selalu ada di sampingnya.
Doyoung juga tidak ingin menceritakan hal ini pada Junghwan.
Setidaknya untuk sekarang.
***
"Mama, Papa, sama Kakek udah nyerahin nama undangan, tinggal kalian yang belum setoran." Ucap Junkyu, ia sengaja datang ke kantor Doyoung bersama suaminya, menagih daftar nama yang tidak kunjung dikirim padahal sudah berulang kali diminta.
"Junghwan cuma kasih ini," Jawab Doyoung sambil menyerahkan kertas yang berisi nama serta alamat beberapa kerabat dan teman kuliahnya. "Aku cuma mau undang temen SMA sama beberapa temen kuliah, hyung masih punya daftarnya, kan? "
Junkyu mengangguk, ia memberi daftar nama serta alamat teman-teman Doyoung yang waktu itu hadir ke pernikahannya. "Byun Hyunmin, diundang juga?"
Kepala Doyoung bagai baru dihantam palu kuat begitu mendengar nama orang yang sangat sangat ingin ia lupakan eksistensinya.
"Gak usah."
Doyoung mengusap kepala yang mendadak pening bertepatan dengan masuknya Junghwan ke dalam ruangan, ia meletakkan minuman hangat yang dibeli dari vending machine ke hadapan calon suami, serta dua kakak iparnya.
"Hey, are you okay?" Tanya Junghwan, ia duduk di samping Doyoung sambil menatapnya khawatir.
"He's just your ex-boyfriend, Doyoung. Hyung sama Ruto sempet ketemu dia kok di acara pernikahan temen kita yang lain." Jelas Junkyu, tanpa tahu alasan mengapa Doyoung begitu membenci mantan kekasihnya.
Enam tahun lalu di tahun terakhir kuliah, Doyoung yang memang tidak berbakat mencari kekasih itu dikenalkan Haruto oleh teman satu jurusannya yang tertarik pada Doyoung.
Hubungannya berjalan lancar di mata orang lain karena mereka tidak tahu betapa kerasnya watak Hyunmin, berbanding terbalik dengan perangai Doyoung yang lembut karena dibesarkan di keluarga yang penuh cinta.
Bukan hanya melalui ucapan, mantan kekasihnya itu juga tidak jarang menyakiti Doyoung dengan pukulan yang ia lakukan tanpa sadar—itu yang selalu ia ucap sehabis memukuli Doyoung berulang kali.
Hyunmin adalah mantan kekasih pertama sekaligus terakhirnya, begitu berhasil lepas dari hubungan tersebut, Doyoung tidak lagi tertarik untuk berkencan. Bayang-bayang Hyunmin yang terus memarahi serta memukulinya masih teringat jelas di kepala, apalagi setelah Junkyu menyebut namanya.
"Siapa?" Tanya Junghwan penasaran, karena Doyoung memang tidak pernah bercerita apapun soal mantan kekasihnya.
"Byun Hyunmin, sekarang dia jadi pengacara di firma yang sama bareng Ruto." Jelas Junkyu lagi.
Kalimat Junkyu membuat Doyoung mengangkat kepala, ia menatap kakak serta iparnya yang memasang raut penuh tanya.
"Ini pernikahanku, aku yang gak mau undang dia dan aku gak izinin kalian buat bawa dia masuk ke acaraku." Ucap Doyoung pada akhirnya, ia merapikan kertas yang berantakan di atas meja lalu menyerahkannya pada Junkyu. "Sekarang mending kalian pulang, aku sama Junghwan bakal fitting baju berdua setelah rapat nanti."
Semua orang yang ada di sana tahu bahwa ada sesuatu yang Doyoung sembunyikan, Junkyu sempat bertanya ke Jihoon namun sahabatnya juga tidak memiliki jawaban, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Doyoung ketika menjalin hubungan dengan salah satu teman Haruto itu.
Junghwan mengantar calon kakak iparnya ke depan lift sementara Doyoung masih duduk di atas sofa ruang kerjanya.
"Kalau kamu mau tanya soal Hyunmin, saya gak tau. Haruto juga gak tau karena dua-duanya gak pernah mau cerita." Jelas Junkyu, seakan dapat membaca isi hati Junghwan.
Begitu pintu lift yang akan membawa Junkyu dan Haruto tertutup, Junghwan dengan cepat kembali masuk ke dalam ruangan, dan menemukan Doyoung yang sedang duduk sambil bersandar pada punggung sofa.
Netranya menatap jam digital yang ada di belakang meja kerja Doyoung, jam makan siang hampir habis dan beberapa menit lagi mereka harus menghadiri rapat bersama para ketua divisi.
Junghwan mengangkat gagang telepon, menghubungi penanggung jawab rapat dan memerintahkannya untuk membatalkan agenda hari ini.
"Kenapa, Pak?"
"Pak Kim lagi gak enak badan." Jawabnya sebelum mengakhiri panggilan.
Kalimat Junghwan membuat Doyoung menatapnya heran, "Kenapa dibatalin dan kenapa kamu bohong soal kondisiku?" Tanyanya kemudian.
"Gak ada yang bohong, siapapun pasti setuju kalau aku bilang kamu lagi sakit pas liat kondisimu sekarang." Jelas Junghwan sambil berjalan mendekat ke arahnya. "Aku gak tau apa yang terjadi sama kamu dan mantan pacarmu itu tapi kayaknya, tebakan aku sebelumnya tuh bener?"
Pembahasan itu lagi, Doyoung hanya ingin mengubur kenangan buruk bersama mantan kekasihnya itu sedalam yang ia bisa tanpa ada satupun orang yang tahu nantinya.
Begitu Junghwan duduk di sampingnya, Doyoung langsung menoleh menghadap yang lebih tinggi.
"Can I hug you?" Tanya Doyoung dengan suara pelan.
Tanpa menjawab Junghwan langsung membuka kedua tangan, menarik tubuh kekasihnya untuk masuk ke dalam pelukan.
Doyoung menangis lagi, namun kali ini ia menangis di pelukan Junghwan. Suara tangisnya juga berbeda. Ia tidak sedang menangis karena empatinya yang terlalu besar, tangisan Doyoung terdengar sangat sangat menyedihkan.
Tangan besar Junghwan bergerak mengusap punggung sempitnya berusaha menenangkan, sementara Doyoung mencengkram kuat kemeja Junghwan. Menyalurkan emosi berlebih yang sulit ditahan.
"Aku gak pernah mau bikin Haruto hyung kehilangan sahabatnya," Jelas Doyoung di sela isakan, "Meskipun Hyunmin jahat sama aku, tapi dia sahabat terbaik kakak iparku." Lanjutnya lagi.
Sambil berusaha mengatur napas, Doyoung melonggarkan pelukannya pada tubuh Junghwan. Melihat wajah yang biasa ceria kini malah dibanjiri air mata membuat Junghwan seakan ikut merasakan beban yang sama dengan calon suaminya.
"Aku kenal Hyunmin dari Haruto hyung, awalnya dia baik, dia selalu jadi orang pertama yang aku hubungin tiap aku sedih atau bahagia. Tapi..."
"It's okay, kalau belum mau cerita gak usah dipaksa." Ucap Junghwan, sebelah tangannya bergerak untuk menghapus air mata Doyoung yang nampaknya enggan berhenti.
"Jangan nangis terus, aku ikutan sedih liat kamu nangis gini."
Doyoung menggeleng, "Nggak, aku emang mau cerita dan bikin kamu jadi orang pertama yang tau soal ini." Jawabnya, ia menarik jemari Junghwan yang bergerak di wajahnya dan membawanya untuk digenggam erat dengan kedua tangan.
Padahal sudah belasan kali tangan mereka saling bertautan, namun sensasi hangat yang Doyoung rasakan nampaknya selalu berbeda tiap harinya.
"Hyunmin... dia... dia gak segan buat pukul aku tiap kita ada masalah." Jelas Doyoung, mengorek luka lama yang sekuat tenaga ia kubur.
"Dia yang bikin aku gak mau cari orang baru buat masuk ke hidupku, gimana kalau mereka sama? Gimana kalau orang yang keliatan baik di luar justru nyakitin aku kayak dia dulu?"
Dan Doyoung terkejut saat Junghwan kembali menariknya, memeluk tubuhnya erat-erat sambil menyandarkan kepala di atas bahunya.
"Maaf." Bisik Junghwan tepat di telinga, "Everyone knows that you didn't deserved that person at all. How can you endure it alone, Doyoungie?"
Pertanyaan itu, Doyoung juga tidak tahu mengapa ia bisa menahan semuanya sendirian.
Tiap ia bertengkar dengan Hyunmin, dirinya memilih untuk mengerjakan pekerjaan kantor di rumah, menyerahkan urusan tatap muka pada Jihoon yang senantiasa membantu tanpa banyak bertanya. Dua tahun, butuh waktu dua tahun bagi Doyoung untuk melepas Hyunmin sepenuhnya.
Junghwan makin erat merengkuhnya ketika Doyoung tidak mampu menjawab pertanyaannya, dan pelukan mereka bertahan cukup lama, kepala Doyoung bahkan pegal karena terus-terusan dipaksa mendongak untuk bersandar pada bahu Junghwan.
"Aku janji, aku bakal terus lindungin kamu. Aku akan terus ada di samping kamu, dan aku juga yang jelasin semuanya ke Junkyu dan Haruto." Jelas Junghwan, ia melepas pelukan untuk menatap wajah bengkak kekasihnya.
"Gak usah, Junghwan—" Sanggah Doyoung.
"Ssst, jangan lawan omongan calon suamimu. Mereka berhak tau, mereka juga harus bantu aku buat kasih pelajaran ke si brengsek itu nanti."
Kalimat konyol Junghwan membuat Doyoung tertawa, ia sama sekali tidak mengira bahwa Junghwan memiliki sisi aneh ini.
"Berhenti nangisnya, kita kan mau fitting baju, masa wajah pengantinnya bengkak terus ketara habis nangis gini? Nanti dikira kamu hamil diluar nikah."
Berhasil. Ucapan Junghwan berhasil mengubah tangis Doyoung menjadi tawa yang terdengar lebih indah dari isakan ia sebelumnya.
...
Dateng guys dresscodenya biru resistensi

btw saran konflik dong... tapi jangan yang berat-berat dan bukan orang ketiga :(
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com