Chapter XIII
Tepat pukul enam pagi, alarm ponsel Junghwan berbunyi. Ia langsung bangun dan menggulir layar agar suaranya berhenti, beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Doyoung.
Biasanya Doyoung belum bangun jam segini, tetapi hari itu Junghwan menemukan kamar utama yang sudah kosong tanpa penghuni.
Ia dengan cepat berbalik, berlari ke arah tangga menuju lantai satu dan ternyata Doyoung juga tidak ada di sana.
"Doyoung udah berangkat tadi pagi, minta antar pak Kwon karena katanya ada urusan mendadak di kantor." Jelas pekerja di rumah Doyoung yang sedang sibuk di dapur. Junghwan hanya mengangguk dan mengucap terima kasih lalu kembali naik ke kamar.
Siapa yang menyangka bahwa pertengkaran pertama mereka justru terjadi satu minggu setelah menikah? Seharusnya Junghwan tidak mengabaikan Doyoung kemarin dan malah membuatnya marah dan berujung ikut menghindarinya.
Sebelum sampai kantor, Junghwan menyempatkan diri untuk membeli kopi dan makanan ringan karena ia yakin, Doyoung belum makan apapun sebelum berangkat tadi pagi.
Dengan hati-hati ia mengetuk pintu ruangan, memanggil nama Doyoung namun lagi-lagi ia tidak mendapat jawaban. Junghwan memberanikan diri untuk membuka pintu dari luar, tetapi ternyata ruangan itu juga tidak berpenghuni.
Tangannya bergerak meraih ponsel yang ada di kantong jas, menekan tombol cepat untuk menghubungi suaminya namun seperti perkiraan, Doyoung tidak menjawabnya.
Maka ia memutuskan untuk menghubungi Jihoon karena siapa tahu, Doyoung sedang bersama mantan sekertaris pribadinya itu.
"Loh emang Doyoung gak ngabarin? Kita lagi kunjungan ke cabang di Gimpo, harusnya sama kamu tapi dia bilang kalau kamu masih banyak kerjaan dan malah minta saya buat ikut."
Junghwan hanya dapat menghela napas mendengar penjelasan Jihoon, tidak menanggapi lebih jauh karena tidak ingin orang lain tahu perihal pertengkaran mereka.
"Pastiin dia makan sesuatu sebelum jam makan siang, nanti saya hubungin lagi dan tolong suruh dia buat aktifin ponselnya."
Panggilan berakhir begitu Jihoon berkata bahwa ia akan menuruti semua permintaannya, Junghwan berterima kasih dan kembali membuka ponsel lalu mengirim pesan singkat yang sebenarnya cukup panjang untuk suaminya.
Aku minta maaf atas sikapku semalam, kamu pasti kesel banget kan? Kalau udah gak sibuk, bisa hubungin aku? Jangan diemin aku kayak gini.
Hari itu berjalan sangat panjang bagi Junghwan, berulang kali ia memeriksa ponsel namun pesannya tidak kunjung mendapat jawaban. Jihoon juga nampaknya gagal meminta Doyoung untuk menanggapi karena laki-laki itu ikut sulit dihubungi.
Tepat pukul lima sore, Junghwan memutuskan untuk pulang. Daripada menunggu kabar suaminya di kantor tanpa kepastian, ia memilih untuk membawa sisa pekerjaannya ke rumah.
"Doyoung belum pulang juga?" Tanya Junghwan pada satpam jaga.
"Tadi pulang sebentar terus dijemput sama Pak Junkyu buat pulang ke rumah utama."
Tadinya Junghwan hendak menyusul, namun ia takut kehadirannya justru tidak diterima di sana dan malah memperbesar masalah. Maka Junghwan mengurungkan niat, ia masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Hampir pukul sepuluh malam saat telinga Junghwan mendengar suara pintu rumah dibuka dari luar, ia yang tengah duduk di sofa ruang tengah langsung berlari ke arah Doyoung yang berjalan sambil dipapah oleh Junkyu.
"Loh kamu di rumah? Katanya lagi dinas ke Incheon?" Tanya Junkyu heran, Junghwan nampak berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Iya aku baru pulang, Doyoung mabuk?"
Junkyu mengangguk, "Diajak minum sama Papa terus malah kebanyakan, tadinya aku mau nyuruh kamu buat jemput tapi katanya kamu lagi sibuk."
Junghwan hanya tersenyum canggung lalu berterima kasih pada Junkyu yang sudah mengantar suaminya pulang. Setelah Junkyu keluar, ia mengangkat tubuh Doyoung dengan kedua tangan dan berjalan menuju kamar utama.
Dengan hati-hati Junghwan meletakkan tubuh Doyoung di atas ranjang, ia meraih setelan tidur dan kembali ke tempat Doyoung berbaring lalu mengganti pakaiannya.
Tadinya Junghwan hendak pergi ke kamarnya sendiri, namun langkahnya berhenti saat merasakan tarikan di ujung pakaian.
"Junghwan?" Panggil Doyoung dengan suara pelan, ia membuka mata, menyesuaikan diri dengan cahaya sebelum fokus memandang wajah suaminya.
"Junghwanie..." Panggil Doyoung lagi, pegangannya beralih untuk memegang tangan Junghwan. "Mau ke mana?"
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Junghwan yang kini duduk di pinggir ranjang.
Doyoung menggeleng, jemarinya bergerak di cincin kawin yang Junghwan kenakan. "Kamu udah gak marah?" Tanyanya lagi sambil memutar cincin di tangan Junghwan.
Junghwan tertawa, "Kan kamu yang marah sama aku." Jawabnya sambil memijat kening Doyoung dengan tangannya yang bebas. "Kamu juga gak bisa dihubungin seharian."
"Aku gak marah, aku juga lupa bawa ponsel." Ucap Doyoung sambil menunjuk ponselnya yang masih terhubung dengan pengisi daya di atas meja.
Seketika Junghwan merasa bodoh dengan sikapnya sendiri, ia juga menyesal membiarkan Doyoung pergi ke rumah keluarganya tanpa ditemani.
"Maaf," Ujar Junghwan pada akhirnya, "Maaf karena sikapku jelek kemarin."
Doyoung menggeleng, ia kini duduk di atas ranjang dengan kaki bersilang dan masih memegang sebelah tangan Junghwan. "Meskipun aku gak tau kenapa kamu marah, tapi aku juga salah karena udah ikut diemin kamu." Jelasnya sambil menyandarkan pipi ke atas bahu yang lebih tinggi.
"Aku capek banget hari ini, dari pagi udah harus ke Gimpo karena lagi ada audit di sana, tadinya aku mau ajak kamu tapi aku liat tidurmu nyenyak banget makanya aku minta Jihoon buat temenin. Pas pulang juga aku malah dijemput Junkyu hyung buat ke rumah utama, padahal aku mau istirahat tapi Papa justru ngajak minum karena yang lain gak mau nemenin."
Sejak Doyoung memutuskan untuk tinggal sendirian, ia hampir tidak pernah mengeluh pada siapapun termasuk orang tuanya. Doyoung tidak ingin menambah beban karena ia yakin, tanggung jawab mereka di rumah sakit jauh lebih berat jika dibandingkan dengannya.
Begitu pula dengan Junkyu, kakaknya itu sudah bekerja dengan keras, juga rela tidak keluar dari rumah walau telah menikah karena tidak ingin keluarganya yang lain merasa kesepian.
Tadinya Doyoung juga enggan mengeluh di depan Junghwan, meskipun tidak pernah bicara, tetapi suaminya itu nampak memendam masalah berat sendirian.
Tetapi ke mana lagi ia harus bercerita? Doyoung tidak ingin beban di hatinya justru menjadi penyakit yang bersarang karena terus dipendam dalam-dalam.
Doyoung mulai merengek saat merasakan kedua tangan Junghwan melingkar di tubuhnya, "Maaf, maaf karena bikin masalahmu makin berat." Bisik Junghwan tepat di telinganya.
Dan Doyoung menggeleng tidak setuju, "Nggak ada yang bilang gitu, aku justru seneng karena sekarang aku gak sendirian." Jelasnya sambil ikut memeluk tubuh Junghwan, menarik napas dalam-dalam di ceruk leher suaminya.
"Tapi kemarin aku udah jahat sama kamu, aku diemin kamu karena aku ngerasa gak pantes jadi suami kamu." Jelas Junghwan pada akhirnya.
Dengan cepat Doyoung menarik diri, ia menatap wajah Junghwan yang menunjukkan raut penuh rasa bersalah. "Kenapa mikir gitu? Tindakanku bikin kamu gak nyaman, ya?"
Kali ini giliran Junghwan yang menggeleng, "Bukan, gak ada yang salah dari sikapmu. Cuma aku rasa lifestyle kita yang beda, dan jauh banget bedanya."
Doyoung ikut memasang ekspresi yang sama dengan Junghwan ketika ia paham ke mana arah pembicaraan suaminya, "I'm sorry, aku janji aku gak akan beli barang-barang itu lagi, aku sama sekali gak maksud buat bikin kamu—"
"Gak ada yang nyuruh kamu buat berhenti, aku cuma ngerasa kalau aku gak akan bisa bikin kamu sebahagia itu because that was too expensive for me, aku aja masih digaji sama perusahaanmu."
Doyoung kembali menggeleng tidak setuju, ia mencengkram kedua bahu Junghwan, memberi tanda agar suaminya menatap wajahnya. "Aku beli barang itu karena aku mau kita pakai benda yang sama, maaf kalau sikap impulsifku bikin kamu sakit hati..."
"That's fine, Doyoungie. Jangan sampai obrolan kita malam ini bikin kamu berhenti lakuin hal yang kamu suka."
"Tapi aku lebih suka kamu. Aku juga gak mau sikapku bikin kamu cuekin aku lagi kayak kemarin."
Kalimat pertama Doyoung berhasil membuat Junghwan tersipu, ia menangkup wajah suaminya dengan telapak tangannya yang besar, mengusap kedua sisinya dengan ibu jari lalu mendaratkan ciuman ringan di keningnya.
"Jangan bikin aku makin suka kamu gini dong." Protes Junghwan.
Sedangkan Doyoung justru tersenyum puas, "Biarin, biar aku boleh bakar surat perjanjian kita."
Junghwan kembali memeluk erat tubuh Doyoung, mengecup kepalanya berulang kali sambil berayun ke kanan kiri. "Emang setelah dibakar, kamu mau apa?"
"Mau nikah lagi, biar nikahnya dua kali." Jawab Doyoung.
"Kenapa harus dua kali?" Tanya Junghwan bingung.
"Kan waktu itu kamu bilang, you wished that you did it better, kalau nikah lagi kan kesalahannya bisa diperbaiki."
"Nanti justru diomelin keluargamu kalau kita nikah lagi."
"Loh kan bisa diem-diem, kita nikah lagi di Jerman, gimana?"
Tawaran menarik, namun Junghwan menggeleng tidak setuju dan berhasil membuat Doyoung menepuk punggungnya kuat-kuat.
"Kok gak mau sih?" Protes Doyoung sembari melepas pelukannya, menatap wajah Junghwan dengan raut penuh amarah.
"Kalau nikah lagi, berarti kita harus pisah dulu. Kamu mau pisah sama aku?"
Dengan cepat Doyoung menutup mulut Junghwan, dengan sebelah tangan. "Jangan ngomong sembarangan! Gak ada yang mau pisah sama kamu."
"Wait." Ucap Doyoung lagi sambil memerhatikan pakaiannya sendiri. "Kok bajuku berubah?"
"Aku ganti pas kamu tidur tadi." Jawab Junghwan jujur.
Tangan Doyoung bergerak untuk menutup mulutnya sendiri, "Kamu pegang-pegang aku? Kamu bukain baju aku? Kamu liat aku telanjang—"
"Nggak! Aku cuma gantiin baju kamu, sama sekali gak macem-macem." Protes Junghwan tidak terima dengan tuduhan Doyoung.
Dan Doyoung berdecak pelan lalu memasang raut menyesal, "Padahal kalau macem-macem juga gapapa." Ucapnya, dilanjutkan dengan mengedipkan sebelah mata ke arah Junghwan.
Junghwan yang gemas hanya dapat mengacak rambut suaminya, "Jangan bandel, jangan ngomong aneh-aneh, kamu itu masih kecil."
"Umurku dua puluh delapan—"
"Yes, which means kamu masih kecil."
"Right, because yours is probably bigger than mine." Goda Doyoung sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
"What the fuck Kim Doyoung?" Omel Junghwan.
"So Doyoung!" Koreksi Doyoung, "Margaku udah berubah sejak satu minggu lalu."
"Tidur tidur, tadi katanya capek?" Perintah yang lebih tinggi, ia beranjak dari ranjang lalu mendorong tubuh suaminya agar kembali berbaring, menarik selimut dan membentangkannya hingga sebatas dada.
"Kamu gak mau tidurin aku?" Goda Doyoung lagi, kali ini sembari menatap Junghwan dengan raut penuh harap.
"Nanti, nanti okay?"
"Setelah kita bakar surat perjanjiannya?"
Junghwan mengangguk, "Dan setelah semua urusan di kantor selesai."
"Janji?" Tanya Doyoung yang kini mengangkat sebelah tangan dengan kelingking yang naik ke depan wajah Junghwan, "Janji dulu, baru aku mau istirahat."
Junghwan menyambut uluran tangan suaminya, mengaitkan kelingking mereka dan membuat Doyoung memanfaatkan kesempatan untuk menarik tangannya hingga ia berbaring tepat di atas tubuhnya.
"Oh my God, kamu mau ngapain nindihin aku gini?" Tanya Doyoung dengan nada main-main, Junghwan langsung mencium bau minuman keras yang keluar dari mulut suaminya.
Tentu saja, jika tidak mabuk maka Doyoung tidak akan seberani ini.
...
kayaknya mulai besok aku bakal update tiap hari... jangan bosen yah bacanya
btw maaf kalau kebanyakan adegan ranjang (literally)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com