Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XIV

Doyoung terbangun dengan kepala berat, efek dari minuman keras yang ia konsumsi tadi malam. Ia tidak tahu kapan dirinya terlelap namun yang jelas, tidurnya cukup nyenyak karena ditemani Junghwan.

Tetapi kemana perginya ia sekarang? Doyoung tidak dapat menemukan sosoknya baik di kamar utama maupun kamar yang biasa Junghwan tempati.

Doyoung sedikit berlari menuju lantai satu, berjalan lurus ke arah dapur dan melihat sosok yang ia cari yang ternyata tengah memasak sesuatu di depan kompor.

"Ngapain? Emang gak ada Bu Yeom?" Tanya yang lebih kecil sambil memeluk tubuh Junghwan dari belakang.

"Good morning, nyenyak gak tidurnya?" Junghwan malah balik bertanya sembari mengusap punggung tangan Doyoung yang ada di perutnya.

"Kepalaku sakit, kayaknya karena terlalu banyak minum..." Keluh Doyoung dan berhasil membuat Junghwan langsung membalikkan badan, melihat wajah suaminya lamat-lamat dan memeriksa suhu tubuhnya.

"Gak demam, istirahat lagi aja, ya? Aku lagi buat sarapan, Bu Yeom ada keperluan di rumah katanya dan baru pulang nanti malam." Perintah Junghwan, ia lalu memijat pelan kening Doyoung. "Seharian ini gak usah kemana-mana dulu, okay?"

Doyoung refleks bergerak mundur saat Junghwan malah mendekatkan wajah, "Aku belum gosok gigi." Ucapnya sambil menutup mulut.

Junghwan tertawa, dan beralih untuk mencium dua sisi wajah suaminya, "Mau makan dulu, atau gosok gigi dulu?"

"Masakannya belum matang kan?" 

Pertanyaan Doyoung dijawab dengan anggukan, laki-laki itu ikut tersenyum lebar dan membalas ciuman Junghwan di pipinya. "Yaudah kalau gitu aku mandi dulu." 

Dan Doyoung lantas berlari menuju kamarnya, sementara Junghwan bergegas menyelesaikan masakan sederhana yang akan menjadi sarapan mereka berdua.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian, Doyoung kembali ke dapur, indra penciumannya langsung disambut dengan wangi masakan. Ini adalah kali pertama ia melihat Junghwan memasak dan akan menjadi pertama kali juga baginya untuk mencoba makanan yang dimasak langsung oleh suaminya.

Doyoung duduk di salah satu kursi, netranya terus menatap Junghwan yang tengah menghidangkan satu persatu makanan ke atas meja.

Tidak terlalu istimewa, Junghwan hanya memasak bahan yang sudah disiapkan oleh pekerja di rumah Doyoung, dan sup penghilang pengar sebagai tambahan.

"Aku gak tau kalau kamu bisa masak." Ucap Doyoung dengan semangat, ia meraih sendok dan sumpit yang Junghwan serahkan.

"Banyak hal yang bisa aku lakuin pakai tangan ini, bukan bisa dipakai buat ngetik di keyboard aja," Balas Junghwan sambil memamerkan otot tangannya.

Netra Doyoung mengerjap berulang kali, ia mulai berpikir bahwa sepertinya tangan itu jauh lebih menggiurkan dibanding makanan di depan.

"Makan." Perintah Junghwan saat melihat Doyoung yang malah diam dan nampak berpikir keras.

Doyoung menepuk kepalanya sendiri, mengumpulkan kesadaran yang barusan berceceran hanya karena tangan Junghwan.

"Gimana? Enak gak?" Tanya Junghwan ketika Doyoung mulai menyantap hasil masakannya.

"Enak!" Puji Doyoung sambil tersenyum senang, ia memang tidak terbiasa sarapan apalagi di jam awal seperti sebelum berangkat kerja, namun hari ini adalah pengecualian karena Junghwan sudah menyiapkan semuanya untuk mereka.

"Thank you, suamiku." Lanjutnya, ia menyenggol lengan Junghwan yang duduk di sebelah kemudian bersandar manja di atasnya.

"Kayaknya kita udah cocok deh buat tinggal berdua? Biar Bu Yeom aku minta buat balik kerja di rumah Papa."

"Tapi kan aku gak tiap hari bisa masakin kamu, kerjaan kita di kantor juga masih banyak, sayang." Balas Junghwan sambil menghapus noda makanan yang ada di sudut bibir Doyoung dengan ibu jari.

Doyoung mengangguk karena ucapan Junghwan ada benarnya, "Iya juga sih, kita masih sibuk sampai gak tau kapan." Jawabnya.

"Emang mau banget tinggal cuma berdua sama aku?"

"Ya mau dong, kita jadi bebas ngapain aja di rumah." Ucap Doyoung dengan mulut penuh makanan.

Junghwan meletakkan sebelah tangan di atas meja, menyandarkan kepala di atas telapaknya dan menatap Doyoung yang terus bicara dengan nada ceria.

"Mau ngapain emang?" Godanya kemudian.

"Ya... ngapain aja." Jawab Doyoung, bingung bagaimana caranya merangkai kata yang tepat agar tidak terlalu eksplisit di depan Junghwan.

"Ya ngapain?" Tanya Junghwan lagi, seakan belum puas melihat raut bingung suaminya.

"Gak tau, ah. Kamu mah gak peka."

Tawa lepas keluar dari mulut Junghwan, ia mengacak gemas surai gelap Doyoung yang duduk di sebelah. "Anak kecil gak boleh mikir aneh-aneh." Ucapnya, dilanjutkan dengan mencubit gemas pipi bulat Doyoung.

"Nggak! Gak ada yang mikir aneh-aneh, maksudku kan kita bisa bebas rebahan di sofa sambil nonton tv di ruang tengah."

"Yaudah nanti, habis kamu makan, mumpung Bu Yeom belum pulang." 

Doyoung menoleh ke arah Junghwan, menatapnya dengan binar penuh harap. "Beneran? Kamu gak akan sibuk main ponsel atau bawa laptop, kan?"

"Beneran, kita nonton apapun film kesukaan kamu."

***

Junghwan kira Doyoung akan memintanya menonton film komedi atau romantis yang cocok untuk dilihat bersama, tetapi faktanya laki-laki itu malah memilih series animasi dengan pemeran utama berwarna kuning menyala.

"Aku suka banget nonton ini, kamu harus liat juga pokoknya." Ucap Doyoung sambil menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Junghwan, menyandarkan kepala di atas bahu suaminya sementara sebelah tangannya melingkar di depan perut yang lebih tinggi.

"Kamu mau nonton atau mau liatin aku?" Tanya Junghwan begitu menyadari bahwa Doyoung malah menatap wajahnya dari sebelah.

"Mau liat ekspresi kamu pas nonton," Jawab Doyoung jujur, membuat Junghwan tertawa dan ikut menoleh ke arahnya.

Netra Doyoung terpejam saat Junghwan mengecup keningnya dengan lembut, "Masih sakit gak kepalanya?"

Doyoung menggeleng, "Nggak, langsung sembuh setelah makan masakan kamu."

Junghwan hendak menjawab pertanyaan Doyoung namun tiba-tiba ponsel miliknya berdering keras, menandakan satu panggilan masuk dan mereka dapat melihat nama Jihoon yang terpampang di layar.

"Ngapain Jihoon nelfon kamu di weekend gini?" Tanya Doyoung heran, Junghwan menggeleng karena ia juga tidak tahu apa alasannya.

"Halo?" Ucap Junghwan sambil menempelkan ponsel ke telinga.

Sementara Doyoung terpaksa melepas pelukannya pada tubuh Junghwan, membiarkan suaminya fokus bicara dengan orang di ujung panggilan.

"Iya, ponselnya di atas tapi orangnya lagi sama saya sekarang. Coba nanti saya yang periksa, Doyoung juga lagi kurang enak badan." 

Junghwan akhirnya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja begitu obrolannya dengan Jihoon terputus.

"Mau ngapain?" Tanya Doyoung lagi saat melihat Junghwan yang malah beranjak dari sofa.

"Ada laporan yang datanya crash, Jihoon minta aku buat kirim ulang karena dia gak bisa akses data kamu lagi. Bentar, ya. Aku mau ambil laptop dulu."

Doyoung tidak sempat menanggapi karena Junghwan yang malah berlari menuju ruang kerja di ujung lorong lantai pertama. Ia sengaja memindahkan semua keperluannya ke sana sebab ruang yang biasa ia pakai sudah diubah menjadi kamar yang Junghwan tempati.

Niat awal mereka adalah menonton film bersama, tetapi semuanya berubah karena sekarang Junghwan malah sibuk dengan pekerjaannya.

Laki-laki itu duduk di atas permadani, di hadapannya ada laptop yang ia letakkan di meja kaca. Sementara Doyoung berbaring menyamping di sofa, sesekali tangannya mengusap kepala Junghwan yang ada di sebelah.

"Belum selesai juga?" Tanya Doyoung sambil memainkan rambut cokelat Junghwan.

"Sebentar lagi." 

Jawaban Junghwan terdengar tidak memuaskan, tadinya Doyoung hendak menarik kencang rambut suaminya tetapi ia tidak tega. Maka dirinya memutuskan untuk bangun, berdiri di samping Junghwan sambil berkacak pinggang.

"Kamu udah ngomong gitu dari dua jam lalu, aku udah selesai nonton empat episode tapi kerjaan kamu belum selesai juga. Katanya cuma mau kirim data yang crash tapi kamu malah ended up benahin semua kerjaanku. Ini weekend, Junghwan. Bahkan aku sebagai bos kamu gak minta kamu buat selesain semuanya sekarang."

Junghwan menghela napas, ia memastikan sudah menyimpan semua pekerjaan sebelum ikut berdiri di depan Doyoung yang menatapnya dengan raut marah.

"Maaf, aku cuma mau ringanin kerjaan kamu sedikit. Maaf, ya? Kamu kesel ya aku cuekin? Mau ngapain sekarang? Mau lanjut nonton lagi? Biar aku taruh laptop dulu ya?" Bujuk Junghwan sambil mengusap kepala suamiya.

Tetapi Doyoung tidak luluh dengan mudah, ia kembali menjatuhkan tubuh ke atas sofa dan memeluk bantal yang tadinya ia pakai sebagai sandaran kepala, sama sekali tidak berniat menanggapi Junghwan yang terus mengajaknya bicara.

"Sayang..." Panggil Junghwan yang juga ikut duduk di sebelah. "Jangan ngambek dong? Jangan cemberut terus gitu nanti cepet tua mukanya." 

Kalimat Junghwan sebenarnya terdengar lucu namun masih belum cukup untuk membuat kesal Doyoung berkurang, ia nyaris tertawa kalau saja dirinya tidak menahan mati-matian.

"Doyoungie." Panggil Junghwan lagi, kali ini sambil mencolek dagu Doyoung dengan jemari. "Udah aku lepas laptopnya, sekarang kamu bebas mau minta apa aja."

"Beneran boleh minta apa aja?" Tanya Doyoung, memastikan telinganya tidak salah dengar.

Junghwan mengangguk semangat, "Anything for you."

Setelah berpikir sebentar, Doyoung membentangkan kedua tangannya ke depan, "Mau peluk dulu." Ucapnya malu-malu.

Dengan cepat Junghwan mengabulkan permintaan sederhana suaminya. Ia berdiri di depan Doyoung, sedikit membungkuk untuk merengkuhnya erat lalu mengangkat tubuhnya dan diletakkan di atas pangkuan.

"Junghwan!" Protes Doyoung sambil menepuk punggung yang lebih tinggi, tidak menyangka bahwa Junghwan akan memeluknya dengan cara seperti ini.

"Kenapa? Katanya mau dipeluk?" Ledek Junghwan, ia menyandarkan kepala ke atas bahu Doyoung dan menarik napas dalam-dalam di ceruk lehernya.

"Geli, ih." Protes Doyoung lagi ketika Junghwan mulai mengecup permukaan kulitnya.

Tetapi Junghwan seakan tuli, ia malah terus membubuhkan kecupan ringan di atas kulit pucat Doyoung, kepalanya bergerak ke kanan kiri, berusaha menjangkau seluruh bagian agar tidak ada yang terlewat.

"Shit, Junghwan..." Umpat Doyoung ketika ia merasakan sensasi basah saat lidah Junghwan ikut bermain di sana. Napasnya tercekat, Doyoung meremat rambut Junghwan begitu suaminya mulai menghisap kulit lehernya dengan cukup kuat.

Bukan hanya satu, Junghwan membuat beberapa tanda yang ia yakin tidak akan hilang dalam dua hari karena warnanya yang begitu mencolok. Tubuh Doyoung rasanya lemas, berbanding terbalik dengan Junghwan yang malah makin bersemangat.

Setelah puas, baru Junghwan menarik kepalanya dari leher Doyoung. Ia menatap raut suaminya yang memerah dengan napas terengah.

"Lucunya," Ledek Junghwan, ia kembali mendekatkan wajah lalu menggosok ujung hidung mereka. "I love you, and you looks so sexy anyway."

Doyoung nyaris tidak percaya dengan pujian kotor yang baru ia dengar, tetapi ia lebih tidak percaya lagi dengan kalimat pertama yang Junghwan ucapkan.

"I love you?"

Junghwan tersenyum dan mengangguk semangat, "I love you."

Haruskah Doyoung menangis sekarang? Ini kalimat cinta pertama yang Junghwan ucapkan setelah pernikahan. Dan tidak ada siapapun selain mereka di tempat ini sekarang.

"Beneran? Do you love me?" Tanya Doyoung lagi, masih dengan nada tidak percaya.

"Iya, I love you Doyoungie."

Doyoung membalas senyuman Junghwan, lalu memeluk tubuh suaminya erat-erat dengan kedua tangan yang melingkar di belakang leher yang lebih tinggi.

"Do you love me?" Junghwan balik bertanya, suaranya terdengar samar di telinga karena Doyoung terlalu bahagia saat mendengar pernyataan cintanya.

"Of course I love you, I love you so much, suamiku." 









...

ternyata gak bisa update tiap hariii huhu sedihnya :( maaf yaa tapi aku akan berusaha konsisten up dua hari sekali

btw cover baru hihi lucu nggaaak? pertama kali punya cover se-colorful ini

btw lagi besok masih pacaran yah, aduh kapan ada konfliknya ini cerita kalo isinya manis manis doang. jangan bosen bacanya ya... seru banget nulis adegan nempel-nempel tuh :(

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com