Chapter XXI
Berakhirnya liburan singkat mereka menjadi awal dari kesibukan yang memang selalu Doyoung jalani pada masa awal tahun. Tetapi ada yang berbeda karena kali ini, sebagian besar pekerjaannya dibantu oleh Junghwan.
Mereka memutuskan untuk membeli kendaraan tambahan karena mobil Junghwan yang sudah tidak layak pakai—menurut Doyoung—. Memudahkan keduanya untuk bepergian jika ada keperluan mendadak pada kantor cabang yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Hari ini contohnya, Junghwan akan mengurus beberapa hal di cabang Cheongju sementara Doyoung pergi ke kantor pusat seperti biasa.
"Sayang, kemarin aku beli ini buat kamu." Ucap Doyoung dengan nada riang, ia berjalan ke arah Junghwan yang baru selesai berpakaian sambil menenteng dasi baru.
"Aku udah punya yang warna merah, terus pas tau mereka launching versi biru, aku langsung kepikiran kamu."
Doyoung sedikit berjinjit saat mengalungkan benda itu ke leher Junghwan, tangannya dengan lincah bergerak di depan dada yang lebih tinggi, belum ada tiga bulan mereka menikah tetapi ia sudah belajar banyak untuk memuaskan suaminya.
Namun Junghwan masih melarangnya belajar memasak karena ia tidak ingin Doyoung berdiri terlalu lama di depan kompor panas, ditambah dirinya juga tidak pandai menggunakan pisau. Junghwan tidak ingin Doyoung terluka karena hal sepele yang masih bisa dikerjakan sendiri atau oleh pekerja di rumah.
"Gantengnya suamiku." Ucap Doyoung sambil memandang wajah Junghwan.
Tangannya yang masih menggenggam ujung dasi seketika bergerak, menariknya pelan hingga Junghwan menunduk lalu mengecup bibir penuhnya.
"Jangan lupa kabarin aku kalau udah di Cheongju, kabarin juga kalau kerjaannya udah selesai, dan terus kasih aku kabar sampai kamu pulang ke rumah, okay?"
Junghwan mengangguk sebelum memeluk erat tubuh suaminya, membubuhi seluruh sisi wajahnya dengan kecupan ringan hingga ia terkekeh kegelian.
"I love you. Jangan lupa buat makan siang nanti, aku bakal mantau kamu lewat Jeongwoo." Ucap Junghwan setelah melepas pelukan, Doyoung mengangguk lalu menarik lengan suaminya untuk keluar dari kamar.
"I love you too, kamu jangan lama-lama ya di sana? Inget kan kalau besok kita mau ke Iksan?"
Dan Junghwan kembali mengangguk, karena bagaimana bisa ia lupa? Besok adalah hari peringatan kematian kedua orang tuanya. Tadinya ia hendak pergi sendirian, namun Doyoung memaksa ikut karena ingin bertemu dengan mertuanya.
Mereka berpisah di halaman depan, masuk ke kendaraan masing-masing dan tidak lama kemudian, mobil keduanya pun bergerak menuju destinasi berbeda.
Keadaan di kantor pusat sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, sebelum nama pemimpin perusahaan benar-benar berubah, mereka mengadakan evaluasi besar serta merekrut ratusan karyawan baru yang lebih muda dan cepat belajar.
Setidaknya tidak ada lagi pegawai yang malah meminta karyawan lain untuk mengerjakan semua tugasnya seperti apa yang Pak Lee lakukan pada Junghwan waktu itu.
Doyoung juga memiliki sekertaris baru, namanya Park Jeongwoo, adik dari Park Jihoon yang sudah naik jabatan menjadi pemimpin cabang lainnya.
"Pagi, Pak So minta saya buat kasih ini ke Bapak." Ucap Jeongwoo sambil meletakkan sandwich tuna yang ia beli di restoran cepat saji ke atas meja kerja Doyoung.
"Kapan dia nyuruh kamu beli ini?" Tanya Doyoung heran, karena seingatnya Junghwan belum memegang ponsel selama mereka berada di rumah tadi.
"Dari awal minggu lalu, katanya saya harus mastiin Bapak makan teratur selama dia gak ada di kantor."
Doyoung tertawa, ia berterima kasih sebelum meminta sekertarisnya untuk kembali ke tempatnya di depan. Tangannya meraih ponsel, memotret makanan yang kini ada di hadapan lalu mengirimnya pada Junghwan.
Hari Jumat yang semestinya terasa singkat malah berjalan lama bagi Doyoung yang berpisah dengan suaminya. Biasanya Junghwan selalu berada di dekatnya, berangkat berdua, mengurus pekerjaan bersama, bahkan hingga pulang Doyoung terus menempel dengannya.
Tetapi urusan di Cheongju memang tidak bisa ditinggalkan, seharusnya Doyoung yang datang ke sana tetapi Junghwan menawarkan diri karena tidak ingin suaminya kelelahan sebab besok, mereka masih harus pergi ke Iksan. Ditambah, pekerjaan yang ada di kantor pusat juga sama banyaknya.
"Bapak beneran gapapa nyetir sendirian?" Tanya Jeongwoo yang berjalan di sebelah, dan Doyoung mengangguk mengiyakan.
"Lagipula jalanan udah gak terlalu ramai jam segini. Kamu pulang juga, atau mau bareng saya?"
Tawaran Doyoung dibalas dengan gelengan, "Saya juga ada urusan."
"Date?"
Anggukan kepala Jeongwoo membuat Doyoung tertawa, ia menepuk bahu sekertarisnya lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di depan gedung. Setengah jam sebelumnya Junghwan berkata bahwa ia hampir sampai rumah, namun dirinya malah mampir ke restoran langganan mereka untuk membeli makanan karena ia yakin Doyoung enggan makan malam sendirian.
Untungnya perjalanan pulang hanya memakan waktu lima belas menit karena jalanan yang cukup lengang, Doyoung sedikit berlari masuk ke dalam rumah saat melihat mobil lainnya sudah terparkir di garasi.
"Yeobo!" Panggil Doyoung saat melihat Junghwan sedang menyajikan makanan ke atas meja, ia langsung memeluk tubuh suaminya dan menarik napas dalam-dalam di ceruk lehernya.
"Aku belum mandi." Ucap Junghwan, namun ia tetap membalas pelukan Doyoung dengan mengusap punggung sempitnya.
"Tapi tetep wangi." Jawab Doyoung sambil mengecup kulit leher Junghwan berulang kali, "Aku kangen banget, dua belas jam gak ketemu kamu rasanya kayak dua belas tahun." Rengeknya sambil memandang wajah suaminya lamat-lamat.
Berlebihan sekali tetapi Junghwan tidak protes karena ia juga sama rindunya.
"Mau mandi atau makan dulu?" Tanya Junghwan kemudian.
Doyoung berpikir sebentar sebelum menjawab, "Mandinya bareng kamu aja, sekarang kita makan dulu biar ada tenaga."
Keputusan bagus sebab Junghwan juga ingin menghabiskan waktu Jumat malam yang terasa hangat berdua dengan suaminya.
***
"Beneran gak perlu bawa baju ganti?" Tanya Doyoung yang padahal sudah berkemas.
Junghwan yang baru bangun hanya dapat menggelengkan kepala saat melihat tumpukan pakaian di dalam koper besar. Jarak dari Seoul menuju Iksan tidak lebih dari dua ratus kilometer, dan mereka juga tidak memiliki tempat menginap karena Junghwan sudah jarang berhubungan dengan kerabat yang ada di sana.
Terakhir saat ia menikah, itu juga hanya beberapa yang datang karena yang lain memang enggan berurusan dengan Junghwan, mereka takut ikut terseret dengan kasus yang menimpa orang tuanya dulu dan berujung dimintai uang.
Doyoung akhirnya mengembalikan semua pakaian ke lemari dan meminta Junghwan agar bergegas untuk mandi, namun belum sempat Junghwan menurut, Doyoung malah menarik tangannya hingga Junghwan duduk di atas ranjang, sedikit menunduk untuk menatap luka di leher suaminya.
"Leher kamu kenapa?" Tanyanya sambil mengusap luka yang cukup besar di sana.
"Kamu yang gigit semalem, lupa?"
"Tapi lukanya sampai sejelas ini?" Tanya Doyoung lagi, tidak mempercayai perbuatannya sendiri.
Telunjuk Junghwan menunjuk luka di leher sampingnya, "Liat, gigi kecil-kecil gini punya siapa kalau bukan punya kamu?"
Doyoung merengut mendengar omelan Junghwan, "Maaf," Ucapnya dengan penuh rasa bersalah, "Sakit gak? Nanti abis mandi kita obatin ya?"
Junghwan menggeleng, sebelah tangannya malah bergerak ke depan dada Doyoung lalu meremasnya pelan.
"Ah—" Desah Doyoung tanpa sadar, dan tersangkanya justru tersenyum lebar, "Masih pagi!" Omelnya kemudian sambil mendorong tangan Junghwan agar menjauh dari tubuhnya.
"Kan gantian, tadi malam kamu gigit leherku gara-gara aku gigit yang ini."
Doyoung tidak menjawab, ia berlari keluar dari ruangan karena enggan berada di tempat yang sama dengan suami mesum seperti Junghwan.
Mereka sarapan di rumah sebelum memulai perjalanan, tujuan utama mereka hanya rumah abu tempat orang tua Junghwan disemayamkan, sebelum sore mereka akan pulang ke Seoul tanpa harus menginap karena tidak ada keperluan lain di Iksan.
Perkiraan Junghwan benar, hanya butuh waktu dua jam hingga mobil yang ia bawa akhirnya sampai ke tujuan.
Keduanya masuk ke dalam, Junghwan menuntun Doyoung menuju tempat yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi. Dan langkah mereka berhenti di hadapan satu kotak lemari berukuran besar yang terdapat dua guci abu di dalamnya.
Mereka mengepalkan tangan di depan wajah, berdoa sebentar lalu menatap kaca transparan yang memperlihatkan potret keluarga kecil yang diambil saat Junghwan lulus kuliah.
"Sapa keluargaku." Perintah Junghwan pada suaminya, Doyoung menurut dan ia berdehem pelan sebelum membuka mulut.
"Ibu, Ayah, aku Doyoung, suaminya Junghwan."
Junghwan tertawa saat mendengar suara Doyoung yang sedikit gemetar, "Jangan takut, gak akan diomelin mereka juga." Candanya.
Doyoung menepuk lengan Junghwan lalu kembali bicara. "Aku janji aku akan jagain Junghwan di sini, kalian gak perlu khawatir. Semua keluargaku juga sayang sama Junghwan, aku yang akan belain dia kalau dia diomelin orang lain nanti."
Mereka tinggal cukup lama di sana, Doyoung terus menemani Junghwan yang juga menceritakan berbagai pengalaman hidup di depan potret orang tuanya.
Dan tanpa sadar Doyoung menangis saat menyadari bahwa saat ini, ia adalah anggota keluarga satu-satunya yang Junghwan punya.
"Bu, suamiku cengeng banget, dia selalu nangis tiap aku ceritain soal kalian." Ledek Junghwan, sambil menggenggam erat sebelah tangan Doyoung.
"Maaf," Ucap Doyoung sambil menghapus air matanya.
Junghwan merangkul tubuh suaminya, ia kembali bicara sebentar sebelum akhirnya pamit karena tanpa sadar, mereka sudah berdiri selama hampir dua jam di sana.
Perjalanan kembali ke Seoul seharusnya berjalan lancar, namun di tengah jalan, Doyoung malah mual dan membuat Junghwan terpaksa berhenti di salah satu toserba terdekat dari pemakaman.
"Aku aja yang masuk, kamu tunggu sini bentar." Perintah Doyoung sebab mobil mereka memang berhenti asal di pinggir jalan.
Sementara Doyoung sibuk membeli obat dan minuman hangat di dalam, Junghwan malah dikagetkan dengan tepukan pelan di punggungnya.
Ia kira itu polisi yang hendak menilangnya karena parkir sembarangan, tetapi dugaannya salah karena yang datang adalah salah satu kerabatnya.
"Junghwan?"
"Jaejin?" Tanya Junghwan dengan suara pelan, karena ia takut salah orang.
"Wah ngapain kamu di sini?" Tanya kerabatnya dengan suara lantang, seakan kehadiran Junghwan merupakan keajaiban besar yang terjadi di Iksan.
"Hari ini hari peringatan kematian orang tuaku."
Keduanya berbincang di depan mobil, menanyakan kabar masing-masing karena terakhir kali mereka bertemu adalah saat hari pernikahan Junghwan, itu juga tidak terlalu jelas di ingatan sebab Junghwan lebih sibuk menghadapi ribuan tamu dari pihak Doyoung.
"Junghwan?" Doyoung yang akhirnya keluar dari toserba kini memandang bingung suaminya.
"Doyoung, kenalin ini kerabatku dari Ayah, namanya Jaejin."
Doyoung menunduk canggung, namun Jaejin malah mendekat lalu merangkul tubuhnya. "Kamu lupa sama aku? Aku yang sering telfon kantormu buat minta uang."
"Uang?" Tanya Junghwan bingung, "Ngapain kamu minta uang ke suamiku?"
"Ya masa punya besan kaya raya gak boleh minta uang?" Jawab Jaejin tanpa rasa malu sedikitpun.
"Udah udah, ayo kita pulang." Potong Doyoung sebelum Junghwan sempat menjawab, ia tahu bahwa suaminya pasti akan marah saat mengetahui fakta ini.
Jaejin akhirnya pergi sementara Junghwan dan Doyoung kembali masuk ke mobil. Tangan Doyoung bergerak gelisah di atas botol minum yang baru ia beli di toserba tadi, sesekali memandang Junghwan yang terus diam sambil melajukan kendaraan.
"Junghwan..." Panggil Doyoung dengan suara pelan.
"Kenapa kamu kasih uang ke dia?" Tanya Junghwan tiba-tiba.
Doyoung memijat keningnya sendiri sebelum menjawab, peningnya makin terasa karena atmosfer di dalam mobil yang mendadak berubah.
"Dia bilang itu buat urus makam orang tua kamu." Jawab Doyoung jujur.
"Kamu pikir aku gak mampu buat urus makam orang tuaku?"
Doyoung menggeleng, sebelah tangannya bergerak untuk mengusap lengan Junghwan. "Nggak, aku gak mikir gitu. Aku cuma gak enak—"
"Gak enak buat nolak karena ngerasa uangmu banyak? Entah berapa yang kamu kasih ke dia tapi aku gak pernah minta bantuan orang lain buat urus makam orang tuaku sendiri."
Kepala Doyoung kembali menggeleng ribut, bukan itu maksudnya, sedikitpun ia tidak berniat untuk merendahkan Junghwan.
"Maaf Junghwan, maaf... Tapi aku gak kasih banyak—"
"Gak banyak buat kamu itu banyak buatku, berapa yang kamu kirim ke dia? Biar aku balikin nanti."
Doyoung hampir menangis, namun sekuat tenaga ia menahan karena tidak ingin menggunakan air mata sebagai senjata.
"Maaf..." Cicit Doyoung lagi, dan Junghwan memilih diam selama perjalanan pulang mereka.
Bahkan hingga keduanya sampai ke rumah, Junghwan juga masih enggan bicara.
...
nah ribut kan beneran
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com