Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XXIV

"Sayang, udahan dong nangisnya? Kamu sedih ya aku hamil?" Tanya Doyoung pada suaminya.

Pasalnya, tangis Junghwan memang terus berlanjut, bahkan hingga anggota keluarganya yang lain pulang dan menyisakan mereka di ruang rawat.

Doyoung tidak perlu menginap, ia bisa pulang jika cairan di kantong infusnya habis nanti, sementara kakeknya juga langsung sehat sedetik setelah dikabarkan bahwa cucunya tengah mengandung.

"Nggak, aku... aku cuma seneng, aku seneng banget." Jawab Junghwan sambil terisak, sesekali mengusap air mata yang terus mengalir di wajahnya.

"Kalo seneng tuh ketawa, kenapa malah nangis terus?" Ledek Doyoung lagi, tangannya bergerak untuk mengangkat dagu suaminya agar tidak terus menghadap ke bawah. "Nanti orang lain kira, anggota keluargamu ada yang meninggal tau gak."

Setelah memastikan air matanya benar-benar berhenti, Junghwan tersenyum dan menatap Doyoung yang duduk bersandar di atas brankar. Ia lalu bangkit dari tempatnya, berjalan mendekat ke arah suaminya dan mengecup keningnya dalam waktu yang cukup lama.

"Thank you, thank you udah kasih aku keluarga baru. Aku pikir setelah orang tuaku meninggal, aku akan terus hidup sendirian." Bisik Junghwan sambil memeluk tubuh yang lebih kecil.

Ucapan tulus Junghwan justru membuat Doyoung sedih, ia tidak menyangka bahwa alasan di balik tangis suaminya adalah hal ini.

"Kan kamu punya aku, keluargaku juga boleh kok kamu anggap keluarga kamu sendiri." Jawab Doyoung sambil ikut membalas pelukan Junghwan.

Junghwan menggeleng, "Beda, sayang." Ucapnya lagi, ia menunduk untuk memandang Doyoung yang mendongak menatapnya. "Itu kan keluarga besar, kalau ini keluarga kecil kita."

Kita

Mereka memang tidak pernah menjalin hubungan romantis sebelum menikah, bahkan pernikahan tersebut didasari oleh perjanjian konyol yang terucap saat Doyoung mabuk di pesta orang lain. Tetapi siapa yang menyangka bahwa keduanya bisa berjalan hingga sejauh ini?

Kontrak yang akhirnya diketahui oleh keluarga Doyoung pun rasanya sudah tidak berarti, sebab bukti cinta keduanya kini hadir tanpa diduga. Dan di waktu yang tepat pula, karena keluarga Doyoung sempat berpikir untuk menjauhkan anak kesayangan mereka dari Junghwan.

"Bawa mobilnya pelan banget? Ini mah tengah malem baru sampe rumah." Protes Doyoung yang duduk di samping pengemudi, Junghwan hanya tertawa lalu mencium punggung tangan suaminya yang ada di genggaman.

"Cepetan dikit gapapa tau? Aku udah gapapa kok." Omelnya lagi karena jarak dari rumah sakit ke rumah mereka cukup jauh, dan kecepatan tiga puluh kilometer per jam? Doyoung juga yakin kalau kaki Junghwan tidak menginjak pedal gas dan hanya mengandalkan rem yang ia lepas.

"Kamu mau tambah kecepatan atau aku turun terus naik taksi sendirian?"

Ancaman Doyoung berhasil membuat Junghwan menurut, ia lalu membawa kendaraan dengan kecepatan normal, namun tetap berhati-hati dengan mengambil jalur lambat.

Lebih baik, walau mereka akhirnya sampai ke tujuan hampir satu jam kemudian.

Dengan cepat Junghwan melepas seatbelt lalu lari ke sisi satunya untuk membukakan pintu mobil Doyoung, "Aku gendong, ya?" Tawar Junghwan, namun belum sempat Doyoung menjawab, suaminya malah langsung mengangkat tubuhnya.

Mau tidak mau ia berpegangan dengan melingkarkan tangan ke belakang leher Junghwan.

"Kayaknya mulai besok kita harus pindahin kamar ke bawah? Kamu gak mungkin bolak balik naik tangga selama di rumah." Ucap Junghwan sambil berjalan menuju kamar tidur mereka di lantai dua. "Besok biar aku tanya Haruto hyung soal tukang."

Dan Doyoung malah menepuk pelan punggung Junghwan. "Sabar, gak perlu buru-buru. Kehamilanku baru tiga minggu, suamiku. Kita masih punya banyak waktu."

Doyoung kini duduk di atas ranjang sementara Junghwan mengambil tempat di sisi kosong di depannya, dan Doyoung menahan geli saat tangan suaminya bergerak untuk mengusap perutnya yang masih rata. "Lebih cepat lebih baik, kalau ditunda takutnya ini keburu gede."

"Yaudah kamu atur deh, aku mau mandi." Jawab Doyoung sambil turun dari ranjang, namun Junghwan malah menahannya.

"Aku bantu mandiin?"

Tawaran tidak menarik itu jelas langsung Doyoung tolak. Apa suaminya tidak ingat dengan kegiatan mereka beberapa hari lalu yang malah membuatnya kesakitan?

"Aku bisa sendiri, lagian kamu tuh bukan mandiin tapi modus karena mau pegang-pegang aku, kan?"

"Loh, aku kan suamimu, masa gak boleh pegang?"

Doyoung mengangkat tangan kirinya yang masih terdapat plester bekas tusukan jarum infus, "Aku baru aja pingsan tadi sore dan gak ada tenaga buat—"

"Buat apa? Aku cuma mau bantu kamu mandi." Junghwan masih bersikeras dengan tawarannya, tangan yang semula ada di perut Doyoung juga ikut bergerak naik untuk meremas dada suaminya. 

"Junghwan! Jangan pegang-pegang aku ya!" Omel Doyoung sambil memukul lengan suaminya keras-keras.

"Aku gak pegang?" Jawab Junghwan yang sekuat tenaga menahan tawa.

"Sekarang kamu pilih, aku mandi sendirian atau kamu tidur sendirian?"

"Emang kamu bisa tidur sendirian?" Junghwan balik bertanya.

"Kata siapa aku sendirian? Kan berdua sama anakku?" Ledek Doyoung sambil mengusap perutnya sendiri.

"Anak kita!"

***

Setelah sempat libur selama hampir satu minggu, Doyoung akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja karena tidak tega dengan sekertarisnya yang kini mengurus semua pekerjaannya sendirian.

Ia memang hendak mencari karyawan tambahan untuk membantu, namun prosesnya tidak secepat itu karena tanggung jawabnya memang cukup berat.

Junghwan bahkan Jihoon sudah berusaha membantu sebisa mereka, tetapi ada beberapa hal yang harus Doyoung pantau langsung.

"Sayang, gimana kalau kamu di rumah aja? Biar sekertaris Park yang dateng ke sini." 

Tawaran Junghwan dengan cepat Doyoung tolak, lagipula dokter mengizinkannya untuk bekerja selama aktivitasnya tidak berat, dan di kantor ia pasti hanya akan duduk sepanjang hari.

"Gak mau, lagian hari ini kamu harus ke tempat Jihoon kan? Siapa yang bakal ada di kantor pusat kalau bukan aku?"

"Aku bisa langsung balik ke sana kalau urusanku udah selesai, setelah jam makan siang juga aku udah pulang."

Dan Doyoung kembali menggeleng, setelah mengancingkan kemejanya, ia berjalan ke arah suaminya untuk merapikan dasi yang masih setengah terpasang. Tetapi Junghwan malah mendorong tubuhnya agar duduk di atas ranjang.

"Kamu jangan kelamaan berdiri, aku bisa kok pasang sendiri."

Doyoung hanya dapat menghela napas, ia terus menatap Junghwan yang kesulitan memasang dasi. "Bisa darimana? Sini." Titah Doyoung sambil melambaikan tangan, Junghwan kemudian mendekat untuk berjongkok di depan ranjang, dan dengan cepat Doyoung memasang dasi di lehernya.

"Aku cuma hamil, aku masih bisa jalan, berdiri, sama berangkat ke kantor selama dokter gak ngelarang."

"Tapi kalau kamu kenapa-kenapa, gimana?"

"Aku bisa jaga diri, Junghwan. Selama ada kamu, ada Jeongwoo juga di kantor, aku gak akan kenapa-kenapa."

Bibir Junghwan merengut maju, membuat Doyoung terkekeh lalu mengusap bibir penuh itu dengan ibu jari. "Jangan manyun terus, nanti gantengnya luntur. Udah sana berangkat."

"Bareng lah? Aku drop kamu dulu ke kantor baru aku ke tempat Jihoon."

"Buang-buang waktu, Junghwan. Aku bisa nyetir—"

"Nggak. Gak ada yang kasih kamu izin buat nyetir sendiri. Kamu mau bareng atau gak usah berangkat sekalian?

Dengan terpaksa Doyoung menurut karena enggan bertengkar lebih jauh dengan Junghwan, dan seperti biasa, sejak Doyoung hamil, Junghwan tidak pernah membawa kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat mereka nyaris terlambat sampai ke tempat kerja.

Sementara Jeongwoo sudah siap menunggu di lobi, hingga Junghwan tidak perlu turun dan mengantar Doyoung hingga masuk ke ruangannya di atas.

"Sebelum makan siang aku sempetin udah sampe sini lagi, kamu jangan kebanyakan kerja, kalau capek langsung istirahat aja, kalau mual juga diminum obatnya, pokoknya kalau ada apa-apa—"

Ucapan Junghwan berhenti karena Doyoung yang tiba-tiba mengecup bibirnya, "Iya sayang, udah sana berangkat."

Junghwan hanya dapat menatap suaminya yang berjalan masuk ke dalam gedung, memastikan sosoknya didampingi oleh sekertarisnya sebelum kembali melajukan kendaraan menuju kantor cabang di mana Jihoon ditempatkan.

Untungnya Doyoung belum merasakan gejala kehamilan yang mengganggu aktivitasnya, hingga kemarin ia belum pernah mual atau muntah tiap pagi seperti orang kebanyakan.

Itu yang membuatnya memutuskan untuk kembali bekerja, namun dirinya tidak menyangka bahwa tubuhnya malah sangat mudah lelah. Baru dua jam ia duduk di kursinya, dan pandangannya sudah berkunang, kepalanya juga mulai pusing karena terlalu lama menatap layar.

"Dokumen yang harus saya periksa hari ini, udah semua?" Tanya Doyoung pada Jeongwoo yang baru masuk ke ruangan untuk memberikan segelas susu hangat, pesan dari Junghwan.

"Belum ada setengahnya, tapi sebagian baru aja saya kirim ke email bapak." 

Doyoung menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi di belakang, memijat kening dengan sebelah tangan lalu mengangguk pelan.

"Saya lanjut lagi nanti, kepala saya pusing lama-lama liat layar."

Jeongwoo mengangguk paham, ia kemudian kembali ke tempatnya dan meninggalkan Doyoung sendirian.

Setelah menghabiskan minuman yang Jeongwoo buat, Doyoung berjalan menuju sofa, menjatuhkan tubuhnya di sana dan mulai memejamkan mata. 

Sepertinya benar apa yang Junghwan bilang, tidak seharusnya Doyoung pergi ke kantor, apalagi di awal kehamilan yang ia sendiri tidak tahu, hal apa yang akan terjadi pada tubuhnya.

Tangannya meraih ponsel yang ada di atas meja untuk menghubungi suaminya, tetapi Junghwan malah tidak menjawab panggilannya walau sudah berkali-kali ia mencoba.

Suara pintu yang dibuka membuat Doyoung menoleh, ia hendak protes jika itu Jeongwoo yang masuk tanpa mengetuk pintu sebelumnya. Namun sosok yang tersenyum sambil berjalan ke arahnya membuat netranya membola.

Apa yang Hyunmin lakukan di tempat kerjanya?







...

susahhhhhhh banget dahhhhhh bikin keluarga bahagia, ini aku ngide panjang panjangin aja karena di draft sebenernya tuh GAK SEPANJANG INI. yea meskipun kepikiran bby hamil tapi gak mikir bakal dijabarin :( kalo agak ngaco pls maafin, aku belum pernah hamil soalnya

btw selamat tahun baruuu temen-temen! memasuki tahun ketiga akun ini dibuat, thankyouu yang terus bertahan sampe sekarang hihi<3

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com