Chapter XXVI
Aktivitas mereka memakan waktu lebih singkat dari biasanya, karena kini tubuh Doyoung lebih mudah lelah dan Junghwan juga tidak segila itu untuk memaksa.
Setelah memastikan tubuh mereka benar-benar bersih, keduanya berbaring di atas ranjang. Tangan kecil Doyoung nampak kesulitan untuk memeluk tubuh besar Junghwan, namun ia tetap memegang erat-erat figur suaminya yang ada di sebelah.
"Sayang, soal Hyunmin di kantor tadi..." Ucap Junghwan tiba-tiba.
Awalnya ia enggan membicarakan masalah ini, sebab dirinya tahu bagaimana takutnya Doyoung pada mantan kekasihnya itu.
Namun hal penting tersebut harus tetap dibahas, Junghwan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada suami dan anak yang tengah dikandungnya.
Doyoung mengangguk, dagunya sengaja ia sandarkan di atas dada Junghwan, kepalanya sedikit mendongak untuk menatap wajah yang lebih tinggi.
"Kenapa? Dia langsung aku usir kok, untung ada Jeongwoo."
Sebelah tangan Junghwan terulur untuk mengusap lembut sisi wajah Doyoung, ia tersenyum saat menyadari bahwa pipi suaminya kini lebih berisi dibanding sebelumnya.
"Mulai besok kamu gak usah ke kantor, gimana? Aku sama Jihoon lagi proses rekrut karyawan baru, Haruto hyung juga setuju buat bantu dari jauh."
"Tapi aku gak mau sendirian di rumah." Rengek Doyoung dengan bibir merengut maju.
"Nanti aku bilang mama buat temenin kamu di sini, atau aku bisa anter kamu ke rumah utama tiap berangkat kerja, dan jemput kamu lagi setelah jam makan siang buat pulang sama-sama."
Tubuh Doyoung bergerak naik, begitu posisi mereka sejajar, ia langsung menenggelamkan wajah di ceruk leher suaminya.
"Aku maunya sama kamu. Kalau aku gak boleh kerja, kamu juga gak boleh pergi ke kantor."
"Sayang, gak bisa dong kalau kita berdua lepas tanggung jawab gitu aja."
Rengekan pelan kembali keluar dari mulut yang lebih kecil, ia sangat ingin menggigit leher Junghwan agar lelaki itu menurut, namun Doyoung tidak ingin Junghwan memiliki bekas memalukan di sana yang pasti tidak akan hilang dalam waktu singkat.
"Aku janji aku bakal pulang sebelum jam makan siang, kamu cuma harus banyak istirahat di rumah."
"Belum genap dua bulan aku hamil, Junghwan. Kamu mau kurung aku terus sampai aku melahirkan?"
"Gak dikurung, aku cuma—"
"Gak. Pokoknya aku bakal ikut kemanapun kamu pergi."
Junghwan menghela napas, ia mengangguk pasrah sebelum ikut memeluk tubuh suaminya. "Iya iya, yaudah sekarang tidur ya."
Doyoung menurut, netranya terpejam saat Junghwan bergerak maju untuk mengecup keningnya.
Hari yang cukup berat akhirnya dapat ia lewati, terima kasih pada Junghwan yang terus ada di sampingnya. Dan Doyoung harap akan terus begitu seterusnya.
Namun harapannya sirna karena begitu ia membuka mata, Junghwan sudah tidak lagi ada di sebelah. Pengurus rumah berkata bahwa Junghwan berangkat pagi-pagi sekali, bahkan sebelum alarm ponsel mereka berbunyi.
Tadinya Doyoung hendak menghubungi, tetapi jika dipikir lagi, ia terlalu sering mengemis pada Junghwan akhir-akhir ini, dan suaminya terlihat enggan menuruti.
"Gak mau makan berat aja?" Tanya pengurus rumah yang sibuk menghidangkan makanan, Doyoung menggeleng pelan sambil mengunyah buah apel yang ia ambil dari atas meja.
"Tadi Junkyu telfon katanya mau ke sini dan minta dimasakin," Ucap perempuan paruh baya itu lagi.
"Junkyu hyung? Tumben banget."
"Dia sih bilangnya kangen masakan Ibu, tapi kayaknya bohong sih, dia pasti kangen adiknya satu-satunya."
Doyoung memutar mata, hubungannya dengan kakaknya memang belum membaik sejak insiden bulan madu yang hancur total karena ia enggan membantu insiden di kantor waktu itu. Membuatnya harus pulang ke Seoul sebelum waktu terbangnya.
"Sendirian?" Tanya Doyoung lagi.
"Sama suaminya lah, emangnya kamu ditinggal sendirian." Ledek perempuan yang kini berdiri di sebelah Doyoung, "Jangan dihabisin apelnya, nanti bibir kamu bengkak terus suamimu ngomel gak berhenti."
"Biarin lah, dia aja ninggalin aku."
"Ada urusan mendesak mungkin di kantor, dia aja lupa pake jasnya." Jawabnya sambil menunjuk jas milik Junghwan yang menjuntai di atas sofa.
Tadinya Doyoung enggan peduli, namun ia teringat bagaimana kebiasaan Junghwan yang suka menggulung lengan kemeja hingga menampakkan tangan yang terlalu menggoda itu membuat perasaannya makin kesal.
Suaminya pasti sengaja memamerkan tubuhnya di depan orang lain.
Tunggu, atau jangan-jangan Junghwan berniat selingkuh?
Junghwan pergi pagi-pagi karena ingin mencari orang lain yang lebih sehat dan tidak sedang mengandung seperti dirinya?
"Loh kok nangis?" Suara Bu Yeom terdengar panik saat melihat Doyoung mulai mencebik.
"Junghwan... Junghwan selingkuh."
"Siapa yang bilang gitu?"
"Gak ada, perasaanku aja."
Kali ini Bu Yeom tertawa, ia memeluk tubuh anak laki-laki yang sudah diurusnya sejak kecil. "Suamimu itu kerja, bukan selingkuh. Gak usah mikir aneh-aneh."
"Terus kenapa dia ninggalin aku?"
"Ya kamu kan lagi hamil, suami mana yang mau pasangannya ikut kerja di saat kayak gini? Junghwan cuma gak mau kamu kecapekan."
Kalimat tersebut ada benarnya, tetapi Doyoung tidak semudah itu untuk percaya. Tolong maklumi, ia sedang hamil dan berpikir terlalu jauh adalah satu dari segala macam penyakit yang bisa menyerangnya.
"Udah sana mandi, bentar lagi kakakmu dateng."
Dan Doyoung menurut, ia berjalan dengan langkah gontai menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan pengurus rumah yang masih sibuk menyiapkan makanan di dapur sendirian.
***
Junkyu datang tepat sebelum jam makan siang, bertingkah seolah dirinya adalah pemilik rumah sebelum Doyoung akhirnya turun ke bawah.
"Mana suamimu?" Tanya Junkyu saat melihat adiknya datang sendirian.
"Gak tau, kabur kayaknya." Jawab Doyoung enteng, ia menerima segelas susu hangat yang sudah disiapkan lalu menenggak habis isinya.
Kedua kakak beradik itu sibuk beradu argumen selama sesi makan siang, sebuah pemandangan yang biasa Haruto lihat bahkan sebelum ia menikahi anak tertua keluarga Kim.
Doyoung duduk sendirian, berhadapan dengan Junkyu dan Haruto yang duduk berdampingan di sisi seberang meja makan.
"Haruto hyung habis potong rambut, ya?" Tanya Doyoung sambil berpangku tangan, menatap wajah iparnya yang terlihat lebih tampan dibanding sebelumnya.
"Kenapa emang? Ganteng ya suamiku?" Jawab Junkyu sambil melambaikan tangan di depan wajah adiknya. "Jangan liatin dia kayak gitu."
"Posesif banget, sih? Aku cuma ngeliat, gak ngejilat."
Jangankan Junkyu, Haruto bahkan tersedak makanan yang sedang ia kunyah begitu mendengar jawaban asal adik iparnya.
Junkyu yang hendak mengomel mendadak diam begitu mendengar suara pintu yang dibuka keras-keras dari luar, Junghwan sedikit berlari menuju dapur dan disambut dengan pemandangan ramai yang jarang ia lihat selama tinggal di rumah.
"Junghwan! Suamimu ini gak waras." Adu Junkyu, dan Doyoung hanya berdecih sebelum kembali memandangi wajah tampan kakak iparnya.
"Semoga kalau anakku nanti laki-laki, wajahnya seganteng Haruto hyung." Ucap Doyoung, sama sekali tidak memedulikan suaminya yang kini duduk di sebelah.
"Kenapa harus mirip Haruto? Kan itu anakku." Protes Junghwan tidak terima.
Tetapi Doyoung tidak menanggapi, ia malah mendorong tubuh Junghwan agar menjauh. "Jangan sok akrab ya kamu, sana kamu nikah aja sama kerjaan."
Junghwan menghela napas, sudah menduga bahwa suaminya pasti akan marah karena dirinya yang pergi tiba-tiba. Tetapi ia memang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja, Jihoon akan kesulitan jika harus mengerjakan semuanya sendirian.
Perekrutan karyawan baru kembali diadakan, dan hari ini adalah hari terakhir wawancara yang artinya Junghwan harus hadir di sana. Maka dari itu dirinya terpaksa pergi sebelum Doyoung terjaga karena tahu bahwa ia pasti akan memaksa untuk ikut.
Sesi makan siang di rumah tidak pernah seriuh ini sebelumnya, kehadiran Junkyu dan Haruto berhasil membuat suasana kediaman Doyoung yang biasanya sunyi nampak lebih ramai.
Lagi-lagi Junghwan makan dengan lahap hari ini, membuat semua orang yang duduk di meja makan termasuk pengurus rumah heran karena lelaki itu menghabiskan nyaris seluruh lauk yang tersedia sendirian.
"Kurang? Masih mau lagi?" Tanya Doyoung saat melihat nasi di mangkuk Junghwan habis tanpa sisa.
"Emang masih ada?"
"Ya gak ada, lah. Kan udah kamu habisin semua." Jawab Doyoung sambil menuang nasi yang tersisa di mangkuknya ke dalam mangkuk Junghwan. "Tuh makan, anakku kasian liat Ayahnya kelaparan."
Junghwan tertawa, ia mengecup sebelah pipi Doyoung sebelum berterima kasih dan melanjutkan agenda makan siangnya.
"Selama hamil kamu pernah mual atau ngidam gitu gak?" Tanya Junkyu tiba-tiba.
Doyoung menggeleng, "Gak pernah." Jawabnya.
"Oh, pantesan."
"Kenapa?"
"Yang ngidam Junghwan."
Tunggu, kalimat Junkyu ada benarnya. Karena kemarin Junghwan mual dan muntah selama perjalanan pulang mereka, juga selera makan yang lebih besar dibanding sebelumnya.
Laki-laki manis itu menoleh, menatap suaminya yang masih sibuk mengunyah makanan.
"Wah..." Ucap Doyoung tanpa sadar.
Junghwan ikut menoleh, memandang suaminya yang melempar tatapan tidak percaya. "Kenapa?" Tanyanya heran.
"Aku gak tau kalau kamu secinta itu sama aku."
Dibanding protes, Junghwan malah tersenyum lebar seperti orang bodoh begitu Doyoung selesai bicara. Ia mengangguk senang bagai seekor anjing yang baru saja diberi kudapan oleh pemiliknya.
"Iya, aku secinta itu sama kamu." Jawabnya sambil bersandar ke atas bahu Doyoung.
Pemandangan indah yang nyaris membuat Junkyu dan Haruto muntah.
Tujuan utama kakak serta ipar Doyoung datang ke rumah awalnya adalah karena mereka ingin membahas soal Hyunmin yang masih mengganggu Doyoung walau sudah diperingati berkali-kali.
Tetapi melihat kondisi rumah tangga yang nampak bahagia membuat mereka enggan bicara, keduanya tidak ingin menghancurkan suasana harmonis keluarga kecil yang sudah susah payah adiknya bangun.
Setelah makan siang, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Dengan televisi yang menayangkan salah satu film animasi yang Doyoung putar berkali-kali.
Pemilik rumah duduk bersebelahan di sofa panjang, sementara kedua tamu mereka duduk di sofa single yang ada di sisi kiri dan kanan.
"Ngaku deh, kalian pasti mau ngomongin sesuatu kan makanya sampai dateng ke sini?" Ucap Doyoung pada akhirnya, sebab ia tahu bahwa si pemalas Junkyu tidak mungkin mengunjunginya jika bukan karena hal mendesak.
"Aku cuma mau jenguk adikku, gak boleh?" Jawab Junkyu membela diri, membuat Doyoung berdecih lalu memandang Haruto yang duduk tidak jauh dari tempatnya.
"Kamu ngerti soal mobil, gak?" Tanya Haruto tiba-tiba, dengan mata yang memberi tanda agar Junghwan mengikutinya untuk pergi keluar.
"Sedikit, kenapa? Mobil hyung bermasalah?" Jawab Junghwan.
Haruto mengangguk sebelum mengajak adik iparnya untuk berjalan keluar rumah, meninggalkan kakak beradik yang masih sibuk beradu argumen di dalam.
"Ada apa?" Tanya Junghwan ketika mereka akhirnya duduk di kursi yang ada di halaman depan.
"Soal Hyunmin, kemarin dia nyamperin Doyoung ya?"
Pertanyaan Haruto Junghwan jawab dengan anggukan.
"Padahal saya udah nyuruh dia buat stop ganggu Doyoung, tapi malah masih berulah. Gimana kalau kita laporin dia ke polisi?"
"Atas kasus apa? Doyoung bahkan gak mau bahas soal dia sedikitpun, apalagi kalau disuruh nuntut."
Haruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, itu juga yang Junkyu katakan begitu ia menawarkan agar mereka menuntut mantan kekasih Doyoung yang nampak enggan menyerah mengganggu adiknya.
"Tapi saya udah larang Doyoung buat ke kantor mulai hari ini. Hyunmin gak mungkin datang ke rumah, kan?"
"Gak ada yang tau, Junghwan. Hyunmin bukan orang waras yang bisa nurut dengan gampang." Jelas Haruto, "Gimana kalau kamu berhenti ke kantor mulai sekarang? Jangan tinggalin Doyoung sendirian."
Junghwan mengangguk, "Minggu ini minggu terakhir saya ke kantor, setelah itu saya bakal kerjain semuanya dari rumah."
Akhirnya Haruto bernapas lega, ia juga berharap agar Hyunmin benar-benar berhenti mengganggu keluarganya. Karena hingga saat ini, ia masih diliputi rasa bersalah sebab secara tidak langsung, dirinya yang membuat Doyoung kenal dan terjebak dalam hubungan tidak sehat bertahun-tahun lamanya.
"Doyoung gak pernah nyalahin hyung soal ini." Ucap Junghwan tiba-tiba, seakan dapat membaca apa yang ada di pikiran kakak iparnya.
Begitu obrolan berakhir, mereka kembali masuk ke dalam rumah. Dan kedua lelaki itu disambut dengan pemandangan yang berhasil membuat mereka berlari ke arah suaminya masing-masing.
"Sayang, jangan dijambak gitu rambut hyungnya." Omel Junghwan sambil berusaha melepas tangan Doyoung dari kepala Junkyu.
Tetapi Doyoung tidak menurut, ia malah menarik rambut Junkyu lebih kuat dibanding sebelumnya.
"Kamu tau gak, tadi hyung ngatain kamu mirip babi karena makan mulu."
Ucapan Doyoung membuat Haruto kini ikut mengomeli suaminya, "Kamu lagian ngapain ngomong gitu, sih?"
"Doyoung duluan yang bilang kamu mirip onta karena ketinggian."
Haruto dan Junghwan hanya dapat menghela napas, alasan keributan kakak beradik ini memang selalu di luar nalar.
...
sumpehhhhhh akuuuuuuu gak tauuuuuuu harussssss ngetikkkkkkk apaaaaaaa lagiiiiiii buatttt panjanginnnnnn chapterrrrrrrr iniiiiiiii jadi maaf kalau NGAWUR PUOL
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com