Bonus Chapter
Warning : mature content
***
Rasanya bibir Doyoung kebas karena Junghwan yang terus menghisap bagian atas dan bawahnya bergantian. Sejak diubah menjadi vampir, laki-laki itu seakan sengaja menunjukkan kemampuannya yang tidak perlu mengambil napas, mencium Doyoung tanpa jeda, serta menjilat seluruh sudutnya.
Tangannya juga tidak berhenti bergerak, masuk ke dalam kemeja yang Doyoung kenakan, memilin puting yang pastinya sudah kemerahan karena terus ia mainkan.
Tanpa aba-aba, Junghwan langsung merobek pakaian atasnya. Suara gemerincing kancing yang berjatuhan sama sekali tidak mengganggu fokusnya.
Mulut yang sejak tadi beradu dengan milik Doyoung kini mulai bergerak turun ke lehernya, menjilat, menghisap dan sesekali menggigitnya hingga membuat tanda keunguan.
Jika Doyoung adalah manusia, pasti ia sudah teriak kesakitan. Namun karena ia bukan bagian dari mereka, Doyoung justru terus mendesah karena perbuatan Junghwan.
"Ahh—" Desahan keluar dari mulutnya begitu lidah Junghwan bergerak acak di sekitar areola, sesekali menyentuh puncak dadanya yang menegang, memberi sensasi menyenangkan yang langsung mengalir ke tubuh bagian bawahnya.
Tangan Doyoung bergerak menuju belakang pinggang Junghwan, mendorong tubuh bagian bawah laki-laki itu agar menempel dengannya. Ia mendesah kuat ketika merasakan miliknya bergesekan dengan milik Junghwan walau masih terhalang pakaian.
"Junghwan, ahhh— Junghwan." Desah Doyoung lagi ketika mulut Junghwan menghisap putingnya, sementara yang satu lagi ia mainkan dengan jari.
Dua kenikmatan dalam waktu yang bersamaan membuat kewarasannya menguar entah kemana, ingin rasanya Doyoung robek juga seluruh pakaian Junghwan sekarang, tapi ia masih menikmati saat berada di bawah kekasihnya yang sangat mendominasi.
Setelah berhasil membuat Doyoung hampir keluar hanya dengan mulutnya, Junghwan menarik diri. Menatap wajah manis Doyoung yang ada di bawahnya.
Bibir yang bengkak, jejak keunguan di sekitar leher dan dadanya, tubuh bagian atas yang tidak lagi tertutup apa-apa.
Sempurna. Kim Doyoung selalu sempurna di mata Junghwan sejak hari pertama hubungan mereka.
Sedangkan Doyoung tersenyum melihat raut kelaparan kekasihnya yang seakan siap menelannya kapan saja, "Hey, calm down. Pelan-pelan aja, aku gak akan pergi juga." Ucap Doyoung sambil mengusap sisi wajahnya.
Raut Junghwan melembut, ia mengecup kening Doyoung, menyalurkan perasaan yang tidak lagi dapat ia ungkap dengan kata-kata.
Sejak Doyoung mengubahnya, fokus Junghwan hanya untuk ia sepenuhnya. Junghwan tidak lagi peduli dengan kedua orang tuanya yang hampir setiap hari mengemis untuk diberi uang. Ia pindah ke cabang rumah sakit paling jauh dari Gangwon, sengaja menghindari Ibunya yang sering datang tiba-tiba.
Doyoung ikut serta, ia mendaftar internship di rumah sakit yang sama dan tentunya akan mengejar gelar Dokter Spesialis di tempat ini juga bersama kekasihnya.
"I want you." Ucap Junghwan sambil mengusap kening Doyoung yang berkeringat.
"Then make me." Balas Doyoung dengan nada paling sensual yang pernah keluar dari mulutnya.
Dengan cepat Junghwan melepas kemejanya, diikuti dengan celana panjang serta dalaman yang sejak tadi hanya mengganggu aktivitas mereka.
Doyoung juga sama cepatnya, ia kini berbaring dengan tubuh yang tidak ditutupi apapun, seakan menunggu Junghwan untuk menikmati seluruh bagiannya.
"Pretty, my pretty Doyoungie." Ucap Junghwan. Ia mengukung Doyoung dengan tangan yang ada di kedua sisi tubuhnya sebagai tumpuan.
Kepalanya bergerak maju, memberi kecupan basah di semua sudut wajah, turun ke lehernya, menjilat jejak yang ia buat sendiri. Suara erotis menguar di apartemen yang mereka sewa bersama, menjadi latar belakang satu-satunya.
Kepala Junghwan terus turun, hingga akhirnya sampai di depan milik Doyoung yang sudah menegang sempurna.
Ia mengecup ujungnya, membuat Doyoung sekuat tenaga menahan desahan. Mulutnya terbuka, lidahnya keluar untuk menjilat tiap bagian, milik Doyoung terasa begitu kecil bagi Junghwan, ia sama sekali tidak kesulitan untuk memasukan seluruh batangnya ke dalam mulut.
Doyoung mendesah, tangannya bergerak di atas rambut Junghwan, memberi penekanan agar kekasihnya tidak berhenti mengulum penisnya, getaran demi getaran yang ia hantarkan membuat miliknya terus membesar.
Kepalanya menunduk, menatap Junghwan yang juga bersikap serupa di bawahnya. So Junghwan sialan, mulutnya memang tidak pernah gagal membuat kewarasan Doyoung menguap entah kemana.
Karena setelah dihisap kuat, ia akhirnya keluar di mulut Junghwan. Tubuhnya bergetar karena sensasi nikmat yang terus Junghwan berikan, lidah laki-laki itu menyapu seluruh bagian, menelan habis cairan hangat yang membuat Doyoung melemas seketika.
Untungnya ia tidak bernapas, karena dirinya pasti akan terengah-engah sebab permainan Junghwan yang tanpa jeda.
"Mau istirahat dulu apa langsung aja?" Tanya Junghwan sambil beringsut naik, menatap wajah Doyoung yang nampak kelelahan.
"Mau makan kamu juga." Jawab Doyoung, dan berhasil membuat Junghwan tersenyum bahagia.
Junghwan setengah berbaring di atas ranjang, sambil bersandar di kepala kasur, ia menatap Doyoung yang tengah berlutut di depannya.
Jemarinya yang kecil bergerak ringan di atas penis Junghwan, ukurannya jelas lebih besar dibanding miliknya. Namun bukan berarti Doyoung tidak dapat memuaskan kekasihnya, berulang kali ia membuat Junghwan kehilangan kewarasan dengan kemampuan yang ia punya.
Doyoung membasahkan seluruh telapak dengan salivanya sendiri sebelum bergerak untuk memijit batang penis Junghwan, menaik turunkan tangannya cepat tanpa melepas kontak mata dengan kekasihnya.
Tidak lama kemudian ia membuka mulut, sedikit menjulurkan lidahnya dan mulai menepuk-nepuk ujung penis Junghwan ke mulutnya sendiri. Memberi sensasi aneh karena rautnya yang begitu sensual.
Kepalanya bergerak maju, mulai mengulum milik Junghwan yang sudah membesar, sekuat tenaga memasukkan seluruhnya hingga ujungnya membentur tenggorokan. Doyoung mendesah setelahnya, memberi getaran di tiap suara yang ia keluarkan.
Pinggul Junghwan ikut bergerak maju mundur, membantu Doyoung yang nyaris tersedak namun sekuat tenaga menahan diri.
Junghwan keluar tidak lama kemudian, seluruh cairannya ditelan habis oleh Doyoung yang kini beringsut untuk duduk di sampingnya.
"Mau berapa ronde hari ini?" Tanya Junghwan, dan berhasil membuat Doyoung tertawa.
"Kamu kuatnya berapa?"
"Sampai pagi juga aku kuat."
***
"Aahhh— Junghwan, fuck fuck fuck." Umpat Doyoung begitu dua jari Junghwan bergerak keluar masuk di lubangnya, suara ranjang yang berderit seakan memberi bukti seberapa cepat tangan Junghwan di bawah sana.
"Kok berisik banget? Katanya kuat sampai pagi? Tapi baru dua jari aja udah berisik gini?"
Shit. Junghwan memulai obrolan kotornya.
"Enak ya? Baru dua jari gini aja udah keenakan ya?" Ucap Junghwan lagi, Doyoung menggeleng ribut sambil meremat bantal yang ada di bawahnya.
"Kok gak jawab? Mulutnya emang gak bisa dipakai habis ngasih blowjob? Langsung kehilangan fungsi gitu?"
"Ahhh—." Doyoung kembali mendesah begitu Junghwan menambah jari ketiga, ujung jari tengahnya tepat mengenai prostatnya berulang kali.
"Kok dilepas?" Rengek Doyoung begitu Junghwan mengeluarkan jemarinya dari sana, Junghwan tidak menjawab dan malah mengangkat sebelah kakinya untuk diletakkan di atas bahu.
Tanpa aba-aba milik Junghwan melesak masuk, dalam satu kali hentakan ujung penisnya langsung bertemu dengan titik paling sensitif yang ada di tubuhnya.
Doyoung menggigit bibir bawahnya sendiri, berusaha menahan desahan yang hendak keluar dari mulutnya.
Pinggul Junghwan bergerak maju mundur, seirama dengan tubuh Doyoung yang bergerak ke arah berlawanan.
Suara desahan mereka beradu, mengalahkan suara decitan ranjang yang mereka yakin nyaris roboh karena tenaga dua orang di atasnya yang terlampau kuat.
"Don't touch yourself." Titah Junghwan begitu melihat Doyoung mulai menyentuh penisnya sendiri, dan Doyoung menurut.
Tangan kecilnya digantikan oleh tangan Junghwan, ia memijit milik kekasihnya, dibawa naik turun dan sesekali diusap ujungnya.
Doyoung keluar tidak lama kemudian, disusul dengan Junghwan yang membenamkan seluruh miliknya di lubang Doyoung, seolah menahan semua cairan agar tidak ada yang menetes keluar.
Junghwan kini berbaring di belakang Doyoung, masih dengan penis yang ada di lubangnya, ia kembali bergerak maju mundur.
Tangan Doyoung meraih tangan Junghwan, meremat jemari laki-laki itu ketika gerakannya makin liar.
"Junghwan... oh my God Junghwan." Racau Doyoung begitu tangan kekasihnya yang bebas kembali menggenggam penisnya.
"Why? Don't you like it when I did you rough like this?"
Kepala Doyoung mengangguk, Junghwan menekan perutnya, merasakan bagaimana miliknya yang bergerak keluar masuk di dalam sana.
Ia menoleh, menatap wajah Junghwan lalu mencium bibirnya, gerakan Junghwan melambat karena fokus yang mulai terbagi.
"Do you want me to do it gently?" Tanya Junghwan di sela ciuman mereka, namun Doyoung malah menggeleng.
"Do me roughly, crush me, destroy me. I'm all yours, Junghwan. Do whatever you want."
Tubuh Junghwan kembali bergerak liar, lubang yang basah, penis besar yang masih betah keluar masuk di dalam sana, membuat Doyoung terus mendesah sambil meremat jemari Junghwan dengan kedua tangan.
Junghwan menarik sebelah kaki Doyoung untuk diletakkan di atas kakinya, membuat geraknya makin bebas dan suara deritan kasur juga makin jelas.
Keduanya mengerang rendah, seluruh tubuhnya Doyoung meremang ketika kembali merasakan sensasi hangat di lubangnya. Disusul oleh putihnya yang juga keluar di tangan Junghwan.
"Another round?" Tanya Junghwan sambil mengecup tengkuk kekasihnya.
Doyoung tertawa, sejak menjadi vampir, tenaga Junghwan memang tidak ada habisnya.
"Clean me first, banjir banget tau."
"With my fingers? Or my mouth?" Tanya Junghwan, ia sedikit mundur untuk melepas miliknya dari lubang Doyoung, dan tersenyum puas ketika melihat cairannya ikut keluar dari sana.
Netra Doyoung terpejam begitu tangan Junghwan mengusap pintu masuk lubangnya, "Mau gak? Amisnya sama kok kayak darah." Tawar Junghwan sambil menyodorkan tangan yang dipenuhi sperma.
Doyoung memutar mata, kekasihnya memang gila.
...
This was the WILDEST FICTION I'VE EVER WRITE AAAAAAAAA AKU BAHKAN GAK BERANI BACA ULANG JADI MAAFIN DEH KALO ADA SCENE ANEH OR CANGGUNG OR ELSE.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com