Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Due

Berbagai macam makanan tertata rapi di atas meja lipat yang sengaja Junghwan bawa ke asrama. Dengan alas karpet bulu yang juga miliknya, kini ia dan teman sekamarnya duduk berhadapan.

Tanpa Junghwan sadari, Doyoung malah duduk gelisah sejak tadi.

"Makan." Ucap Junghwan seraya memberi sumpit yang sudah ia bersihkan ke Doyoung. "Lo sibuk banget ya? Sampe gak pernah bisa makan di asrama, masa piring sama sumpit aja gak punya." Lanjutnya lagi.

Doyoung mengumpat dalam hati, tapi bibirnya justru melakukan hal sebaliknya, ia berusaha tersenyum kepada Junghwan yang masih menatapnya.

"Iya, gue biasanya makan di luar." Jelasnya singkat.

Junghwan mengangguk paham dan mulai menyantap makanan yang ada di atas meja, sesekali mencuri pandang ke arah Doyoung yang terlihat berusaha keras menelan makanan yang dirinya siapkan.

Meski Junghwan tidak pemilih dalam urusan makan, menurutnya makanan yang ia beli tidak terlalu buruk, tapi mengapa Doyoung seakan berusaha keras menelan makanan yang ada di mulutnya?

"Kenapa?" Tanya Junghwan.

"Hah?"

"Lo kenapa? Makanannya gak enak?"

Doyoung menggeleng, "Gue kenyang." Jawabnya lalu meletakkan sumpit ke atas piring.

"Lo bahkan belum makan apa-apa?"

Siapapun tolong tahan Doyoung untuk tidak meledak sekarang juga, padahal biasanya perangai Doyoung tidak sebaik ini, ia tidak jarang dijuluki sebagai koas galak karena selalu terlihat ketus di depan orang asing.

Tapi entah kenapa, begitu dirinya berhadapan dengan Junghwan, gerak geriknya seakan tidak bisa berjalan normal.

"Gue tidur duluan, besok harus ke rumah sakit pagi-pagi." Ucap Doyoung kemudian, sengaja tidak menanggapi pertanyaan Junghwan.

Dan Junghwan juga merasa belum sedekat itu untuk memaksa Doyoung tetap duduk di tempatnya, maka ia memilih diam ketika melihat Doyoung naik ke atas kasur di sisi seberang.

Seketika dirinya sedikit menyesal karena membeli terlalu banyak makanan, ini tidak akan habis sekuat apapun usahanya, dan ia juga tidak menemukan kulkas di sini, barang-barang Doyoung terlalu sedikit untuk orang yang sudah menghuni kamar selama hampir dua tahun.

Junghwan membereskan barang-barangnya setelah makan lalu duduk di atas ranjang, matanya menatap punggung Doyoung yang berbaring menghadap tembok.

Tunggu, ia tidak bernapas?

Kalau tidak salah dengar, tadi Doyoung berkata bahwa dirinya tidak enak badan, kan?

Meski awalnya ragu, perlahan Junghwan turun dari ranjang dan berjalan ke tempat Doyoung berbaring. Tangannya terulur, hendak meraih bahu teman sekamarnya yang tidak bergerak sama sekali sejak tadi.

Ia bahkan belum menyentuh tubuh Doyoung, tapi sensasi dingin mulai menembus kulitnya. Ini tidak normal, Junghwan adalah perawat dan ia hapal betul bagaimana seharusnya suhu tubuh manusia.

Junghwan hampir meraih ponsel untuk menelepon ambulans, sampai tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkram kuat oleh Doyoung yang juga mulai berbalik dan menatapnya lurus, "Ngapain?" Tanyanya dengan suara tertahan.

"Lo gak napas daritadi, badan lo juga dingin banget, lo yakin gapapa?" Junghwan balik bertanya.

"Gue gapapa." Jawab Doyoung singkat lalu melepas tangan Junghwan dari pegangannya.

Helaan napas kasar keluar dari mulut Junghwan, dirinya turun dari ranjang Doyoung lalu mematikan saklar, menyalakan lampu remang di ujung kasur dan bersiap untuk tidur.

Pertemuan di hari pertama dengan teman sekamarnya tidak dapat dibilang buruk dan tidak berujung baik juga. Tapi tidak apa, dirinya rasa usahanya sudah cukup, mungkin Doyoung yang tidak nyaman karena tiba-tiba privasinya seakan direnggut paksa.

Namun ia berharap semoga nanti Doyoung dapat memberi respon yang baik, karena ia tidak ingin bermusuhan dengan teman satu kamarnya sendiri.

Malam itu Junghwan akhirnya terlelap walau masih ada perasaan mengganjal, tidak lupa mengatur alarm karena besok pagi adalah hari pertamanya untuk bekerja di rumah sakit.

Rasanya ia baru tertidur sebentar, namun terpaksa bangun karena ada beban yang cukup berat di atas tubuhnya. Remangnya kamar membuat netranya sulit menangkap sosok apa yang menindihnya, apa penghuni lain kamar ini juga tidak menyukai kehadirannya?

Ketakutannya sirna ketika merasakan benda asing menyentuh bibirnya, sesuatu yang kenyal dan basah, Junghwan tidak sebodoh itu untuk tidak dapat menebak siapa dan apa yang sedang berusaha mengobrak abrik isi mulutnya.

Kedua tangannya bergerak mencengkram sisi pinggang orang yang ada di atas tubuhnya, berusaha membuat ia menyingkir karena Junghwan yang mulai kesulitan bernapas.

Junghwan bersumpah bahwa ia berusaha keras, mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya untuk menggeser Doyoung dari atasnya, tapi rasanya sia-sia karena orang itu tidak berpindah sama sekali dari posisinya.

Tangan yang terasa dingin itu bergerak di sisi wajahnya, ibu jarinya mengusap pelan kedua pipinya, dengan bibir yang terus melumat kasar milik Junghwan yang mulai membengkak.

"Doyoung." Ucap Junghwan di sela ciuman mereka, tapi Doyoung seolah tuli dan malah terus melanjutkan aktivitasnya.

Doyoung mengakhiri ciuman mereka dengan mengecup pelan ujung mulutnya. Junghwan kira ia akan berhenti di sana, namun kepalanya justru makin menunduk, mengarah ke perpotongan leher Junghwan, membubuhinya dengan banyak kecupan sebelum membasahinya dengan lidah.

Junghwan sadar kalau Doyoung sedang melecehkannya sekarang, ah rasanya harga dirinya sudah menguap entah kemana. Tapi ia tidak dapat melawan, tenaganya seakan terkuras dan dihisap habis oleh Doyoung melalui ciuman mereka.

Tubuhnya makin lemas ketika merasakan perih di lehernya. Junghwan juga tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena beberapa saat kemudian, ia terbangun karena bunyi alarm yang bergema di ruangan. Dan begitu ia menoleh ke samping, netranya menemukan kasur Doyoung yang sudah kosong dengan sprei berantakan.

***

Hari pertama bekerja di rumah sakit berjalan cukup lancar, walau sebenarnya Junghwan masih lemas karena kurang tidur juga karena mimpi yang menghantuinya bahkan hingga hari hampir berganti.

Junghwan tidak dapat menemukan Doyoung di sana, wajar karena rumah sakit sangat luas dan kemungkinan ia ditempatkan di posisi yang sama dengan dokter koas itu sangat kecil. Tapi ia sedikit bersyukur, karena dirinya pasti merasa canggung jika bertemu Doyoung setelah insiden tadi malam.

Ia memimpikan hal cabul dengan teman satu kamar yang baru satu hari dikenal, sungguh tindakan tidak bermoral.

Ingatkan Junghwan untuk mengontrol hormonnya lain kali.

Junghwan menyempatkan diri untuk makan di kantin rumah sakit sebelum pulang, ia enggan mengulang insiden makan bersama dengan teman sekamarnya yang luar biasa canggung seperti tempo hari.

Tanpa mengganti pakaian, Junghwan berjalan menuju asrama. Parasnya yang tampan membuat beberapa penghuni lain menatap kagum ke arahnya sambil berbisik penuh rasa penasaran. Tapi Junghwan tidak menanggapi, satu-satunya hal yang menarik perhatiannya adalah kasur asramanya saat ini.

0218

Junghwan sedikit terkejut ketika pertama kali mengetahui bahwa kata sandi pintu asrama yang Doyoung pakai sama persis dengan tanggal kelahirannya.

Mungkin itu tanggal kelahirannya juga, atau tanggal kelahiran seseorang yang berarti untuknya, atau tanggal penting lainnya. Junghwan tadinya ingin bertanya, tapi setelah mengetahui fakta bahwa Doyoung adalah orang yang cukup sulit didekati, Junghwan mengurungkan niat.

Tangannya memutar kenop pintu dan ia dikejutkan dengan kehadiran dua sosok yang ada di kamar. Kedua orang itu memandang Junghwan dengan tatapan sama, mata yang begitu dingin mirip dengan apa yang Junghwan lihat di mimpinya tadi malam.

"Kakak pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik." Ucap yang lebih tinggi sambil menepuk bahu Doyoung.

Sosok itu berjalan melewati Junghwan dengan senyuman yang sedikit dipaksa, sensasi dingin kembali menusuk kulitnya begitu orang itu mendekat dan berlalu dari kamar mereka.

"Siapa?" Tanya Junghwan.

"Kakak gue."

Junghwan mengangguk paham sebelum menutup pintu yang ada di belakang dan berjalan menuju lemari. Ia meletakkan tas kerja ke dalamnya lalu meraih handuk dan pakaian ganti yang juga ada di sana.

"Lo udah makan?" Tanya Junghwan lagi, dan sialnya ia hanya mendapat anggukan kepala Doyoung sebagai jawaban, teman sekamarnya itu terlihat enggan menanggapi pertanyaan basa basi yang ia lontarkan.

"Gue boleh pake kamar mandi?"

Doyoung menatap Junghwan dengan heran, "Kenapa nanya? Pake aja." Jawabnya ketus.

Dan Junghwan hanya dapat menghela napas, pekerjaan di rumah sakit terlampau lancar dan ia tidak ingin mengacaukan hari hanya karena sikap kasar teman satu kamarnya.

Sepertinya cobaan terbesar Junghwan tidak ada di rumah sakit, melainkan di kamar asramanya. Karena begitu ia selesai mandi, dirinya dikejutkan dengan lemari pakaian miliknya yang dipindahkan jauh ke depan jendela di pojok ruangan.

"Lo mindahin lemari gue?" Tanya Junghwan.

"Mhm. Baju lo bau."

"Hah?"

"Baju lo bau, gue gak bisa tidur kalo nyium baunya."

"What the fuck, hidung lo aja yang bermasalah."

Jelas Junghwan tidak terima dengan tuduhan Doyoung karena tidak ada satupun dari pakaiannya yang berbau tidak sedap, semua ia cuci bersih dan selalu diberi pewangi.

"Hidung gue emang sensitif, yaudah lah toh cuma gue pindahin ke sana, gak ke dalem kamar mandi."

"Orang gila." Umpat Junghwan.

"Lo udah ngatain gue dua kali hari ini."

"Dasar gak waras." Umpat Junghwan lagi. "Sekarang tiga kali, dan akan terus bertambah kalo kelakuan lo seburuk ini."

Padahal Junghwan dikenal sebagai orang yang memiliki kesabaran tinggi, tapi dalam waktu satu hari titel itu menguap karena sikap sok berkuasa teman satu kamarnya.

"Gue gak salah apa-apa?" Protes Doyoung tidak terima.

"Lo mindahin lemari gue tanpa izin, lo ngatain gue bau cuma karena hidung lo yang sensitif itu dan lo bilang apa? Gak salah apa-apa?" Balas Junghwan, nada bicaranya makin tinggi di tiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Gue ngomong jujur." Doyoung membela diri.

"Dan lo pikir gue bohong pas ngomong kalau lo gak waras?"

Doyoung berdecih pelan sebelum berbaring ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya dan berbalik menghadap tembok yang ada di samping.

Sedangkan Junghwan menatapnya penuh kebencian. Dengan handuk yang masih ada di atas kepala, ia berjalan menuju lemari pakaian.

"Shit." Umpatnya ketika menyadari bahwa benda itu berat bukan main begitu ia berusaha mendorongnya, bagaimana bisa laki-laki dengan tubuh kecil itu memindahkan lemarinya hingga sejauh ini?











...

lengkap kan, ciuman ada berantem juga ada.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com