Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XVII

"Doyoung mana?" Tanya Asahi pada Junghwan yang berjalan ke dapur sendirian.

"Tidur, nanti makannya saya bawain aja ke atas."

Suasana hati Doyoung memang tidak baik sebab therapy dadakan yang Junghwan terapkan, ditambah satu botol soju yang ia habiskan, maka Junghwan memutuskan untuk membiarkannya terlelap di kamar sendirian. Ia hanya harus mengonsumsi kafein jika ingin menemani Doyoung terjaga semalaman.

Asahi mengangguk dan kembali fokus dengan makanan yang ada di atas meja, lengkap bersama Jaehyuk yang duduk di sampingnya, mantan kekasihnya itu tidak berhenti mengoceh perihal hubungan singkat mereka.

"Hubungan kalian kayaknya lancar-lancar aja." Ucap Junghwan tiba-tiba, membuat Asahi refleks mendorong kepala Jaehyuk yang makin dekat ke arahnya.

"Lancar berantemnya." Balas Asahi singkat, kalau bukan karena Doyoung, jelas ia enggan menghadapi dua sepupu ini seorang diri.

Jaehyuk dan Junghwan adalah perpaduan yang aneh, walau mereka sama-sama memiliki tingkat percaya diri yang tinggi juga paras yang rupawan, tapi Junghwan jelas lebih baik karena ia memiliki otak cerdas untuk diandalkan. Sedangkan Jaehyuk, Asahi sama saja bertemu Doyoung versi sedikit waras jika memutuskan untuk kembali menjalin hubungan.

Cukup Doyoung yang terus merepotkan, Asahi enggan mengurus orang yang bahkan tidak memberinya bayaran.

"Minggir gak?" Omel Asahi lagi ketika Jaehyuk terus mencoba mendekat, ia siap untuk menyeret Jaehyuk ke kolam renang di belakang jika mantan kekasihnya itu berbuat yang tidak-tidak.

Junghwan hanya tertawa melihat tingkah dua orang di depannya, Jaehyuk yang bodoh memang cocok dengan Asahi yang sangat tidak sabaran, tapi entah kenapa hubungan mereka malah kandas di tengah jalan.

Seingat Junghwan, Jaehyuk tidak pernah berhubungan dengan siapapun setelah putus dengan manajer Doyoung itu. Jelas karena ia tidak mungkin menemukan orang sesabar Asahi di manapun.

Jaehyuk memilih bekerja dengan Junghwan bukan tanpa alasan, orang tuanya tidak mengizinkan anak mereka untuk repot bekerja di perusahaan lain karena Ayah Jaehyuk memang memiliki bisnis yang lumayan, hanya menunggu waktu hingga perusahaan itu beralih ke tangan anak semata wayang mereka.

Dan klinik Junghwan hanya pelarian karena Jaehyuk enggan disebut pengangguran.

Teriakan Doyoung dari lantai dua mengejutkan mereka yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, Junghwan dan Asahi sempat bertukar pandang sebelum berlari ke sumber suara.

Jaehyuk yang belum paham dengan situasi juga ikut serta, jelas karena ia tidak ingin ditinggal di bawah sendirian.

Dengan tergesa Junghwan membuka pintu dan ia menemukan Doyoung sudah berdiri di depan balkon kamar, "Doyoung!" Teriak Junghwan, ia berlari dan menarik tubuh Doyoung sebelum kekasihnya lompat dari sana.

"Oh my God." Ucap Jaehyuk dan Asahi bersamaan, kalau bukan karena reflek Junghwan yang cepat, Doyoung pasti sudah jatuh menghantam entah apa yang ada di bawah.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya tapi yang jelas Doyoung pasti lagi-lagi melihat sosok kakaknya, karena ia terus menunjuk ke ujung ruangan, berkata bahwa Sechan ada di sana dan siap membunuhnya saat itu juga.

Doyoung tidak berhenti meronta di pelukan Junghwan, Jaehyuk meraih tas milik sepupunya, mengeluarkan segala peralatan yang Junghwan butuhkan untuk memberi injeksi pada pasiennya.

Mabuknya seakan menguap begitu saja, digantikan oleh panik yang juga dirasakan oleh semua penghuni rumah. Asahi bahkan hampir menangis saat melihat tubuh Doyoung yang makin lemas di pelukan Junghwan,

Ketiganya bernapas lega ketika Doyoung tidak lagi menangis histeris, Junghwan membawa tubuh kekasihnya untuk kembali ke dalam dan menidurkannya di atas ranjang. Seharusnya ia tidak meninggalkan Doyoung sendirian di kamar, pengaruh alkohol justru memperlambat proses penyembuhannya.

Ingatkan Junghwan untuk menyingkirkan semua minuman keras yang ada di rumah nantinya.

Asahi menyeret Jaehyuk untuk keluar dari kamar utama, membiarkan Junghwan mengurus Doyoung sendirian.

Doyoung masih terjaga, napasnya mulai teratur karena efek dari obat yang baru saja dokternya beri. Junghwan ikut berbaring di sampingnya, memeluk erat tubuhnya seolah Doyoung bisa lari saat ia lengah.

"Dokter..." Ucap Doyoung pelan, pergelangan tangannya mulai terasa sakit karena tadi Junghwan mencengkramnya terlalu kuat. "Ini, merah semua..." Rengeknya kemudian.

"Maaf." Balas Junghwan singkat, diusapnya pergelangan tangan Doyoung yang memerah dengan ibu jari, "Nanti dikompres, kamu istirahat dulu."

"Dokter, tadi Sechan-"

"Ssst, gak usah dibahas." Cegah Junghwan, membicarakan sosok yang jelas tidak ada wujudnya hanya membuatnya sakit kepala. Junghwan tidak sadar kalau Doyoung sebenarnya takut karena reaksi yang ia berikan cukup ketus sejak tadi.

Kepalanya mendongak, menatap Junghwan yang entah sedang memikirkan apa. Netra cokelatnya memandang lurus ke arah balkon yang sesekali gordennya bergerak karena tertiup angin dari luar.

"Dokter marah ya?" Tanya Doyoung, andai kakaknya tidak datang ke rumah, pasti Junghwan tidak akan bersikap sedingin ini.

"Dokter..." Panggil Doyoung, diiringi dengan usapan pelan di lengan yang lebih tua.

"Istirahat, Doyoung."

Kalimat Junghwan membuat Doyoung tertunduk, ini adalah kali pertama Junghwan memarahinya sejak mereka menjalin hubungan. Doyoung tidak tahu apa salahnya, bukankah seharusnya Junghwan menenangkannya atas kejadian barusan? Atau meminta maaf karena telah meninggalkannya sendirian?

Doyoung ingin marah tapi tubuhnya lemas karena obat yang baru saja disuntikkan, maka ia memilih untuk melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu berbalik karena malas menatap Junghwan.

Hening cukup lama, Doyoung masih belum tahu salahnya apa, sedangkan Junghwan juga seakan tidak ingin membujuk Doyoung yang betah merajuk.

"Doyoung." Panggil Junghwan, tapi panggilannya malah diabaikan.

"Kim Doyoung." Panggilnya lagi, dan Doyoung masih tidak menjawab.

Junghwan menghela napas, ia bangun dari kasur karena ingin meraih ponsel yang ada di meja sudut kamar, tapi gerakannya terhenti sebab Doyoung yang menarik ujung kaos yang ia kenakan.

"Mau kemana? Jangan pergi." Pinta Doyoung pada akhirnya, Junghwan hanya tersenyum lalu menyingkirkan tangan Doyoung dari bajunya.

Doyoung siap menangis kalau saja ia tidak melihat Junghwan yang kembali berbaring di samping, dengan ponsel yang ada di tangan, dirinya menarik Doyoung untuk mendekat, meletakkan kepala kekasihnya di atas lengan sebelum membuka kunci ponsel lalu menekan aplikasi cctv.

"Kita liat ya." Ucap Junghwan, Doyoung ikut menatap layar ponsel yang menunjukkan rekaman suasana halaman belakang rumah. Dan ia terkejut ketika melihat rekaman dirinya sendiri yang berlari ke arah kolam, masuk ke dalam air dan berenang ke sisi paling pojok seakan ada orang yang mengejarnya.

"Ini siapa?" Tanya Junghwan tiba-tiba sambil menunjuk dirinya di layar.

"Aku."

"Kamu inget gak pas kejadian ini, kamu lagi ngapain?" Doyoung tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Junghwan.

"Waktu itu kakakku dateng terus ngancem mau bunuh aku."

"Coba kita liat terus ya rekamannya."

Keduanya menatap layar ponsel dengan seksama, hampir sepuluh menit berlalu dan yang muncul malah sosok Junghwan yang langsung masuk ke dalam kolam, menyeret Doyoung keluar lalu melakukan CPR.

"Gak ada, kan?"

Pandangan Doyoung beralih ke arah Junghwan yang juga menatapnya sejak tadi, "Kok gak ada?" Tanyanya, ada perasaan aneh di hati Junghwan saat mendengar nada bicara Doyoung yang begitu naif.

Junghwan membuka aplikasi lain di ponsel, menggulir layar beberapa kali sebelum menunjukkan sebuah gambar ke hadapan Doyoung. "Ini apa?" Tanyanya lagi.

"Guci abu."

"Coba dibaca namanya."

"Park Sechan, namanya mirip kakakku."

Kedua netra Doyoung tertutup ketika Junghwan mendaratkan kecupan ringan di keningnya. "Itu abu kakakmu, dia udah meninggal beberapa bulan lalu. Satu hari sebelum Asian Games, kan kamu yang ambil abunya di rumah sakit."

Raut Doyoung nampak kebingungan untuk beberapa saat, Junghwan meletakkan ponselnya di sisi kosong kasur lalu menarik tubuh Doyoung untuk mendekat. "Sechan udah meninggal, Doyoung. Sosok yang selama ini kamu liat cuma halusinasi karena perasaan bersalah yang seharusnya gak perlu kamu rasain." Junghwan berusaha menjelaskan dengan kalimat paling sederhana yang ia bisa.

Sedangkan Doyoung masih diam, ia hanya mengeratkan pegangannya di pinggang Junghwan dan tidak berniat menjawab ucapan kekasihnya.

"Sechan yang kamu liat masih pake seragam sekolah, padahal harusnya umurnya udah hampir tiga puluh, kan? Dia selalu dateng tiap kamu bahagia karena kamu yang terus mikir kalau kamu gak pantes buat dapetin itu semua." Jelas Junghwan lagi, Doyoung malah menggeleng pelan sambil menenggelamkan wajahnya di dada Junghwan.

"Aku, Asahi, sama Jaehyuk kan ada di bawah. Gimana caranya Sechan masuk ke kamar dan gak ketemu sama kita dulu?"

"Lewat balkon kan-"

"Balkon itu bawahnya hutan, orang biasa gak mungkin bisa masuk ke sana sendirian, tanpa bawa kendaraan, dan naik ke lantai dua tanpa alat bantu apa-apa."

Ucapan Junghwan memang terdengar masuk akal, tapi Doyoung seakan enggan menerima kenyataan.

"Kalau kamu masih terus liat Sechan, aku harus bawa kamu ke rumah sakit karena gagal bikin sembuh pasiennya."

Gelengan kepala Doyoung makin kuat, menjadi penghuni rumah sakit jiwa tidak pernah ada di daftar keinginannya.

"Gak mau, kan? Aku juga gak mau. Makanya, kamu harus bantuin aku, Doyoung. Please, stop mikir kalau kamu gak pantes buat bahagia cuma karena satu orang yang udah bikin kamu berantakan bahkan sampe di penghujung hidupnya."

Doyoung mendongak dan menemukan Junghwan yang ternyata sudah berlinang air mata, lagi-lagi Doyoung penyebabnya, lagi-lagi ia membuat orang yang berusaha keras membuatnya bahagia malah justru merasakan hal sebaliknya.

"Maaf, semuanya salahku." Jawab Doyoung pada akhirnya.

"Bukan, ini bukan salahmu. Meninggalnya Sechan itu bukan karena kamu, dia yang milih buat bunuh diri karena gak siap sama kenyataan yang harus dia hadapin pas keluar dari penjara."

Efek obat yang Junghwan suntikkan ke tubuhnya sepertinya berhasil pada waktu yang kurang tepat, karena belum sempat Doyoung menjawab, ia justru terlelap di pelukan Junghwan. Samar telinganya mendengar tangis kekasihnya yang begitu menyakitkan, sedangkan dirinya hanya mampu meminta maaf berulang kali dalam hati karena rasa kantuk yang terlebih dulu menguasai.


***


Entah berapa lama Doyoung tidur tadi malam karena saat ia terbangun, Junghwan tidak lagi ada di sampingnya. Netranya memandang sekeliling dan dirinya justru menemukan dua koper besar di dekat pintu kamar.

Junghwan tidak berniat untuk pergi, kan?

Junghwannya tidak semudah itu untuk menyerah, kan?

Doyoung masih duduk di atas kasur sambil sesekali mengusap wajah sampai tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, menampakkan sosok yang terus ada di pikiran berjalan lurus ke arah koper, lengkap dengan pakaian yang ia kenakan saat dirinya menginjakkan kaki di kediaman Doyoung untuk pertama kali.

"Kamu mau ke mana?" Tanya Doyoung dengan nada sedikit panik.

"Iksan." Jawab Junghwan singkat, netra Doyoung membola saat mendengar nama kampung halaman kekasihnya. Ia bergegas turun dari ranjang, berlari ke arah Junghwan dan memeluknya dengan erat.

"Gak, kamu gak boleh kemana-mana." Protes Doyoung, "Kita masih ada kontrak dan kamu gak boleh pergi sebelum aku sembuh."

"Tujuan kita gak akan tercapai karena kamu gak ada kemauan buat sembuh." Balas Junghwan sambil berusaha melepas pegangan Doyoung di pinggangnya.

Doyoung menggeleng kuat, ia tidak ingin Junghwan pergi, dirinya tidak ingin sendirian lagi.

"Maaf, maafin aku. Aku janji bakal berhenti mikirin Sechan, please Junghwan, jangan tinggalin aku, please."

Junghwan adalah orang pertama yang Doyoung minta untuk tetap tinggal, ia bahkan tidak peduli dengan Ayah kandungnya yang justru pergi karena membela pasangannya yang baru. Tapi tidak berlaku pada Junghwan, Junghwannya harus terus menemaninya hingga akhir, Doyoung tidak ingin kehilangan orang tersayangnya lagi setelah Ibunya.

"Janji?" Tanya Junghwan, dan dibalas dengan anggukan berulang kali.

"Janji."

"Yaudah sekarang mandi."

Pelukan Doyoung melonggar, ia menatap Junghwan dengan penuh tanda tanya. "Mau ngapain?" Tanyanya heran.

"Ikut aku ke Iksan. Asahi sama Jaehyuk juga udah siap." Jawab Junghwan santai.

Tunggu, ini semua sudah direncanakan?

"Mau ikut gak?" Tanya Junghwan lagi, dengan nada sedingin pertama kali Doyoung mengajaknya bicara hari ini.

Terpaksa Doyoung mengangguk, ia hendak berlari ke kamar mandi namun tiba-tiba langkahnya berhenti. Dengan cepat dirinya kembali mendekat ke arah Junghwan dan berdiri di hadapan kekasihnya, sedikit berjinjit untuk mencuri kecupan di bibir Junghwan yang terlihat mengkilap entah karena apa.

"Kangen banget, bisa gak sih kita mandi bareng hari ini sebelum pergi ke Iksan?"

Kalau bukan karena Asahi dan Jaehyuk yang sudah menunggu mereka di bawah, dengan senang hati Junghwan pasti menuruti ajakan Doyoung. Namun ada banyak hal penting yang harus mereka lakukan hari ini, maka dengan sangat terpaksa Junghwan menolak kegiatan menarik yang Doyoung tawarkan.









...

bosen gak sih... tamat besok apa ya

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com