II
"Kayaknya temen satu kamarku beneran benci deh sama aku." Ucap Doyoung pada kedua temannya.
Bukan tanpa alasan melainkan sikap Junghwan beberapa hari belakangan memang menunjukkan demikian. Entah apa yang ia dan Ibunya bicarakan tapi sejak saat itu, eksistensi Doyoung seolah memudar di mata Junghwan.
Doyoung tahu bahwa tidak mudah bagi siapapun untuk menerima kehadiran orang lain, ditambah diberi beban berat seperti penyakit bawaan. ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya akan berbaik hati mengurus teman sekamar yang kondisi fisiknya cukup jauh dari kata normal.
Saat ini Doyoung sedang berada di kantin fakultas bersama teman satu jurusan, memasuki hari keempat masa orientasi dan ternyata masih banyak hal yang harus mereka kerjakan.
Ini bukan kali pertama Doyoung bertemu Yujin dan Jaehyun, mereka pernah belajar di satu institusi sebelum akhirnya lulus dan masuk ke universitas yang sama.
"Dia beneran secuek itu?" Tanya Yujin yang baru menghabiskan satu botol penuh air mineral, cuaca hari ini memang jauh lebih panas dibanding hari-hari sebelumnya.
Doyoung mengangguk lalu meraih minuman miliknya yang hanya ia gigiti sedotannya sejak tadi, minuman yang Jaehyun beli rasanya aneh, tapi ia tidak sampai hati untuk membuangnya begitu saja.
"Canggung kali kalau ketemu orang baru?"
"Beda, Jaehyun. Ini tuh beneran kayak aku transparan di mata dia. Tiap aku sapa dia cuma mhm doang, atau tiap aku masuk kamar, dia langsung balik badan. Aneh banget kan?" Jawab Doyoung, berusaha membela diri dengan argumennya.
"Kamu tau gak apa yang dia omongin sama Mama kamu waktu itu?" Tanya Yujin lagi, dan Doyoung menggeleng pelan.
"Kata Mama, dia cuma nitip aku ke Junghwan."
Kedua temannya ikut mengangguk, sayangnya mereka tidak bisa memahami perasaan Doyoung karena teman sekamar mereka baik-baik saja sejauh ini.
"Atau bisa jadi dia kecapekan abis ospek? Jadi gak ada tenaga buat ngomong sama kamu." Jaehyun berusaha menenangkan sambil menepuk pelan bahu Doyoung. "Nanti abis orientasi, coba kamu deketin lagi aja."
Doyoung menghela napas, padahal sudah berulang kali ia mencoba namun usahanya selalu sia-sia. Dan terlambat baginya untuk memohon agar kamarnya dipindahkan karena asrama sudah terisi penuh oleh para mahasiswa rantauan.
Suara teriakan dari tengah lapangan membuat fokus ketiganya teralihkan, dengan tergesa mereka berlari menuju sumber suara karena ternyata jam istirahat sudah habis sejak tadi, pantas saja kantin nampak sepi.
"Kamu istirahat aja." Ucap Yujin yang berdiri di samping Doyoung, laki-laki itu menggeleng, sudah cukup ia selalu berada di pinggir lapangan sejak hari pertama orientasi diadakan, dirinya juga ingin merasakan pengalaman berharga ini bersama teman-temannya.
Pengalaman berharga yang sangat menyiksa karena malamnya, Doyoung harus menelan obat dua kali lebih banyak dibanding biasanya sebab jantungnya yang berdetak kuat. Jam yang selalu ada di tangan kiri juga terus berbunyi, dan beruntung karena suara berisik itu sama sekali tidak mengganggu Junghwan yang tengah terlelap di seberang ranjangnya.
***
"Kamu teman sekamarnya?" Tanya perawat kepada Junghwan, yang entah kenapa masih setia menunggu di salah satu kursi di ujung ruangan.
Junghwan mengangguk. "Dia, gapapa kan?" Tanyanya dengan suara pelan.
"Cuma kecapekan, kalau nanti dia kambuh lagi di asrama, coba taruh bantal di bawah kakinya supaya aliran darahnya cepat naik." Jelas perawat lagi karena Junghwan nampak tidak paham dengan kondisi teman sekamarnya sendiri.
"Boleh tolong cek tasnya? Siapa tau dia bawa obat."
Dan Junghwan kembali menurut, ia merogoh tas milik Doyoung lalu meraih tabung kecil berisi obat dan menyerahkannya ke perawat.
"Ternyata udah separah ini, tapi dia masih nekat ikut orientasi?"
Kali ini Junghwan tidak menanggapi, netranya malah bergerak ke arah brankar tempat Doyoung berbaring. Dan ia merasa bodoh karena tidak menyadari bahwa tadi malam Doyoung juga sakit, teman sekamar macam apa yang malah memandang buruk orang lain karena penyakit bawaan yang bahkan tidak dapat disembuhkan?
"Suruh temanmu buat rutin minum obatnya, dan berdoa supaya dia cepat ketemu sama soulmatenya."
Kepala Junghwan refleks menunduk ketika perawat itu berjalan keluar, kini di tangannya terdapat obat milik Doyoung juga obat pusing yang mungkin Doyoung butuhkan nanti.
"Junghwan?" Panggil Doyoung dengan suara pelan, ia ingin memastikan bahwa netranya tidak salah lihat sekarang.
Saat tubuh yang lebih tinggi mulai bergerak mendekat ke arahnya, Doyoung menyadari bahwa orang yang tadi menolongnya adalah teman sekamarnya.
Tapi bagaimana bisa? Sedangkan ia pagi tadi justru dikelilingi oleh para kakak tingkat yang membuatnya ketakutan.
"Masih pusing gak? Mau ke asrama sekarang?" Junghwan balik bertanya, dan Doyoung heran dengan tingkahnya. Padahal sampai mereka berpisah di asrama tadi, sikap Junghwan tidak sehangat ini.
"Kamu duluan aja, aku bisa sendiri." Tolak Doyoung halus, ia tidak mau berada di situasi canggung bersama Junghwan selama perjalanan menuju asrama yang jaraknya cukup jauh dari sini.
"Gapapa sama aku aja, lagian ospek jurusanku juga udah selesai dari tadi siang. Kamu tidur lama banget, emang semalam tidur jam berapa?"
Tunggu, Doyoung masih tidak familiar dengan situasi ini. Kalimat di atas adalah kalimat paling panjang yang pernah Junghwan ucapkan setelah enam hari mereka berbagi kamar.
Junghwan yang sadar bahwa Doyoung hanya diam sejak tadi pun bergerak mendekat, kali ini ia berdiri tepat di samping brankar. "Kenapa? Pusing?" Tanyanya lagi, Doyoung pun menggeleng kuat.
Yang lebih kecil lalu mulai beranjak, ia duduk di atas brankar lalu turun dari sana dan ikut berdiri di samping Junghwan.
"Bisa jalan sendiri? Atau mau naik di punggungku?" Tawar Junghwan, ia benar-benar merasa bersalah atas sikap bodohnya kemarin.
Dan Doyoung kembali menggeleng, "Aku bisa jalan sendiri."
Keduanya lalu berjalan beriringan menuju asrama yang ada di belakang gedung, untungnya hari sudah sore dan matahari tentu tidak seterik tadi. Lingkungan kampus juga mulai sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah pergi, menyisakan beberapa kakak tingkat yang masih sibuk merapikan berbagai peralatan.
"Besok malam ada acara penutupan orientasi, kamu ikut?" Tanya Junghwan, berusaha memecah kesunyian.
Doyoung menoleh dan sedikit mendongak untuk menatap wajah yang lebih tinggi, "Nggak kayaknya, kamu?"
"Nggak juga."
"Kenapa?"
"Karena kamu gak ikut, aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian di kamar."
Beep beep beep beep...
Refleks tangan kanan Doyoung bergerak untuk menutup jam yang ada di tangan kiri, bagaimana bisa jam sialan ini berbunyi hanya karena jantung Doyoung yang berdegup kuat setelah mendengar kalimat Junghwan?
"Kamu kenapa?" Tanya Junghwan dengan sedikit panik.
Doyoung menggeleng kuat dan perlahan mundur untuk memperbesar jaraknya dengan Junghwan. "Gapapa." Jawabnya singkat.
Untungnya keduanya sudah sampai di depan gerbang asrama, mereka lalu masuk ke dalam dan bergegas menuju kamar yang ada di lantai dua. Doyoung berulang kali merutuki diri atas hal bodoh yang baru saja terjadi, bertahun-tahun dikurung di rumah oleh Ibunya membuat ia menjadi orang yang mudah bahagia atas perhatian kecil seseorang.
"Kamu mau mandi duluan atau aku?" Tanya Junghwan pada Doyoung yang duduk di atas ranjang.
"Kamu aja, aku mau istirahat dulu." Jawab Doyoung sambil tersenyum samar.
Junghwan mengangguk, "Aku udah pesen makan buat kita berdua, kalau nanti aku belum selesai, tolong ambil di depan ya."
Malam itu mereka habiskan dengan makan malam bersama untuk pertama kalinya, Junghwan yang berusaha menebus kesalahan dengan berprilaku sebaik mungkin pada Doyoung. Dan Doyoung yang berusaha mati-matian menahan diri agar tidak cepat jatuh hati pada laki-laki seramah Junghwan.
***
"Junghwan! Sini!"
Junghwan yang baru sampai langsung berlari ke sumber suara, ia disambut dengan Dohoon dan beberapa orang lain yang nampak asing di matanya. Tadinya ia enggan datang, namun Doyoung terus memaksanya karena tidak ingin Junghwan kehilangan kesempatan untuk menambah teman cuma karena ingin menemaninya di asrama.
"Ini Haruto, terus ini Jeongwoo. Temen satu sekolah gue dulu." Junghwan langsung berkenalan dengan teman-teman Dohoon yang berpotensi besar menjadi temannya nanti.
"Motor lo apa? Mau ikut gang gue sama yang lain gak? Kebanyakan kating sih." Tawar Haruto, ia adalah salah satu anggota gang motor illegal di kampus ini, komunitas paling dibenci oleh banyak dosen karena selalu membuat keributan.
Junghwan meraih ponsel lalu menunjukkan potret motor miliknya yang ia jadikan latar belakang.
"Widih keren amat, ikut ya nanti gue kenalin sama kating yang lain."
"Gak salah kan gue kenalin lo ke dia? Aset angkatan nih." Ucap Dohoon bangga, sedangkan tiga orang lain hanya tertawa dan kembali melanjutkan obrolan seputar otomotif dan sebagainya.
"Temen sekamar lo gimana? Udah baik-baik aja?" Tanya Dohoon, Junghwan pun mengangguk.
"Sakit? Penyakit bawaan atau karena belum ketemu belahan jiwanya?" Kali ini giliran Jeongwoo yang bertanya.
"Kata nyokapnya sih karena belum ketemu, tapi biasanya orang tuh ketemu soulmatenya di umur berapa sih? Terus kenapa cuma mereka yang sakit sedangkan kita baik-baik aja?"
"Ya karena kalau kita sakit juga, nanti siapa yang usaha buat cari soulmatenya?"
Jawaban Haruto masuk akal, sebenarnya mereka sudah dibekali ilmu soal soulmate dan segala kerumitannya saat masih berada di sekolah menengah.
Hanya satu orang yang memiliki penyakit dan satu orang lagi memiliki daya tahan tubuh lebih kuat dibanding yang lainnya. Ketika belahan jiwa bertemu dan jatuh cinta, penyakit bawaan itu akan berkurang perlahan hingga hilang sepenuhnya.
Tidak ada tanda khusus namun saat perasaan mulai tumbuh, tubuh si penderita akan jauh terasa lebih baik dibanding biasanya. Kenyamanan yang hanya dapat mereka rasakan jika sedang berada dekat dengan belahan jiwanya.
"Coba nanti lo kenalin Doyoung ke kita, siapa tau kita ada yang berpotensi jadi belahan jiwanya? Dan lo gak perlu repot lagi urus dia di asrama."
Junghwan mengangguk canggung, walau ada sedikit perasaan mengganjal di hatinya karena ia nampak seperti orang yang menawarkan teman sekamarnya sendiri kepada orang lain yang baru ia temui belum satu hari.
Acara penutupan orientasi terus berlanjut hingga tengah malam, banyak yang mabuk dan ada juga yang tidak menyentuh alkohol sama sekali seperti Junghwan dan teman-temannya yang lain. Minum di tempat seramai ini tidak nikmat sama sekali, mereka memilih untuk membuat acara sendiri nanti.
"Balik sekarang? Lo pada bawa kunci asrama kan?" Tanya Haruto, lalu dibalas dengan anggukan Jeongwoo dan Dohoon.
"Loh emang dikunci?" Tanya Junghwan heran.
"Tiap lantai ada kuncinya, lo gak akan bisa masuk kalau gak bawa. Kenapa? Lo lupa?"
Junghwan mengangguk, dan sialnya lantai kamar mereka semua berbeda. Hanya Junghwan yang kamarnya ada di lantai dua.
"Telepon temen sekamar lo coba, belum tidur kali dia?"
Karena tidak memiliki opsi lain, Junghwan pun mengangguk. Mereka berempat berjalan menuju asrama dan saat semuanya sampai di depan gedung, Junghwan menghubungi ponsel Doyoung sambil berharap agar teman sekamarnya itu belum terlelap.
"Halo, kenapa Junghwan?" Tanya Doyoung, suaranya yang pelan membuat Junghwan merasa bersalah karena telah mengganggu tidurnya.
"Aku gak bawa kunci gerbang, boleh tolong bukain gak? Aku udah di depan."
"Oh oke, aku ke sana sekarang."
"Doyoung."
"Ya? Kenapa Junghwan? Kamu butuh sesuatu?"
Junghwan menggeleng kuat, "Nggak, kamu pelan-pelan aja jalannya, gak usah lari, gak perlu buru-buru. Aku tungguin di sini, takutnya kamu malah capek terus nanti sakit lagi."
Dan kalimat itu bukan hanya membuat Doyoung diam, tapi ketiga temannya juga.
...
semoga kalian ngerti sama konsep soulmatenya yah
btw yang nanyain interlude, aku bakal post lanjutannya di twitter ok
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com