V
Doyoung diam, tidak berniat membalas ucapan Junghwan karena takut salah bicara. Ia juga tidak membalas pesan Jeongwoo dan memilih untuk lanjut memesan makanan karena malam yang semakin larut.
Tanpa bicara ia memutuskan untuk membersihkan diri selagi menunggu makanan datang, sekaligus berpikir dalam hati, menebak-nebak apa salahnya dan mengapa reaksi Junghwan bisa sekeras itu padahal Doyoung hanya bertanya.
Apa Junghwan tidak suka jika ia dekat dengan temannya yang lain? Atau Junghwan tidak ingin Doyoung ikut bergabung dengan komunitas motor seperti dirinya? Tapi jangankan motor, mengendarai sepeda saja Doyoung tidak bisa.
Setelah berpakaian, Doyoung keluar dari kamar mandi dan terkejut sebab Junghwan sudah tidak ada di ruangan. Ia menghela napas, apakah masalahnya benar-benar akan sebesar ini? ini pertama kali Junghwan menghindarinya sejak hari terakhir ospek beberapa bulan lalu.
Sepuluh menit kemudian pintu diketuk dari luar, kurir datang bersama makanan yang Doyoung pesan. Dan sekarang ia bingung, siapa yang akan menghabiskan ini semua karena nampaknya Junghwan tidak berniat kembali dalam waktu dekat.
Netranya bergerak menuju jam yang menggantung di dinding, hampir pukul sembilan. Ia sedikit lega ketika menemukan kunci gerbang lantai dua masih ada di tempatnya, dan Doyoung pun memutuskan untuk menunggu Junghwan karena ia pasti akan pulang dalam waktu dekat,
Kan?
Tetapi tebakannya ternyata salah karena hingga tengah malam, sosok Junghwan masih belum menampakkan diri. Doyoung menyerah, ia merapikan makanan ke dalam lemari penyimpanan dan memutuskan untuk tidur karena laparnya menguap entah kemana.
Namun tidur Doyoung tidak nyenyak sama sekali, padahal lampu kamar sengaja tidak ia matikan namun dirinya masih takut dan merasa tidak nyaman.
Nyaris pukul dua tapi Junghwan masih belum kembali, Doyoung duduk di atas ranjang, tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakas berniat menghubungi Junghwan.
Satu kali,
Dua kali,
Tiga kali,
Dan hingga deringan berakhir, panggilannya tidak mendapat jawaban.
Ada perasaan mengganjal di hatinya, kenapa ia sesedih ini hanya karena Junghwan pergi? Padahal itu haknya, Doyoung tidak memiliki wewenang untuk melarangnya pergi dan tidur di manapun selain di asrama.
Malam itu Doyoung memutuskan untuk kembali belajar sambil sesekali memandang kasur kosong di sisi sebrang milik Junghwan. Dan tidak sadar bahwa waktu berlalu begitu cepat karena tepat di pukul enam pagi, Junghwan akhirnya kembali.
Dan laki-laki itu terkejut saat melihat wajah pucat Doyoung dengan mata sembab karena tidak istirahat semalaman.
"Kamu gak tidur?" Tanya Junghwan, tanpa sadar nada suaranya meninggi karena panik.
Junghwan berjalan mendekat lalu menunduk untuk menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Doyoung yang masih duduk di atas kursi meja belajar.
"God, kamu ngapain aja sih semaleman? Ngerjain tugas? Harusnya kamu istirahat, Doyoung."
"Aku nungguin kamu." Jawab Doyoung jujur, entah kenapa ia merasa lega ketika melihat raut khawatir Junghwan di depannya. "Kamu kemana aja?" Tanyanya kemudian.
"Aku ketiduran di kamar Dohoon."
Tanpa sadar bibir Doyoung merengut maju, ketakutan yang ia rasakan semalaman ternyata hanya didasari oleh hal spele.
Telapak tangan Junghwan bergerak ke arah leher yang lebih kecil, ia berdesis ketika merasakan sensasi hangat begitu menyentuh kulitnya. "Kamu demam, gak usah kuliah nanti." Perintahnya, namun Doyoung menggeleng kuat.
"Aku ada kuis pagi ini."
Junghwan mengacak rambutnya frustasi, ia berjalan ke lemari pendingin dan dikejutkan oleh makanan yang seingatnya belum ada di sana ketika ia pergi tadi malam.
"Jangan bilang kamu belum makan juga?" Tanya Junghwan lagi, Doyoung hanya tersenyum bodoh menanggapi kalimat Junghwan.
"Aku nunggu kamu pulang." Jawab Doyoung dengan nada polos, dan Junghwan tidak dapat menahan diri untuk tidak mengusap lembut kepalanya.
"Maaf ya, harusnya kamu gak perlu nunggu aku sampai pagi kayak gini." Ucap Junghwan dengan suara penuh penyesalan, tapi Doyoung hanya mengangguk sambil tersenyum samar.
Kesedihan di wajahnya menguap begitu saja begitu menyadari bahwa Junghwan tidak marah padanya, dan kasus tadi malam tidak berarti apa-apa karena ia hanya salah sangka.
Padahal Junghwan cemburu, bahkan Dohoon berpikir demikian tapi hanya Doyoung yang tidak tahu dan Junghwan yang menyangkal perasaannya sendiri.
Tadi malam Junghwan datang ke kamarnya yang ada di lantai enam asrama, untungnya teman sekamar Dohoon sedang tidak ada di sana, membuat Junghwan puas menginap tanpa diprotes siapapun, sengaja menyalakan mode do not disturb lalu bermain game online hingga pagi hari.
Tanpa tahu bahwa Doyoung terus menunggunya seorang diri.
"Yaudah sekarang kamu ganti baju aja, gak usah mandi, nanti aku anter sampai kelas."
Doyoung menurut, ia berjalan menuju lemari pakaian lalu ke kamar mandi untuk membasuh wajah yang nampak tidak segar sama sekali.
Pagi itu mereka akhirnya berjalan berdampingan menuju gedung bahasa, walau belum tidur sama sekali sejak kemarin, namun wajah keduanya cukup cerah karena keributan tadi malam nampaknya tidak berarti apa-apa.
***
"Pakai jamnya, habis kuis langsung izin buat ke asrama. Aku tunggu di bawah."
"Kamu gak ada kelas?"
Junghwan menggeleng, ia memang tidak memiliki jadwal apapun hari ini, itulah mengapa ia berani untuk begadang di kamar Dohoon semalaman.
Doyoung akhirnya berjalan menuju lift, meninggalkan Junghwan yang kini duduk di kursi panjang di lorong kelas sendirian. Ia hanya harus mengerjakan kuis lalu kembali ke asrama seperti perintah Junghwan, tugas yang mudah karena untungnya mata kuliah ini tidak terlalu berpengaruh di jurusannya.
Begitu pikir Doyoung awalnya, namun baru beberapa menit ia menulis jawaban, dadanya mulai terasa tidak nyaman. Tetapi ia masih berusaha keras mengerjakan semua soal, melepas jam dari tangan agar tidak ada bunyi yang mengganggu konsentrasi semua orang.
Tulisan Doyoung makin tidak jelas, tapi ia juga masih belum ingin menyerah dan terus menulis di atas kertas. Butuh waktu tiga puluh menit bagi Doyoung untuk mengerjakan semua soal, ia izin kepada dosen untuk kembali ke asrama dan diperbolehkan setelah menjelaskan kondisinya.
Jaehyun dan Yujin tidak dapat menemani karena mereka masih belum selesai, dengan langkah pelan Doyoung keluar dari ruangan dan berjalan lurus ke arah lift.
Untungnya Doyoung sampai dengan selamat hingga lantai dasar, ia tersenyum ketika melihat sosok Junghwan juga ikut berjalan ke arahnya.
"Cepet banget?" Tanya Junghwan, Doyoung belum sempat menjawab karena nyeri di dadanya tidak lagi dapat ia tahan. Kalau bukan karena Junghwan yang memegangnya dengan sebelah tangan, tubuhnya pasti sudah jatuh ke bawah.
"Are you okay?" Tanya Junghwan, sebuah pertanyaan bodoh karena sudah jelas Doyoung sedang kesakitan sekarang.
Laki-laki itu akhirnya menunduk, meminta Doyoung untuk naik ke atas punggungnya, dan Doyoung menurut.
"Kita harus ke rumah sakit atau nggak?" Tanya Junghwan, ini pertama kalinya Doyoung kambuh setelah hari terakhir ospek, Junghwan masih bingung harus melakukan apa.
"Ke asrama aja." Jawab Doyoung pelan sambil mengeratkan pegangannya di leher Junghwan.
Junghwan langsung membaringkan tubuh Doyoung di atas ranjang, meletakkan banyak bantal di bawah kakinya sesuai dengan perintah yang pernah ia dengar dulu, juga menaikkan suhu pendingin ruangan agar tidak terlalu rendah.
"Obat kamu mana?" Tanya Junghwan, Doyoung menunjuk tasnya yang masih tersangkut di bagian depan badan Junghwan.
Dengan tergesa Junghwan mengambil air minum dan kembali ke tempat Doyoung dengan obat dan gelas berisi air di tangan, meminta yang lebih kecil untuk duduk sebentar lalu kembali membantunya berbaring di atas ranjang.
"Feel better now?" Tanya Junghwan, ia duduk di sisi kosong kasur sambil menatap Doyoung yang sesekali meringis karena sakit di dadanya.
Doyoung mengangguk samar lalu melempar senyum tipis ke arah Junghwan, "Makasih, Junghwan." Ucapnya pelan.
Dan ia terlelap tidak lama kemudian, Junghwan yang masih duduk di sana hanya menatapnya dalam diam. Tanpa sadar tangannya bergerak untuk mengusap kening Doyoung, membelainya lembut menggunakan ibu jari berulang kali.
Tiga bulan mereka bersama, bohong jika Junghwan bilang kalau ia sama sekali tidak menyimpan perasaan pada teman sekamarnya. Tingkah Doyoung yang terlampau manis membuatnya nyaris jatuh hati.
Ditambah dengan perangai lembutnya, Junghwan yakin bukan hanya ia yang menyukai Doyoung, banyak teman satu jurusannya yang sering kali mencuri pandang ke arah laki-laki yang hampir setiap saat selalu bersama Junghwan.
Namun Junghwan masih belum yakin dengan perasaannya, ia masih terus mengelak karena kondisi Doyoung saat ini menandakan bahwa dirinya belum menemui takdirnya.
Sebab jika Junghwan adalah belahan jiwanya, Doyoung seharusnya sudah tidak perlu mengonsumsi obat, merasakan sesak tiap kelelahan dan nyaris pingsan seperti sekarang.
Junghwan harap ia belum menyukai Doyoung.
Junghwan harap perasaannya belum sebesar itu pada Doyoung.
Karena untuk saat ini Junghwan masih belum rela jika ternyata takdir Doyoung adalah orang lain, bukan dirinya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com