Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

X

Tepat pukul delapan pagi, semua orang sudah berkumpul di depan gerbang asrama sesuai dengan arahan, menunggu bus yang akan membawa mereka menuju Busan.

Sebagian besar memilih untuk membawa ransel besar, dan sedikit dari mereka memilih koper sebagai tempat menaruh barang, Doyoung termasuk ke dalam salah satunya.

Sebenarnya ia dipaksa menggunakan koper Junghwan, selain karena lebih besar dibanding ransel, Doyoung juga tidak mungkin kelelahan karena kopernya malah dibawa oleh pemiliknya.

"Obatnya udah dibawa kan?" Tanya Junghwan sambil memperbaiki posisi topi Doyoung agar menutupi wajahnya, yang lebih kecil mengangguk pelan.

"Kan obatnya aku bagi dua, yang satu di tasku satu lagi di ransel kamu." Jawab Doyoung sambil menunjuk tas kecil yang ia bawa. Junghwan tersenyum, menyempatkan diri mengusap sisi wajah Doyoung yang memerah karena kepanasan.

Suara teriakan Sunwoo menghentikan obrolan keduanya, bus yang mereka sewa akan datang sebentar lagi dan semuanya diminta untuk bersiap-siap.

"Aku aja yang bawa kopernya?" Tawar Doyoung sambil berusaha meraih koper yang ada di tangan Junghwan, Junghwan jelas menolak.

"Nanti biar aku yang masukin ke bagasi, kamu naik aja duluan cari tempat buat kita."

Tentu saja Doyoung menurut, ia naik terlebih dulu ke dalam bus dan disusul dengan teman-temannya yang lain. 

Dirinya memilih barisan yang berisi dua kursi, duduk di sisi luar agar tidak ada yang mengisi tempat di sebelahnya, sementara Yujin dan Jaehyun duduk tepat di belakangnya.

"Junghwan mana?" Tanya Jaehyun yang baru saja meletakkan tas kecil milik Yujin ke kabin atas.

"Masih beresin koperku di luar."

Dan Junghwan masuk tidak lama kemudian, dengan cepat Doyoung menggeser tubuhnya agar Junghwan dapat duduk di sebelah.

"Tas kamu, mana?" Tanya Junghwan saat tidak melihat tas kecil yang tadinya Doyoung sampirkan di bahu.

"Di atas, ribet kalau dipake." Keluh Doyoung.

Junghwan menghela napas sebelum kembali berdiri, meraih tas yang dimaksud lalu dipakai melingkar di tubuhnya.

"Kok diambil?" Tanya Doyoung heran.

"Obat kamu kan di sini, perjalanan kita empat jam, takutnya kamu sakit lagi di jalan."

Bibir Doyoung merengut maju, kondisi jantungnya memang masih belum stabil sejak kejadian beberapa hari lalu. Itulah alasan mengapa hari ini ia sengaja tidak memakai jam tangan, Junghwan sempat marah dengan keputusannya, tapi ia bisa apa ketika Doyoung berbohong bahwa jamnya rusak?

Bus mulai berjalan meninggalkan area kampus, karena hari masih pagi dan sebagian besar dari mereka masih mengantuk, Sunwoo sebagai pemimpin menginstruksikan agar semuanya beristirahat sebelum memasuki jam makan siang.

"Sini kalau mau tidur." Ucap Junghwan sambil menepuk bahunya, Doyoung yang tadinya merajuk langsung tersenyum dan mengangguk. Ia memeluk lengan Junghwan lalu menyandarkan kepala di atasnya.

Sebelah tangan Junghwan yang bebas pun bergerak membelai lembut surai gelap laki-laki di sebelahnya. "Jangan diusap gini nanti aku ngantuk." Protes Doyoung dengan netra nyaris terpejam.

"Justru bagus dong, biar kamu tidur."

Doyoung meraih tangan Junghwan dari kepalanya, dibawa telapak besar itu untuk diusap pelan seluruh sisinya. "Tangan kamu gede banget." Ucap Doyoung takjub, bagaimana bisa Junghwan memiliki tangan sebesar itu padahal mereka seumuran? Tangan Doyoung sangat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan.

Junghwan tertawa ketika melihat betapa kecilnya jemari Doyoung saat berada di atas miliknya, "Tangan kamu yang kekecilan." Ledeknya kemudian.

Tetapi Doyoung sama sekali tidak tersinggung, ia malah mengangguk setuju lalu menuntun telapak tangan Junghwan ke sebelah pipinya. "Hangat juga, suka banget." 

Dengan mata terpejam dan wajah yang terus diusap dengan jemari Junghwan, Doyoung terlihat seperti anak kucing sekarang.

"Tidur aja, nanti bangun kalau udah sampai rest area." Ucap Junghwan.

"Tapi kamu usap gini terus, ya?" Pinta Doyoung, dan bisa apa Junghwan selain mengiyakan?

Perjalanan dari Seoul menuju Busan menghabiskan waktu empat jam lebih, bus sempat berhenti satu kali di rest area untuk makan siang dan tepat pukul satu siang, mereka akhirnya sampai di depan villa yang sudah dipesan.

Kamar dibagi sesuai dengan angkatan, satu kamar diisi oleh dua orang untuk para mahasiswa baru. Sedangkan untuk para senior, mereka memilih untuk menggunakan ruangan paling besar bersama karena sudah pasti mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang waktu.

Doyoung tentu satu kamar dengan Junghwan, Yujin dengan Gaeul mahasiswi komunikasi yang ia seret untuk ikut menemani, dan Jaehyun dipaksa bersama Dohoon.

"Aku mending bertiga sama kamu sama Junghwan, aku gak mau sama Dohoon yang kalau tidur ngorok berisik banget." Protes Jaehyun, tapi Dohoon yang jahil malah menyeret tubuh yang lebih kecil untuk masuk ke kamar mereka, membuat orang yang ada di luar tertawa keras karena tingkahnya.

Masih belum ada kegiatan penting siang ini karena acara akan dimulai malam nanti, Jihoon mengarahkan para mahasiswa baru untuk beristirahat terlebih dulu sebelum kegiatan berlangsung.

Doyoung akhirnya masuk ke dalam kamar, disusul oleh Junghwan yang baru saja kembali dari dapur untuk mengambil beberapa botol air mineral kemasan sebagai persediaan.

Sementara Junghwan merapikan koper dan ransel ke dalam lemari, Doyoung menatap punggungnya dari belakang. Entah apa jadinya jika ia tidak mengenal Junghwan, enam bulan keluar dari rumah membuatnya merasakan berbagai hal aneh yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Bahkan Hyunsuk sendiri tidak percaya bahwa Doyoung berubah menjadi seberani ini untuk pergi jauh tanpa izin orang tuanya yang terlalu protektif. Ibu dan Ayahnya memang bercerai sejak Doyoung kecil, namun tetap menyayanginya seperti tidak ada yang berubah.

Walau membuat Doyoung kerepotan karena saat masih sekolah dulu, ia harus bolak-balik rumah Ayah atau Ibunya yang jaraknya cukup jauh.

Ayahnya sudah memiliki keluarga baru, sementara Ibunya memilih untuk fokus mengurus Doyoung, anak satu-satunya. 

"Mama kamu gak marah weekend ini kamu gak pulang?" Tanya Junghwan sambil duduk di sebelahnya.

Doyoung menggeleng, "Aku bilangnya ada kelas tambahan, lagian pas akhir bulan nanti juga aku pulang. Kamu juga pulang kan? Ke Iksan?"

Junghwan mengangguk, setelah enam bulan berada jauh di rumah akhirnya ia memiliki kesempatan untuk pulang. Dirinya malas jika hanya diberi waktu beberapa hari karena waktunya akan habis diperjalanan.

Napas Doyoung tercekat saat tangan Junghwan bergerak mendekat, telapak tangannya berada tepat di dadanya, memeriksa debar jantung yang untungnya masih berdetak normal.

"Kasih tau aku ya kalau dadanya sakit lagi, kamu kan gak pakai jam jadi gak bisa dipantau." Perintah Junghwan, dan Doyoung mengangguk. "Sekarang istirahat dulu, nanti sore kamu mandi terus kita bawah bareng." Lanjutnya.

Sore itu sebelum acara benar-benar dimulai, Doyoung terlelap sendirian di atas ranjang. Sementara Junghwan pergi ke tempat Dohoon membicarakan perihal rencananya untuk meminta Doyoung menjadi kekasihnya malam ini. Walau berulang kali diganggu Jaehyun yang terus memberi saran bodoh karena tidak pernah berkencan.

***

Agenda malam itu akhirnya dimulai, semua orang berkumpul di aula besar yang ada di lantai dasar. Suara debur ombak menjadi latar belakang karena lokasi villa yang memang ada di bibir pantai.

Layaknya malam keakraban, semua orang duduk melingkar bersama, dan para mahasiswa semester atas yang memimpin acara. Bertukar cerita soal pengalaman mereka selama kuliah, disusul dengan tebak-tebakan aneh yang jawabannya di luar nalar, serta unjuk kemampuan yang sukses membuat semua orang tertawa keras-keras.

Jaehyun dan Dohoon menampilkan lagu duet, menari tanpa rasa malu karena didukung oleh alkohol yang mereka konsumsi. Siapa sangka kalau dua orang yang tadi pagi masih canggung itu kini malah bertingkah konyol bersama.

Doyoung yang duduk di samping Junghwan juga tidak dapat menahan gelakannya, tingkah memalukan teman satu jurusannya membuatnya ikut malu padahal ia tidak berkontribusi apa-apa karena terus Junghwan larang.

Ketika acara inti selesai, sebagian besar mahasiswa baru memutuskan untuk kembali ke kamar karena kelelahan, sementara yang lebih tua masih ingin menghabiskan alkohol yang tersisa.

Namun berbeda dengan Junghwan yang malah mengajak Doyoung untuk berjalan di luar, menyusuri pantai remang karena penerangan seadanya.

Walau masih musim panas, namun angin yang berhembus masih dapat membuat tubuh Doyoung kendinginan. Junghwan yang sadar langsung menarik tubuh kecil itu untuk masuk ke dalam rengkuhan.

"Seneng gak hari ini?" Tanya Junghwan sambil mengusap pelan lengan Doyoung, berusaha menyalurkan kehangatan.

Doyoung mengangguk, "Seneng, seneng banget. Makasih Junghwan udah ngenalin aku sama temen-temen kamu dan ajak aku buat ikut acara kalian." Jawabnya dengan nada ceria.

Langkah mereka berhenti di salah satu batu besar, Junghwan meminta Doyoung untuk duduk, keduanya kini menatap laut luas di depan yang nampak menyatu dengan langit yang dihiasi jutaan bintang.

Dohoon berkata bahwa Junghwan harus meminta Doyoung untuk menjadi kekasihnya malam ini juga, dan Junghwan tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Karena kapan lagi mereka dapat liburan bersama seperti ini? Tanpa diganggu siapapun termasuk dua teman Doyoung yang terus mengekor tanpa henti.

"Doyoung—"

"Junghwan—"

Ucap mereka dalam waktu bersamaan, Junghwan menoleh menatap Doyoung yang entah sejak kapan juga ikut memandangnya.

"Kamu duluan." Pinta Junghwan, namun Doyoung menggeleng.

"Kamu aja, kenapa Junghwan?" Tanya Doyoung kemudian.

Junghwan menarik napas sebelum bicara, berusaha mengumpulkan keberanian karena entah kenapa ia merasa takut sekarang.

Bagaimana jika Doyoung menolaknya? Membuat sisa liburan mereka menjadi canggung karena akan terus menghabiskan waktu bersama.

"Kamu mau gak jadi pacarku?" Tanya Junghwan langsung.

Doyoung jelas terkejut karena tidak menyangka bahwa Junghwan akan seterus terang ini.

"Aku gak tau aku takdirmu atau bukan, tapi aku beneran sayang banget sama kamu, aku mau punya hak penuh buat lindungin kamu, aku juga gak mau liat kamu deket sama orang selain aku." Jelas Junghwan, dan berhasil membuat jantung Doyoung berdebar kuat.

Entah karena perasaan bahagia atau karena penyakit sialan itu kambuh secara tiba-tiba.

Tapi Doyoung berusaha menyembunyikan sakitnya, ia mengangguk cepat lalu memeluk tubuh Junghwan yang ada di sampingnya.

"Mau. Aku mau." Jawab Doyoung tanpa ragu sama sekali. Ia mempererat pegangan di leher Junghwan ketika laki-laki itu membalas pelukan, sambil terus berdoa agar debar di jantungnya memelan seiring dengan kehangatan yang Junghwan berikan.






...

cie jadian tapi masih penyakitan bjir

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com