Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

XXI

Junghwan terbangun ketika matahari sedang berada di puncaknya, disambut dengan kepala nyeri bukan main efek dari minuman keras yang tadi pagi dirinya konsumsi.

Sedikit menyesali keputusan bodohnya untuk menurut saran Dohoon karena seharusnya hari ini ia menghabiskan waktu dengan Doyoung, bukan malah berbaring di ranjang bahkan hingga matahari nyaris tenggelam.

"Lagian kamu tuh ya, kenapa sih masih aja mau diajak mabuk gitu?" Omel Doyoung yang baru saja masuk ke dalam kamar, ia meletakkan segelas minuman hangat di atas meja belajar sebelum memukul kepala Junghwan.

"Aduh, sakit? Aku lagi ulang tahun kan harusnya disayang-sayang?" Protes Junghwan, tangannya bergerak meraih gelas lalu menenggak habis isinya.

Bibir Doyoung merengut maju, agenda mabuk Junghwan menyebabkan rencana yang sudah mereka siapkan hancur berantakan. Padahal hari ini Junghwan berjanji untuk mengajaknya berkeliling dan memperlihatkan lingkungan tempat tinggalnya.

Namun semuanya gagal karena jangankan berkeliling jauh, Junghwan bahkan tidak sanggup untuk sekadar berganti pakaian karena sakit kepala dan mual yang tidak kunjung berhenti.

"Ngambek ya? Maaf ya, besok deh kita jalan-jalan." Ucap Junghwan pada akhirnya.

Doyoung menghela napas, lusa ia sudah harus pulang ke Seoul, izin empat hari yang susah payah dirinya dapatkan justru berakhir nyaris sia-sia karena tingkah bodoh Junghwan.

Tetapi Doyoung akhirnya mengangguk, sebab ia tahu bahwa ini adalah hal yang berada di luar kuasanya, Doyoung juga enggan mengatur semua perilaku Junghwan.

"Hari ini kamu ngapain aja?" Tanya Junghwan, ia menepuk sisi kosong kasur di sebelahnya. "Duduk sini, kamu capek kalau berdiri terus." Lanjutnya.

Dan Doyoung menurut, duduk di sebelah Junghwan masih dengan wajah masam menahan kesal.

"Cuma ngobrol sama Jaehyun Yujin di depan, terus sama Ibu yang masakin makan siang tadi." Jawab yang lebih kecil.

"Ngobrolin apa? Ngomongin aku ya?" 

"Iya, ngomongin tingkah kamu yang suka mabuk-mabukan, nanti mau diaduin ke orang tua kamu katanya." 

"Aduin aja, aku gak takut tuh." Ledek Junghwan sambil bersandar di bahu kekasihnya, "Aku kangen deh sama kamu." Lanjutnya.

"Tadi pagi kita udah bareng terus? Kemarin juga? Kemarin-kemarinnya juga?"

"Emang gak boleh kangen sama pacar sendiri? Bentar lagi kamu bakal pulang ke rumah terus aku ditinggal di asrama." Rengek Junghwan, "Kayaknya aku gak bisa deh ditinggal sendirian."

Ucapan Junghwan akhirnya berhasil membuat Doyoung tertawa, padahal ia hanya satu minggu pulang ke rumah tapi tingkah Junghwan menunjukkan seolah Doyoung akan pergi selamanya.

"Kamu kesepian gak sih selama ini?" Pertanyaan Doyoung yang tiba-tiba membuat Junghwan mengangkat kepala, ia menatap wajah Doyoung dengan raut heran.

"Maksudnya?" Tanyanya bingung.

"Ya kan kamu anak tunggal, terus orang tua kamu sering pergi gini, kamu sendirian kan di rumah? Kesepian nggak?" Jelas Doyoung kemudian.

"Oh, nggak sih. Pas masih sekolah aku kebanyakan main di luar, dan orang tuaku gak ngelarang, makanya aku sampe diizinin punya motor balap itu kan."

Doyoung mengangguk samar mendengar jawaban Junghwan, "Kenapa? Kamu kesepian ya?" Kali ini Junghwan balik bertanya.

"Iya, apalagi aku cuma berdua sama Mama. Tapi gak juga sih, aku sering main ke rumah papa, keluarga barunya baik." 

Sebenarnya Doyoung merupakan tipe orang yang malas bercerita soal kehidupan pribadinya, apalagi soal keluarga yang lumayan berantakan karena orang tuanya bercerai ketika ia masih duduk di sekolah menengah, namun saat bersama Junghwan entah kenapa semuanya mengalir begitu saja.

Malam itu, meskipun rencana mereka untuk berkeliling gagal total, tapi akhirnya Junghwan tahu mengenai keadaan keluarga kekasihnya, sedikit demi sedikit Doyoung mulai terbuka tentang berbagai hal yang ada di hidupnya.

***

"Kamu langsung pulang atau balik ke asrama dulu?" Tanya Junghwan ketika bus yang mereka naiki hampir sampai di terminal, Doyoung yang duduk di sebelahnya menimbang sebentar sebelum menjawab.

"Ke asrama dulu kali ya? Banyak barang yang belum aku bawa." 

"Yaudah, nanti aku anter ke rumah, boleh gak?" 

"Boleh." Jawab Doyoung sambil tersenyum.

Namun rencananya lagi-lagi gagal karena begitu mereka turun dari bus, netra Doyoung disambut dengan kehadiran Ibunya yang sudah menunggu di terminal.

"Mama?" Tanya Doyoung heran, sambil berdoa dalam hati agar Ibunya tidak melakukan hal yang berpotensi membuatnya malu di depan banyak orang.

Semua teman-teman Doyoung jelas terkejut, apalagi Junghwan yang menyadari bahwa raut Ibu Doyoung tidak seramah biasanya.

"Aku aja, maaf kamu gak jadi anter aku hari ini, nanti aku kabarin ya." Ucap Doyoung sambil meraih koper yang ada di tangan Junghwan, yang lebih tinggi mengangguk dan membiarkan Doyoung berlari ke arah Ibunya.

Entah apa yang terjadi nanti tapi Junghwan harap, Doyoung tidak terlalu dimarahi di rumah, ia pasti lelah setelah menempuh jarak berjam-jam di dalam bus yang sempit.



"Kamu pacaran ya sama Junghwan?" Tanya Ibunya begitu mereka naik ke dalam mobil, Doyoung bingung, haruskah ia jawab jujur atau malah sebaliknya?

"Nggak." Jawab Doyoung pada akhirnya, ia belum siap membuat banyak alasan apalagi Junghwan belum menunjukkan tanda bahwa ia adalah belahan jiwanya.

"Tapi kalian deket banget?"

"Ya deket aja kayak aku sama Yujin Jaehyun, lagian kan kita sekamar, masa musuhan?" Jawab Doyoung, masih berusaha menghindari topik yang berhubungan dengan Junghwan.

"Kim Doyoung, Mama gak pernah ngajarin kamu bohong. Kamu mau ngaku sendiri atau Mama tunjukkin semua bukti kalau hubungan kalian lebih dari itu?"

Doyoung meneguk ludah, kepalanya mendadak pening karena dari mana Ibunya tahu perihal hubungannya dengan Junghwan yang susah payah ia sembunyikan?

"Kemarin kamu pergi ke rumahnya di Iksan, pas akhir tahun juga kamu pergi liburan sama dia kan?"

"Aku pergi bareng sama yang lain, bukan Junghwan doang." Doyoung membela diri.

"Tapi kamu pacaran kan sama dia?"

"Nggak, Ma."

"Awas kalau sampai kamu bohong, Mama gak segan-segan buat pindahin kampus kamu."

Ancaman Ibunya membuat Doyoung sekuat tenaga menahan tangis, dirinya tahu bahwa ini adalah konsekuensi yang harus ia ambil, namun Doyoung tidak menyangka bahwa hubungan mereka akan secepat ini ketahuan.

Doyoung masuk ke dalam rumah, disusul dengan Ibunya yang berjalan di belakang, tangannya nyaris menyentuh gagang pintu kamar sampai tiba-tiba Ibunya kembali memanggil namanya.

"Obat kamu, habisin selama di rumah. Yang kemarin udah habis kan?" Doyoung mengangguk tanpa menjawab, satu lagi kebohongan keluar karena faktanya ia nyaris tidak pernah menyentuh obat selama berada di Iksan.

Karena entah kenapa, obat itu justru membuat penyakitnya semakin parah, jantungnya berdebar kuat setelah mengonsumsi meskipun masih dalam dosis wajar.

Dan benar saja, kondisinya selama di rumah benar-benar mengkhawatirkan, Doyoung nyaris tidak sanggup untuk sekadar membuka mata karena jantungnya yang terus berdegup kuat.

Tadinya ia hendak mengajak Ibunya ke rumah sakit, tapi Doyoung takut itu justru menjadi senjata agar dirinya tidak lagi diperbolehkan untuk tinggal di asrama.

"Aku mau ke rumah Papa." Ucap Doyoung dengan ponsel di telinga, Ibunya sedang bekerja dan ia sendirian di rumah.

"Ngapain? Papa juga lagi kerja." Tolak Ibunya.

"Tapi aku mau ke rumah Papa, aku udah pesen taksi." Lanjut Doyoung lagi, ia muak terus-terusan berada di rumah, setiap teman-temannya ingin datang menjenguk juga selalu ditolak oleh satpam yang berjaga di depan.

Nyaris satu minggu ia juga tidak bertemu Junghwan.

"Yaudah, tapi nanti malam mama jemput.

Doyoung tidak menjawab dan langsung memutus panggilan, ia berjalan keluar dari kamar lalu melangkah menuju gerbang depan. Namun bukan taksi yang menunggu, melainkan Junghwan dan mobil yang ia pinjam dari Jeongwoo.

Rasanya Junghwan ingin menangis melihat betapa pucat wajah Doyoung di depannya, setelah pulang dari Iksan, Doyoung memang menghabiskan waktu di rumah seharian karena sakitnya yang mendadak datang.

Junghwan juga tidak mengerti mengapa Doyoung selalu sakit ketika berada di rumahnya sendiri, ya walau ia juga sesekali mengeluh kesakitan saat bersama Junghwan, namun tidak separah ini.

"Gak bawa apa-apa?" Tanya Junghwan heran, ia membuka pintu penumpang dan mempersilakan Doyoung untuk masuk sebelum berlari ke sisi mobil satunya.

"Cuma bawa ini," Jawab Doyoung sambil memperlihatkan tabung kecil berisi obat di tangan. "Aku mau cari tau soal obat ini sama Papa." 

Banyak pertanyaan di kepala Junghwan namun ia memilih diam dan fokus dengan jalanan di depan, karena sebenarnya ia takut dengan Ibu Doyoung, dirinya terlihat seperti anak nakal yang membawa kabur pacarnya dari rumah.

Dan Junghwan jelas tidak ingin dipandang sebagai sosok yang seburuk itu di depan calon mertua.

Butuh waktu dua puluh menit hingga mereka akhirnya sampai ke rumah Ayah Doyoung, Junghwan menoleh ke samping dan ia menghela napas saat melihat wajah kekasihnya yang begitu menyedihkan.

Sebelah tangannya bergerak untuk meraih tangan yang lebih kecil, "Jangan sedih terus dong, kan sekarang udah di rumah Papa kamu." Ucapnya, berusaha menenangkan.

Doyoung membalas pegangan Junghwan di tangannya, ia sangat sangat merindukan Junghwan dan semua rutinitas mereka. "Aku kangen banget sama kamu." Ucapnya kemudian.

Junghwan tertawa pelan, "Kamu udah ngomong gitu belasan kali selama kita jalan ke sini, aku juga kangen sama kamu, tapi kan kamu harus sembuh dulu sebelum balik ke asrama." Tangannya yang bebas terulur untuk mengusap sisi wajah Doyoung dengan lembut.

"I love you." Ucap Junghwan lagi, "Aku sayaaaang banget sama kamu, aku janji bakal bawa kamu jalan-jalan kalau kamu sembuh nanti."

Sentuhan Junghwan di tangan dan wajahnya membuat Doyoung menangis, mengapa penyakit sialan ini masih saja bersarang padahal siapapun pasti tahu kalau Doyoung hanya menginginkan Junghwan sebagai belahan jiwanya.

Mereka menghabiskan waktu bersama di dalam mobil dalam waktu yang cukup lama, sebelum Doyoung akhirnya masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Ayah yang sudah menunggunya di sana.

"Aku mau ke rumah sakit, tapi cuma sama Papa." 











...

bentar lagi tamat gays

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com