Chapter XIII
cw ; makeout
***
Netra Doyoung memandang layar jam di tangan kiri, menunggu waktu di mana orang yang sudah ia bayar mahal mengirim semua data yang berkaitan dengan Junghwan.
Sejak laki-laki itu melamarnya minggu lalu, Doyoung memang sengaja mencari informasinya secara diam-diam. Ia hanya tahu sedikit tentang calon suaminya, dan enggan menikah dengan sembarangan orang yang berpotensi mempersulit hidupnya di kemudian hari.
Ratusan foto serta beberapa dokumen seketika masuk ke ponsel Doyoung di waktu yang telah ditentukan, tanpa sadar ia tersenyum saat melihat potret Junghwan yang lumayan di luar perkiraan.
Doyoung selalu mengira bahwa Junghwan adalah tipe manusia serius, tidak punya hati, bertindak seenaknya dan selalu menyalahgunakan wewenang.
Tetapi ia salah besar, Junghwan nampak hangat di semua foto yang dikirimkan, pemimpin perusahaan itu bahkan tidak jarang melempar senyum ramah pada karyawan yang tidak sengaja berpapasan.
Sayangnya, rasa lega Doyoung hanya bertahan sebentar. Karena setelahnya, ia dikejutkan oleh fakta yang tidak diketahui semua orang.
Dari beberapa foto dan kejadian yang diawasi oleh mata-mata bayaran, ia menyimpulkan bahwa hubungan Junghwan dengan ayahnya ternyata tidak sebaik yang orang lain kira.
Tetapi saat itu, Doyoung enggan ikut campur. Hubungan Junghwan dengan ayahnya, biarlah menjadi urusan mereka, karena dirinya juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya sendiri.
Doyoung merasa tidak ada sangkut pautnya dengan semua masalah Junghwan. Sampai suatu hari, tepat di malam pernikahan mereka, ayah Junghwan masuk ke ruang tunggu pengantin.
Awalnya Doyoung kira, laki-laki itu hanya akan memberinya wejangan sebagaimana mertua pada umumnya. Namun apa yang keluar dari mulutnya membuat Doyoung langsung menatapnya tidak percaya.
Ia dengan sengaja membocorkan semua rahasia Junghwan, termasuk rencana untuk menguasai perusahaan Doyoung pelan-pelan.
"Kamu gak mau kan semua kerja kerasmu direnggut gitu aja? Gimana kalau kita kerja sama buat bunuh dia?"
"Dia?"
"Iya, suami kamu. Anak gak berguna yang sampai sekarang masih terus gagal karena cuma bisa ada di peringkat dua."
Kepala Doyoung bagai dihantam palu besar, bukannya lolos dari masalah keluarga, ia malah masuk ke lubang yang sama dan lebih dalam pula.
Padahal di mata orang lain, hubungan Junghwan dengan ayahnya selalu nampak baik-baik saja. Junghwan bukan tipe anak pembangkang seperti Doyoung yang selalu melanggar perintah orang tua, nama Junghwan dan anak penurut seakan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Tetapi apa yang barusan ayahnya bilang? Anak tidak berguna? Bukankah selama ini Junghwan selalu berhasil memperluas bisnis mereka?
"Saya gak punya rencana buat bunuh siapapun, termasuk suami saya." Jawab Doyoung dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sengaja memandang mertuanya dari atas hingga bawah dengan tatapan meremehkan.
"Lagian kenapa anda tiba-tiba berubah pikiran? Bukannya lebih gampang nyingkirin saya dibanding Junghwan?"
"Kalau dia yang mati, saya lebih gampang buat kuasain semuanya."
"Oh, jadi setelah kita bunuh Junghwan, anda bakal bunuh saya?"
Tebakan Doyoung tepat sasaran, ayah Junghwan belum sempat menjawab sampai tiba-tiba pintu ruang tunggu terbuka lebar, menampakkan sosok yang sedang mereka bicarakan berjalan lurus ke arah mereka.
"Papa? Ngapain di sini?" Tanya Junghwan ketika menyadari bahwa orang yang berdiri membelakangi ternyata adalah ayahnya sendiri.
Pria itu hanya tersenyum samar sebelum akhirnya keluar dari ruangan, meninggalkan dua pengantin yang berdiri berdampingan.
"Ada apa?" Tanya Doyoung dengan suara berat yang dibuat-buat.
"Kamu udah selesai istirahatnya? Sesi foto bareng udah mau mulai."
Doyoung mengangguk, dan Junghwan langsung menuntun suaminya untuk berjalan menuju hall utama, kembali menyapa tamu yang bukan main banyaknya.
"Kalau capek lagi, bilang aja. Biar aku yang hadapin semuanya sendirian." Canda Junghwan dengan raut sok pahlawan, ia mulai memijat pelan sebelah lengan Doyoung yang melingkar di tangan.
Tanpa sadar Doyoung tertawa, Bagaimana bisa ia memikirkan rencana untuk membunuh orang seperti Junghwan?
***
"Aku capek banget," Ucap Doyoung sambil berbaring di sofa ruang tengah, karena nampaknya ia tidak lagi memiliki tenaga untuk naik ke kamar di lantai dua.
Bermain basket tanpa pemanasan sangat tidak disarankan, selain kaki, tangan Doyoung juga nyeri, apalagi jemari yang terus digunakan untuk menggenggam bola nyaris tanpa henti.
Junghwan yang berjalan di belakang kini duduk di karpet bawah sofa, meraih tangan suaminya untuk dipijat pelan. Doyoung mengernyit ketika Junghwan tidak sengaja menekan pergelangan tangannya terlalu kuat.
"Maaf, jadi makin sakit ya?" Tanyanya khawatir, dan Doyoung menggeleng.
"Gapapa, Junghwan." Jawabnya.
"Mau aku panggilin dokter ke sini?" Tawar Junghwan, karena sepertinya Doyoung benar-benar butuh pengobatan, apalagi setelah semua hal buruk yang mereka lalui hari ini.
Dan Doyoung malah tertawa, menarik tangannya dari genggaman Junghwan lalu duduk di atas sofa. "Aku gapapa, kayaknya aku gak pernah olahraga ya Junghwan? Makanya badanku langsung sakit kalau dipake gerak sedikit aja?"
Ada jeda sebentar sebelum Junghwan menjawab, karena ia sendiri tidak tahu aktivitas apa saja yang dilalui suaminya selain bolak-balik rumah dan perusahaan.
"Kan kamu baru sembuh, jadi wajar kalau badannya gampang sakit."
Jawaban Junghwan terdengar masuk akal, Doyoung kini membuka kakinya, menarik kepala Junghwan agar punggungnya bersandar pada sela. Tangannya bergerak, membelai surai gelap yang mulai panjang.
"Kamu gimana? Capek gak?" Doyoung kembali bertanya, dan Junghwan menggeleng.
Netranya tertutup, menikmati sentuhan Doyoung di kepalanya. "Aku jadi ngantuk kalau diginiin." Ucapannya berhasil membuat Doyoung tertawa.
"Mau tidur sekarang?" Tanya Doyoung lagi sambil memiringkan kepala, menatap wajah suaminya yang nampak lembut walau dibingkai oleh figur tegas.
"Naik dulu aja, yuk? Kamu masih capek? Aku gendong aja ya ke atas?" Tawar Junghwan sambil mulai berdiri menghadap yang lebih kecil, dan Doyoung mengangguk semangat lalu membuka kedua tangan.
"Mau digendong." Ucapnya dengan nada manja, dengan senang hati Junghwan menuruti keinginannya.
Perjalanan mereka menuju lantai dua dipenuhi canda, Doyoung tidak berhenti tertawa sementara Junghwan juga terus merasa bahagia sambil memandang wajah orang yang sangat dicintainya.
Doyoung nyaris teriak ketika Junghwan sengaja melemparnya ke atas ranjang, ikut berbaring di atas tubuhnya dengan kedua tangan yang ia gunakan sebagai penahan.
Dilihat dari bawah, wajah Junghwan nampak begitu menggoda. Doyoung meneguk ludah, sebelah tangannya terulur untuk mengusap leher orang yang ada di atasnya.
"Junghwanie," Panggil Doyoung pelan, suaranya lebih terdengar seperti bisikan, membuat tengkuk Junghwan meremang beriringan dengan sentuhan yang ia berikan.
"Mhm?"
Tangan Doyoung terus bergerak, dengan canggung mendorong kepala Junghwan agar mendekat, dan netra keduanya terpejam kala Doyoung mulai menyatukan bibir mereka.
Awalnya Junghwan kira, Doyoung hanya ingin mengecup bibirnya seperti biasa. Tetapi ia terkejut saat suaminya malah sengaja membuka mulut, berusaha menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian dengan kemampuan yang sangat di bawah rata-rata.
Seiring berjalannya waktu, Junghwan mulai mengimbangi walau tetap mempertahankan Doyoung sebagai orang yang mendominasi permainan.
Lidah kecil itu masuk ke dalam mulut Junghwan, mengabsen seluruh isinya sebelum membawa keluar milik Junghwan untuk dihisap kuat, menimbulkan suara yang membuat nafsunya kian memburu.
Junghwan pasrah ketika Doyoung membalik posisi mereka, kini ia yang berada di atas, merangkak naik di badan Junghwan yang masih terbalut pakaian dengan tautan yang enggan terlepas.
"Doyoungie," Panggil Junghwan di sela ciuman mereka, berusaha menyadarkan suaminya yang sepertinya mulai kehilangan akal.
"Ngh—" Junghwan mengerang tertahan karena lutut Doyoung kini mulai bergerak di antara sela kakinya, menggosok sesuatu yang mengeras karena aktivitas sensual keduanya.
"Shit, Kim Doyoung!" Umpat Junghwan tanpa sadar, untungnya berhasil membuat kewarasan Doyoung terkumpul seutuhnya dan mengakhiri ciuman mereka.
"Astaga," Ucap Doyoung sambil menutup mulut, tidak percaya dengan apa yang barusan dirinya lakukan.
"Aku ngelecehin kamu ya, Junghwan?" Tanya Doyoung dengan nada polos seperti biasa, tangannya ikut bergerak untuk mengancingkan kemeja suaminya yang hampir semuanya terbuka.
Sejak awal, Junghwan selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Doyoung karena tidak ingin kegiatan ini disesali jika ingatannya kembali nanti, tetapi sekarang ia malah menjadi korban sebab nafsu Doyoung yang terlalu berlebihan.
"Kamu gak mau kan kita kayak gini, maafin aku ya Junghwan." Ucap Doyoung penuh penyesalan, hampir menangis karena suaminya tidak kunjung memberi reaksi.
Doyoung bergerak mundur ketika Junghwan mulai duduk, pipinya masih sedikit sakit karena pukulan ibunya tadi siang, ia enggan mendapat tamparan lagi.
"Kata siapa?" Tanya Junghwan sambil mengusap bibir menggunakan ibu jari.
"Maksudnya?" Doyoung balik bertanya karena tidak paham dengan kalimat suaminya.
"Kata siapa aku gak mau?"
"Ya abisnya, kamu selalu menghindar dan kayak nahan diri tiap kita lagi ciuman atau nempel-nempel di kasur gini, makanya aku kira kamu gak pernah mau buat—"
"Buat?"
"Buat... buat jadi ayah kayak yang aku tanyain di—."
Junghwan tidak menjawab dan Doyoung juga tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena ia yang lebih dulu maju, kembali menyatukan bibir mereka sambil mendorong tubuh yang lebih kecil agar berbaring di atas ranjang.
Kali ini Doyoung yang mengerang kala telapak tangan suaminya dengan sengaja masuk ke dalam pakaian, mengusap perut ratanya dengan gerakan mengambang dan terus naik hingga menyentuh ujung dadanya.
Tangan Doyoung meremat rambut Junghwan, berusaha menahan hasrat yang tidak berhenti suaminya salurkan melalui semua geraknya,
Bibir yang terus dilumat lembut, tubuh yang digerayangi pelan-pelan, Doyoung bahkan tidak tahu bahwa pakaiannya sudah naik ke atas karena Junghwan yang menariknya agar memudahkan gerak tangannya.
Junghwan menggeram rendah saat tangan Doyoung memijat tengkuknya tanpa sadar, ia mengecup sudut bibir suaminya sebelum beringsut ke bawah, menjadikan leher putih Doyoung sebagai target selanjutnya.
"Junghwan..." Panggil Doyoung dengan suara serak, tetapi Junghwan seakan tuli, tetap mencium dan menjilat permukaan leher Doyoung sebelum dihisap kuat hingga menimbulkan suara decitan.
Sesuatu di tubuh bagian bawah Doyoung rasanya ingin meledak, pinggulnya tanpa sadar bergerak agar dapat bergesekan dengan milik Junghwan yang juga mengeras di balik pakaian.
Setelah puas memberi tanda cinta di lehernya, kepala Junghwan kembali turun, dengan sengaja meniup puting Doyoung yang menegang sebelum dijilat lalu diraup dengan bibir penuhnya.
"Ah—" Doyoung mendesah tertahan, ini adalah kali pertama ia merasakan sensasi aneh pada seluruh bagian tubuhnya.
Sementara Junghwan nampak tidak peduli, terus menghisap puting Doyoung seolah menunggu sesuatu yang akan keluar dari sana.
"Junghwan, Junghwan udah..." Protes Doyoung, hampir menangis karena ia kesulitan menahan semua stimulasi yang Junghwan beri tanpa henti.
Suara rengekan itu membuat Junghwan akhirnya sadar, ia menarik diri, menatap wajah Doyoung yang hampir menangis dengan tubuh bagian atas yang terbuka sepenuhnya.
"God." Ucap Junghwan, tidak percaya dengan apa yang baru dibuatnya. Ia memeluk tubuh Doyoung, meminta maaf berulang kali karena tidak dapat mengendalikan diri.
"Maaf, maaf aku beneran gak sadar." Ucapnya penuh penyesalan.
Sebenarnya Doyoung bukannya tidak mau berbuat itu dengan Junghwan, tetapi ia ingin semuanya berjalan pelan, bukan malah buru-buru seperti apa yang suaminya lakukan.
"Aku takut, kamu kayak orang kesurupan." Protes Doyoung sambil menatap Junghwan yang memperbaiki letak pakaiannya.
Junghwan mengangguk, kembali meminta maaf karena ini memang salahnya. Ia tidak dapat menahan diri terlebih setelah merasakan bagaimana nikmatnya tubuh Doyoung saat ada di bawah kendali.
"Maaf ya, kamu mau mandi? Atau mau ganti baju aja?" Tanya Junghwan, jemarinya bergerak mengusap bibir Doyoung yang sedikit bengkak karena ulahnya.
"Mau mandi."
"Yaudah kamu mandi duluan—"
Doyoung menggeleng, ia duduk di hadapan Junghwan lalu mengalungkan kedua tangan ke belakang lehernya. "Mau mandi sama Junghwan."
...
hehe update lagi setelah tanggal 5 ya temen-temen, selamat liburan! (aku^^)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com