Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XIX

Beberapa hari setelah terus berdiskusi untuk mematangkan rencana mereka, Haruto, Jaehyuk dan Asahi memutuskan untuk kembali ke Seoul. Selain karena harus menjalankan misi, mereka juga masih memiliki urusan pribadi yang hanya bisa dikerjakan di sana.

Meninggalkan Doyoung dan Junghwan yang untungnya sudah tidak bertengkar seperti terakhir kali.

"Kabarin gue kalau ada apa-apa." Ucap Doyoung pada Asahi, sahabatnya itu mengangguk sebelum naik ke dalam kendaraan yang dibawa oleh Jaehyuk.

Ia melambaikan tangan pada mobil yang akhirnya bergerak perlahan, meninggalkan area vila yang sudah dijaga oleh puluhan orang di berbagai sisinya.

"Masuk yuk?" Tawar Junghwan sambil mengulurkan tangan, Doyoung mengangguk lalu menyambut uluran suaminya dengan pelukan.

Junghwan tersenyum saat Doyoung memeluk tubuhnya erat-erat, padahal tadi malam ia juga melakukan hal serupa bahkan hingga mereka terjaga.

"Mau masuk gak?" Tanya Junghwan tepat di telinga, dan Doyoung malah menggelengkan kepala.

"Sebentar," Ucapnya.

"Mau ngapain lagi emang?"

"Mau peluk dulu, sebentar aja." 

Doyoung memekik saat Junghwan mengangkat tubuhnya tiba-tiba, tangan yang semula berada di pinggang kini berpindah, melingkar di belakang leher yang lebih tinggi.

"Peluknya di dalem aja, kalau di luar malu diliat banyak orang." Ucap Junghwan sambil berjalan ke dalam hunian.

Mereka tertawa selama perjalanan, saling melempar canda dan bertingkah layaknya dunia hanya milik berdua.

Doyoung harap begitu juga kenyataannya.

Betapa bahagia ia jika di dunia ini hanya terisi Junghwan dan dirinya, tanpa gangguan pihak manapun terutama keluarganya.

"Kenapa?" Tanya Junghwan saat menyadari bahwa suaminya terus melamun sejak mereka masuk kamar.

"Mhm?" Doyoung balik bertanya ketika tersadar dari lamunan. "Nggak, gapapa." Jawabnya sebelum kembali merapatkan tubuhnya dengan Junghwan.

"Kamu mau tidur lagi?" 

Tangan Junghwan bergerak mengusap rambut gelap yang lebih kecil, dibelainya perlahan seolah Doyoung adalah keramik yang mudah pecah jika diberi banyak tekanan.

"Nggak tau." Jawab Doyoung sambil membenamkan wajah ke depan dada Junghwan.

"Doyoung."

"Ya?"

"Aku boleh tanya sesuatu?"

Nada suara yang tiba-tiba berubah membuat Doyoung langsung menatap heran ke arah suaminya, "Tanya apa?"

Junghwan menarik napas dalam-dalam sebelum kembali bicara. "Sejak kapan kamu inget semuanya?"

"Kapan ya? Oh, setelah kita pulang dari tempat Haruto." Jawab Doyoung jujur, karena ia merasa tidak ada lagi hal yang harus ditutupi di depan Junghwan.

"Terus kenapa kamu gak langsung bilang?"

Bukannya langsung menjawab, Doyoung malah merengek lalu kembali menyembunyikan wajah pada tubuh suaminya. "Aku takut." 

"Takut? Takut kenapa?" 

"Aku takut sikapmu berubah, aku takut kamu langsung gugat cerai aku saat itu juga." Jawab Doyoung sambil memandang wajah Junghwan dari bawah.

Netra Doyoung terpejam saat Junghwan malah menghujani wajahnya dengan kecupan, sensasi geli seketika ia rasakan seolah ada ratusan kupu-kupu di dalam perutnya yang sedang berterbangan.

"I love you. Aku janji aku gak akan tinggalin kamu. Setelah pulang dari sini, aku bakal bakar semua berkas perceraian itu." Ucap Junghwan setelah puas membuat wajah Doyoung nyaris basah.

"Jorok." Protes yang lebih kecil sambil menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Kok yang ini belum dicium?" Tanya Doyoung sambil memajukan bibirnya sendiri.

"Boleh emang?" Tanya Junghwan, karena kalau boleh jujur, ia masih sedikit takut dengan Doyoung yang sekarang.

Ia takut tiba-tiba ditendang atau dijambak jika melakukan hal yang tidak Doyoung suka, dan mencium bibir tanpa izin jelas masuk ke dalam salah satunya.

Pertanyaan Junghwan membuat Doyoung memutar mata, "We already did a lot more than that, dan kamu masih tanya?" Omelnya sambil meninju lengan yang lebih tinggi.

Junghwan tertawa lalu mencium bibir merah muda suaminya berulang kali hingga Doyoung kegelian dan tertawa tanpa henti.

Sebuah kegiatan menarik di pagi hari yang pasti akan terasa lebih indah lagi jika dilakukan di rumah, bukan di sebuah vila yang letaknya jauh dari tempat tinggal mereka.

"Aku mau cepet-cepet pulang." Ucap Doyoung dengan netra nyaris tertutup sepenuhnya, berbaring bersama Junghwan di atas ranjang membuatnya mengantuk karena merasa nyaman.

"Sebentar lagi, ya. Kalau keadaan udah aman, baru kita pulang." Tanggap Junghwan sambil terus mengusap punggung sempitnya.

Doyoung mengangguk, melempar senyum ke arah suaminya sebelum benar-benar terlelap di dekapannya. Disusul oleh Junghwan yang juga tertidur tidak lama kemudian.

***

Karena tidak memiliki aktivitas apapun, ditambah pekerjaan kantor juga sebagian besar sudah diurus oleh sekertaris mereka, Doyoung dan Junghwan menghabiskan waktu mereka hanya dengan bermalas-malasan.

Hari hampir gelap saat keduanya terbangun dari tidur siang, setelah makan dan menanggapi panggilan pada ponsel masing-masing, pasangan itu memutuskan untuk naik ke rooftop, di sana terdapat taman kecil yang menghadap langsung ke arah lautan.

Junghwan duduk di salah satu sofa, lengkap dengan Doyoung yang juga ada di sampingnya.

Angin yang berembus cukup kencang, membuat Doyoung tanpa sadar menggigil lalu memeluk sebelah lengan Junghwan.

"Dingin?" Tanya yang lebih tinggi, Doyoung mengangguk sambil merengut.

"Jangan suruh aku turun buat ambil selimut, aku males. Kamu juga gak boleh ke mana-mana." Jawabnya lalu mempererat pegangannya pada Junghwan.

"Yaudah kalau gitu duduknya aja yang pindah."

"Pindah ke mana? Kamu gak mau ya deket-deket aku? Kamu gak suka kalau aku duduk di sampingmu? Jangan bilang kamu masih— Junghwan!" 

Omelan Doyoung terpaksa berhenti karena Junghwan yang dengan mudah mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan. Karena posisi yang menyamping, ia langsung memegang kedua bahu suaminya agar tidak jatuh dari sana.

"Tangannya masukin ke sini." Ucap Junghwan sambil membentangkan cardigan yang ia pakai, Doyoung tertawa lalu benar-benar menyelipkan kedua tangannya masuk ke dalam, merasakan betapa hangat suhu tubuh suaminya walau udara di luar cukup dingin malam ini.

"Hangat, kan?" Tanya Junghwan, Doyoung mengangguk setuju sambil menyandarkan kepalanya ke atas bahu.

"Junghwan hangat, aku suka." Jawab Doyoung dengan suara manja, Junghwan terkekeh pelan sebelum ikut memeluk tubuhnya.

Hening cukup lama setelahnya, Junghwan sibuk memandang hamparan pantai dan laut luas yang ada di hadapan sementara Doyoung memilih untuk menikmati pemandangan wajah Junghwan yang terasa tidak nyata di depannya.

"Junghwan," Panggil Doyoung tiba-tiba.

"Mhm?"

"Kadang aku mikir, kenapa gak dari dulu aja ya aku kecelakaan terus hilang ingatan."

Kalimat yang sangat di luar dugaan itu membuat Junghwan mengalihkan fokus ke wajah suaminya yang masih ada di pangkuan. "Kenapa ngomong gitu?" Protesnya.

"Ya kan sikap kamu langsung berubah jadi baik waktu itu, kamu gak jahatin aku terus, kamu juga jadi perhatian banget ke aku." Jelas Doyoung sambil tersenyum samar.

Junghwan menghela napas, berharap beban di hati dan pikirannya ikut keluar bersama agar tidak terus menumpuk di tubuhnya.

"Maaf," Ucap Junghwan dengan penuh rasa bersalah, "Justru kalau aku bisa mutar waktu, aku mau bersikap baik ke kamu jauh sebelum kamu kecelakaan dulu." Jelasnya.

"Maaf aku bego banget, aku gak pernah sadar sama semua kebaikan yang kamu lakuin ke aku bahkan saat aku terang-terangan jahatin kamu." 

"It's okay," Jawab Doyoung sambil menepuk pelan kepala Junghwan. "Salah satu bagian di otak kamu emang belum terbentuk sempurna waktu itu." Penjelasannya berhasil mengundang tawa suaminya.

Dan Doyoung justru kebingungan karena kenapa Junghwan malah tertawa? Padahal ia jelas-jelas sedang mengejeknya.

"Aku kangen sikapmu yang ini." Aku Junghwan.

"Yang ini? Yang mana maksudnya? Yang kurang ajar?" Tanya Doyoung, mengutip apa yang selalu Junghwan katakan soal sikapnya dulu.

Junghwan mengangguk dan tersenyum bagai orang bodoh, "Lowkey aku kangen diomelin kamu."

"Diomelin aja? Dijambaknya nggak?"

Kepala Junghwan refleks menghindar saat tangan Doyoung hendak bergerak ke sana, keduanya tertawa dan Junghwan langsung mengeratkan pelukan pada tubuh suaminya.

"Mulai sekarang, aku anggap jambakan dan tendangan kamu sebagai bahasa cinta yang kamu punya." Ucap Junghwan sambil meletakkan dagu di atas bahu orang di pangkuannya.

Semua terasa tidak nyata bagi mereka. Percakapan bodoh, tawa keras bagai manusia paling bahagia di dunia, serta pemandangan indah yang berada tepat di hadapan.

Kebahagiaan itu nyaris sempurna kalau saja telinga mereka tidak mendengar suara berisik dari dalam rumah. Junghwan mengisyaratkan Doyoung agar tetap di sofa sementara ia pergi memeriksa, tetapi bukan Doyoung namanya jika tidak melanggar perintah suaminya.

Setelah menghubungi penjaga yang ada di sisi lain vila, Doyoung menyusul langkah Junghwan yang sudah menghilang dari balik pintu. Dan netranya disambut oleh perkelahian antara penjaga dengan orang asing yang menggunakan topeng familiar.

Ah, itu pasti komplotan suruhan Ayah Junghwan yang juga membuat Doyoung kecelakaan.

"Jangan turun." Omel Junghwan saat melihat Doyoung di belakangnya.

"Kamu pikir aku bakal diem aja liat kamu hadapin mereka sendirian?" Protes Doyoung tidak terima, ia melangkah ke nakas yang ada di dekat tangga lalu meraih sesuatu dari dalam laci.

"Doyoung, nggak." Omel Junghwan lagi sambil berusaha meraih pisau lipat dari tangannya. 

Doyoung berdecak lalu menyerahkan pisau itu ke tangan Junghwan. "Kita cuma harus ulur waktu, penjaga yang ada di luar vila lagi jalan ke sini dan kita gak mungkin ngebiarin yang lain mati sia-sia, kan?" Tanyanya sambil meraih salah satu stik golf yang ada di sebelah nakas.

Junghwan mengerang frustasi, sedangkan Doyoung malah tersenyum dan memperbaiki letak kacamatanya. 

"Inget, jangan sampai pisau yang ada di tanganmu justru bikin kamu luka. Okay, suamiku?" Ucap Doyoung sambil mencium pipi yang lebih tinggi.

Sebelum akhirnya bergegas turun dan bergabung dengan pertikaian yang ada di ruang tengah, membuat Junghwan ikut melangkah bersama karena ia tidak mungkin membiarkan suaminya berjuang sendirian.








...

tekan 1 agar mereka selamat sampai tamat

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com