Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XXXI

Matahari belum naik dan rasanya Junghwan baru tidur sebentar saat telinganya samar menangkap suara tangisan, dengan mata setengah terbuka, ia menatap Doyoung yang duduk di sebelah.

"Sayang?" Panggil Junghwan, memastikan ia tidak salah dengar karena siapa tahu ada penyusup yang masuk ke kamarnya?

"Junghwan..." Jawab Doyoung yang kemudian menoleh dan menunjukkan raut sedih pada suaminya.

"Kok nangis? Kenapa?" Junghwan panik. Hilang sudah kantuknya, ia ikut duduk dan menatap wajah bengkak orang di hadapan. "Sakit lagi perutnya?" Tanyanya lagi, sebab perut Doyoung kini memang jauh lebih besar karena sudah memasuki bulan ke tujuh.

Menurut gambar yang ada pada layar ketika perutnya di-USG, anak mereka laki-laki.

Awalnya Junghwan sempat kesal karena takut ucapan Asahi benar, tetapi Doyoung marah dan memintanya untuk tidak membenci anak yang bahkan belum sempat melihat dunia.

Rasa cemburu suaminya itu kadang tidak bisa diterima nalar.

Sambil terisak Doyoung menjawab pertanyaan Junghwan, "Kamu inget kan hotteok yang ada di resepsi pernikahan kita waktu itu?"

Junghwan berpikir sebentar sebelum mengangguk pelan, "Inget, hotteok kesukaan kamu itu kan?"

"Iya... Junghwan, aku mau makan itu."

"Sayang," Panggil Junghwan. "Hotteok itu cuma ada di Jeju, kamu mau ke Jeju hari ini? Tapi kamu pasti bakal kecapekan kalau harus bolak-balik naik pesawat." Lanjutnya dengan suara selembut mungkin, berusaha keras agar tidak menyakiti hati suaminya.

Tangis Doyoung kembali terdengar, ia merengek bagai anak kecil yang tidak diperbolehkan membeli mainan oleh Ibunya.

"Yaudah gini aja, aku suruh salah satu karyawan bar di sana buat beliin dan anter ke Seoul hari ini juga, kita tunggu di bandara, gimana?" Tawar Junghwan setelah memutar otak.

Tetapi suaminya malah menolak idenya.

"Aku maunya kamu yang beli."

Kalau saja Doyoung tidak sedang hamil sekarang, Junghwan pasti sudah meremat kedua pipi bulatnya, menyalurkan kekesalan yang masih ia tahan.

"Kamu mau aku terbang ke Jeju, beli hotteok buat kamu, dan langsung balik ke Seoul?" Tanya Junghwan, seolah permintaan Doyoung adalah hal mustahil yang tidak mungkin bisa ia lakukan.

"Kenapa? Kamu gak mau ya?" Jawab Doyoung sambil mengusap perutnya. "Sayang, ayah gak mau beliin hotteok buat kita."

Netra Junghwan terpejam rapat, ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengukir senyum yang sangat dipaksakan. "Bukan gitu, tapi gak efisien kalau aku harus bolak-balik, itu makan waktu lima jam lebih, Doyoung."

Kali ini Doyoung terdiam, perlahan ia bergerak ke pinggir ranjang, turun dari sana hendak berjalan ke luar kamar, tetapi langkahnya dihentikan oleh Junghwan yang langsung berdiri di hadapan.

"Oke, aku ke Jeju sekarang." 

Senyum lebar langsung mengembang di wajahnya, Doyoung bahkan nyaris lompat ke pelukan Junghwan kalau saja ia tidak ingat dengan anak yang akan menghalangi pelukan mereka.

"I love you, Junghwan!" Ucap Doyoung sambil bergelayut manja pada lengan suaminya.

Junghwan tidak menjawab, karena ia sibuk menghubungi sekertaris pribadinya untuk mencari dua tiket pulang pergi Jeju pagi ini.

"Kok dua?" Tanya Doyoung tepat setelah Junghwan meletakkan ponselnya ke atas nakas.

"Aku gak mungkin pergi sendirian?"

"Terus kamu mau pergi sama siapa?"

"Jaehyuk."

Doyoung mengangguk paham, "Yaudah kamu rapi-rapi sana, aku bakal tunggu kamu di bandara."

Untungnya ini hari minggu, teman-teman Junghwan memiliki waktu bebas hingga mereka tidak keberatan saat ia menghubungi mereka satu persatu.

Asahi tertawa keras seperti biasa sebelum berkata iya saat Junghwan memintanya menemani Doyoung di bandara. Sementara Haruto tidak bertanya apa-apa, karena sebelumnya Junghwan sudah terlalu sering merepotkan.

Junghwan hanya membawa tas kecil, ia juga tidak meminta supir mengantar karena hari yang masih gelap, penerbangannya pukul tujuh pagi nanti, masih ada waktu satu jam lagi.

Jaehyuk dan Junghwan sudah selesai check in saat Asahi dan Haruto akhirnya sampai, meski tidak terlalu jelas, tetapi Junghwan menangkap senyum aneh di wajah suaminya saat Haruto berjalan mendekat ke arah mereka.

"Kenapa kamu senyum gitu?" Tanya Junghwan dengan nada tidak suka.

"Aku gak boleh senyum?" Doyoung balik bertanya, "Aku cuma seneng karena kamu punya banyak temen yang perhatian." Jelasnya singkat.

Doyoung menyewa lounge untuk dijadikan tempat menunggu, meski tidak memiliki tiket pesawat, ia harus tetap nyaman selama berada di bandara.

"Jangan makan aneh-aneh." Titah Junghwan, Doyoung mengangguk pelan.

Hoodie kebesaran milik Junghwan serta celana pendek longgar yang Doyoung gunakan membuatnya terlihat seperti anak sekolah menengah yang sedang hamil besar.

Ditambah kacamata berbingkai lebar yang terlihat kebesaran di wajahnya, jika tidak karena perutnya, mungkin ia sudah dikira anak hilang.

"Iya,flightnya cuma jeda satu jam kan?"

Junghwan menggeleng, "Aku pulang pakai jet pribadi, Hyunsuk berhasil pinjem punya salah satu investor kita tadi."

Bagus, lebih cepat lebih baik karena Doyoung sangat ingin mengunyah hotteok hangat kesukaannya itu secepatnya.

"Belinya yang banyak, ya." Pinta Doyoung.

"Ya iyalah, masa udah jauh-jauh ke Jeju aku cuma beli satu? Kalau bisa aku bawa sama gerobaknya biar dia jualan di deket rumah kita."

Karena pesawat sudah siap terbang serta para penumpang ekonomi sudah masuk ke dalam kabin, Junghwan dan Jaehyuk akhirnya masuk.

Doyoung melambaikan tangan ke arah suaminya, dan Junghwan mati-matian menahan diri untuk tidak meninju wajah Asahi dan Haruto yang terus menahan tawa di sebelah suaminya.

***

Penerbangan menuju Jeju memakan waktu dua jam, dan perjalanan menuju kedai penjual hotteok kesukaan Doyoung hampir satu jam. Butuh waktu hampir enam jam hingga Junghwan dan Jaehyuk akhirnya kembali ke bandara Incheon.

Kalau bukan karena Doyoung dan anak di perutnya yang selalu ia jadikan kambing hitam, Junghwan tidak akan sudi menempuh perjalanan sepanjang ini hanya demi hotteok yang menurutnya tidak seenak itu.

"Jangan sampe pas udah di Seoul itu makanan malah dingin." Ucap Jaehyuk.

"Ya lo mau gue dudukin ini supaya hangat terus?" Omel Junghwan, ia merasa butuh seseorang untuk dijadikan samsak emosi dan Jaehyuk adalah sasaran yang tepat.

"Minta pramugari buat masukin microwave sana."

Junghwan menurut, meminta tolong pada salah satu petugas untuk menghangatkan makanan yang sejak tadi ada di tangan.

"Untung lo orang kaya." Ledek Jaehyuk, ia sendiri dibayar mahal oleh Junghwan agar mau menemaninya pergi liburan singkat ke luar pulau.

"Ya kalau miskin Doyoung gak akan mau sama gue."

Ketika mereka akhirnya sampai di bandara, Junghwan langsung bergegas menghampiri Doyoung yang masih berada di lounge.

Tetapi sepertinya bukan hanya hotteok, yang panas tetapi hatinya juga.

Karena di depan matanya, ia melihat jelas sosok suaminya yang sedang terlelap sambil menyandarkan kepala di atas bahu Haruto.

"Loh udah sampe? Cepet banget." Ucap Asahi yang pertama kali menyadari kedatangan mereka.

Ini bahkan belum genap pukul dua siang, ia kira Junghwan dan Jaehyuk akan kembali saat malam hari.

"Kalian ngapain?" Tanya Jaehyuk, mewakili pertanyaan yang juga terlintas di kepala Junghwan.

"Jangan marah please, suami lo yang maksa buat deket-deket gue." Jawab Haruto dengan suara pelan, tidak ingin Doyoung yang sedang tertidur di sampingnya terganggu.

"Maksa gimana?" Tanya Junghwan dengan nada tidak suka.

"Laki lo..." Asahi berusaha menjelaskan sambil menahan tawa, "Sumpah ya suami lo ini kayaknya kesurupan deh."

"Maksudnya?"

"Dia gak berhenti muji Haruto ganteng, dia juga bilang kalau nanti dia mau anaknya mirip Haruto. Terus dia cuma mau tidur kalau udah boleh sandaran ke badan Haruto." Jelas Asahi sebagai saksi satu-satunya yang ada di sana.

"Katanya ngidam, gue mana tega buat nolak?" Haruto menambahkan, dan Junghwan hanya dapat menghela napas berat.

Suara obrolan itu membuat Doyoung terjaga, ia mengerang pelan sebelum membuka mata dan langsung tersenyum girang ketika melihat Junghwan di depannya.

"Junghwan! Mana hotteoknya?" Tagih Doyoung dengan kedua tangan terbuka di depan wajah.

Siapa yang bisa marah saat melihat raut suaminya yang begitu menggemaskan?

"Ini." Ucap Junghwan sambil menyerahkan bungkus besar hotteok ke arahnya.

"Makasih, Junghwan. Sini duduk, kamu pasti capek kan? " Jawab Doyoung seraya  menepuk sisi kosong sofa di sampingnya. "Ruto, pindah sana." Usirnya kemudian, seolah kejadian merengek tanpa henti dan meminta Haruto agar terus berada di sampingnya adalah mimpi.

Hilang rasa kesal Junghwan, perjalanan enam jam juga rasanya terbayar lunas karena Doyoung yang tidak berhenti memuji tingkahnya, terus berkata bahwa dirinya beruntung karena memiliki suami sesigap Junghwan.

Membuat tiga orang lain yang ada di sana hampir mencekik mereka berdua kalau saja dua orang itu bukan atasan sekaligus sahabat terbaiknya.








...

see you di chapter terakhir temen temen HUAH AKHIRNYA

jangan minta aku buat hwanbi urus anak yah, aku belum pernah punya anak (dan gak mau asal ngetik karena jadi orang tua itu syulit)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com