Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

4. Arrival

Tangerang Selatan, Indonesia
End of June 2026

Pengacara muda Indonesia, Hamdi Hassan, terlihat menghela napas saat melihat adik perempuanya, Tanisha, berdiri tegak di depan pintu kediamannya di kawasan Alam Sutera. Tanisha datang bersama pemilik rumah mewah dua lantai yang ia sewa, Giandra.

Semenjak melanjutkan studi di luar negeri dan pulang ke Indonesia, Hamdi memutuskan untuk tinggal terpisah dengan orang tua. Marco dan Rania tinggal di pemukiman mewah tengah kota, Mega Kuningan, tetapi Hamdi memilih untuk tinggal di pemukiman mewah lainnya yang terletak di pinggir kota (dan mobil-sentris), Alam Sutera.

Orang tuanya memang baik-baik saja, tetapi Hamdi merasa terganggu jika keluarganya mulai menyinggung soal pernikahan. Terutama saat Hamdi gagal membujuk keluarga Soerjapranata & Hadiwiryono untuk menggandeng Giandra sebagai istrinya. Terbukti hingga saat ini, Rania masih menyayangkan kenapa putranya begitu bodoh dalam percintaan.

Sekarang, ada bisikan bahwa Hamdi akan menikah, tetapi Hamdi masih dikaitkan dengan rumor gosip konyol bersama Clara Antonia, aktris muda yang filmnya muncul di bioskop dan serialnya muncul di platform streaming. Akan tetapi, tidak ada yang tahu siapa wanita yang akan menikah dengan pengacara selebriti ini.

"Ah, waktu yang tepat untuk makan hot pot," ucap Hamdi saat membuka pintu kayu untuk Tanisha dan Giandra.

"Menarik. Kebetulan aku sudah lapar." Tanisha merespon pelan.

Mata Hamdi masih melihat sosok Tanisha dengan rasa tak percaya. Akhirnya adik perempuan yang tunggu itu pulang juga. Penampilan Tanisha tak banyak berubah—masih trendi hingga banyak orang mengira bahwa Tanisha bekerja di Fashion Magazine, bukan di tim balap dari Inggris.

"Nice to see you, Tanisha," ucap Hamdi pelan.

"Thanks to her, she asked me to come for her engagement."

Mendengar ucapan Tanisha, Giandra langsung menggelengkan kepala tak setuju. "No, I didn't—"

"We owe you A LOT," potong Hamdi.

Seorang ART langsung berinisiatif untuk membawa koper milik Tanisha dari depan teras. Hamdi meminta ART tersebut untuk membawa dua buah koper adik perempuannya menuju kamar atas. Sebelum terbang ke Jakarta, tentu saja Tanisha sudah memberikan pengumuman kepada Hamdi untuk tinggal di kediamannya. Maka dari itu, Hamdi sudah meminta ART menyiapkan kamar di lantai dua untuk Tanisha.

"Giandra, kamu ikut makan, ya," ajak Hamdi antusias, "hari ini aku masak banyak."

"Terima kasih, Bang Hamdi, tapi aku sudah ada janji sama tukang jahitku. Mau ambil kebaya," tolak wanita muda itu dengan halus.

Mendengar kata tukang jahit, Hamdi tampaknya sudah menangkap bahwa Giandra akan mengambil kebaya untuk pertunangannya di awal bulan Juli. Setelah mengetahui Giandra bertunangan dengan pria baik-baik (yang juga ia kenal), Hamdi lega dan turut senang.

"Baiklah, Giandra, tetapi tunggu sebentar. Aku ada sesuatu untukmu," pinta Hamdi yang berlari menuju kamar tidurnya.

Giandra dan Tanisha saling bertukar pandang. "Kamu jahit kebaya di mana?"

"Aku menemukan tukang jahit dengan portfolio bagus di Jakarta Pusat," jawab Giandra, "kamu akan melihat salah satunya di hari pertunanganku."

Hamdi langsung kembali membawa sebuah amplop berukuran besar. Amplop berwarna hijau dan berlapiskan plastik pun ia serahkan kepada Giandra. "Kamu harus datang sama Nicholas. Aku sudah mengirimkan undangannya ke kantornya."

Saat menerima undangan, Giandra hanya terkekeh. "Ini apa?"

"Lihat saja."

Mendengar ucapan Hamdi, Giandra langsung membalikkan undangan tersebut ke sisi depan. Ia melihat sampul depan dari amplop yang diberikan untuknya dan melihat nama pria dan wanita yang tercetak pada undangan tersebut. Wanita muda itu menyeringai puas, kemudian ia menatap Hamdi dan Tanisha. "Hamdi and ... Shadira? I'm impressed."

Melihat ekspresi Giandra yang tidak sesuai dengan perkiraannya, Hamdi pun mengkerutkan keningnya. Sebelumnya ia mengharapkan bahwa Giandra akan terkejut saat menerima undangan pernikahannya. "Tunggu, kamu tidak kaget?"

Wajah Giandra tidak kaget. Jelas ia mengenal Shadira Salih, putri tunggal konglomerasi retail yang seumuran dengan Giandra. Bahkan Shadira bertanya banyak hal pada Giandra saat Hamdi mendekatinya—tentu saja Hamdi juga cerita kalau hubungannya dengan Giandra baik-baik saja karena mereka tidak memiliki hubungan apapun.

"Kak Tanisha memberitahuku soal pertunangan kalian. Waktu itu ia tidak bisa datang karena ada race di Silverstone."

"Dia selalu mementingkan balapannya daripada melihatku bertunangan," keluh Hamdi.

"Ya emang itu pekerjaannya Kak Tanisha."

Tanisha bereaksi santai terkait absennya di acara , tetapi Hamdi langsung menatap Giandra. "Kamu juga tidak datang waktu itu, 'kan?"

"Ya Allah kamu mengungkit lagi. Waktu itu aku lagi di Amerika Serikat." Giandra menyanggah ucapan Hamdi yang mulai mengeluh soal absennya dari acara pertunangannya dengan Shadira. Wanita muda itu pun melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ah, aku harus pergi. See you later."

Yogyakarta, Indonesia
End of June 2026

Rayan Pradana baru saja keluar dari rumah sakit dengan scrub berwarna hijau telur asin dan ransel hitam. Dengan wajah lusuh akibat belum sempat membasuh wajah, ia berjalan cepat menuju mobil yang ia parkirkan di basement. Rayan memang memiliki rencana untuk pergi ke Jakarta. Ia sudah berjanji pada Giandra untuk menghadiri pertunangannya. Rayan merasa para saudaranya tidak akan hadir, tetapi Rayan tetap mengusahakan karena Giandra juga sepupu terdekatnya.

Akan tetapi, sebelum Rayan membuka pintu mobilnya dari jarak jauh, seorang wanita muda tampak mendekati Rayan tanpa merasa ragu. Wanita muda itu berjalan mendahului langkah Rayan agar Rayan bisa melihat wajahnya.

"Hai Rayan!"

Sapaan wanita muda itu menghentikan langkah Rayan. Sosok puan yang menyapanya terlihat dengan rambut panjang cokelat gelap, setelan jas, dan Dionysus Super Mini Bag dari Gucci. Penampilan formal nan sopan, akan tetapi, Rayan mengenali mata wanita yang besar yang berpadu dengan riasan sederhana pada wajahnya. Tak lupa dengan ekspresi ramah wanita tersebut yang melekat pada ingatan Rayan.

"Erina!" Rayan membalas panggilan dari wanita yang mulai mendekatinya. "Apa kabar, Er? Kenapa kamu ke rumah sakit?"

Akhirnya Rayan berjumpa dengan Erina. Bukan sosok asing, tetapi Erina Setiadi sudah lama mengenal Rayan sejak mereka berdua berkuliah di Universitas Gadjah Mada. Wanita cantik dengan pipi tirus itu seorang perempuan berdarah Jawa yang berasal dari Semarang. Rayan ingat persis bahwa Erina adalah lulusan Ilmu Komunikasi, tetapi perjalanan karir Erina kerap tak konsisten. Terakhir kali, Rayan mendengar kabar dari temannya bahwa Erina bekerja sebagai PR di salah satu gedung yang berada di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat.

"Kabarku baik. Aku habis menjenguk temanku, Yan." Erina menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Rayan. Matanya langsung memandang scrub berwarna hijau telur asin yang dikenakan Rayan dengan lanyard yang melingkari leher lelaki itu. "Kamu lanjut residen di sini?"

"Yup." Rayan menanggapi pertanyaan Erina dengan singkat.

Mereka berdua saling berpandangan. Dulu semasa kuliah, mereka akrab sekali sampai mereka berdua saling menyempatkan diri untuk datang ke momen penting di perkuliahan. Meskipun Erina sudah lebih banyak tinggal di Jakarta dan Rayan yang datang ke Jakarta untuk istirahat di rumah neneknya, tetapi mereka hampir tidak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing.

Mereka memang pernah sedekat itu.

"Sudah lama tidak mengobrol. Bagaimana kalau kita mampir dulu ke coffee shop?" tawar Erina.

Bahkan sekarang Erina berinisiatif untuk mengajak Rayan pergi ke coffee shop agar bisa saling melempar life update. Seperti waktu mereka kuliah, selalu Erina yang membuat Rayan keluar dari kosan.

"Sayang sekali, Erina, aku harus ke bandara," tolak Rayan dengan sopan.

"Dengan penampilan seperti itu?" tanya Erina ragu dengan mata yang melirik penampilan Rayan.

Menyadari Erina yang memandangi penampilannya, Rayan hanya terkekeh. "Oh, tentu tidak. Aku harus pulang ke rumahku dulu."

Sebelum Rayan pergi, Erina merogoh isi tasnya dengan pattern yang familiar. Rayan dapat mengenali asal pabrikan tas tersebut berkat  GG Supreme yang tercetak lapisan luar tas. Kemudian Erina berinisiatif untuk memberikan kartu nama. "Well, Rayan, aku senang berbicara denganmu, meskipun tidak bisa life update lebih banyak. Kita harus mengobrol lain kali."

Tangan Rayan menerima kartu nama berwarna putih dengan tulisan hitam dan sedikit ornamen emas. "Apa ini?"

"Kartu namaku!"

Rayan terdiam sejenak sembari membaca informasi dari kartu nama tersebut. Tampaknya semua informasi yang ia ketahui tidak berubah atau memang Rayan yang tidak berinisiatif untuk menghubungi Erina setelah beberapa tahun kelulusannya.

Atau Erina yang mencoba untuk berhubungan kembali dengan Rayan.

"Menarik, sekarang kamu bos besar, ya. " Rayan memuji sembari tersenyum.

"Aku pemain baru, Rayan." Erina mencoba untuk membantah pujian dari Rayan.

"Tidak, aku serius ... Kamu usaha apa?"

"Kafe, restoran, terus ada karaoke juga. Semuanya beroperasi di Jakarta Selatan." Erina menjawab dengan antusias dan menatap Rayan. "Kapan-kapan kalau kamu di Jakarta, main ke tempatku, ya!"

Rayan hanya mengangguk sopan sembari menunjukkan kartu nama Erina yang sudah berada di tangan kanannya. "Atau aku kabari kamu lebih dulu—sekarang aku punya nomormu."

Entah itu hanya basa basi atau memang niat tulus untuk kembali berhubungan, setidaknya sudah diusahakan lebih dahulu dibandingkan tidak sama sekali—tentu saja sembari memanfaatkan tali takdir dari bawah basement rumah sakit.

TBC

Published on March 5, 2025

nas's notes: sebelum aku yapping soal part ini, aku mau promosi ig nulisku, ya. buat promosi, juga, sih. siapa tahu buat sharing postingan sama penerbit (kalau ada). jadi ayo boleh banget di follow, yaa!!

aku pernah tinggal di Alam Sutera di weekend dan saat libur panjang sekolah selama smp s.d. awal kuliah. jadi aku bisa kasih statement kalau Alam Sutera memang mobil-sentris. Yang kalau ke Indomaret dan makan di pasar delapan aja pakai mobil. Memang ada shuttle khusus yang bentuknya kayak gerbong trem itu, cuman armadanya enggak banyak. makanya I sendiri kalau mau main ya naik mobil atau naik ojol. begitu juga dengan summarecon serpong dan bsd. sama aja mobil-sentrisnya.

terkait tas erina, GG Supreme itu macam pattern ikonik dari rumah mode Gucci yang dicetak di atas canvas, leather, dan material lainnya. Ada beberapa jenis tas yang menggunakan GG Supreme atau leather warna biasa (dan memiliki harga yang berbeda). seperti yang di bawah ini (dan yang dideskripsikan sebagai tas yang dibawa erina)

terima kasih banyak sudah berkunjung! akan tetapi, sebelum aku update lagi, apakah aku boleh menargetkan 15 votes dan 10 comments di part ini dan part sebelumnya? :")

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com