Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

[17] Date (?)

Arka mempercepat gerakannya begitu ketukan pintu yang tadinya halus berubah menjadi brutal. Pengunci pintu penuh karat bergerak-gerak mengkhawatirkan seperti akan terbuka. Padahal Arka belum lengkap mengenakan pakaiannya.

Beginilah suasana kamar mandi jika mendekati dimulainya ekskul. Para siswa saling beradu kecepatan untuk berganti pakaian. Apalagi jumlah kamar mandi di sekolah dapat dihitung dengan jari. Suasana di mushola pun tidak jauh berbeda. Siswi-siswi yang sudah berwudhu berebut mukenah yang jumlahnya terbatas. Padahal berat seperangkat alat sholat seperti mukenah tidak mencapai satu kilogram, tapi rasa malas untuk membawa sendiri ke sekolah amat besar.

Sebenarnya tidak seharusnya mereka menyalahkan jumlah kamar mandi di sekolah atau jumlah mukenah yang dapat dihitung jari. Salah mereka sendiri tidak mulai tadi mengganti baju dan sholat. Padahal mereka punya waktu lebih dari cukup untuk sekedar ganti baju. Bahkan digunakan untuk menonton satu film penuh pun bisa. Sayangnya, aktivitas seperti bersantai, bergurau, tidur-tiduran, dan sederet aktivitas tidak berfaedah lainnya lebih menarik.

"Lo luluran dulu ya, Ka?" berbagai sambutan terlontarkan begitu pintu terbuka. Ekspresi tidak sabar tercetak jelas di wajahnya. Ada pula beberapa orang yang wajahnya santai tapi paling banyak protes. Mengompori agar siswa lain semakin semarak memprotes Arka. Siapa lagi kalau bukan teman ekskul Arka.

"Sorry tadi gue masih pake foundation dulu."

"Anjay. Pake make over ya."

"Wardah dong, biar halal."

Arka membelah lautan manusia yang berjajar di koridor. Masih tersisa beberapa menit lagi sebelum ekskul dimulai. Tanpa dikomando, kaki Arka langsung mengarah ke destinasi favoritnya. Kantin. Meja paling pojok dekat gerobak mie ayam adalah tempat paling nyaman.

Dengerin musik sambil selonjoran leh ugha nih.

Arka merogoh tasnya berusaha meraih earphone miliknya. Ditariknya gulungan kabel putih dari dalam tasnya. Walaupun tidak tampak seperti gulungan sama sekali, anggap saja itu gulungan earphone. Arka menghela napas kesal. Menyesali ketelatenannya menggulung kabel tadi pagi, ujung-ujungnya tetap saja menjadi kusut.

"Mau dengerin musik aja pake nyiksa dulu lo, phone, phone," gerutu Arka sambil terus berusaha meluruskan earphone yang kusut.

"Kalo gue sih yakin baget." Gerakan Arka terhenti sebelum memasangkan headset saat sayup-sayup terdengar suara orang sedang berbicara.

"Gue kalo di sekolah itu sosok murid teladan idola para guru. Plus siswi." Suara yang sama. Jadi orang ini berbicara sendiri? Mungkinkah dia... Oh, mungkin dia sedang mengangkat telepon.

"Bacot lo. Hobi ereksi aja sok suci."

"Itu defekasi, bodoh. Gue kasih tau ya, kalo kata panutan gue tuh nakal boleh bego jangan."

Obrolan tidak penting. Lebih baik melanjutkan meluruskan earphone sialan ini.

"Lo emang doyan."

Tapi tetap saja suara itu lumayan keras sehingga menyita perhatian Arka. Secara tidak sadar kini Arka memang sedang membenarkan earphonenya tapi ia tetap menyimak percakapan orang yang tidak diketahui itu.

"Udah, ah. Bergaul sama lo jadi sampah doang gue."

"Iya gampang. Dia udah tergila-gila sama gue."

Masalah percintaan. Dasar anak muda.

"Hahaha... Gue udah kerasa mulai dulu tapi gue nggak mau."

Brak!

Isi tas Arka berceceran di lantai. Baju dan buku pelajaran yang sudah ditata sedemikian rupa melebur jadi satu di atas keramik putih penuh jejak kaki. Tapi hal itu tidak menyurutkan keingintahuan Arka untuk menguping.

Terdengar suara langkah kaki menjauh. Arka merutuki kebodohannya akibat terlalu fokus membenarkan earphone atau lebih tepatnya menguping, dia akan kehilangan sesuatu untuk didengarkan.

"Ehm, dia terlalu polos buat gabung sama kita, bor." Suara penelpon itu semakin pelan termakan oleh jarak.

"Pokoknya lo tinggal duduk dan liat hasil akhir."

"Dah, ekskul gue mau mulai."

Mendengar kata ekskul refleks Arka menjejalkan barangnya dengan sembarangan ke dalam tasnya. Kurang tiga menit lagi ekskul akan dimulai. Arka harus tiba tepat waktu jika tidak ingin dapat hukuman.

Dengan segenap kemampuan yang ada dan kekecewaan mendalam karena gagal mendengarkan musik, Arka segera berlari menuju lapangan.

***

Beberapa kilo dari sekolah aku sedang mencengkeram erat tangan seorang pria. Menariknya paksa agar mengikuti kemauanku. Beberapa kali ia mengaduh karena aku mencengkeramnya terlalu erat.

"Sakit, Via."

"Lo harus ikut gue!"

"Iya, iya, tapi itu kuku lo nancep." Gaby mengusap lengannya dengan sabar. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan sama sekali walaupun banyak bekas tancapan kuku di lengannya.

"Lo jalannya lelet."

"Sabar kali. Lagian itu toko masih lama tutupnya."

"Kita ini dikejar waktu, Gab. Durasi. Telat dikit kita bakal kehabisan. Kabarnya sih, menu yang itu cepet banget sold out. Gue nggak mau kehabisan cuma gara-gara lo jalannya kayak keong."

"Yaudah lo jalan duluan aja."

"Tuh kan. Lo pasti mau kabur lagi. Kan lo janji mau temenin gue jalan. Masa maunya cuma ke toko buku doang. Perpustakaan. Sekali sekali ke cafe kek, ke mall. Adinda bosan, kakanda."

Gaby menatapku datar, sementara aku tidak berhenti mengomel. Pasalnya Gaby mulai tadi berjalan sangat lambat dan aku tahu sebabnya. Dia tidak suka jalan-jalan selain ke toko buku. Itu pun kalau ke toko buku juga bisa disebut jalan-jalan.

"Berisik ah. Ayo buruan katanya menunya cepet sold out," tukas Gaby. Ia berjalan cepat dengan kaki panjangnya mendahuluiku menuju sebuah stan mnan.

Aku mengekori Gaby yang memasuki antrean. Kiranya sudah ada lima orang yang berjajar. Aku ikut berbaris di balik punggung tinggi Gaby. Dari jarak sedekat ini aroma parfum khasnya begitu tajam.

"Mau yang itu, dong!" Aku menunjuk salah satu foto di barisan menu sambil menarik-narik ujung baju Gaby. Sekarang aku lebih mirip anaknya dari pada teman sebayanya.

"Green tea? Gak jadi yang mocca?"

"Mau juga. Hehe."

"Maruk. Green tea atau mocca?"

"Yang paling ngehitz sih mocca, tapi begitu gue liat foto yang green tea jadi pengen. Ijo royo royo menyegarkan gitu. Bikin damai di hati."

"Mau yang bisa bikin jadi damai atau jadi hitz?"

"Penasaran sama rasa mocca, tapi dari fotonya yang green tea nyegerin banget."

"Udah terserah gue aja lah. Lo cari tempat duduk aja sana."

Tak pelu diperintah dua kali aku segera mencari kursi kosong. Agak susah menemukan kursi kosong karena ini jam makan siang dan besok hari libur sekolah. Sebagian besar meja diisi oleh rombongan remaja yang masih berseragam lengkap. Ada juga yang sudah mengganti baju atasannya dengan kaos agar lebih nyaman, atau mengenakan jaket untuk menutupi bagian atas seragam sekolahnya supaya tidak terlalu moncolok.

Aku melambaikan tangan sebagai penanda begitu melihat Gaby selesai dari kasir. Kedua tangannya memegang dua gelas plastik dengan stiker logo toko minuman terbaru.

Gaby berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya dari satu meja ke meja lain. Meneliti satu-satu wajah mereka. Sepertinya kode yang kuberikan kurang mencolok. Aku kembali melambai-lambaikan tanganku, bedanya sekarang aku menggunakan kedua tanganku sedangkan tadi hanya satu. Dan untuk memaksimalkan kode kedua, aku berdiri. Mulutku meneriakkan namanya, tapi hanya mulutku. Tidak ada suara yang keluar. Aku masih punya malu. Lagi pula siapa yang mau jadi bahan tontonan.

Untung saja usaha keduaku tidak sia-sia.

"Green tea. Mocca." Gaby meletakkan minuman berbeda warna itu satu-satu sesuai namanya.

Aku langsung meraih kedua minuman itu mendekatiku.

"Eh, punya gue satu." Aku dengar, tapi aku tidak peduli. Sedotanku tetap kuarahkan ke minuman itu secara bergantian sambil menahan tangan Gaby yang berusaha mengganggu ritual 'icip-icip maknyus ala Pak Bondan'-ku.

"Enak semuaaaaaa! Tapi mocca emang da bes."

"Padahal gue nggak nyuruh lo milih. Punya lo yang green tea, gue mocca."

"Iya. Gue mocca, lo green tea."

"Gue mocca, lo green tea."

"Iya kan bener. Nih. Gue mocca, lo green tea."

"Gue mocca, lo green tea."

"Nih. Gue mocca. Lo green tea."

"Sesuai perintah anda, Yang Mulia." Gaby membungkuk bak seorang prajurit yang diperintah oleh ratunya. Sambil tersenyum menghormati seperti bawahan kepada atasannya, ia menyeret wadah berisi minuman rasa green tea menjauhiku. Lalu ia menyeruput minuman itu dengan ekspresi malu-malu yang jelas sekali dibuat-buat.

Aku tertawa geli melihat perangai Gaby barusan.

Perlahan meja-meja lain mulai lengang. Satu persatu pelanggan beranjak meninggalkan arena food court. Namun aku dan Gaby masih duduk di sana. Asyik membicarakan guru matematika peminatan baru yang mampu meningkatkan semangat belajar para siswi. Coba tebak bagaimana mungkin hal langka itu bisa terjadi. Hal apa lagi yang bisa menimbulkan efek sedahsyat itu kalau bukan guru baru itu berparas rupawan.

Berhubung aku dan Gaby berbeda kelas, kami jarang mengobrol secara langsung. Lebih banyak melalui sosial media. Sayang sekali, padahal Gaby adalah pendengar sekaligus penasehat yang baik. Semua yang dia lakukan baik. Kecuali kalau isengnya lagi kambuh.

Aku tahan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbicara dengan Gaby. Aku jadi curiga jangan-jangan justru Gaby yang tidak tahan. Tapi sejauh ini respon yang ia berikan positif. Ia selalu menyenangkan.

Telepon genggamku bergetar menampilkan pop up chat dari suatu aplikasi chatting.

Keanofian Akbari : Gue emang dari dulu suka. Sering googling juga makanya tau banyak

Keanofian Akbari : Gue nggak nyangka loh ada cewek yang suka juga

Sekilas aku melihat pesan dari Kak Fian. Detik selanjutnya aku menelungkupkan telepon genggamku agar layar yang menyala saat ada notifikasi tidak mengganggu acara bincang-bincang bersama prajuritku. Gaby. Aku batal membalas pesan dari Kak Fian.

Rasanya aku sedang malas memainkan alat elektronik. Orang di depanku ini lebih menarik.

Chat sama Kak Fian kan bisa kapan aja.

Minumanku sudah habis mulai tadi. Bungkus makanan kosong berserakan di meja. Sedangkan Gaby masih belum selesai menghabiskan minumannya. Aku menjilat bersih jariku satu persatu. Kalian tahu kan kalau berbicara juga butuh energi. Jadi jangan salahkan aku bisa menghabiskan semua itu sendirian. Salah saja mereka kenapa berjualan di sekitarku.

"Jangan jajan terus. Udah mahal gak bikin kenyang. Bikin sendiri juga bisa." Gaby menahanku yang akan berburu mangsa untuk ketiga kalinya. "Mending sekalian makan berat aja. Lagian lo juga belum makan siang kan?"

"Iya sih. Makan apa ya?" Aku menatap menu dengan tidak selera. Nama menu yang kebarat-baratan dan asing di telinga. Makanan di sini tidak menggugah selera. "KFC?"

"Makan tepung doang. Makan di luar aja yuk. Gue tau tempat makan enak."

"Tapi jangan harap lo bisa pesan minuman rasa green tea. Di sana paling mentok ice tea," lanjut Gaby.

"Iya. Bawel dah kayak rapper. Lo pikir hidup gue mewah-mewah mulu. Cilok jatuh aja masih gue pungut."

***

Seorang pria dengan ekspresi marah berteriak kepada remaja dengan seragam smp. Di belakangnya berdiri pula remaja laki-laki yang sepertinya sebaya dengan si perempuan. Ia terus mengolok-olok wanita yang sedang menangis sesegukan diujung ruangan. Wanita yang dipanggil ibu itu terus memohon agar pria itu berhenti memukul anaknya.

Aku yang menyaksikannya ikut geram. Tangan kananku sudah mengepal siap menonjoknya. Namun aku tahu diri. Aku menahannya mulai tadi. Biarlah. Biarkan mereka mengurus kehidupan mereka sendiri.

Aku memang diam, tapi diam-diam aku juga mendoakan agar si perempuan dan ibunya itu selamat. Semoga saja.

Ini yang terakhir. Aku muak melihat ekspresi kedua pria yang sepertinya bapak dan anak itu. Mereka tampak amat sombong dan sok berkuasa.

Aku berdiri dan menunjuk pria itu tepat di wajahnya. "Banci! Beraninya sama cewek. Anak smp lagi. Mana muka sok sok berkuasa gitu. Lo pikir lo ganteng. Hah? Nah, Hajar aja bu, hajar! Jangan kasih ampun. Tuh ada pisau. Iya, iya. Bagus. Tusuk aja, bu! Ayo, ibu, kelamaan mikir deh. Jangan ragu-ragu."

"Ngenes lo malem minggu malah nonton sinetron beginian." Vio menjatuhkan dirinya di ujung lain sofa yang sedang kududuki sehingga menimbulkan sedikit guncangan.

"Yang penting besok gue ngedate. AHAHAHAHA."

"Belum tidur udah mimpi duluan lo." Sebuah bantal melayang ke arahku. Mendarat tepat sasaran di wajahku. Membungkam mulutku yang masih tertawa sombong.

"Ini asli tanpa rekayasa. Gue juga laku kali." Aku balas menyerang Vio dengan bantal yang tadi ia gunakan untuk menyerangku. Sayangnya meleset.

Vio mendekatkan wajahnya ke arahku. Menyisakan jarak yang dapat dijangkau oleh helaan napas. Matanya menajam memerhatikan wajahku lekat-lekat.

"Via," panggil Vio dengan lembut. "Lo pake susuk ya?"

Tanganku langsung bergerak mendorong bahu Vio agar menjauh. Aku tak tahan dekat-dekat dengannya. Tubuhnya mengeluarkan aroma pelajar yang sedang kesusahan.

"Maaf aja, jangan samakan aku dengan mantanmu."

"Gak ada sejarahnya mantan gue pake susuk. Kalo yang overdosis obat pemutih sih banyak."

"Itu muka apa baju kok pake pemutih segala. Seragam gue kusam aja, gue biarin."

"Soalnya kalo seragam lo putih bersih muka lo kebanting. Kalo dibiarin kusam kan jadi setara."

"Mama pasti salah ambil anak. Kalo enggak pasti Kak Vio ini bukan anak kandung mama. Pasti bayi mama yang asli dituker sama suster rumah sakitnya. Ini bukan abangku!"

"Gue murni seratus persen anak mama papa tau. Nggak ketuker dan nggak dituker."

"Paling Kak Vio aja yang waktu masih bayi nggak kerasa kalau lagi dituker-tuker sama susternya."

"Iyain deh. Kasian," jawab Vio cuek. Dan itu sangat menyebalkan.

"Ngomong-ngomong, besok sama yang mana nih? Sama yang dateng sendiri pas bawa bakso atau yang berdua?"

"Kok tau sih? Pasti buka-buka hp gue! Kak Vio bajak ya? Lancang! Lancang! Aduin mama nih!"

"Bocah. Gampang ditebak kali. Temen cowok lo yang dateng ke rumah bukan buat kerja kelompok itu bisa diitung jari," ujar Vio. Kemudian ia tersenyum penuh arti. "Yang dateng sendiri ganteng juga."

"Itu buat Via, Kak. Jangan diembat."

"Buset. Gue juga masih normal kali."

"Tapi mukanya familiar deh. Siapa namanya?"

"Kak Fian."

"Fian itu temen lo bukan sih?"

"Ini Kak Fian. Kakak kelas."

"Ya ampun, adek gue sukanya sama yang tua-tua. Rip selera cowok Via."

"Biarin. Kan biar bisa menjadi imam yang bijak."

"Bahasa lo kayak udah siap membina rumah tangga aja. Kalo dipaksa nikah besok paling juga lo nangis-nangis."

"Nangis bahagia kalo nikahnya sama Kak Fian," jawabku sambil berlari menuju kamarku. Saat melihat iklan produk handphone di televisi tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ada hal yang lebih penting dilakukan saat ini.

Ini adalah kegiatan rutinku di malam minggu. Ya tidak bisa dibilang rutin sih. Tapi kebanyakan malam mingguku yang mengenaskan kulewati bersama aktivitas ini. Sebenarnya kegiatan yang tidak berguna bagi nusa dan bangsa tapi berguna untuk kepuasan pribadi ini bisa dilakukan kapan saja. Namun malam minggu merupakan waktu yang paling cocok. Bebas tidur malam tanpa takut bangun kesiangan karena kegiatan ini banyak menguras tenaga dan emosi. Stalking.

Setelah melihatku lenyap termakan daun pintu, Vio segera meraih telepon genggam yang mulai tadi sudah ia remas saking gemasnya.

Farzan Afzar Rivio : Fian. Kelas 12. (read)

___________________________________

A/N :

Apa kabar?

Sehat? Iya? He'eh?

Btw, ampuni aku yang apdetnya ngaret kawan-kawan

Btw juga, covernya baru loh.

Tolong dong comment kalian lebih suka cover baru atau yang lama

Plisplis yang di atas itu perintah loh. Comment ya. Heheh. Biar kalo kalian lebih suka yang lama aku ganti lagi.

Btw lagi, gak nyangka bulan ramadhan udah habis :"

Selamat hari raya idhul fitri. Minal aidzin wal faidzin.

Taqabballahu minna wa minkum.

Via sekeluarga, Gaby dan Arka sekeluarga, Kak Fian sekeluarga, dan Author sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir batin ya.

Btw yang terakhir nih, part ini panjang loh gaesss.

Karena aku mau liburan dengan tenang. Jadi maafkan kalo minggu depan ngaret lagi mohon dimaklumi. Lagi mudik. Susah sinyal. Susah ide. Susah update. Jadi tolong mudahkanlah tangan kalian untuk memencet like, comment, subscribe. Eh gadeng. Dipikir youtube apa.

Btw yang beneran terakhir nih, author note kali ini kok panjang banget ya wkwkwk :v

Sampai jumpa di chapter selanjutnya :)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com