#15
Mulmed: Oh Wonder - Without You
Afika yang masih digerogoti rasa bersalah kini hanya diam mematung di depan meja makan.
"Woy, kesambet lu." Fauzi memerhatikan Fika sekilas, ia sadar temannya yang satu itu dari tadi tidak fokus sejak Raka meniup lilin kue ulang tahunnya.
"Lo gak ada ongkos pulang, ya?" Pertanyaan bodoh Anggi membuyarkan suasana kebingungan. "Ada, anjir." Jawab Fika pelan. "Ya terus ngapa bengong mulu dah dari tadi?" Raka berdehem, "Udah laper kali dia." Kata Raka. Sebenarnya Raka tahu apa yang sedang ada di kepala Fika. Perempuan itu pasti baru saja mendapatkan buih-buih rasa bersalah karena obrolannya dengan Kiki tadi. Bukannya Raka asal menebak, tapi itu terlihat jelas. "Kasih wish buat gue kek, ucapin kek, Astagfirullah."
"Gue mau ke toilet dulu deh."
"Oalaah, jadi lo dari tadi nahan boker?" Ada gelak tawa ketika Raka bertanya. Walaupun ia bermaksud bercanda untuk mencairkan suasana hati Fika, tapi sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada perempuan itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Fika melangkahkan kakinya keluar restoran tersebut karena tidak ada toilet di sana.
"Gue juga pengen pipis nih, bentar ya."
"Ya ilah, ini potong dulu kuenya!" Sergah Fauzi saat Raka baru mengangkat tubuhnya dari kursi.
"Potong sendiri dah." Kata Raka yang kemudian berlari kecil ke arah luar.
Anggi, Liska, dan Sofi menyadari akan adanya keganjalan di antara kedua temannya tersebut-Raka dan Fika. Mereka saling pandang penuh tanda tanya. Kemudian pandangan mereka teralih ke Fauzi.
"Raka suka curhat sama lo gak?" Liska menatap Fauzi dengan es krim yang masih dinikmati di dalam mulut.
Mendengar pertanyaan Liska pada Fauzi, perempuan yang duduk di samping Anggi langsung mengingat saat Raka curhat padanya waktu itu. Sebenarnya dialah satu-satunya orang-sebelum Ridho-yang mengetahui rahasia besar Raka.
"Hidup Raka terlalu anta untuk dia ceritain ke orang-orang." Fauzi terkekeh.
"Tapi lo sebagai sahabat, gak pernah kepo gitu? Gue aja ngerasa kalo Fika udah mulai jarang cerita banyak hal ke gue akhir-akhir ini. Dan, liat tuh mereka kayak punya waktu berdua mulu. Entar balik kesini juga berdua dah, liatin aja." Liska memandang kedua teman perempuannya mengharapkan tambahan.
Tentu saja Anggi selalu tertarik dengan hal berbau Raka, "Iya, sumpah. Nih, yang kemaren pas kita ajak Fika ke kantin. Dia nyuruh kita duluan kan ya? Eh taunya pas kita nyampe kelas, dia sama Raka lagi ngobrol depan kelas gitu. Kaga tau ngomongin apaan."
"Lo semua jangan ala-ala sherlock apa. Jelas-jelas sekarang Fika udah sama Kiki." Bantah Sofi pelan. Satu tangan menopang kepalanya. Dia ikutan pusing memikirkan Fika dan Raka. Tidak ada kejelasan di antara temannya tersebut.
"Dia sama Kiki pacaran gak si?" Tanya Fauzi yang mulai ikut ber-gibah dengan ketiga perempuan di depannya.
"Fika itu ya, gak boleh pacaran sama nyokapnya. Entar dibotakkin rambutnya kalo pacaran."
"Anjing apa, serius?" Kedua mata Fauzi terbuka lebar mengungkapkan raut wajah tidak percaya di sela tawanya.
"Tuh kan, kalo ngomong suka bawa-bawa nama sodaranya kan. Kebiasaan." Gumam Liska sambil melirik pacarnya tajam.
"Eh iyak maap bablas. Tapi serius tuh? Lah terus itu dia sama Kiki apaan?"
"Belom pacaran lah. Yakin banget gue. Tapi lo gak ngerasa Raka jadi aneh gitu?" Sofi melirik Fauzi malas.
"Ngerasa sih, demi. Tuh anjir lo pada gibah mulu sih gue jadi kebawa kepo tai."
--
Raka sengaja menunggu Fika keluar dari toilet. Saat dia menemukan perempuan itu, Raka langsung menyejajarkan langkahnya. Fika hanya meliriknya sekilas. Mall tersebut tidak terlalu ramai karena memang sedang hari dan jam kerja.
"Kok lo ngikutin gue?" Tanya Fika tanpa memandang lawan bicaranya.
"Pengen minta maaf."
"Minta maaf buat apaan?"
"Maaf udah bikin lo pusing,"
Fika menoleh sebelum Raka melanjutkan omongannya.
"-seharusnya gue dateng lebih dulu saat itu jadi lo gak bakal kayak sekarang."
Sekarang Fika seperti menyusun teka-teki yang keluar dari mulut Raka. Ia memicingkan matanya menatap Raka. Dilihatnya Raka yang berjalan di sampingnya santai dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Raka terlihat sangat menyentuh dengan raut wajahnya yang sulit dibaca.
"Maaf kalo selama ini gue ngeliatin lo terus sampe lo risih."
Fika menunggu kelanjutan kalimat Raka yang setengah-setengah.
"Maaf kalo gue harus jujur. Maaf kalo gue sekarang mau minta sesuatu supaya wish gue terkabul hari ini."
"Oh!" Akhirnya Fika bisa tertawa sekarang. "Gue bawa kok, kadonya! That supposed to be surprise. Oh, udah pada ngasih kado ke lo ya?"
Raka menggeleng cepat, membuat rambutnya terlihat jadi sedikit berantakan. Kemudian ia menarik napas sedalam mungkin agar dia memiliki kekuatan untuk berdiri di hadapan Afika Syifa yang selama ini ia ingin milikki.
"Let me be yours, Fik. Just-let-me."
a/n: Gak ngerti lagi kenapa gue segaring ini.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com