#2-INVITATION
Media: Afika Syifa
Fauzi mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Ka, lo udah nonton Rogue Nation?"
"Mission Impossible?" Kedua alis Raka mengerut, tangannya mengeluarkan buku tulis Fika yang ingin ia kembalikan.
"Iya, nonton besok yuk."
"Berdua doang? Bentar, gue mau balikkin buku dulu." Raka menghentikan langkahnya sebentar sebelum menoleh ke Fauzi. "Bukannya masih coming soon?"
"Udah now showing dari hari Sabtu kemaren kali."
Raka manggut-manggut dan berjalan ke tempat duduk Fika.
"Afikaaa."
"Afika nya gak mau main." Celetuk Liska.
"Raka nya gak ngajak main kok. Cuma mau balikin ini dan bilang terima kasih, Afika." Raka meletakkan buku itu di meja Fika.
"Iya sama-sama Raka Agraha."
"Kok catetan lo lengkap sih, Fik? Ada beberapa yang gue salin loh semalem."
"Tumben rajin,"
Raka mengangkat bahu seolah bangga, kemudian kembali ke tempat duduknya.
"Ka, tapi kayaknya gue nonton sama Liska deh." Fauzi berkata dengan nada menyesal. Fauzi dan Liska baru jadian beberapa hari yang lalu.
"Yeh, anjir ugha lu."
"Tapi gak tau juga sih. Katanya dia mau nonton sama Fika juga soalnya."
"Ya udah, berarti lo sama gue." Raka berusaha menyepelekan, walaupun saat nama Fika disebut Raka langsung sempat tertarik.
"Tapi gue maunya nonton sama lo dan Liska juga. Gimana nonton berempat aja? Lo, gue, Liska, Fika."
Raka ingin tersenyum mengagumi usul sahabatnya itu. Tapi ia berusaha sekuat tenaga menahan hal tersebut dan bertopang dagu menutupi sebagian mulut karena siapa tahu ia akan tertawa saking bahagianya. "Terserah lo aja." Itulah kalimat yang keluar dari mulut Raka.
--
Setelah pelajaran terakhir usai, Fika dan Liska keluar kelas bersama saat suara Fauzi membuat keduanya menoleh, "Fik, diajakin nonton tuh sama Raka."
Mendengar nama Raka disebut, Fika mencari sosok Raka di dekat Fauzi. Karena sosok yang dicari tidak ditemukannya, Fika melongos dan menggelengkan kepala sebelum ia berbalik lagi.
"Eh, seriuuss." Lanjut Fauzi.
Liska memandang Fauzi dengan penuh tanda tanya.
"Gue, lo, Liska, Raka." Laki-laki itu masih didiamkan. "Mau gak?"
"Berempat nih?" Akhirnya Fika menoleh kembali dan langsung dijawab dengan anggukkan mantap oleh Fauzi
Perempuan itu berpikir beberapa saat dan akhirnya memutuskan. "Kayaknya gue gak bisa deh. Kalian bertiga aja. Nanti gue nonton sama adek gue."
Liska memandang Fika dengan kecewa. Tapi di lain sisi, ia juga ingin nonton dengan Fauzi.
"Nonton duluan aja, Lis. Serius."
"Gak asik lo."
"Oh ya?" Fika memasang muka konyol pada Liska sebelum pergi meninggalkan sekolah.
***
Di kasur, Raka masih menenggelamkan kepalanya di bawah bantal. Ocehan Mamahnya hanya terdengar samar antara sadar dan mimpi.
"Raka, astaga." Rini mengguncang tubuh anaknya yang hanya berbusana celana training panjang. "Bangun. Udah siang. Belom sarapan, belom mandi."
Namun Raka masih belum juga sadar sebelum Rini dengan terpaksa menyipratkan air dari dalam gayung ke tubuh dan wajah laki-laki itu.
Raka membuka kedua matanya dengan berat, masih antara sadar dan tidak sadar. "Eh, bocor ya?" Gumamnya pelan sambil menatap tubuhnya yang basah, kemudian ia mendongak ke langit-langit.
"Bocar, bocor."
Lelaki itu pun menoleh ke sumber suara dan menemukan Rini sedang memegang gayung dengan satu tangan, pandangannya beralih pada tubuhnya yang basah. Ia mengusap wajah, "Astaga, Mah? Gak disiram juga kali. Emang Raka kebon?"
"Mandi atau Mamah siram?"
"Jangan langsung siram dulu ih. Mah, please, Raka napas dulu. Baru melek juga."
"Mamah kasih waktu sepuluh detik."
"Astaghfirullah." Raka mengibaskan selimut bernuansa Real Madrid itu dengan cepat, ia menyambar handuk yang ada di jemuran kecil depan kamar mandi yang terletak di dalam kamar.
"Nih, gayungnya."
Raka meraih benda tersebut tanpa melirik Rini dan langsung masuk ke kamar mandi. Padahal ia lebih memilih mandi dengan shower. Gayung tersebut hanya ia letakkan di atas keramik. Diam-diam, Raka memikirkan Fika yang kemarin tidak jadi ikut nonton dan secara tidak langsung membiarkan dirinya menjadi 'nyamuk' bagi Fauzi dan Liska.
--
Sofi yang sedang duduk di bangku koridor, merogoh ponselnya yang bergetar. Ia membuka kunci layar dan mendapatkan nama Raka di sana.
Raka: Sofi, lagi apa?
Sofi: Ngalus lo ya?
Raka: Tau najis gak?
Sofi: Elo.
Raka: Bodo. Idho ekskul gak?
Sofi: Ekskul lah. Lo enggak?
Raka: Lagi mager.
Sofi: Pantes gak gede-gede.
Raka: Eh, Sop.
Sofi: Ngapa bray?
Raka: Gue pengen ngomong nih.
Sofi: Serius kali rupanya.
Raka: Ya emang serius.
Sofi: Cepetan.
Raka: Ini lo doang yang tau. Soalnya gue percaya sama lo doang.
Sofi: Astaghfirullahaladzim. Percaya sama Allah, Ka.
Raka: Gue to the point aja deh.
Sofi: Y
Raka: Gue suka sama Fika. Diem. Gue gak tau mau curhat ke siapa. Kalo cerita Fauzi, akan banyak masalah yang timbul kelak akibat kebodohannya.
Sofi: Dibajak lo ya?
Raka: Ini gue lagi berak, Sof. Siapa yang mau bajak?
Sofi: Asdfghjkl abcdefgh
Raka: Serius.
Sofi: Kok lo belaga gila sih pake curhat ke gue? Gue bocorin ah.
Raka: Ih dasar pantat kuda.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com