#23
Kiki memaksa dirinya untuk terbangun dari kasur. Ia telah tidur terlalu lama, tapi rasanya masih sangat lelah. Setelah duduk di atas kasur, dengan tidak memakai baju, ia mengelus lehernya yang terasa sangat haus. Entah kenapa, tubuhnya terasa begitu lemas sampai-sampai sulit untuk melangkah di atas lantai kayu rumah.
"Den, kalo mau sarapan udah ada di meja makan." Mbok Siti melongok dari balik pintu kamar, mendapati Kiki yang bersusah payah berjalan ke arah toilet kamarnya yang terletak di dekat pintu kamar.
"Den Kiki sakit? Ya udah, tak bilangin ke ibu dulu ya?" Yang Mbok Siti maksud adalah Mamihnya Kiki.
"Enggak." Kiki berdehem, mengontrol suaranya yang serak. "Tolong ambilin air putih aja, Mbok."
Dengan bingung, Mbok Siti pun menuruti permintaan anak majikannya itu. Kiki mengambil ponselnya yang tertinggal di atas wastaefel toilet, kemudian ia kembali lagi duduk di ujung kasur.
Fikaku: Kiki, gue udah sampe. Di line aja ya, soalnya belom ganti nomer. Ini pake wifi hehehe.
Fikaku: Kiiiiii
Fikaku: Astaga kebo bgt emang😅
Kiki: Udah bangun nih udah bangunn
Kiki: Fik, angkat ya
Fikaku: Oke deh
Kiki pun menyambungkan free call ke Fika karena perempuan itu hanya menggunakan jaringan wi-fi.
"Halo?" Kiki membuka suaranya yang serak.
"Iya, halo."
"Udah makan belom?"
"Udah dari tadi malah. Lo udah?"
"Gue baru bangun. Gimana? Udah ketemu oppa gangnam style?"
"Hahaha!"
"Dih, malah ketawa."
"Suara lo kenapa? Ih, sakit ya?"
"Iya, sakit. Obatnya lagi jauh." Suara sedih yang dibuat-buat Kiki berhasil membuat Fika iba.
"Kiki,"
"Kenapa?"
"Jangan sakit,"
"Heheh. Iya, sehat terus kok. Kan mau nyusul."
"Sarapan dulu sana!"
"Mager. Gak ada yang nyuapin, sih."
"Sok manja."
"Ganteng mah bebas, Fik." Kiki mengangguk ke arah Mbok Siti yang sudah meletakkan air putih dan roti panggang di atas nakas dan mulutnya terbuka mengatakan 'makasih' tanpa suara.
"Oh iya, pasti lo gak bakal percaya."
"Percaya apa?"
"Ternyata anak dari istri bokap gue yang sekarang itu, Raka?" Pernyataan Fika lebih terdengar seperti bertanya pada diri sendiri.
Kiki meneguk air putihnya, "Raka?"
"Iya, Raka Agraha. Temen sekelas gue yang waktu itu papasan sama lo di depan pintu."
"Kok bisa?"
"Please, jangan nanyain hal-hal yang gak bisa dijawab." Kata Fika, mengulang perkataan Raka saat di mobil.
"Ya, kan gue gak ngerti. Terus, jadi sekarang kalian kakak-adek?"
"Teknisnya begitu."
"Ada dia dong di sana?"
"Iya, ada. Tuh, lagi main pees sambil nguping."
Merasa dirinya disebut, Raka yang sedang tiduran di sofa, melirik ke arah Fika yang sedang duduk di karpet.
"Dunia kok sempitnya keterlaluan ya, Fik?"
"Gue juga gak ngerti lagi."
"Ya udah, salam deh buat dia. Bilangin, jaga Fika yang bener."
"Oke!"
"Ya udah, Kiki mau sarapan sama mandi dulu ya, Fikaku."
"Oke, Kikiku, sayangku."
"Cintaku."
"Negriku."
Raka mengerutkan alisnya mendengar kata-kata aneh yang keluar dari mulut Fika.
"Belahan jiwaku." Sambung Kiki. "Ya udah, matiin duluan dah."
"Ya udah, gue matiin. Bye!" Panggilan pun terputus.
Lelaki yang masih tiduran di atas sofa itu berteriak sambil tetap fokus dengan game yang ada di layar televisi. "Paaah! Fika pacaran, tuh, Pah!"
"Kok lo bacot,"
"Ya elo alay. Geli tau dengernya."
"Is!"
"Apa?"
Sofyan yang berjalan ke arah dapur, menemukan kedua anaknya ribut di ruang tengah.
"Heh, berantem mulu. Kalian kalo di kelas gini juga?" Tanya Sofyan yang sudah tahu kalau mereka telah saling kenal-tentunya ia ingat Fika pernah menyebut nama Raka di kafe.
"Lagian, Raka duluan."
"Dih?"
"Emang lo duluan."
"Dih?"
"Berisik."
"Dih?"
"Diem!"
"Dih?" Intonasi Raka dan perkataannya yang diulang-ulang itu terdengar sangat menjengkelkan di telinga Fika. Puncak kesabarannya sudah melebihi batas. Ia pun dengan cepat merebut stik PS dari tangan Raka dan menekan tombol-tombol dengan asal sampai permainannya kalah.
"GILA APA LO YA?"
Setelah puas, Fika pun melempar stik tersebut asal. Raka meringis kesakitan saat benda itu terbanting di dadanya. Perempuan itu berjalan cepat menuju kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Melihat itu, Sofyan hanya bisa menggeleng pelan setelah melirik sebentar ke arah Raka.
"Najis, ngambek. Bodo amat dah."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com