Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

#27

Sepanjang jalan menuju rumah Paman Choi, Kiki tidak mengeluarkan banyak suara. Bahkan sesampainya di dalam kamar, ia tidak langsung merebahkan badannya atau membereskan barang-barangnya. Tapi ia bersandar di kasur, kakinya ditekuk, kedua telapak tangannya bertautan di atas lutut. Ia melamun dan entah perasaan apa yang ia rasakan sekarang. Dirinya bertanya-tanya, apakah Fika akan memaafkannya, atau mungkinkah malah perempuan itu sekarang sedang bersiap untuk balas dendam. Afika Syifa yang selama ini ia cintai itu telah terlanjur berasumsi bahwa Kiki sengaja tidak mengabarinya karena hal yang tidak baik. Padahal, niatan dia ke sini bukan untuk melihat pameran lukisan. Ya, mungkin benar untuk melihat pameran, tapi hanya sepuluh persen atau kurang. Selebihnya, Fika adalah alasan kenapa ia rela pergi jauh-jauh ke sini.

"Udah, Ki. Gak usah terlalu dipikirin." Suara Paman Choi yang hangat itu membangunkan Kiki dari lamunannya. Pria itu duduk di ujung kasur, mengamati Kiki, seolah paham suasana hati keponakkannya.

Kiki tersenyum simpul dan meluruskan kakinya.

"Rumit, ya?" Tanya paman.

"Serumit apapun, tetep harus diselesaiin, om. Kecuali kalo bukan Fika."

Pria di hadapannya terkekeh. "Makan dulu deh, sana. Biar bisa cepet diminum obatnya."

Kiki mengangguk.

"Ya udah, om mandi dulu." Ucap Pria itu sambil keluar dari kamar Kiki.

Lelaki yang mengenakan kemeja flannel warna marun itu belum beranjak dari kasur. Ia ingin sekali menghubungi Fika, tapi perempuan itu tidak mungkin akan menjawab. Kiki memutar-mutar ponsel di tangan kanannya. Pikirannya melayang entah kemana. Rasanya ia ingin tidur dalam waktu yang sangat lama, karena matanya begitu lelah, entah kenapa rasa semangatnya akhir-akhir ini menurun drastis.

Nando: Lo dimana?

Kiki: Rumah om choi

Nando: Oh, sesuai perkiraan

Satu alis Kiki terangkat.

Kiki: Maksud?

Nando: Entar deh, biar jelas. Besok jam setengah 3, gue tunggu di Garosugil depan galeri.

Kiki: Harus banget besok?

Nando: Bacot

Kiki: Gue masih capek (read at 7:42pm)

Kiki menghela napas. Sahabatnya itu pasti akan mencari cara supaya ia tetap datang, bagaimanapun caranya.

Kiki: Ya udh iya, gembel. gue dateng-_-

Nando: Gut cois, gut cois

Nando sent a sticker

Kiki sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Kiki: Sampis, gobs.

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Nando sent a sticker

Kiki: Gue block lu anjing.

--

Di ujung sana, Fernando sedang terkekeh melihat ponselnya. Ia membuka kolom obrolannya dengan Fika.

Fernando Abraham: Eh

Tidak harus menunggu lama, pesan tersebut langsung dibaca oleh penerima.

Fika: Yow

Fernando Abraham: Gue mau balikkin jaket lo. Ketemuan di luar aja gimana? Sekalian gue traktir, itung2 bayar kesalahan.

Di ujung sana, Fika sedang berdiri berdampingan dengan Raka namun dengan arah berlawanan. Tangan kanannya memegang satu tusuk eomuk, dan tangan kirinya masih sempat memainkan ponsel. Di sampingnya, ada Raka yang sedang membeli hweori gamja.

Fika berbalik, menghadap Raka. "Ka! Masa gue mau ditraktir Nando."

"Jangan main hp dulu. Bantuin pegangin dulu, tuh." Ucap Raka, menyuruh Fika untuk memegang makanan yang dipesan Raka, karena lelaki itu lagi kesusahan meraih dompet di kantong belakang celana jeansnya. Kemudian setelah itu, ia mengambil beberapa lembar uang pas dan memberikannya pada penjual.

"Nih," Fika memberikanan makanan Raka kembali.

Sekarang mereka berjalan beriringan, entah menuju kemana, cari angin. Sepedanya ada di tempat yang Raka sudah hafal.

"Lo doang yang diajak?" tanya lelaki berkaos belang-belang hitam putih itu.

"Iyalah. Emang lo sokap?"

"Harusnya dia inget gue, tuh. Kalo misalnya lo doang yang diajak, berarti ada sesuatu."

"Dih, emang dia kenalnya sama gue doang."

"Tapi kan, kemaren udah kenalan sama gue juga."

Fika mendecih.

"Lo tuh, kalo ditinggal sendiri, jadinya kayak anak ilang." Lanjut Raka. "Nangis sendiri lah."

"Lah, kan entar gue gak sendirian."

Raka menaikkan kedua alisnya sebelum menoleh ke perempuan di sampingnya. "Terus lo tadi kenapa?"

"Harus banget apa gue inget lagi?"

"Ya emang apaan?"

Helaan napas keras terdengar dari perempuan yang rambut sebahunya sekarang dikuncir. Membuat Raka semakin penasaran tentang apa yang sedang menjadi beban adik tirinya itu.

Fika memajukan bibirnya, menimbang-nimbang apakah hal itu semestinya diceritakan. Ia menatap Raka baik-baik sebelum mengeluarkan suara. "Tadi gue ketemu Kiki."

Raka menyipitkan mata. Sebelumnya, Fika sudah pernah bercerita tentang Kiki yang punya keluarga di Korea dan ada rencana untuk menyusul dalam waktu yang dekat. Ia menghabiskan makanan, masih menunggu perempuan itu melanjutkan perkataannya.

"Tapi dia gak ngabarin gue sama sekali kalo dia mau berangkat lebih cepet."

"......"

"Terus juga-" Fika menarik napas pelan. "Gue mulai mikir kalo dia punya beberapa alesan kenapa dateng ke sini, dan gue bukan salah satu dari alesan itu."

"I don't see your point yet." Raka menoleh dan membuang sampah makanan mereka ke tempat sampah, kemudian mereka melanjutkan langkahnya lagi.

"Intinya, ada cewek, di sini. Dan gue gak tau siapa jalang itu." Setiap kata yang keluar dari mulut Fika penuh dengan penekanan.

Mendengarnya, Raka tersenyum sederhana, ia berhenti melangkah dan menghadap perempuan berperawakkan cantik itu. Kemudian ia meraih pundak Fika untuk menghadap ke arahnya. "Fik, gue tau betul lo bukan orang yang gampang menilai oranglain semudah itu, kan? Lo harus tau, gue selalu ada di pihak lo. Tapi sebelum itu, kita harus berpikir jernih dulu." Senyum itu masih belum terhapus dari wajah Raka. Ia melepas kedua tangannya dari pundak Fika. "Coba deh, lo minta penjelasan dari Kiki dulu. Gak semua yang kita liat itu, sesuai sama apa yang ada. Yang ada di pikiran kita, gak semuanya bener. Ada waktunya kita buat dengerin dulu, sampe kita bisa dapetin alesan kuat buat sempurnain asumsi." Lelaki itu sengaja menggunakan kata 'kita' daripada 'lo' agar Fika tidak merasa dirinya terpojokki atau merasa bahwa Raka tidak membelanya.

Raka tumben bijak. Raka golden ways.

"Menurut lo, salah gak sama apa yang gue bilang barusan?"

Enggak, sih.

"Enggak kan?"

"Iya, enggak."

"Lo mau pake gak saran dari gue?"

Fika mengangguk pelan dan tersenyum simpul pada Raka. "Gomawo-yo"

Kedua tangan Raka terbuka lebar di udara, menawarkan pelukan hangat yang paling tulus sedunia untuk Fika.

Perempuan itu pun dengan sangat senang hati memeluk kakak tirinya. Sebenarnya, ini lebih terasa seperti kakak kandung, begitu terikat rasanya. Pelukan paling hangat sedunia setelah pelukan dari Sinta yang pernah Fika rasakan.

Lelaki itu menggoyangkan pelukannya ke kanan dan ke kiri. "Saranghae!" Intonasi Raka lebih terdengar seperti saat Song Triplets menyanyikan lagu di ulang tahunnya Sarang.

Di saat seperti itu, keduanya sadar bahwa selain banyak sekali perbuatan mengesalkan antara satu sama lain, pada dasarnya ada akar cinta yang kokoh. Mungkin memang awalnya mereka pernah mengalami saat dimana saling suka, saling tatap, atau bahkan jatuh cinta. Tapi takdir berkata lain, takdir ternyata memberikan jawaban yang lebih indah. Mengizinkan keduanya untuk bertemu, saling menyayangi tanpa batas, saling mencintai tanpa batas, dan saling melindungi tanpa batas.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com