Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

#29

Mulmed: Garosu-gil Road

Triplets Gemay (3)

Fauzi: Ini cara make tonner gimana sih

Fauzi: Anjir gue dibeliin sama nyokap biar muka ga berminyak

Ridho: Ingin berkata kasar

Ridho: Sumpah

Raka: Itu tinggal lo tuang ke kapas

Ridho: Lebah pergi

Ridho: bee-go

Raka: Terus lo lap ke muka

Raka: Harus gue guyur ke muka lo apa

Fauzi: Ohh

Fauzi: Makasiyy

Raka: Pap before afternya dong ji

Fauzi: Gak ah wkwk

Raka: Soalnya gak ada perubahannya ya?

Ridho: Ji, itu muka apa tambang minyak?

Raka: Tambang emas

Raka: Minyak muka lo terlalu kental dan padat

Ridho: Kayak minyak jelantah ya Ka?

Raka: Iya hihihih

Fauzi: Nyolot semua niii

Raka terpingkal-pingkal menatap layar ponsel.

"Gila kali lo ya? Gak bisa diem banget dari tadi, capek gue." Fika yang sedang nonton tv pun kebisingan, tapi Raka tetap tidak mengacuhkannya. "BERISIK. Kalo mau berisik di kamar aja sana. Gue mau nonton. Ah, elah."

"Bacot lu."

"Lah, ada juga elu."

Raka mendorong lengan Fika yang sedang duduk di karpet dengan kaki. "Pergi sono."

"Is. Apaan si."

"Sono."

"Bau kibus tau gak?"

"Ye songong." Raka makin menendang-nendang pelan lengan Fika.

"Bau ih. Bau kaki busuk." Padahal perkataan itu tidak serius.

Raka mengangkat kaki dan susah payah mendekatkan telapak kakinya ke hidung, memastikan apakah benar yang dikatakan Fika barusan.

"Eh, jam berapa nih?" Perempuan itu melihat jam dinding. "Gue mandi ah, mau makan gratis."

"SONOOO! SONO."

--

Setelah berhasil merayu Raka untuk meminjamkan kemeja jeans, Fika memadukan dengan kaos warna putih di dalamnya. Perempuan itu mengganti celana pendeknya dengan jeans hitam, dan menginjak asal sepatu Vans buluknya. "Berangkat." Ia tidak perlu memastikan ada yang mendengar atau tidak dan langsung menutup pintu.

Nando sudah menunggu di lobby dengan satu kaki disila di atas lutut, sesuai permintaan Fika karena perempuan itu belum terlalu tahu jalan. Setelah melihat orang yang ditunggu, laki-laki itu langsung berdiri, mengangkat tangan kanannya di udara dan memberikan tos pada Fika.

Sok asik. Saking aja makan gratis, pikir Fika. "Makan di mana?"

Nando merangkul perempuan itu dan membawanya ke luar, ke arah mobil. "Yang pasti lo bakal seneng."

Setelah keduanya sudah ada di dalam mobil, Nando menarik tubuhnya ke belakang untuk mengambil jaket yang sudah harum dan bersih, kemudian menarik kembali ke posisi sebelumnya. "Nih, udah bersih."

"Thanks."

Tidak ada suara yang keluar dari keduanya dalam beberapa saat sampai mobil berhenti sejenak di belakang lampu merah.

"Udah ke mana aja?" Tanya laki-laki dengan kaos hitam lengan pendek bertuliskan 'namaste' pada bagian depan dan celana jeans biru muda.

"Yaah, baru yang deket-deket doang."

"Lo ada kamera?"

"Hmm, ada."

"Next time mau hunting bareng gak?"

Fika bertanya pada diri sendiri, kenapa Nando selalu berhasil memberikan topik yang menarik, seperti di pesawat dan juga sekarang.

"Woy, mau gak?

"Mau lah. Gue ajak Raka juga ya?"

"Nah, iya tuh, ajak doi biar rame."

"Atur aja jadwalnya."

Mobil tersebut berhenti di depan sebuah restoran seafood, tetapi setelah keluar dari mobil, laki-laki itu terus berjalan tidak terlalu jauh dan berhenti di depan galeri. Suasana agak ramai, beberapa orang ada yang berlalu lalang dari arah yang sama maupun berlawanan.

"Oh, ada yang lain?" tanya Fika, menanyakan kalau apakah ada teman Nando yang lain.

Yang ditanya menjawab dengan anggukkan sambil mengutak-atik ponselnya. "Bentar lagi nyampe, kok."

"Oke."

--

Kiki sengaja memarkir mobil di blok yang agak jauh dari galeri karena sepi. Perempuan disampingnya, Rena, menyejajarkan langkahnya. "Ki, Nando gimana? Udah ada pendamping hidup?"

Lelaki itu terkekeh.

"Ceweknya orang sini kali, ya."

"Mana gue tau." Kiki mengangkat kedua bahu.

"Lo rencana mau kuliah di mana?"

"Jakarta lah. Mau tes tulis di UI."

"Emang pengumuman undangan belom? Ujian nasional kemaren gimana?"

"I'm not expecting that. Lancar sih,"

Renata menutup mulutnya rapat, memandang jahil laki-laki yang ada di sampingnya, kemudian ia mengalungkan kedua tangannya di lengan kiri Kiki.

Lelaki itu terkesiap, "Ren, ngapain sih?"

"Ya elah, kenapa sih? Pegangan doang."

"Gak usah, ah." Kiki melepaskan tangan perempuan itu dari lengannya. Tapi perempuan itu tetap memaksakan diri. "Heh, gak suka gue." Laki-laki itu risih dan menyesal mengajak Rena ikut, sungguh. Ia baru akan menarik tangannya kasar saat mereka sudah di depan galeri, menemukan Nando yang sudah berdiri sambil memandang dengan tatapan bingung. Ia baru menyadari ada perempuan lain di samping Nando ketika perempuan itu maju satu langkah menyejajarkan dirinya dengan Nando. Lagi-lagi hari buruk tiba. Ia menarik tangannya kasar menjauhi Rena, walaupun tahu itu sudah terlambat. Kiki memandang Fika dengan sangat putus asa. Kemudian pandangannya beralih ke Nando.

Gimana bisa mereka ketemu di sini? Batin Kiki.

"Loh, lo sama Rena?" Tanya Nando yang tidak menduga kedatangan teman perempuannya itu.

Hening. Fika tidak kuasa lagi melihat mereka berdua, Kiki dan Renata. Sakit sekali rasanya. Padahal, Kiki dengan yakinnya menuruti perintah Fika untuk tidak menyukai Renata. Fika tidak suka Renata. Benci dengan hanya melihat bayangannya.

Menyadari suasana yang tegang itu, saatnya bagi Nando mencuri kesempatan. Ia menggamit tangan Fika dengan santainya, membuat perempuan itu sedikit terkejut, tapi tidak menolak. "Ayo, deh." Ia mengajak untuk berjalan menuju ke restoran seafood yang pertama kali mereka temukan tadi.

Kiki menelan ludah dengan susah payah, rahangnya mengeras memandangi Nando yang menggamit tangan Fika. Kalau tidak punya hati, rasanya bisa saja ia menghantam kepala laki-laki itu dengan granat atau menembaknya dengan striker. Kepalanya sekarang dipenuhi dengan amarah, dan tanpa sadar, ia membiarkan Rena mengalungkan tangan kembali di lengannya, bahkan lebih erat.

--

Fika geram, karena sekarang Kiki otomatis harus duduk disamping Rena. Sedangkan ia jadi duduk di samping Nando. Dan sekarang ia harus berhadapan dengan Rena yang duduk tepat di depannya. Ia menggenggam sendok dan garpunya erat-erat, menahan agar benda-benda itu tidak melayang ke wajah Renata dan menghancurkan orang itu.

"Kok gak dimakan, Fik?" suara Nando memecah keheningan, ia menoleh ke arah Fika. "Mau gue suapin?"

Kiki mendelik, napasnya menjadi terburu-buru, ingin menyerbu laki-laki di hadapannya. Ini orang maunya apaan sih. Ia memakan makanan di hadapannya dengan cepat dan lahap, membayangkan sedang menghabisi Fernando Abraham sampai tidak bersisa.

Otak Fika dan Kiki sedang mendekati kriminal.

"Ki, belepotan tuh." Rena menarik tisu dan membersihkan saus tomat yang menodai pinggiran bibir Kiki. "Jadi inget pas lo ulangtahun ke empat belas dulu, saking doyannya sama red velvet, muka lo jadi belepotan sama warna merah." Perempuan itu sengaja menjelaskan kalimat tersebut supaya Fika mendengar dan tahu bahwa Rena mengenal Kiki jauh lebih lama.

Fika dengan cepat memutar kedua bola matanya, Kiki bisa melihat itu.

"Do, duduk sini. Gue pengang."

"Gak."

"Buru."

"Ya kenapa juga harus tukeran?"

"Ya kan-"

"-di sini aja, Do," pinta Fika. Perempuan itu menahan Nando supaya tidak berpindah tempat.

Kiki menatap Fika dengan pandangan lirih, "Fik,"

Tapi Fika sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar panggilan dari Kiki, ia berpura-pura tidak mendengar. Melihat itu, Kiki beranjak dari duduknya, menggeser kursi yang ia duduki, mengitari meja dan menarik Fika ke luar restoran.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com