#31
Kiki: Lo gak tau betapa gue pengen bunuh lo kemaren.
Nando: Hah?
Kiki: gtof
Nando: Apaansi, tiba2 ngegas.
Kiki: Ya elo apaan.
Nando: Otak lo miring ya?
Kiki: Ya elo gak ngomong kalo udah ketemu Fika.
Nando: Yaelah itu makannya gue temuin, sewon.
Kiki: Tai
Nando: Dih emang bener, lo nya aja yg nyolot
Kiki: Lah lo gak ngomong kalo bawa Fika
Nando: Yaelah ngapasi, emang lo siapa nya
Kiki: Lo tanya aja coba ama dia
Nando: Udah
Kiki: Yaudah ngapain nanya.
Kiki melempar ponselnya asal di atas kasur. Ia bangkit berdiri, menuju ruang tengah untuk mengambil makanan ringan yang ia tinggal semalam. Di sofa, sudah ada Omnya yang duduk menonton berita dengan bahasa Korea.
"Om," ucap Kiki yang masih berdiri sambil melahap snacknya.
"Ya?"
"Kalo Rena nyariin, bilang aja Kiki lagi pergi."
"Loh, kenapa emang?"
Kiki menghempaskan dirinya di sofa. "Ribet."
Om Choi mengangguk, ia melirik ponakannya sekilas. "Kamu gak mau checkup ke dokter?"
"Besok aja."
"Banyakin istirahat, jangan banyakkin pikiran."
"Iyaa," Kiki mengusap wajah dan menghela napas. Ia tahu akhir-akhir ini sebenarnya memang butuh istirahat dan seharusnya checkup ke dokter dari kemarin hari. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa juga harus berlebihan, selama ini tanpa minum obat pun sakitnya biasa dengan cepat kembali pulih.
--
Saat Fika sedang duduk men-cat kuku jari kakinya di kursi balkon, Raka menongolkan kepala dari dalam pintu. "Fik,"
"Apa?"
"Lo kenal Tasya Cantika gak?"
Fika menoleh dengan tatapan tidak percaya, "Lah, emang lo gak kenal?"
"Enggak."
"Terus kalo gak kenal kenapa bisa tau namanya?"
"Kepo lu."
"Itu anak angkatan kita. Kenapa? Suka lo yaaa?"
"Gue nanya doang kali." Raka menggenggam besi balkon dan melihat bangunan-bangunan di bawah yang terlihat seperti kotak-kotak kecil. "Lagian gak segampang itu juga."
"Kalo belom dicoba, lo gak bakal tau."
Laki-laki itu menoleh. "Gue masih pengen ngasih kepedulian sepenuhnya buat lo. You know you need me."
Fika mencibir. "Iya, sih. Entar jarang ada yang ngajak ribut lagi kalo udah sibuk sama yang baru."
Raka berjalan ke arah Fika, jari jempolnya menyentuh layar ponsel dan tangannya mengangkat ponsel tersebut di udara, kamera snapchat menampilkan wajah mereka berdua
Melihat kamera, Fika refleks tersenyum lebar, sedangkan Raka memasang ekspresi wajah tidak jelas, menunjukkan gigi dengan mengerutkan hidung. Setelah foto terambil, Raka meng-slide layar untuk menampilkan lokasi mereka, dan tulisan 'SEOUL' pun muncul di bawah foto.
Fika menatap laki-laki yang ikut duduk di sampingnya. "Lo mau send?"
Raka mengangguk. "Biar digossipin, terus grup kelas jadi rame."
"Jadi kangen kelas."
"Kangen ngeliat lo gak bisa masak, sih."
"Gue bisa masak, ya."
Raka memajukan bibir bawahnya sambil tetap memainkan ponsel. "Lagi," katanya, mengajak Fika foto lagi, tapi kali ini face swap.
"Eh, video aja video aja." Raka menyentuh ikon lingkaran dengan lama.
Melihat wajah mereka yang tertukar, Fika tertawa geli. "Freak anjirrr."
"Yow, kita lagi di Seoul. Kita ngapain, Fik?"
Fika melambaikan tangan kanannya ke kamera. "Kita bobo."
"Bobo bareng ya, Fik?"
"Iyaa, ayo sini nyusul!"
Keduanya terkekeh dan melihat ulang video tersebut sebelum dipost. "Gila,/ ini bakal mengundang gibah parah ini." Ucap Raka.
Benar saja, karena lima belas munit kemudian, setelah Raka selesai mandi dan sedang sarapan roti, ponselnya berdenting berturut-turut.
Triplets Gemay (3)
Ridho: Kancut lumping
Ridho: Gue udh tau semuanya
Ridho: Woy Raka, tunjukkin diri lo
Fauzi: Fauzi sent a picture

Ridho: Diem lu ji
Ridho: Cek pc ji
Raka: Yha, ngapa lu pada
Raka: Hoam
Raka: Gue bisa jelasin ke kalian, plis jangan pergi
Fauzi: Ini gak bisa begini
Fauzi invites Fika to the group
Raka terbahak-bahak puas menatap layar ponsel, ia beranjak ke sofa, menghampiri Fika yang juga sedang memainkan ponselnya.
"Eh, join tuh." Ucap Raka, menyuruh Fika gabung ke grup.
"Enggak ah, entar gue diramein."
"Yeh,"
"Entar dulu," Fika sedang membalas grup yang lain dengan hati-hati. "Ini kita kasih tau aja deh, ribet, pada nanya-nanya."
"Ya emang juga kasih tau aja."
Istiqomah (4)
Anggi: Gue panik ke bol bol setelah melihat apa yg ada di sc.
Liska: Sakit ya, Nggi?
Anggi: Langsung menjadi butiran debu gue.
Sofi: WTF
Sofi: AFIKA
Sofi: FIK LO UDAH NGAPAIN AJA
Liska: Fik, lo masih suci kan?
Anggi: Anj
Anggi: Liska omongan lo gak disterilisasi terlebih dahulu yea
Liska: I mean.....
Fika: It's been a damn long long long story guysss.
Fika: Astaga, gue masih Fika yang sama kok.
Fika sent a voice note
Setelah menceritakan semuanya melalui pesan suara, Fika menghela napas lega.
"Niat banget lo,"
"Ribet kalo diketik, nanti gue typo mulu saking paniknya."
"Forward ke gue."
"Buat apaan?"
"Buat dikirim ke grup gue."
"Ya udah gue decline ya invitationnya." Kata Fika. Tangan kanannya meraih ponsel dan menuruti perintah Raka. Ia mengutak-atik ponsel tersebut. "Udah, tuh. Gue mau mandi ah."
"Selamat bersenang-senang dan meninggalkan gue dalam keterpurukkan."
"Berlebihan banget, katanya udah sering kemana-mana."
Raka mengunci mulut dan memandangi Fika yang sudah berjalan ke arah kamar mandi.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com