#36
Bagi Fika, melupakan seseorang itu butuh alasan. Alasan pertama adalah harus, yang kedua adalah pilihan. Itulah kesimpulan yang akhirnya ditangkap oleh Nando setelah enam puluh menit mereka menghabiskan waktu di restoran.
Di balik stir pengemudi, Nando melirik bangunan yang akan mobilnya lewati. Kemudian ia menghentikan mobil sebentar. "Universitas Hongik. Bokap nyuruh gue kuliah di sini."
"Lo udah daftar?"
Nando menggeleng. "Gue pengen kuliah di Jakarta."
"Kenapa? Kan enakkan di sini."
Di dalam hati, Nando menjawab, Gue pengen dapet gelar sarjana kedokteran bareng Kiki di UI.
"Ditanya malah bengong."
Nando menoleh, "Lo mau foto? Mumpung sepi. Siapa tau nanti kuliah di sini."
"Gedungnya bagus ya, Do."
"Mau gak?"
"Enggak, ah. Gue malu."
"Cemen. Gimana mau jadi model buat foto entar." Nando menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya lagi.
"Ngomong-ngomong soal foto, kita hunting di Hongdae aja gimana?"
Nando mengangguk sambil sesekali melirik kaca spion untuk melihat jalanan di belakang. "Iya, boleh tuh. Kalo malem bagus."
"Tapi, gue pengen sama Kiki juga." Ada nada memohon di akhir kalimat Fika. Membuat Nando bersusah payah untuk tidak memedulikannya.
Bukan hanya Fika, hal yang sama juga dirasakan oleh Nando. Ia ingin Kiki ada di sini bersama. Ia tidak ingin Kiki sendirian, entah di mana. Hati Nando juga ingin meronta, memanggil Kiki agar cepat kembali. Meloncati pungguk sahabatnya itu sampai mereka terjatuh, memukul pundaknya, atau sekedar mendengar suara laki-laki itu via telepon.
"Gue tiba-tiba kangen Kiki." Ucap perempuan itu.
Nando pikir, misi hari ini untuk membuat Fika melupakan Kiki berhasil. Nyatanya, siapa yang bisa begitu saja melupakan orang seperti Kiki?
"Can i be missed too?"
Fika tertawa pelan, memerhatikan laki-laki yang sedang mengemudi di sebelahnya. "Lo tau gak?"
"Enggak."
"Sebenernya gue ini hidup dikelilingi oleh para laki-laki yang sangat dicari sama semua perempuan di luar sana."
"......"
"Raka. Dia anaknya menyebalkan, egois, banyak gaya. Tapi di sisi lain, dia dewasa, care, bikin gue ngerasa aman, dan dia relain hal-hal yang seharusnya dia dapetin hanya untuk bikin gue gak ngerasa sendirian."
Nando tidak mengeluarkan suara. Matanya fokus pada jalanan di depan, telinganya terpasang baik-baik, menunggu Fika melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
"Kiki," Fika terkekeh sebelum melanjutkan kalimatnya. "Gak usah ditanya lagi. Dia selalu berusaha bikin gue seneng. Dan kalo gue sedih atau kecewa, dia gak pernah capek untuk buat keadaan jadi kembali normal. Dia berusaha bikin gue seneng. Cuma itu yang bisa keluar dari mulut gue. He just magically comes to show me the good things in life. He makes me feel loved, happier than i would."
Nando mengangguk, mengerti dengan jelas apa yang perempuan itu katakan. "He's one of a kind."
"Yap."
"...."
"Yang terakhir, elo." Fika menunjuk laki-laki di sebelahnya. Air wajahnya menjadi semangat.
"Wow?" Satu kata itu terdengar seperti ekspresi bangga sekaligus bingung karena Nando tidak berharap dirinya disebutkan. Satu tangan Nando terangkat, meminta penjelasan.
"Nando. Orang yang tiba-tiba dateng di hidup gue dalam kurun waktu yang terbilang belum lama, tapi sekarang gue secara tidak langsung udah mencurahkan isi hati sedikit demi sedikit sama dia. Dan dia, sudah cukup baik buat gak tutup kuping selama suara berisik gue terus berlanjut. Kurang lebih dia sama kayak gue, pendengar yang setia."
"Sabi sabi." Nando manggut-manggut.
"Oh, ada lagi yang terakhir. Lo itu kalo diperhatiin, sebelas dua belas sama Raka."
"Rese?"
"Ya. Dan gue yakin gak cuma kalo lagi laper."
"Kok anda sok tahu sih, mbak?"
Fika tersenyum masam.
Sebelum kembali ke apartment, Nando mengarahkan mobilnya ke tempat belanja. Fika mengernyitkan dahi. "Kita mau ngapain ke sini?"
Nando menarik rem tangan sebelum menjawab. "Mau nyikat kamar mandi."
"Serius. Lo mau belanja?"
"Lagi ada diskon." Jawab Nando sederhana.
"Ih lo cewek banget?"
"Apa salahnya coba?" Nando menengadahkan kedua tangannya di udara. "Buktinya, gue ganteng kan?"
"Masalahnya, gue gak bawa duit banyak. Kalo gue masuk ke sana, terus terlalu banyak bisikkan setan yang menggoda, dan gue pada akhirnya malingin baju gimana?"
"Ya siapa suruh gak bawa duit banyak?"
Mereka mulai meributkan hal kecil di dalam mobil yang sudah sejak tadi terparkir.
"Kan niat awalnya tadi cuma mau jenguk Kiki. Terus tadi lo gak bayarin makan juga." Eh, keceplosan kan.
"Harusnya lo antisipasi dong. Kalo kemana-mana bawa duit jangan ngepas."
"Ya kan gue gak tau."
"Helah." Satu kata yang terucap dari Nando sebelum ia keluar dari mobil, dan pada akhirnya Fika juga ikut.
Media: The Script - Superheroes
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com