#5
a/n: Dan kalian pun baru saja disambut oleh penampakkan Kiki Prasetya di atas.
Raka menunggu Fauzi di parkiran sekolah sambil melirik jam yang dipakainya. Tangan kanannya memegang helm.
"Lama banget bocah," Gumam Raka sendirian. Kemudian matanya menemukan Ridho yang sedang jalan beririgan dengan Sofi. Raka pun menghampiri mereka.
"Fauzi mana?" tanya Raka.
"Lah au, kan biasanya sama lo." Jawab Ridho.
"Lo pulang berdua?" tanya Raka lagi sambil melihat dua orang di hadapannya itu bergantian.
Sofi mengangguk, "Lo kapan ada boncengannya?" katanya pada Raka sambil mengerlingkan mata.
"Kata Mamah gue, gak boleh pacaran, Sof."
Kemudian dari kejauhan, Raka bisa melihat Fauzi berjalan dengan lamban. Raka hanya bisa menghela napas panjang dibuatnya sabar menunggu.
"Cepetan!" Desisnya.
Fauzi berlari kecil menghampiri Raka, "Ka, gue mesti nemenin Liska ke Gramed."
Raka memutarkan kedua bola matanya jengkel, "Bilang kek dari tadi."
"Itu, dia dadakan. Entar ngambek kalo gue gak temenin." Kata Fauzi sambil menunjuk ke arah Liska yang sedang duduk di koridor menunggu Fauzi. Raka melihat ara yang ditunjuk Fauzi lalu pandangannya teralih ke sebelahnya Liska, ada Fika juga di sana. Lalu pandangannya berganti lagi ke sebelah kanan Fika. Rasa sesak sedikit menggerogoti dada Raka. Mata Raka tak lepasnya melihat kedua insan itu. Kiki dan Fika. Mereka duduk di sana. Raka tidak bisa memungkiri kebuncahan hati Fika setiap berada di dekat Kiki-sang senior di sekolah. Fika tidak dapat menguasai rasa malunya di depan Kiki. Itulah sebab cewek itu selalu menunduk apabila di dekatnya. Raka menarik napas berat dan mengusap wajahnya. Tidak, dia tidak mungkin putus asa. Toh, Kiki belum sepenuhnya mendapatkan hati Fika.
"Ya elah ngambek," Kata Fauzi polos mengira kemuraman Raka timbul karena kesalahannya.
Raka menggeleng, "Gue ngantuk." Dan mengibaskan tangannya lalu pergi kembali ke parkiran. Raka meng-gas motornya dengan pelan di bahu jalan. Pikirannya masih melayang. Ia menepuk dadanya pelan berkali-kali.
--
Pernah merasakan cinta monyet? Itu yang dirasakan Fika pada Kiki. Itu perasaan main-main yang menyenangkan. Tidak serius, tapi menyenangkan. Hanya menyukainya saja.
"Fikaaa, makaan." Suara Ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan terdengar.
"Iyaa, entar dulu." Jawabnya.
Fika tersenyum-senyum sendiri dengan jantung yang berdebar mendapat chat dari Kiki.
Kiki:
Cie, tadi kok malu-malu gitu?
Fika:
Hehe, engga sih sebenernya
Kiki:
Orang pipi lo merah begitu tadi
Fika:
😒😒😒
Kiki:
Makan sono
Fika merasakan perutnya bergemuruh. Bukan karena lapar, itu sering terjadi tiap dirinya merasa degdegan. Bukankah memang begitu saat cinta monyet?
Di saat-saat seperti itu, Raka masih sempatnya mampir ke dalam benak Fika. Fika menelan ludah dan mencari kontak line Raka Agraha. Baru saja Fika ingin menanyakan sesuatu pada Raka, cowok itu secara tidak terduga mengirimkan chat padanya duluan.
Raka Agraha:
Oi Fikkk
Fika menggigit bibir dan berpikir sebelum mengetik jawaban.
Fika:
Yap?
Di ujung sana, Raka juga memikirkan sesuatu terlebih dahulu sebelum membalas chat dari Fika. Raka tidak bisa menahan rasa penasarannya soal apakah tadi Fika diantar pulang oleh Kiki atau tidak.
Raka:
Lo tadi pulang bareng Liska gak?
Raka berharap semoga pancingannya berhasil mendapat jawaban yang pasti.
Fika:
Enggak lah, kan Liska pergi sama Fauzi
'Ah! Salah pancingan. Jawabannya nanggung parah,' batin Raka.
Raka:
Kalo sama Anggi, Sofi?
Fika:
Emang kenapa deh?
Raka meringis. 'Kenapa gak langsung jawab aja sih, elah,'
Raka:
Soalnya Idho nyariin Sofi.
Fika mencoba mengingat sesuatu, kemudian menjawab
Fika:
Lah, orang tadi gue nyuruh Sofi pulang bareng Idho aja.
"Ah anjir skakmat." Desis Raka sambil mengusap dahinya dan membiarkan chat dari Fika terbaca begitu saja. Dia meletakkan ponselnya di kasur dengan asal. Bisa-bisanya dia lupa, padahal jelas-jelas sepulang sekolah tadi dia tahu kalau Sofi dan Ridho pulang bareng.
Raka menghela napasnya berat seakan frustasi. 'Kenapa juga gue mikirin banget sih,' bisiknya dalam hati. "Ya jelas lah gue pikirin," Raka bergumam menjawab pikirannya sendiri.
Fika yang tak kunjung mendapatkan balasan dari Raka pun memutuskan untuk makan. Saat Fika menyantap suapan ke lima nya itu, bayangan Raka melintas lagi di kepalanya. Sepulang sekolah tadi, Fika pulang sama Anggi. Kiki jelas menawarkan pulang bersamanya, tapi Fika masih menolak dengan alasan 'Males, entar ditanya-tanya sama nyokap.''Apa maksud Raka tadi mastiin gue pulang sama siapa kali ya?' tanya Fika dalam hati pada diri sendiri. Fika menggeleng cepat dan mendengus, 'Pede banget sih gue najis.' Pikirnya.
"Kamu kenapa, Fik?" tanya Papanya dengan senyum penuh arti sok 'mengetahui suasana hati Fika'.
"Gwenchana." Jawab Fika asal.
"Bencana?" Raut wajah Papah Tomy berubah tegang.
Mamahnya Fika yang bernama Sinta pun menggeleng pelan sambil tersenyum ke arah suaminya, "Itu bahasa Korea, Pap. Biasalah, si Fika kan emang demen alay ala-ala gitu."
"Ih gak alay, Mamah!"
"Kamu mah alay dari lahir, Fik." Gumam Papahnya. "Orang Mamah kamu juga alay begini. Kamu sih, Mah. Anak ku jadi terlahir alay."
"Tidur di luar yaa!" Mamah Sinta melotot maut menatap suaminya.
"Loh, entar gak jadi dong kalo aku tidur di luar?" Pertanyaan ambigu Papah Tomy membuat Fika melirik kedua orang tuanya bergantian.
"Tuh, Fik. Liat papahmu, jangan di contoh ya. Alay nyebut alay coba."
Fika pun kembali memikirkan Raka. Apakah sudah mulai ada satu kepingan puzzle yang terlepas? Oh, atau mungkin sudah ada beberapa kepingan yang terlepas tanpa disadarinya? Apakah akan sulit untuk memperbaiki kepingan-kepingan itu menjadi satu yang utuh? Belum terpikir oleh Fika sebelumnya tentang kepingan-kepingan itu.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com