#7
"Cie bajunya samaan," Kata Kiki saat Fika sudah masuk mobil.
"Iya dong," Jawabnya.
"Mau kemana nih?" Tanya Kiki. Kedua tangannya menggenggam stir pengemudi.
Fika mengangkat bahunya, "Kan lo yang ngajakin?"
"Ke pitjahat aja yuk," usul Kiki.
"Iya pizza aja tuh, soalnya gue masih agak kenyang sih." Kata Fika.
Kiki tersenyum tipis dan menyalakan mesin mobilnya, "Let's go."
Di dalam mobil, Kiki curhat tentang kesibukkannya mempersiapkan ujian akhir. Kemudian saat hening ia menyalakan lagu dari Daniel Powter yang berjudul Love You Lately.
"Lo suka lagu ini, Ki?" Tanya Fika sumringah ke Kiki.
"Iya, gue suka Daniel Powter." Jawab Kiki santai.
"Sama dong! Entah ya, gue lebih suka lagu cowok dari pada cewek."
"Tell me why," Kiki melirik Fika.
"Lebih deep aja gak sih? Kalo cewek tuh lebih kayak curhat, bukan nyampein maksud dari lagunya. Kalo menurut gue sih gitu," Jelas Fika.
Kiki mengangguk pelan.
"Kalo lagu cewek, paling gue lebih prefer ke Megan Trainor atau Taylor Swift." Jelas Fika lagi antusias.
Kiki mengernyitkan dahinya, "Tumben banget bawel lo,"
"Gue juga suka banget sama beberapa soundtrack dari drama korea. Soalnya kalo gue lagi denger lagunya, pasti gue langsung ngebayangin drama nya."
"Ah, yang bener?" Kiki terkekeh.
"Beneran deh, serius." Sekarang Fika yang menoleh menatap Kiki.
"Ki, lo tau kan, gue gak boleh pacaran dulu sama nyokap."
"Iya, terus?"
Fika menghela napas, "Ya udah bagus kalo udah tau,"
"Orangtua tuh emang awalnya gitu, Fik. Tapi nanti kalo udah tau juga diizinin." Gumam Kiki.
"Tapi gue gak mau kalo harus kena omel." Fika melipatkan kedua tangannya di depan dada.
"Makannya, nanti gue anterin sampe rumah. Siapa tau kalo nyokap lo udah kenalan sama gue lebih deket, dia bisa nerima. Ya?"
Tidak ada jawaban yang jelas dari Fika kecuali helaan napasnya yang berat.
Setelah mereka sampai, Kiki memarkir mobilnya dengan perlahan tapi pasti. Kemudian mereka membuka seatbelt nya masing-masing dan keluar dari mobil.
"Dah? Gak ada yang ketinggalan?" Tanya Kiki memastikan setelah mereka di depan mobil.
"Udah, udah." Jawab Fika.
"Fik, mau liat gak tadi gue foto sama adek sepupu."

"Kok mirip lo pas bayi ya? Yang fotonya waktu itu pernah lo kirimin. Aa kyeoptaaa."
Kemudian mereka pun berjalan beriringan memasuki mall tersebut. Keduanya berhenti di depan Pizza Hut.
"Yah, kayaknya penuh deh, Ki."
"Mba, masih ada yang kosong?" Kiki bertanya pada wanita yang bertugas tersebut.
Wanita itu pun tersenyum sopan, "Mohon maaf mas, lagi penuh."
"Oh gitu, ya udah deh. Makasih ya," Balas Kiki sopan.
"Gimana nih, Fik? Mau ngapain dulu? Entar ke sini lagi." Tawar Kiki.
Fika memicingkan matanya ragu, "Tapi lo udah makan?"
"Udah sih, masih agak kenyang juga. Mau nonton aja?" Kiki menawarkan lagi.
Sebuah ide muncul di benak Fika. "Timezone aja yuk."
"Sumpah, gak kepikiran." Kiki tertawa sendiri. "Ayok. Ayok."
--
Kiki pun membayar isi ulang kartu timezone nya.
"Bisa dance revolution gak?" Kiki menantang Fika yang sedang memandang sekelilingnya.
"Lo mau kita main itu?" Fika balik bertanya dan dijawab dengan anggukan dari Kiki.
Fika pun menuruti kemauan Kiki.
Setelah permainan itu dicobanya, Fika tertawa terbahak-bahak, "Demi diri gue sendiri, gerakkan lo konyol parah. Gue gak mau lagi main gituan sama lo."
"Itu namanya dance, Fik. Dance. Bukan gerakkin kaki doang kayak yang lo lakuin barusan." Jawab Raka tersengal-sengal.
"Terserah, Ki. Mending sekarang hockey meja aja."
Fika dan Kiki bermain hingga beberapa jam sampai hampir lupa waktu.
"Udah yuk, makan yuk." Tawar Kiki. "Gue sholat ashar dulu deh tapi. Lo juga belom kan?" Kiki melirik arlojinya.
"Gue lagi gak solat. Ya udah sholat dulu sana. Gue tungguin aja."
Kiki pun memasang muka khawatir yang dibuat-buat, "Ya udah bener tungguin, ya. Awas ilang lu."
"Iyaaa, Kiki anaknya Pak Rizal."
Saat Fika memutuskan untuk berdiri di luar area sholat sambil menunggu Kiki, tiba-tiba cowok dan cewek berpasangan yang ia kenal melambaikan tangan padanya dan menghampirinya.
"Fik, ngapain lo? Jomblo banget sendirian di sini." Kata Sofi penuh semangat. Ridho yang beridiri di sampingnya ikut bertanya, "Lo sama siapa?"
Fika menunjuk dirinya sendiri. Ia ragu ingin menjawab. "Uhm, gue-gue sama Kiki. Eheheh."
"Kiki? Kiki Prasetya yang mantan wakil ketua OSIS itu?" Tanya Ridho lagi.
"Sama Kiki doang? Lo-Kiki-berdua?" Sofi menggerakkan kedua telunjuknya seperti memikirkan sesuatu.
"I-iya." Fika menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Ridho yang sebelumnya sudah tahu cerita dari Sofi hanya bisa menelan ludah sebelum berkata, "Jangan bilang lo sama dia udah jadian?"
"Iya gue tau, gue tau. Entar gue kasih pj nya." Fika melongos sebal, "Kalian kenapa sih ngeliatin gue begitu? Emang ada yang aneh ya?"
"Ya, enggak."-"Cuma surprised aja lo jalan berdua sama cowok." Sofi memaksakan tawanya. "Ya udah, gue duluan ya, Fik."
"Salam buat Kiki yak." Lanjut Ridho.
Fika menunjukkan kedua ibu jarinya, "Oke!"
--
Setelah Fika dan Kiki menghabiskan makanan dan minumannya, mereka pun segera kembali ke mobil sebelum terlalu sore.
Kiki mengurungkan niatnya untuk memasang seatbelt dan suasana menjadi hening sejenak.
"Kok, diem?" Selidik Fika.
Yang ditanya masih bergeming seperti ingin memberikan suatu hal yang telah dipersiapkan sejak lama. Kiki mengeluarkan napasnya berat. Kemudian ia memberikan kotak merah kecil kepada Fika. Tapi matanya tetap tertuju ke depan. Ia belum berani menatap Fika.
"Ini apaan, Ki?"
"Buka aja."
Fika pun membuka kotak kecil itu. Ia tertawa pelan saat mendapatkan cincin perak yang terukir huruf K di dalamnya. "Ish. Kita masih SMA, Ki. Dan lo mau ngelamar gue?"
Kali ini, giliran Kiki yang tertawa pelan berkali-kali. "Gue juga mau ngelakuin itu kalo udah waktunya." Sekarang dia sudah berani menatap lawan bicaranya itu. Kemudian dia melanjutkan kalimatnya, "Gue cuma pengen orang-orang tau kalo ada gue yang milikkin lo sementara ini. Gue mau serius, Fik. We'll get through everything together, somehow."
Fika mengerjapkan matanya berkali-kali. "Gue gak akan serius menyikapi ini, lo tau? Omongan lo tuh kejauhan, Ki."
"Iya, gue tau. Gue juga belom jadi apa-apa. Toh, intinya, gue cuma ingin tenang kalo orang pada tau kita itu bukan cuma temenan biasa."-"Jadi gue gak harus takut lo diambil orang, atau semacamnya lah. Gitu aja. Selebihnya lo bisa main sama siapa aja, deket sama siapa aja. Tapi semua orang tau, lo masih punya gue. You do understand what i mean."
"Iya, gue paham. Jadi, ini simbol?" Fika memperlihatkan cincin yang sudah ia pakai di jari tenganya.
"Iya. Ini simbol." Kiki mengangguk dan memperlihatkan cincin yang ia pakai juga di jari tengah tangan kanannya.
a/n: Hallo, terima kasih sudah baca. Kayaknya sekarang diriku lebih suka sama Kiki semenjak memerhatikan keserasian di antara Sehun dan Irene😂😂😂 Jangan lupa untuk berikan votes dan comments.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com