Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

A Game

Kring. . . .

Bunyi lonceng di atas pintu sudah tak ganjil lagi di telingaku. Jelas, aku sudah menghabiskan waktu di sini hampir setengah tahun. Bekerja sebagai kasir di sebuah kafe di ibukota tidaklah semudah kelihatannya.

Berbagai macam kepribadian pelanggan harus aku hadapi lebih dulu. Entah mudah marah, kelamaan mikir mau pesan apa, suka komplain, banyak mau, dan sebagainya.

Tidaklah asing lagi melihat banyaknya pelanggan berlalu-lalang di sekitar kafe, maupun di dalam kafe. Lalu, antrian pesanan. Nama-nama di bungkus kertas kopi. Juga, wanita itu.

Klise, ya?

Sebenarnya, tidak ada yang berbeda dari dia. Pakaian, sama seperti anak muda di Amerika kebanyakan. Pesanan, berganti hampir setiap hari. Dia pun hanya datang seminggu dua kali. Wajah, menurut teman-temanku, dia biasa saja.

Nama yang dia sebutkan pula selalu berganti, entah nama artis atau kata asing yang baru kudengar.

Setiap tidak ada pelanggan mengantri, aku selalu menyempatkan diri melirik wanita itu. Tak jarang, teman barista ikut berkomentar soal subjek yang kulihat. “If you like her, go for it! Go, go, go!!” begitu kata mereka tiap aku kepergok sembari mengepalkan tangan seakan mendukungku.

Jawabanku pula selalu, “I have a job. This is my shift part, so it can't be left behind.”

Mata dia hampir tidak pernah berpindah dari layar ponsel. Pasti kalian akan menebak kalau wanita itu adalah seorang maniak internet. Aku pun sempat berpikir begitu.

Namun, ketika menggantikan temanku menjadi pelayan selama seminggu, kubuang anggapan itu.

Tentu saja aku tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan melewati kursinya, dan mengintip isi ponsel dia. Wanita itu bermain sebuah permainan. Selalu sama setiap lewat, seakan dunianya hanya berputar pada permainan itu.

“Oh God!”

“Shit, I'm so sorry!”

Refleks, aku menoleh ke sumber suara. Wanita itu, dan temanku. Kutebak dia tidak sengaja menyenggol temanku hingga menumpahkan pesanan orang lain.

Kulihat dari tempatku bermain, pesanan yang dibawa Goerge jatuh. Meski begitu, wanita itu mau bertanggungjawab. Jadilah uang saku Goerge tidak menjadi korban kedua.

Kalau kalian heran mengapa aku bilang ‘bermain’. Itu karena ... sekarang belum bagianku bekerja. Namun, Justin---orang yang harusnya bekerja sekarang---baru saja izin pulang duluan. Dia bilang ada urusan genting, salah satu sanak saudaranya meninggal. Jadi, aku menggantikannya sembari bermain game.

Bingo. Tebakan kalian benar. Pintar sekali.

Aku memainkan game yang wanita itu selalu mainkan. Pernah beberapa kali melawan Si Wanita dalam game ini.

Si Wanita menghampiriku --lebih tepatnya menghampiri meja kasir, lekas kutaruh ponsel di samping mesin kasir. Dia memesan satu gelas Mocca Latte untuk mengganti. Dan mengatakan “Substitute,” sebagai tulisan di kertas kopi. Sembari menunggu, Si Wanita kembali memainkan ponselnya. Akupun hanya perlu menyampaikan pesanan Si Wanita pada barista.

Tring!
Tring!

Aku menarik ponselku secara refleks.

Astaga. Bagaimana ini!?

Si Wanita terlanjur melirik notifikasi di ponselku barusan. Dan, coba tebak....

Notifikasi tersebut berisi sebuah undangan permainan, dikirim Si Wanita pada akun game-ku.

“Umm... so....” Astaga. Tanganku kenapa gemetaran begini?

Wanita ini menyadarinya! Dia menahan tawa!

“Are you ... Bengsol? My opponent on the game all this time?” tanyanya, sembari membuat bibirnya menjadi segaris tipis. “Why are you shaking like that?”

Baru saja akan mengantungi ponsel ke saku celemek, aku tersedak ludah sendiri. “Th... this is...,” duh, tenggorokanku tercekat. “my friend's cellphone,” ucapku, kuyakin sangat terlihat bohong.

Bersamaan dengan itu, barista selesai meracik Mocca Latte, dia menaruhnya di depan meja kasir. Seperti biasa, aku memberikan gelas kertas tersebut pada pembeli setelah menuliskan 'Substitute' pada salah satu sisi gelas.

Si Wanita mengambilnya dari tanganku. “You know?” Bibirnya membentuk senyum tipis. “You're not good at lying...,” dia melirik dada kiriku, “Alex,” katanya sembari memberikan dua lembar uang kertas.

“A, ah.” Astaga, aku terciduk. “Thank you and enjoy. Have a good day,” ucapku, kalimat wajib yang harus dilontarkan setiap kali transaksi selesai.

Wanita itu tersenyum. Dia tidak beranjak dari tempatnya sama sekali. “Galena,” katanya, “that's my real name.” Kemudian dia pergi begitu saja.

Astaga.

Apa-apaan barusan.

- - -

Setelah kejadian Galena akhirnya menyebutkan nama, dia nggak pernah datang lagi ke kafe. Kepalaku terus saja mendongak ketika telinga menangkap bunyi lonceng kafe. Namun, Galena tak juga muncul selama satu bulan ini.

Namun, ketika aku sedang nongkrong menunggu giliran shift-ku tiba, dia datang. Aku tidak menyadari kapan dia masuk, hanya saja aku mendengar namanya dipanggil kasir.

Iya, untuk pertama kalinya, Galena menyebutkan nama untuk tulisan di kertas kopi. Kepalaku mendongak, dengan mata berseri-seri kucari dimana dia berada.

Di sana. Pojok dekat jendela, tempat favoritnya. Aku menyusul, duduk di salah satu kursi tersebut sembari menaruh barang-barangku. Empunya sendiri sedang mengambil pesanan. Ketika datang, aku membisu berpura tengah membaca.

Dia duduk dengan santai, seakan manusia di hadapannya tidak menganggu sama sekali. Setelah duduk, dia berkata, “What's up, Alex?”

Aku terbatuk, tersedak ludah sendiri. Tidak menyangka dia mengatakan tiga kata itu dengan mudah alih-alih kaget. Malah aku yang kaget.

Memandangku, Galena terkekeh. “Are you trying to surprise me?” tanyanya seraya menyesap sedikit minumannya. Rambut pirang miliknya hari ini sedikit bergelombang.

“Why not? But now that's you,” kataku, merujuk ke Galena yang barusan mengagetkanku.

Dia tertawa, ringan sekali. “By the way, that was my first time in a while, you didn't serve me at the cashier,” katanya asal, membuka percakapan.

Kuputar bola mata atas pertanyaan tersirat darinya. “You know why for sure.”

Galena terkekeh menampak reaksiku. “I am.” Lantas, dia bertanya, “Hey, may I ask you something?”

Aku mengangguk. “Go on,” kujawab sembari menutup buku bacaan dan meraih kopi pesananku.

“Would you be my---um. . . maybe, prom-date?”

Uhuk! Astaga. Saking tak menyangka akan ditanya seperti itu, aku tersedak kopi. Apa dia memang seblak-blakan ini? Seakan-akan, kami sudah kenal lama. Seolah-olah, kami bukanlah sepasang orang asing yang kebetulan bertemu di dalam sebuah game.

“You do have friends, do you?” tanyaku dengan alis tertaut.

Mulut Galena terbuka, terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya dia mengatakan, “We're broke up.”

“. . . What?”

“Me and my boyfriend.”

“You have a boyfriend?” Oke, jadi selama ini aku menaruh hati pada pacar orang?

“I had. And that jerk was inciting my friends for do not talk to me ever again. I don't know why he did that, but he is actually a jerk now.” Tanpa kutanya, dia membeberkan masalah yang dia hadapi akhir-akhir ini. “I've trying to talk and stuff to my friends, but they all totally ignore me. I wonder how much he bribe them?”

Aku mengernyit, agak tidak mengerti apa yang Si Mantan ini inginkan. “Don't you have bestfriends? Like, somebody who will be by your side no matter what happen,” kutanya untuk memastikan.

Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. “Of course I have. And I know what ‘bestfriend’ mean too,” katanya, ada nada sarkas di sana.

“That's why you didn't comes up to cafe all this time?”

“Exactly.” Dia mengiyakan pertanyaanku sembari lagi-lagi menyesap minuman pesanannya dengan sendok. “So?”

“I'll clear my schedule for help you.” Kuputuskan demikian. “Probably with a little extra drama?”

Galena menatapku sebentar lalu terkekeh. “Sounds interesting.” Lantas kami menghabiskan waktu dengan mengobrol ini-itu. Juga bermain permainan yang disebut sebagai ‘21 Question’.

Tidak, aku tidak melupakan pekerjaanku. Toh, shift part-ku masih ada satu jam lagi. Akhir-akhir ini aku memang selalu datang sekitar dua jam lebih awal. Yah, apalagi selain menunggu Galena sialan ini datang.

“What is Bengsol mean?” Kini giliran Galena yang bertanya, dan dia memilih bertanya tentang username-ku di permainan itu. “Sound unique. I never heard that thing,” ujarnya sembari mengaduk minuman milinya yang tersisa seperempat.

“Ah, that's stands from Bengawan Solo.

Mimik wajah bingung itu menjadi favoritku sekarang. Dengan sedikit memiringnya kepala Galena, dia sungguh terlihat imut. “Bengga. . . what?”

“Not Benggawat. It's Bengawan Solo.

Kekehnya menyembur sebelum dia bertanya, “It means?”

“It's my turn, pretty girl.” Kubuat bibirku menjadi segaris tipis, menahan tawa melihat wajah kesalnya. “Are you seriously still a high school student??? You really didn't looks like a seventeen years old anymore.”

Dia terbahak sekarang. “Is it because that prom-date thing I asked you?” Belum selesai juga tawanya, dia menjawab, “No, Alex. It's not prom, just a party. I'm in college now.”

Aku mengangguk-angguk mengerti, sembari ikut terkekeh atas kekonyolanku sendiri.

“So, tell me what is Bengawan Solo? It's feels like I've ever heard Solo, but never with Bengawan.”

Dengan pertanyaan seperti itu, mau tak mau kubeberkan juga asal-usulku. “That is may refer to: Bengawan Solo River, the longest river on the Indonesian island of Java. But, also famous Indonesian song about that river.” Binaran mata itu mendorongku untuk melanjutkan kalimatku. “And yes, I'm from Indonesia, ended up stranded in this country for college. Here I also work part-time.”

Aku tak menyangka akan mendapatkan reaksi dengan mulut terbuka. Kupikir dia sudah mengira bahwa Amerika bukanlah negeri ibuku. “Cool. I like your black eyes, tho. Really,” katanya. “And your tan skin too.”

Terkekeh, aku mengangguk. “A lots of Indonesian people are like me. Black eyes and tan skin. This is just some criteria of us,” jelasku, dengan maksud sekaligus pertanyaan tersembunyi.

“But if I meet them, I'd rather like you,” ujarnya dengan wajah datar, seakan perkataannya barusan tak berarti apa-apa bagiku. “Your british accent is cute. Why you use that?”

Tanpa menjawab detil, aku menunjuknya dengan jari telunjuk sembari menyerukan, “Expelliarmus!

Tak kusangka, dia tertawa terbahak-bahak hingga perutnya ditahan. “I didn't expect you watch Harry Potter too?!?!!”

Belum habis tawa kami berhenti, rekan kerjaku berjalan ke arah kami. Kemudian dia bilang, “Your shift,” sembari memberikan sebuah celemek padaku. “Quickly change your clothes!”

Menatap sejenak ke Justin --dia masih berdiri di belakang kasir, omong-omong---lantas aku mengangguk dan pamit pada Galena. Lalu berjalan ke kamar mandi dengan ransel seragam di tangan.

Sebelum mengganti posisi Justin, aku kembali ke meja Galena terlebih dulu. Selain mengambil barang-barang tersisa, aku juga belum meminta nomor Galena.

Baru saja mengambil barang-barangku dari atas meja, belum kubuka mulutku untuk bertanya, Galena sudah berdiri duluan.

Mencium sudut bibirku.

“I'll wait your call,” katanya dengan wajah dipenuhi senyum dan berjalan keluar kafe. Dibatasi kaca, masih sempat saja Galena menoleh dan memberikan gestur menelpon---mengingatkanku agar tidak lupa.

Aku masih memandangi hingga punggungnya tak terlihat lagi. Saat itulah aku tersadar, di atas sampul bukuku, tertempel sebuah sticky notes dengan barisan angka dan beberapa kalimat.

Berbunyi: “Use your best clothes! I want us to look charming at the my so-called-friend's birthday party.

xx Galena.”

Senyum lebarku sama sekali tidak bisa kutahan kali ini.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com