Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

K2

Hari ini hari Kamis, seharusnya menjadi hari terakhir Uji Coba Ujian Nasional di SMA Nusa Bangsa pada pekan ini. Di kelas XII MIA 2, pelajaran yang diuji hari ini adalah Kimia. Bukan berarti setelah UCUN berakhir, mereka akan pulang cepat.

Tidak. Salah besar.

Para siswa tetap melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar atau biasa disebut KBM, meskipun jam pertama dan kedua terpotong oleh UCUN. Sekolah ini adalah sekolah terdisiplin nomor sekian. Memang tidak sangat-sangat-sangat disiplin, sih. Hanya saja, soal KBM, kepala sekolah dan wakil-wakilnya tidak akan mau menyia-nyiakan waktu.

Pak Nando masuk, beliau adalah guru Kimia yang mengajar di kelas mereka sekaligus pengawas hari ini. “Sudah duduk sesuai absen?” tanya beliau sebagai pembukaan sembari menaruh bokongnya di atas kursi guru.

Tidak ada yang menjawab. Namun, semua orang berbondong-bondong berdiri dan mencari tempat duduk masing-masing. Pak Nando geleng-geleng kepala di tempat.

Perempuan dengan kucir rambut berwarna biru sudah siap sedaritadi di kursinya, bagian tengah. Dari tempat asalnya, dia tinggal maju saja, jadi tidak memakan waktu lama. Yang lain masih saja sibuk berkeliling, menghitung ulang dari ujung hingga nomor absen. Padahal, hampir setiap hari begini.

Teman sebangkunya baru duduk setelah dua menit berlalu. Pak Nando langsung membagikan lembar jawaban berwarna biru ketika semua sudah siap di tempat masing-masing.

Ah, Kayra benci situasi ini. Situasi yang membuat bibirnya gatal ingin bicara, tapi entah bicara apa. Selalu seperti ini.

Apalagi selama hampir tiga tahun bersekolah di SMA Nusa Bangsa, Kayra nggak mengenal Kefin sedikitpun. Dia baru mengetahui kehadiran Kefin ketika duduk satu kelas dengannya. Itupun, sekadar tahu nama saja.

Jari Kayra mengetuk meja berkali-kali, menunggu lembar jawaban komputer sampai ke mejanya. Mata Kayra melirik ke lelaki di sebelah terus-menerus, sungguh ragu ingin berbasa-basi atau malah memilih diam saja.

Sementara laki-laki itu, berusaha menahan rasa tidak nyaman dan tidak bertanya ada apa.

Oke. Sedikit lagi Pak Nando sampai ke barisan mejanya. Kayra berdeham. “Fin,” panggilnya, “udah belajar?” Yah, setidaknya dia berbicara sebelum Pak Nando datang.

Yang dipanggil, Kefin, melirik sekilas. “Dikit,” katanya sembari mengeluarkan pensil 2B dan penghapus dari tempat pensil.

Kepala Kayra hanya mengangguk-angguk saja, seperti biasa. Seakan-akan percakapan itu rutin mereka lakukan sebelum memulai uji coba. Walau, ya, memang begitu adanya.

“Yak, silahkan kerjakan sendiri-sendiri.”

Begitu suara Pak Nando membelah keheningan, seisi kelas XII MIA 2 langsung menggoreskan pensil ke lembar kerja.

Dibekali lembar coretan, Kayra mendahului soal Kimia yang mudah terlebih dulu. Cewek itu serius menekuni apalan ataupun hitung-hitungannya. Namun tak ayal, diam-diam Kefin melirik isi lembar jawaban milik Kayra.

Kayra memang sadar, tetapi berpura tak tahu apa-apa. Lagi pula, waktu UCUN Matematika lusa lalu, Kayra juga menyontek milik Kefin.

Timbal balik, eh?

Diam-diam, Kayra mengulum senyum, lalu menggumam, “Kalau lo begini terus, Fin.... Kapan lo bisa sendiri nanti?”

Kegiatan Kefin berhenti sejenak.

---

“Kay, gue mau ke kantin, nih!” seru teman sebangku Kayra, sembari beranjak dari kursi.

Kayra tidak beralih dari buku Sukses UN dan bindernya, hanya merespons dengan anggukan.

“Nitip atau ikut?”

Dia masih bersikeras melanjutkan hitungan. “Nitip minum, Sa. Dikit lagi meledak nih pala gue,” pintanya.

Hafsa tertawa, kemudian berjalan ke luar kelas menghampiri temannya yang lain.

Ekspresi wajah Kayra sedikit lagi berubah. Dari serius, ke guratan senang. Begini nih, kalau Kayra sudah bertemu hitung-hitungan. Mau itu Fisika atau Matematika, kala hitungannya sedikit lagi selesai, mimik serius akan tergantikan dengan mimik bahagia.

Tapi ... tergantung.

“AHELAH! Kok kagak ada jawabannya sihhh?!?!”

Nah. Kalau ketemu Kimia atau Fisika, Kayra akan berbahagia. Beda lagi urusannya kalau itu adalah Matematika.

“Lagian bola pake dipantulin segala! Yang ribet ngitungin malah gue, kan!” Lagi-lagi Kayra menggerutu sendiri.

Kebetulan, saat itu, Kefin sedang berada di belakang kursi Kayra. Tadinya sih, ingin bertukar informasi mengenai permainan terbaru di android mereka. Namun, sepertinya kali ini mengajari Kayra lebih seru. Hitung-hitung balas budi karena sudah memberikan contekan Kimia tadi pagi.

Kefin beringsut. Meski meninggalkan tanda tanya di benak temannya, dia tetap mendekati Kayra. “Soal yang mana?” tanya Kefin tetiba.

Gila, keren nggak, sih, si Kefin? Dateng-dateng langsung nanya ‘soal yang mana?’.

Ck ck.

Parah.

“Ih, sok kerennya kambuh,” gerutu Kayra sembari menggeser buku Sukses UN dan coretannya mendekat ke tubuh Kefin. “Tuh, 28.” Telunjuk Kayra mengarah ke soal yang dia maksud.

Kacamata di sakunya Kefin ambil, dikenakan, kemudian sorotan tajam matanya menelisik soal tersebut. Beserta jawaban milik Kayra.

“Salah.”

“Anak SD juga tau, kali. Orang nggak ada di opsi.”

Kefin melirik Kayra, wajahnya sudah frustasi dengan tangan menumpu kepala. Dia pernah dengar, kalau sekali saja Kayra pusing, mulutnya akan asal cablak. Padahal ini baru satu nomor.

Menaruh kembali buku Sukses UN ke meja Kayra, Kefin beranjak dari tempatnya. Kayra kebingungan, cewek itu memandangi langkah Kefin. Dia memutari barisan meja, hingga kembali lagi ke samping Kayra. Namun, kali ini, dia duduk.

“Nih, Kay. Dari awal aja lo udah salah. Rumus rasio tuh nggak gini,” katanya sambil menunjuk yang dimaksud. “Yang lo tulis ini rumus beda di Aritmatika!”

Maya Kayra mengerjap beberapa kali. “... oh.”

“Makanya, teliti! Kalo lo begini terus, gimana mau Sukses UN?!”

Mendengar itu, Kayra memicing sebal.

Setelahnya, mereka melanjutkan kegiatan tersebut hingga bel masuk tiba. Kefin mengajari Kayra soal-soal Matematika, Kayra mengajari Kefin soal-soal Kimia. Simbiosis mutualisme. Namun, lebih banyak Kefin mengajari Kayra.

Karena materi yang tidak Kayra mengerti lebih banyak daripada Kimia. Setidaknya.

---

Sabtu dan Minggu berlalu. Seharusnya hari ini pembagian kelas untuk Pemantapan sudah dibagikan. Seperti tahun lalu, kelas dibagi berdasarkan nilai UCUN.

Di depan kelas XII MIPA 2 sudah ramai murid menggerombol. Memandangi kertas yang ditempel ke kaca jendela, lalu mencari nama masing-masing. Reaksinya berbeda-beda.

Ada yang mendecak sebal, ada yang bersorak senang, pun ada yang hanya mengernyitkan dahi.

Kayra berinisiatif memotret kertas tersebut dengan ponselnya ketika sudah sepi. Kemudian, dikirim ke grup kelas supaya tidak lagi berisik di luar.

Yah, memang sih meminimalisir kadar keberisikan di luar kelas. Namun, di dalam kelas juga sama saja. Mereka saling lontar pertanyaan, “Lo di kelas mana?” atau “Nilai MTK lo berapa?” atau “Lo PM di MIA 4? Duduk sama gue, ya!” dan sebagainya.

Yah, di sekolah ini peraturannya berbeda kala Pemantapan. Nilai yang tertinggi mendapat kelas paling awal atau nomor muda.

Tak terkecuali teman sebangku Kayra ini. “Masuk kelas mana, Kay?” tanya Hafsa.

“Gue mah tetep di sini, MIA 2,” jawabnya sembari menggulir layar ponsel. “Lo?”

Hafsa mencebik sebal. “Di MIA 3. Nanggung banget.” Nama dia ada di urutan 29, sementara nama Kayra ada di peringkat 3 di kelas XII MIA 2.

Padahal Kayra dan Hafsa ini menempel mulu setiap hari. Kalau kata orang-orang sih ... kayak biji. Kemana-mana selalu saja berdua. Nggak bisa pisah. Pemantapan beberapa pekan lalu saja, mereka barengan. Duduknya juga semeja lagi. Hadeh.

Jangankan pemantapan di sekolah. Les di luar saja, mereka barengan.

Omong-omong, Kefin belum datang. Biasanya, sih, datang mepet-mepet bel. Atau kalau beruntung, datang barengan sama guru.

Bersamaan dengan itu, guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas. Anak-anak yang masih berhamburan mulai kembali ke kursi masing-masing.

Yang penting, di belakang beliau ada Kefin. Dia membawa setumpuk kertas, mungkin milik Bu Yanti. Kayra tidak mengerti kenapa dia selega ini.

Setelah menaruh bawaannya ke atas meja guru, Kefin mencium tangan Bu Yanti dan duduk ke tempat asal. Bu Yanti menduduki kursi guru, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh isi kelas. Begini kebiasaan Bu Yanti setiap masuk. Pasti beliau akan bertanya— “Lengkap semua?”

Nah, iya itu.

“Lengkap, Bu...!”

“Udah pada tau kelas PMnya masing-masing, kan? Besok udah mulai, loh,” ujar beliau sembari beranjak membagikan kertas soal latihan ke setiap meja.

Oh, astaga. Kayra belum melihat berapa nilai Kimia milik Kefin, juga di mana kelas PM cowok itu.

Tadinya Kayra menoleh ke meja Kefin ingin bertanya. Namun, begitu ditengok, Kefin sedang mendengus sebal.

Mood-nya sedang jelek, ya?

---

Tepat setelah Bu Yanti keluar kelas, Kayra menghampiri kursi Kefin. Dia bertanya, “Gimana nilai Kimia lo? PM dimana?” dengan raut berseri-seri.

Berbanding terbalik dengan Kefin, wajahnya ditekuk dalam-dalam. “Liat sendiri kan bisa,” ketus Kefin.

Dijutek begitu, alis Kayra menyatu. Lantas merogoh ponsel di saku rok, dan mencari nama Kefin. Lalu... nilai Kefin....

“Fin!” Kayra panik seketika. “Kok nilai lo jauh beda sama gue!?”

“Pikir lah, sendiri.”

Kayra terdiam. Dia nggak sekali-dua kali diginiin orang sekitar. Sudah biasa. Tapi kali ini, Kayra benar-benar menuruti Kefin untuk memikirkan alasannya sendiri.

Dia tertegun. “Lo... nggak ganti jawabannya, ya?”

Cepat-cepat Kefin menoleh. “Maksudnya gimana?”

“Lo tau sendiri... gue kurang teliti...,” lirih Kayra. Dia menelan ludah. “Setiap baru dapet LJK dan nemu jawaban, pensilnya nggak terlalu gue teken. Jadi..., gampang ngapusnya kalau mau ganti.”

Alis Kefin menyatu. “Intinya adalah, lo ganti jawaban tapi gue nggak tau?” tanya dia, tidak bermaksud memojokkan.

“I—iya..., gitu deh. Sorry, Fin.”

“Nggak.” Kefin menghela napas. “Salah gue, kayak bocah,” ungkapnya dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas. Senyum Kefin terukir. Tulus. “Maaf, Kay. Lain kali gue nggak bakal nyontek. Belajar bareng lagi, ya?”

Kayra ikut tersenyum. “Oke.”

“Oke.”

---

Masih ada waktu beberapa pekan lagi sampai waktu ujian tiba. Kayra dan Kefin memanfaatkan waktu tersebut sebaik mungkin untuk memperbaiki nilai mereka yang lumayan anjlok. Tidak ada waktu liburan bagi mereka.

Hari Sabtu tidak libur. Ada pemantapan di sekolah sampai sekitaran jam 10. Ba'da Zuhur ada les, kebetulan tempat les Kayra dan Kefin berdekatan jadi Kayra bisa menebeng.

Jarak antara selesai pemantapan sampai Zuhur, Kayra manfaatkan untuk belajar Matematika bersama Kefin. Juga, sekaligus mengajari Kefin beberapa materi Kimia.

Seperti saat ini, di kafe dekat sekolah langganan mereka. Hampir setiap hari datang ke sini, sekadar pesan minum, dan menetap berjam-jam dengan buku berserakan di atas meja. Hafsa nggak pernah ikutan, dia selalu belajar di rumah. Ibunya adalah mantan guru, jadi cukup memudahkan tanpa les banyak-banyak.

“Fin,” panggil Kayra. “Ajarin vektor tiga ruang, dong. Udah lupa, nih.” Bunyi seruputan minum menyusul kemudian.

Sedang mengerjakan soal Kimia dari soal UN tahun 2011, Kefin mendongak. Lantas melirik binder terbuka milik Kayra, menampakkan catatan materi vektor yang tidak seberapa itu. “Bukannya gampang?” tanya Kefin dengan sebelah alis naik.

Helaan napas Kayra terdengar. Kefin tuh gitu, ya? Kalimat 'bukannya gampang?' tuh selalu jadi andalan Kefin setiap Kayra minta diajarkan.

Dan jawaban Kayra selalu, “Sumpah, ya? Kalo menurut gue beneran gampang, gue nggak bakal minta ajarin lo, tau.” Sambil dalam hati menggerutu betapa sombongnya si Kefin ini.

Lalu Kefin tertawa. Setelah puas menertawakan, barulah Kefin beringsut mengambil catatan Matematikanya (kini selalu dia bawa kemana-mana) dan mencari materi vektor tiga ruang.

Juga, seperti biasa kalau sudah paham, Kayra akan mengatakan, “Alhamdulillah Kayra mengerti. Terima kasih, Pak Guru.” sembari menundukan kepala 45 derajat layaknya orang Jepang.

Jam sudah menunjukkan angka 12, adzan Zuhur baru terdengar di telinga mereka. Kalau sudah begini, tanpa suara, mereka akan menyusun buku-buku mereka dan memasukkannya ke dalam tas.

Terkadang Kayra masih sibuk menghitung. Tanggung, katanya. Pun Kefin akan tetap setia menunggu.

Barulah tepat setelah adzan selesai, Kayra mulai memasukkan alat-alat tulisnya ke tempat pensil. “Jadi gimana?” tanya Kayra, ini selalu menjadi rutinitas setiap selesai belajar bersama. Semacam mengevaluasi satu sama lain.

“Nilai ujian Matematika lo terakhir berapa?” Kefin bertanya, sembari mengeluarkan catatan kecil berisi nilai-nilai mereka. “Terakhir, nilai Kimia gue 86. Gimana menurut lo?”

Kepala Kayra otomatis mendongak dari gelas berisi Capuccino miliknya, dan mata cewek itu berbinar-binar. “Keren!” Dua jempol dia berikan untuk Kefin.

Kedua sudut bibir Kefin naik, dia tersenyum. “Makasih,” ucapnya tersipu malu.

“Muka lo merah, tuh!” Tawa Kayra menyembur. “Tapi beneran, deh, itu keren. Sebelum ini, nilai lo 82 kan? Masih banyak waktu buat ningkatin nilai lo lagi.”

Anggukan Kefin mengiyakan perkataan Kayra. “Kalau lo? Berapa nilai terakhir Matematika lo?”

“Delapan puluh empat.” Kayra cengar-cengir. “Lumayan loh, dari 81”

Senyum Kefin melebar. “Tapi inget, ya, perjanjian kita? Kalau NEM lo lebih rendah dari gue, lo harus traktir gue satu hari penuh. Ke Dufan, kan?”

“Iya, Kefin! Mana bisa lupa, sih, gue? Sebaliknya juga, loh.” Lantas Kayra memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan menggendongnya. “Ayo, cepet. Hafsa udah nungguin gue di tempat les.”

---

UN alias Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah, sudah selesai dilaksanakan beberapa hari lalu. Di depan mata sudah menunggu pengumuman kelulusan dan raport semester 6.

Kefin Fajrial
Hari ini
Jam 10
Jgn lupa

Kayra Zaida
Diem loooo
Brsk

Kefin Fajrial
Heh, ini gue sebagai
teman hanya mengingatkan

Kayra Zaida
Y serah
Gue mau lanjut tidur aja

Kefin Fajrial
2 jam lg loh

Kayra Zaida
:-)

Setelah mengetikkan balasan tersebut, Kayra mengunci ponsel dan membuka laptop. Berusaha tenang menunggu pengumuman kelulusan dan nilai NEM lewat web sekolah. Jarinya menggeser kursor kesana-kemari hingga menemukan folder khusus film. Gadis itu menghabiskan waktunya untuk menonton ulang film yang menurutnya sangat seru.

Hingga sampai film ke dua, baru saja sampai konflik cerita, ponsel Kayra sudah berisik minta ditengok. Telpon dari seseorang.

Yah, siapa lagi kalau bukan Kefin.

Kayra mengambil ponselnya tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop. “Halo, kenapa?” tanya dia membuka percakapan.

Widih! Santai banget, jir!” seru Kefin dari seberang. Jika Kayra memfokuskan pendengarannya pada suara Kefin, nampaknya Kefin juga tengah membuka laptop. Terbukti dari suara ketikan yang terdengar. “Udah liat belom?”

Tanpa perlu diperjelas, Kayra mengerti maksudnya. “Hm?”

Lagi nonton ya, lo?” Suara ketikan tersebut berhenti. “Gila lo, Kay. Berasa punya sekolah, nyelo banget. Bahkan gue rasa, yang punya sekolah juga nggak gini-gini amat.”

“Ah, ngomul.” Telunjuk Kayra bergerak menekan tombol space, menjeda filmnya sebentar. Kemudian jarinya bergerak membuka Chrome, menuju website sekolah, dan login dengan akunnya. Jantungnya berdegup tak karuan. Takut-takut meng-klik tulisan PENGUMUMAN NILAI NEM DAN KELULUSAN di salah satu sudut web. Kayra memasukkan tanggal lahir sebagai username dan NIS sebagai password. “Bismillah....”

Nama: Kayra Zaida
NIS: 16513
Tanggal Lahir: 3 Oktober XXXX

Nilai
Bahasa Indonesia 89,00
Bahasa Inggris 93,50
Matematika 91,75
Kimia 97,25
Total Nilai: 371,50

L U L U S

Praktis, Kayra menutup mulutnya. Teriak tertahan. Tak sadar bahwa Kefin masih di seberang sana, mendengar semuanya, mendengar gerak-gerik Kayra.

“Udah, Kay?” tanya Kefin, tak ayal dadanya pun berdebar. “Total lo berapa?”

Kayra tak bisa lagi menahan cengirannya. “371. Lo?” tanya Kayra balik.

Di seberang sana, Kefin mendecak kagum. Kemudian dia bilang, “Yaudah, besok siap-siap aja, ya. You won, I got 370,75.” Cengiran Kayra makin melebar saja mendengarnya. “Nggak usah bawa dompet dah, sekalian.”

Otomatis, Kayra meloncat kegirangan.

Tidak sia-sia. Tidak percuma mereka belajar mati-matian berdua saja. Rintikan hujan Bandung menjadi saksi bisu beberapa pekan ini.

Besoknya, mereka mendapat peringkat 10 besar nilai NEM tertinggi di sekolah.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com