BAB 1
Di pagi hari yang cerah ini Via sedang berada di balkon rumah, melihat burung-burung terbang kesana kemari dengan kedua sayap mereka yang indah, Via mengulurkan tangannya kedepan untuk memegang burung kecil yang baru saja hinggap di pagar balkon, ia mengusap dengan perlahan membuat burung tersebut nyaman dengan usapan kecil tersebut.
Setelah puas bermain dengan Burung kecil, Via lalu pergi ke dalam ruangan, membersihkan kembali ruangan tersebut yang belum sempat ia bersihkan tadi. Via melihat sekeliling, dan langsung menggelengkan kepalanya tak percaya dengan prilaku orang-orang yang tinggal di rumah ini.
Sebelum ia mengambil alat pembersih, ia melirik dahulu kakinya yang di perban. Lalu seringai muncul di bibir keringnya, sudah 5 bulan berlalu setelah kejadian tersebut.
Jika di ingat ingat kembali kejadian malam itu, membuatnya ingin tertawa seperti ada yang menggelitiknya, walaupun tak ada kejadian lucu di hari itu untuk di tertawakan tetapi entah kenapa membuatnya ingin terus tertawa.
Seperti orang yang telah kehilangan kewarasan, rasanya benar benar sangat gila. Via memegang perutnya dan menutup mulutnya dengan tangan, dia menahan tawanya yang mungkin sebentar lagi akan keluar dengan kencang.
Mengabaikan perutnya yang sakit karena menahan tawa, via lalu mengambil alat pembersih, dan langsung membersihkan ruangan tersebut dengan sedikit cepat.
.
.
.
.
Di siang hari Via sedang berada di kamarnya, kamarnya berada di ujung lorong penyimpanan yang tak terpakai, membuat dirnya setiap hari harus membersihkannya agar tak ada hewan-hewan penggaggu lainnya yang akan datang dan mengusiknya.
Via membaringkan tubuhnya di atas tikar sambil merenggangkan ototnya yang lelah, setelah merenggangkan ototnya Via melihat sekeliling kamar, mencari di mana komik kesayangannya. Via melihat buku komik yang berada di atas meja, ia langsung mengambilnya dan duduk bersila.
10 menit Via membaca dengan serius dan menghiraukan ketukan kecil di depan pintunya.
'krieet'
Pintu tua tersebut terbuka dan membuat suara sedikit mengganggu bagi Via, ia menoleh ke arah pintu tersebut dengan malas, seorang gadis seusia dirinya sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Membuat Via berdecak di dalam hati.
"Via aku membawa makan siang mu," ucap gadis tersebut dengan lembut.
Via bangun dari duduknya dan melangkah maju untuk mengambil makanan yang ada di tangan gadis tersebut.
"terima kasih Amelia," ucap Via selembut mungkin dan tersenyum sedikit."tak baik jika kau berada di sini terlalu lama cepatlah kembali Amelia, nanti kulitmu akan rusak jika terus berada di sini, dan jika kulit mu rusak kau tidak bisa pergi ke pemotretan dan nanti akan membuat tuan dan nyonya bersedih." lanjutnya.
"terima kasih atas perhatiannya Via, tapi aku baik baik saja, jadi bolehkah aku disini lebih lama lagi?."
Via langsung mengukir senyum simpul pada wajahnya.
"baiklah jika kau memaksa, masuklah" ucap Via.
Dia langsung menggeserkan tubuhnya ke samping agar Amelia bisa masuk ke dalam kamarnya.
Amelia melihat sekeliling kamar Via, seakan sedang menilai bagaimana rupa tempat yang di tiduri oleh Via, dan setelahnya mengangguk samar, wajah yang tadinya seperti bersahabat sekarang seperti mengejek, walau tak bisa di lihat dengan jelas karena sangat samar, tapi, jika melihatnya dengan teliti, wajahnya benar benar sedang mengejek.
'ck', via berdecih samar, inilah prilaku amelia setiap harinya, benar benar membuatnya muak.
'Buat apa dia bandingkan kamarnya dengan kamar ku?'. Via memutar matanya.
Memang ruang kamar Via sedikit lebih rapi di bandingkan ruangan lainnya. Itu karena Via selalu membersihkannya setiap saat. Beda dengan ruangan lainnya, walaupun selalu dibersihkan setiap hari, kamar- kamar tersebut tetap akan menjadi kapal pecah.
Itulah kenapa, setiap kali Via membersihkan ruangan lainnya, dia akan menggelengkan kepalanya. Karena Via Tak percaya kalau dia sedang hidup bersama dengan manusia.
Via menghembuskan napasnya dengan pelan dan sedikit menggelengkan kepalanya dengan samar. Via bersandar di dinding kamarnya sambil melipat tangan di dada, mengamati apa saja yang di lakukan oleh Amelia di kamarnya. Sedangkan nampan yang berisi makanan yang di bawa oleh Amelia tujuh menit yang lalu telah ia diamkan di atas meja dan belum di sentuh sedikitpun.
"kamar mu bagus juga ya, Via," ucapnya sambil membalikkan badannya ke arah Via berdiri.
Via tersenyum simpul sebagai jawabannya, tidak ingin ia menjawabnya dengan kalimat juga, karena saat ini suasana hatinya benar-benar sangat buruk.
"aku akan pergi ke kamar ku sendiri, makanlah yang banyak Via, dan kurangilah bergadang itu tidak baik untuk tubuhmu. oh iya Via, nanti malam jangan lupa ya untuk mengisi PR ku, " ucapnya sebelum menutup pintu.
Via mengorek telinganya seakan telinganya benar-benar gatal dan mengabaikan ucapan Amelia seakan angin lalu di pendengarannya.
Via mengambil nampan yang berisi makanannya di atas meja, dan berjalan menuju tikar yang sudah di gelar sedari tadi.
.
.
.
Pada malam harinya, Via sedang berada di kamarnya Amelia. Setelah di seret dengan paksa oleh Amelia, Via mau tidak mau harus mengerjakan PR yang benar-benar sangat menumpuk di atas meja. Tapi bersyukurlah Via mempunyai otak yang betul-betul sangat encer sehingga tugas-tugas tadi yang benar-benar sangat menumpuk sekarang lebih sedikit.
Via melirik dengar ekor matanya ke arah Amelia yang sedang bermain handphon sambil terkikik-kikik melihat layar handphonnya. Entah apa yang lucu sampai tawanya benar-benar sangat besar, dan mengganggu konsentrasi Via.
Pada saat Via ingin mengatakan pada Amelia untuk mengecilkan suaranya, dobrakan pintu di luar membuat Via mengurungkan niatnya. Via dan Amelia menghadap ke arah pintu yang telah di dobrak paksa oleh seseorang.
Dengan mata malas Via berdecak lalu membalikkan badannya menghadap semula. Orang yang mendobrak pintu tadi melangkah maju menuju Amelia yang sedang menatapnya juga.
Dan suara bising yang membuat Via jijik pun terdengar membuat seluruh tubuhnya merinding dan tidak nyaman dengan suara-suara yang mereka keluarkan.
Via cepat-cepat menyelesaikan tugas yang hampir selesai, dan dengan secepat kilat Via berdiri dari kursinya dan sedikit berlari ke arah pintu.
"Via, jangan lupa untuk menutup pintunya dan mematikan lampunya sebelum keluar", ucap Leo. orang yang mendobrak pintu dengan paksa delapan menit yang lalu.
Via tidak menjawab hanya melakukan apa yang Leo suruh. Dengan sedikit berlari Via menuju kamarnya sambil memeluk dirinya sendiri, berharap rasa jijik yang ia rasakan sekarang menghilang secepatnya.
"tidak apa, sebentar lagi semua ini akan berakhir Via," ucapnya pada dirinya sendiri sebelum memasuki ruang tidurnya.
Maaf kalau banyak typo :v
Tbc....
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com