Bagian 9
"Hai, Lyss..."
Alyssa menoleh, ia mendapati cowok berperawakan tinggi berjalan di belakangnya.
Agak aneh, ada orang lain yang memanggil dirinya dengan sebutan "Lyss." memang selama ini hanya sahabatnya yang memanggilnya dengan sebutan itu.
Alyssa tersenyum kaku, menatap Rafa yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Kamu anak Ipa 1 kan?"
Rafa menatap datar wajah Alyssa. Keduanya kini berjalan menuju kantin.
"Oh iya, kenapa?"
Alyssa bingung, bukannya kemarin Rafa berbicara 'Lo gue' kepada Alyssa.
"Heh, mau sampai kapan lo ngelamun!"
Lamunan Alyssa buyar. Ia melihat siswa-siswi berlalu-lalang meninggalkan kantin.
"Rafa mana?"
Alyssa celangak-celinguk. Mencari keberadaan Rafa, bukannya tadi gue ke sini bareng Rafa?
"Lyss, Lyss, belum sarapan ya lo?"
Ken menyeruput jus mangganya. Tangannya bergerak-gerak diatas kalkulator kecil yang ia bawa. Entah apa yang sedang ia hitung.
"Bukannya tadi... "
Alyssa menepuk dahinya. Oh iya, Rafa kan sudah pamit mau ke lapangan futsal. Kok aku kepikiran terus sih.
"Udah inget? Sampe temen sendiri dicuekkin."
Alyssa melengos saat dilihatnya Ken memajukan bibirnya, persis seperti cewek ngambek.
***
Rafa meregangkan kedua tangannya. Setelah pergi dari lapangan futsal, ia diseret Kak Dion. Hingga akhirnya duduk di sofa abu-abu ruang guru.
"Yon, kamu ambil gorengan sama es teh dulu ya di kantin mbak Kiki, tadi saya sudah pesen."
"Oke Pak, laksanakan." Dion, cowok yang menjabat sebagai ketua osis SMA Angkasa itu menerima dua lembar uang sepuluh ribuan dari tangan Pak Juna--pembina osis.
"Oh iya Raf, kamu sudah yakin mau daftarin diri jadi osis? Bapak rasa kamu ini orangnya cuek ya, tapi saya yakin kamu punya karisma yang kuat."
Pak Juna, lelaki berseragam batik itu menepuk kuat pundak Rafa. Memberi semangat pada cowok jangkung yang kini duduk di sampingnya.
Ponsel Pak Juna bergetar. Membuat guratan senyum tangguhnya terhenti.
"Bapak keluar dulu, sebentar, kamu di sini saja, tunggu Dion."
Hari ini kabarnya rapat kembali diadakan, dan alhasil selama satu jam kedepan mungkin jam pelajaran kosong.
Rafa membuka majalah bersampul hijau tua di hadapannya.
"Taruh sini aja Zid, makasih ya udah mau bantu."
Dua buah piring berisi gorengan dan tiga gelas es teh bertengger manis di atas meja.
"Loh, kok cepet bang-"
Rafa yang hendak membuka suara tiba-tiba bungkam.
"Iya, Zidan bantuin gue nih!"
Kak Dion menunjuk Zidan yang tengah berdiri di belakangnya.
Zidan kaku.
Rafa ... tegang.
***
"Oke, kalau lo butuh gue, silakan hubungi gue, oke, manis?"
Kiran, cewek itu memberengut kesal.
Ia melihat punggung Sabina yang mulai menjauh. Cewek cantik yang sering dibangga-banggakan itu ternyata tidak lebih dari ketua geng pembully.
"Ngapain juga gue nelpon lo, yang ada gue makin enek."
Sabina, cewek yang tidak sengaja Kiran tabrak tadi ternyata tidak tinggal diam. Umpatan dan tatapan tajamnya menusuk hati Kiran.
"Nggak punya sopan santun?" tegur Sabina. Cewek tomboy itu memiringkan kepalanya dan memegang dagu Kiran.
"Lari-lari nggak jelas, kalo gue jatuh gimana? Mau ganti baju mahal gue?"
"Iya maaf Bin, gue kan bur-"
"Nggak usah belagu, sok polos, pake acara ngeles lagi."
"Untung nggak gue kejemin lo!"
"Emang dia berani apa, macem-macem." Kiran menggelengkan kepalanya beberapa kali, pihak sekolah pasti tidak akan membiarkan hal semacam bullying atau kekerasan terjadi di sekolah.
"Eh, bukannya... "
Kiran berhenti. Ia menatap pantulan wajahnya di kolam ikan sekolah.
Masa iya dia anak kepala sekolah?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com