4. Interview

Sejauh ini wawancara bisa dikatakan berjalan lancar meski beberapa kali aku mengeluarkan suara-suara aneh akibat kegugupanku. Aku benar-benar tidak percaya bahwa kemampuan bicaraku menghilang begitu saja tepat ketika berhadapan dengan seorang Louis Tomlinson.
"Baiklah, ini pertanyaan terakhir, apa rencana klub futsal setelah ini? Apa ada semacam acara yang hendak digelar atau lomba lain yang hendak diikuti?" tanyaku sambil berpura-pura membaca jurnal yang kubawa demi menghindari kedua bola mata Louis. Aku bisa semakin gugup jika melihat benda itu.
"Aku tidak begitu yakin tapi mungkin kami akan menyelenggarakan semacam private party untuk mengucapkan salam perpisahan dengan pemain senior yang sebentar lagi akan disibukkan dengan urusan universitas dan akan lulus. Kami juga akan segera mengikuti perlombaan lainnya yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan," kata Louis, dari sudut mataku aku bisa melihat dia mengumbar senyumannya seolah-olah tengah ada kamera di hadapannya padahal aku hanya sesekali memgambil fotonya untuk ditaruh di majalah dinding nanti--dan mungkin juga untuk keperluan pribadi.
"Oke, terima kasih sudah meluangkan beberapa menitmu untuk wawancara ini," kataku, memberanikan diri untuk mengangkat kepala dan melempar senyum padanya.
"Bukan masalah besar, lagipula aku butuh sedikit istirahat, mengajari para freshman sungguh melelahkan."
"Aku bisa melihatnya," sahutku sambil mengangguk-angguk.
Louis tertawa kecil. "Sekarang bolehkah aku bertanya?"
Sambil mengangkat kedua alisku, aku menjawab, "apa? Silakan saja."
Louis mencondongkan tubuhnya, membuatku secara reflek memundurkan tubuhku. Jantungku dibuatnya berdetak lebih cepat dibanding sebelumnya. Cowok ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungku.
"Apa yang kau lakukan pada laptopku? Kau membukanya bukan?"
Eh, dia tahu? Tapi bagaimana bisa? Kupikir aku sudah sangat baik menutupi satu fakta itu.
"A-apa maksudmu? A-aku sama sekali tak me-menyentuh laptopmu."
Astaga mulut! Kenapa kau benar-benar tak dapat diajak bekerja sama?!
Louis mengangkat alisnya, jelas-jelas dia tidak bisa menerima jawabanku begitu saja. "Sungguh?"
Aku mengangguk dengan cepat. Kurasa aku benar-benar buruk dalam hal berbohong.
"Ah, sudahlah!" gumam Louis, dia kemudian memundurkan tubuhnya membuatku dengan segera kembali ke posisi duduk yang baik dan mengeluarkan napasku yang secara tak kusadari kutahan.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak, lupakan! Aku memiliki satu pertanyaan lagi untukmu."
Aku memiringkan kepalaku. "Apalagi?"
"Apa kau kosong hari Sabtu ini? Seperti tidak memiliki jadwal apapun?"
Dia tidak baru saja menanyakan hal itu bukan?!
-
"Ada apa dengan senyuman itu?" tanya Rebecca, dia adalah sepupuku yang untuk beberapa hari kedepan terpaksa menginap di rumahku akibat ibunya yang memiliki pekerjaan di luar kota. Dia sebenarnya bisa tinggal di rumahnya sendirian mengingat dia satu tahun lebih tua dibandingku, tapi seperti ibu lainnya, ibunya merasa khawatir secara berlebihan dan tidak mempercayai Rebecca untuk sendirian di rumah tanpa membuat rumah itu terbakar.
Aku bisa mengerti mengapa Wendy berpikir bahwa meninggalkan Rebecca sendirian sama dengan mimpi buruk. Dua tahu yang lalu, Rebbeca hampir membuat rumah mereka dipenuhi oleh air padahal jelas-jelas saat itu musim panas dan tidak sedang hujan. Rebecca juga membuat dapur menjadi berantakan karena gagal membuat sup. Dia juga hampir membakar rumah karena lupa bahwa dia menyalakan microwave. Kesimpulannya, Rebecca bukan calon ibu rumah tangga yang baik.
"Aku hanya sedang bahagia."
Rebecca menyipitkan matanya seolah tengah menganalisis sesuatu. "Ini seperti bukan dirimu."
"Apa aku tidak boleh bahagia?"
"Oh, sayang, tidak ada orang di dunia ini yang tidak boleh bahagia, hanya saja, senyumanmu itu begitu menakutkan dan biasanya kau tidak tersenyum seperti itu."
Aku mengangkat kedua bahuku. "Terserah."
Pernyataan Louis setelah sesi wawancara benar-benar berhasil membuatku bahagia. Sejak tadi aku tidak berhasil mengontrol senyumanku agar tidak terlalu lebar. Tapi, setelah aku memikirkannya, ini bukanlah hal yang aneh, maksudku, siapa orang yang tidak senang ketika seseorang yang disukainya mengajak kencan? Jika memang ada orang semacam itu, orang itu jelas bukan aku.
"Katakan ada apa!" kata Rebecca, dia membenturkan lengan kirinya dengan lengan kananku membuatku hampir terjatuh dari kursi.
"Sudah kukatakan aku hanya sedang bahagia."
"Sudahlah katakan saja! Aku tahu sesuatu tengah terjadi."
"Baik, aku menyerah! Aku baru saja diajak kencan oleh seseorang yang kusuka."
Wajah Rebecca terlihat langsung cerah. "Kau diajak kencan?! Astaga akhirnya! Aku tahu itu! Aku tahu bahwa kau akan diajak kencan oleh seorang cowok, hanya tinggal menunggu waktu. Dan apa? Seseorang yang kau suka? Jadi kau tengah menyukai seseorang dan memutuskan untuk tidak mengatakan apapun soal itu? Sekarang, ayo katakan siapa cowok yang sialnya tidak beruntung itu? Hmm ... biar kutebak, pasti Ray si anak jurnalistik bukan?"
Kepalaku terasa cukup pusing mendengar Rebecca mengucapkan semua hal itu dengan tempo cepat. Inilah Rebecca jika tengah excited dan aku membenci itu.
Aku menghela napas. "Bukan Ray."
"Lalu siapa?"
"Baiklah, akan kuberi tahu tapi jangan berani-berani untuk mengatakan ini pada teman-temanmu."
Rebecca membuat gerakan seolah dia tengah menarik zipper pada mulutnya. "Kau dapat memegang ucapanku, aku tidak akan mengatakan pada siapapun."
Aku mengangguk. "Pintar. Yang mengajakku kencan adalah Louis," kataku sambil bergaya kasual seolah-olah Louis mengajakku kencan bukanlah hal yang besar padahal sejak tadi sesuatu dalam diriku tengah menari-nari kesenangan.
"Louis? Bukan Ray?"
"Aku berkata seseorang yang kusuka mengajakku kencan dan Ray jelas bukan orang yang kusuka."
Rebecca mengedipkan kedua matanya, ekspresi kebingungan nampak jelas pada wajah cewek itu. Dia memandangku seolah tengah berusaha mengatakan sesuatu namun bibirnya terkatup rapat.
"Ada apa?"
Rebecca menggeleng.
"Katakan saja!"
"Ugh, ini seharusnya rahasia tapi Ray kemarin berkata padaku bahwa dia akan mengajakmu kencan jadi kupikir dia akan mengajakmu hari ini. Kurasa Ray kalah start."
"Meskipun Ray lebih cepat dari Louis aku juga tidak akan mau berkencan dengannya."
"Jadi, kau sama sekali tidak menyukai Ray?"
"Sama sekali tidak," jawabku seraya menggelengkan kepalaku mantap.
[-][-][-]
Draft bab ini hampir hilang tp balik lagi. :" rasanya leeeegaaaa banget. :""
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com