Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Dodici

Kim Doyoung berusia delapan tahun ketika kecelakaan beruntun itu terjadi, insiden yang menewaskan semua anggota keluarganya.

Menjadi satu-satunya korban selamat sedangkan kedua orang tuanya meninggal di tempat dan jasad kakaknya tidak dapat ditemukan di mana-mana.

Dengan luka cukup parah di kepala, ia dilarikan ke rumah sakit anak yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Doyoung kira ia akan terus hidup sendirian, sampai beberapa minggu kemudian, kakaknya yang sempat dianggap hilang mendadak datang ke rumah sakit tempatnya dirawat, dengan wujud sedikit berbeda dari yang ada di ingatan.

Junkyu bilang kini ia bukan manusia.

Dengan umur yang terpaut enam tahun, membuat Doyoung menjadikan Junkyu sebagai panutan. Kakaknya selalu terlihat menakjubkan, memiliki banyak teman, otak yang cemerlang, sungguh cerminan anak kesayangan. Doyoung tidak iri, ia malah ingin ikut memberi Junkyu dorongan agar menjadi kakak yang lebih membanggakan.

Dan Doyoung tahu bahwa ucapan kakaknya benar adanya karena di dunia ini, Kim Junkyu adalah orang yang paling ia percaya.

Maka saat dua orang yang ikut serta di belakang berkata bahwa Doyoung akan dijadikan bagian dari mereka, Doyoung berkata iya.

Itu adalah keputusan pertama yang Doyoung ambil setelah kehilangan kedua orang tua kandungnya.

Masih dengan Junkyu yang senantiasa menemaninya.


***

Junghwan sudah bangun sejak tadi, entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini, dan ia rasa firasatnya benar karena apa yang Doyoung lakukan begitu membuka pintu kamar membuatnya kebingungan.

"Hey, what's wrong?" Tanyanya dengan nada panik. Ini adalah kali pertama Junghwan melihat Doyoung menangis bukan karena tingkah konyol yakni terlalu banyak menghisap darahnya dan berakhir membuat Junghwan pingsan.

Tangisan Doyoung masih belum berhenti, Junghwan mulai pegal karena terus berdiri dengan Doyoung yang memeluk erat tubuhnya.

Entah apa yang terjadi di rumah sakit hingga kekasihnya pulang dengan keadaan seberantakan ini, Junghwan bahkan hampir menjemput Doyoung tadi karena ia tidak kunjung pulang walau matahari hampir terbit.

Doyoung akhirnya menarik diri dari pelukan Junghwan, mengusap wajahnya kasar lalu menatap kekasihnya dengan mata paling menyedihkan.

"Sayang... kenapa? Ada yang jahatin?" Tanya Junghwan dengan nada lembut, seolah ia sedang mengajak anak berumur enam tahun bicara.

Air mata Doyoung masih belum berhenti mengalir, ia benar-benar tidak dapat membayangkan bahwa setelah ini, dirinya harus menjauh dari Junghwan.

Jauh dalam artian sesungguhnya, tidak lagi berhubungan karena jika orang tuanya tahu perihal hubungan mereka, maka sesuatu yang buruk pasti akan terjadi tanpa dapat dihindari.

Selama ini Doyoung menghabiskan waktu di sekitar manusia karena memang ingin berbaur dengan mereka, ia bukan vampire yang dilahirkan, melainkan sengaja dibuat karena hampir mati saat kecelakaan tiga belas tahun lalu.

Namun jika kabar bahwa ia menjalin hubungan dengan manusia ini sampai ke telinga para vampire lainnya, bisa dipastikan Junghwan akan mereka anggap sebagai ancaman.

Doyoung tidak ingin Junghwan mati karena ulahnya.

Memang seharusnya sejak awal ia langsung menjauh begitu Junghwan masuk ke asrama dan berkata bahwa ia adalah teman sekamarnya.

Seharusnya Doyoung menuruti perintah kakaknya.

Memikirkan itu semua membuat air mata kembali mengalir di pipinya, ia sangat mencintai Junghwan bahkan mencapai titik di mana ia membayangkan apa jadinya kalau dirinya juga masih manusia.

Junghwan kembali menarik Doyoung ke dalam pelukan, mengusap punggungnya berulang kali sambil menerka dalam hati sebenarnya apa yang terjadi di rumah sakit hingga Doyoung-nya sesedih ini.

Tangis Doyoung terdengar begitu menyedihkan di telinga, membuat Junghwan tanpa sadar ikut menangis bersama. Doyoung terkejut saat merasakan basah di bahunya, ia kembali melepas pelukan dan panik ketika melihat mata basah Junghwan,

"Kenapa kamu nangis juga?" Tanya Doyoung diikuti isak di tiap kata yang keluar.

Junghwan terkekeh pelan, "Kamu abisnya nangis terus, aku ikut sedih." Jawabnya sambil tersenyum.

"God." Masih dengan tangis yang belum berhenti, kedua tangan Doyoung menangkup wajah Junghwan, mengusap pipinya dengan ibu jari. "Stop crying, I'm sorry..." Lanjutnya lagi.

"Kenapa minta maaf? Aku sedih karena kamu sedih, and it's normal since we loved each other."

Love... andai Junghwan tahu bahwa kata itu dapat membunuhnya kapan saja.

"Mind to explain what happened? Atau mau mandi dulu?"

Kepala Doyoung mengangguk, ia mengatur napas sebelum mengecup sebelah pipi Junghwan. "Aku mau mandi, kamu sarapan dulu, tadi aku beli makanan di kantin rumah sakit." Jawabnya sambil melepas tas dan mengeluarkan kotak makan yang sengaja ia beli untuk Junghwan.


***

Kini keduanya berbaring dengan nyaman di atas ranjang yang entah sudah berapa lama sengaja mereka satukan. Dengan kepala di atas lengan Junghwan, tangannya tidak berhenti menyusuri sisi wajah kekasihnya, netra Junghwan otomatis tertutup ketika Doyoung mengusap matanya yang sedikit bengkak dengan ibu jari.

"Mulai besok aku tinggal di rumah Kak Junkyu." Doyoung akhirnya bicara, Junghwan mengangguk karena ia tahu ini akan terjadi.

Mereka tidak mungkin terus bersama, tiga bulan ini juga mereka seakan dikejar waktu karena cepat atau lambat, orang tua Doyoung akan kembali ke Korea.

"Kamu jaga diri baik-baik, jangan sering telat bangun, jangan kelamaan di rumah sakit juga." Lanjut Doyoung lagi.

Sebelah tangan Junghwan meraih jemari Doyoung yang masih betah di wajahnya, membawa yang lebih kecil untuk masuk ke dalam genggaman.

Sensasi dingin ketika menyentuh kulit Doyoung ini pasti akan ia rindukan.

"Kita masih bisa ketemu di rumah sakit, kan?" Tanya Junghwan, ia dapat melihat bagaimana Doyoung menatapnya dengan raut penuh kesedihan.

Junghwan tersenyum ketika Doyoung mengangguk sebagai jawaban, "Yaudah jangan sedih terus, nanti kita samain jadwal." Ucapnya berusaha memberi ketenangan.

Dua bulan, Doyoung hanya memiliki waktu dua bulan sampai koasnya selesai, dan setelah itu Junkyu pasti akan membawanya menjauh dari Junghwan. Tiga bulan yang mereka jalani saja terasa begitu singkat, bagaimana bisa Doyoung menikmati masanya bersama Junghwan ketika waktu terus berjalan dan seakan memaksa memisahkan?

"Bukannya koasmu masih belum selesai? Kenapa tiba-tiba pindah?" Tanya Junghwan setelah berpikir berkali-kali, dan ia rasa ini saat yang tepat untuk bertanya karena dirinya hanya tidak ingin menerka-nerka, lebih baik mendengar jawaban langsung dari mulut kekasihnya.

"Orang tuaku pulang ke Korea, dan Kak Junkyu mau aku netralin bau sebelum ketemu mereka." Doyoung menjawab jujur, toh ia juga tidak ingin Junghwan berpikir aneh tentang dirinya, karena kalau diberi pilihan pun Doyoung lebih berkenan untuk tetap tinggal bersama Junghwan.

"Bau?"

"Iya, bau manusia, bau kamu lebih tepatnya."

Junghwan mengangguk paham, "Aku kira kamu mau pindah karena orang tuamu galak dan gak mau kamu bergaul sama manusia."

"Mereka gak sejahat itu, aku gak mungkin dipaksa kuliah kedokteran kalo gak boleh bergaul sama manusia. Tapi mereka pasti marah kalo tau soal hubungan kita."

Tanpa sadar air mata kembali menggenang di sudut matanya, bibir Doyoung merengut maju, ia siap menangis sekarang juga sampai tiba-tiba Junghwan mengecup kedua matanya dengan lembut. "Jangan nangis lagi. Kamu kan besok udah gak tinggal di sini, masa mau nangis seharian?"

Bukannya menjawab, Doyoung malah merapatkan pelukan, ia menenggelamkan wajahnya di leher Junghwan, berusaha menghirup bau yang membuatnya mual di awal namun kini selalu ia rindukan.

"Sekarang kamu tidur dulu, nanti aku bantu packing sebelum berangkat kerja."

Doyoung menurut, ia mencari posisi yang nyaman di pelukan Junghwan, sementara tangan kekasihnya terus bergerak di punggungnya, mengusapnya berulang kali sembari bersenandung pelan.

Dalam beberapa jam, Doyoung pasti akan merindukan kehadiran Junghwan.

***

Doyoung terus menangis bahkan hingga ia masuk ke dalam mobil, untungnya kakaknya tidak protes karena ia tahu apa yang sedang adiknya rasakan.

Dipaksa berpisah oleh orang yang dicintai terasa begitu menyakitkan, Junkyu pernah berada di fase yang sama beberapa tahun lalu, dan berakhir mengenaskan karena Park Jihoon, kekasihnya itu mati mengenaskan di depan matanya.

Junkyu bahkan tidak sempat mengubahnya menjadi vampire, membuatnya menyesal hingga saat ini dan ia tidak ingin adiknya merasakan hal serupa.

"Udah pamit, kan?" Tanya Junkyu, dan Doyoung mengangguk.

Pamit yang dipenuhi air mata, Junghwan bahkan mengantarnya hingga depan gerbang asrama namun tangan yang saling menggenggam itu seakan enggan terlepas. Doyoung juga membawa beberapa helai pakaian Junghwan, persetan dengan bau yang terus mengikuti, ia hanya ingin merasakan kehadiran kekasihnya walau mereka tidak lagi tinggal bersama.

Mereka berjanji akan terus bertemu di rumah sakit dan tidak pulang sebelum melihat wajah satu sama lain.

Sungguh bagai remaja yang dimabuk cinta.

Namun siapa yang menyangka? Bahkan pemilik asrama pasti kaget saat tahu dua orang yang selalu bertengkar itu malah memutuskan untuk menjalin hubungan.

Doyoung langsung masuk ke kamar saat ia sampai ke rumah Junkyu yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit, tidak menghiraukan kakaknya yang kerepotan membawa beberapa barang miliknya dari bagasi.

Setidaknya Junkyu juga harus menderita, bukan Junghwan dan Doyoung saja.

Ia meraih ponsel yang sejak tadi ada di kantong kemeja, berniat menghubungi Junghwan yang mungkin sudah berangkat kerja, dan dirinya hampir melompat kegirangan begitu mendengar suara kekasihnya dari ujung panggilan.

"Halo, Dokter Kim?"

Doyoung tersenyum tanpa sadar, Junghwan pasti sedang berjaga sekarang.

"Kamu udah di rumah sakit?" Tanyanya.

"Iya Dok, saya masih di sini."

Senyum Doyoung makin lebar, ia lalu mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru.

"Tadi aku lagi sama Yujin, bisa digantung kalo dia tau aku malah angkat telfonmu." Suara Junghwan terdengar samar karena ia bicara dengan nada pelan.

"Kamu udah di rumah Kak Junkyu?"

"Udah, baru sampe."

"Yaudah langsung istirahat, jangan lupa minta makan, sumber makananmu kan jauh sekarang."

Doyoung tertawa, Junghwan memang selalu berhasil menghiburnya, tidak peduli sejauh apapun jarak mereka.

Rasanya mereka baru bicara sebentar namun tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar, Kim Junkyu muncul dengan wajah panik dan berjalan lurus ke arahnya.

"Ada Mama di depan." Ucapnya sambil membuka lemari, mencari baju Doyoung yang lama ia tinggal dan meminta adiknya untuk berganti pakaian.

"Cepet ganti baju." Perintahnya, dan Doyoung menurut lalu memutus panggilan dengan Junghwan tanpa sempat berpamitan.







...

ini tuh konfliknya lumayan berat tau (iyalah anjay masa dikasih yang ringan, pasangan kayak mereka mah harus disiksa!!!)

tapi jangan sedih, tetep happy ending kok.






Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com