Sette
Tangan Junghwan yang bebas mulai bergerak, mengusap pelan lengan pemuda yang duduk di sebelah ranjangnya. Kedua bahu Doyoung bergetar, tangis menyedihkan keluar dari mulutnya, Junghwan dan Yujin jelas kebingungan dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Kenapa?" Yujin berbisik, Junghwan mengangkat bahu karena ia juga tidak tahu.
"Jangan nangis, kan bukan salah lo." Ucap Yujin kemudian dan disambut dengan anggukan Junghwan.
"Iya, gue gapapa kok." Tambah Junghwan, tangannya mulai turun ke punggung Doyoung lalu menepuknya perlahan.
Bukannya berhenti, tangis Doyoung justru makin keras, menggema di ruang IGD yang untungnya tidak terlalu ramai. Junghwan akhirnya bangkit, duduk di atas ranjang sebelum menarik tubuh Doyoung untuk dibawa ke dalam pelukan.
Junghwan hampir tertawa begitu merasakan kedua tangan Doyoung juga ikut melingkar di tubuhnya, laki-laki itu masih menangis tapi kini suaranya tertahan karena ia menenggelamkan wajahnya di dada Junghwan.
"Cup cup cup... udah jangan nangis terus." Bisik Junghwan sambil mengetuk-ngetukkan dagunya yang ada di atas kepala Doyoung.
Siapapun tolong tahan Yujin agar tidak muntah sekarang juga, ia mual melihat pemandangan yang begitu indah di hadapannya.
"Gue balik jaga, kabarin kalo infusan lo udah abis." Ucap Yujin pada akhirnya setelah menepuk bahu Junghwan lalu berjalan keluar.
Kini keduanya diam, suara tangisan Doyoung menjadi satu-satunya latar belakang di ruang IGD yang sepi, siapapun yang lewat pasti mengira bahwa di ruangan ini ada pasien yang baru meninggal karena tangis Doyoung yang enggan berhenti.
"Semuanyasalahgueandaiguegakhisapdarahloandaiguebisatahannafsuandailogakadadideketgueterusterusaninisemuagakakankejadian." Ucap Doyoung dalam satu tarikan napas.
Entah efek baru sadar dari pingsan atau memang ucapan Doyoung yang tidak jelas, Junghwan tidak paham satupun kalimat yang keluar dari orang di pelukannya.
"Hah? Lo ngomong apa?"
Namun Doyoung malah menggeleng, melepas pelukan lalu menarik diri dari dekapan Junghwan. "Gapapa, shift lo kelar jam enam, kan?"
Junghwan mengangguk.
"Gue absen balik dulu supaya nanti bisa nganterin lo ke asrama, gue ke atas bentar ya.
Dan Junghwan lagi-lagi hanya mengangguk, sedikit kebingungan karena masih belum mencerna sebenarnya hal apa yang terjadi dengannya di gudang? Dan mengapa Doyoung sangat merasa bersalah hingga menangis keras sampai berniat menemaninya pulang?
Bukankah Doyoung menghindari Junghwan akhir-akhir ini hingga ia keluar dari asrama?
Entahlah, kepala Junghwan masih belum dapat dipakai berpikir jauh, ditambah lehernya terasa nyeri entah karena apa sejak ia bangun tadi.
Junghwan hampir terlelap sampai tiba-tiba tirai yang membatasi ranjangnya dengan brankar lain tersingkap, menampakkan sosok yang sangat ia nantikan.
Kim Doyoung.
Bahu yang sebelumnya bergetar karena tangis kini dipenuhi oleh dua tas yang ia sampirkan, Junghwan hapal betul bahwa yang satu adalah miliknya. Wajah Doyoung juga nampak lebih segar dibanding terakhir kali.
Satu sisi bibir Doyoung terangkat begitu melihat kantong infus yang hampir kosong, ia berjalan ke samping Junghwan, dengan cepat namun sangat hati-hati melepas jarum yang menancap di sana hingga tidak menimbulkan sakit sama sekali, ingatkan Junghwan untuk meminta Doyoung mengajarkannya nanti.
"Butuh gue ambilin kursi roda, gak?"
Pertanyaan Doyoung membuat Junghwan tertawa, "Gak usah, gue udah gapapa." Jawabnya.
Junghwan perlahan turun, sementara Doyoung mengawasinya dari samping dengan kedua tangan terbuka, seakan siap menangkap jika Junghwan terjatuh kapan saja.
Dan kini keduanya berjalan di lorong rumah sakit yang mulai sepi, Doyoung berkata bahwa ia sudah mengabari Yujin dalam perjalanannya menuju loker karyawan, sekaligus meminta izin jikalau besok kondisi Junghwan masih belum baik untuk bekerja.
Sangat beruntung karena Yujin dengan mudahnya berkata iya.
"Sini tas gue."
"Gak usah, biar gue yang bawa."
Junghwan menghela napas, di bahunya malah tersampir snelli milik Doyoung, laki-laki manis itu meminta Junghwan memakainya agar tidak kedinginan.
Tubuh Junghwan memang masih lemas, Dokter bilang ia kelelahan dan dehidrasi hingga dirinya pingsan saat tertidur sore tadi, padahal seingat Junghwan, ia mengonsumsi cukup cairan selama bekerja.
"Pelan-pelan jalannya," Junghwan menarik sebelah tangan Doyoung yang langkahnya sangat cepat di depan.
Doyoung menoleh, membasahkan bibirnya yang mendadak kering dengan lidah sebelum berdiri di sebelah Junghwan dan berjalan lebih pelan.
Biasanya hanya butuh lima menit bagi Doyoung untuk sampai ke asrama dengan berjalan kaki, namun Junghwan butuh lebih dari tiga kali lipatnya karena langkahnya memang tidak secepat itu.
Berulang kali Doyoung menelan ludah karena jarak mereka yang terlalu dekat, ia bahkan dapat menghirup bau Junghwan dengan jelas, bau yang membuat nafsunya menjadi tidak terkendali dan berakhir menghisap darah manusia itu berkali-kali.
Doyoung bahkan membuat Junghwan pingsan karena kekurangan darah, untungnya ia berhasil mengarang cerita hingga dokter yang memeriksa Junghwan tidak curiga.
"Lo bakal tidur di asrama kan?" Tanya Junghwan tiba-tiba.
"Iya, gue nginep semalem aja kayaknya."
"Kenapa cuma semalem?"
"Mmm... berkas laporan gue kan masih ada di rumah Kak Junkyu." Jawab Doyoung asal karena sebenarnya, semua keperluan ia simpan di tas kerja yang sekarang ia bawa.
Junghwan mengangguk, enggan memaksa karena merasa Doyoung terus memberi jarak di antara mereka.
Namun kini, dengan tangan yang saling bertaut, Junghwan merasa mereka mulai dekat dan itu membuatnya bahagia.
***
"Gue mau ngerjain sesuatu, lo tidur duluan aja. Obatnya udah diminum juga kan?" Tanya Doyoung yang kini duduk di kursi meja belajar, namun masih menghadap Junghwan yang malah bergerak gelisah di atas ranjang.
"Gue takut deh."
"Takut kenapa?"
"Gue ketindihan terus akhir-akhir ini."
"Gapapa, jangan takut, ada gue."
Padahal Doyoung adalah makhluk yang membuat Junghwan ketakutan.
"Lo bisa gak ngerjain tugasnya di sini aja?" Ucap Junghwan sembari menepuk sisi kosong kasur.
Ranjang mereka memang cukup luas, rasanya masih cukup untuk ditempati dua orang. Doyoung menimbang dalam hati sebelum akhirnya bangkit, meraih meja lipat milik Junghwan lalu membentangkannya di atas ranjang.
Junghwan bergerak ke sisi pojok, membiarkan Doyoung meletakkan laptop serta beberapa kertas ke atas meja.
"Gini? Lo gak kesempitan kan?" Tanyanya, dan Junghwan menggeleng pelan.
Doyoung pikir Junghwan akan langsung tidur, namun laki-laki itu justru terus memerhatikannya yang sibuk membuat laporan. Telunjuk Junghwan bahkan sesekali mengetuk paha Doyoung, ia bosan karena teman sekamarnya terus diam sejak tadi.
Apa gunanya dia di sini kalau begitu?
"Ngobrol dong." Ucap Junghwan tiba-tiba.
"Tidur, lo butuh istirahat." Jawab Doyoung tanpa mengalihkan atensi dari layar.
Junghwan hampir merajuk. Namun perlahan, tangan kirinya yang bebas bergerak ke arah Junghwan, mengusap rambutnya dengan lembut karena seingat Doyoung, gerakan ini ampuh untuk membuat orang terlelap. "Tidur, lo gak akan kenapa-kenapa." Ucapnya dengan suara pelan, lebih terdengar seperti bisikan.
Junghwan tersenyum, jantungnya berdegup tidak karuan begitu ibu jari Doyoung mengusap keningnya sesekali. Rasanya nyaman dan Junghwan paham betul arti dari respon tubuhnya atas sikap manis Doyoung saat ini.
"Jangan kayak gini." Racau Junghwan yang hampir masuk ke alam mimpi.
"Mhm?"
"Sikap lo... jangan kayak gini."
"Kenapa?" Tanya Doyoung heran, bukankah tadi Junghwan yang memintanya untuk menemani?
"Nanti gue makin naksir."
Usapan Doyoung berhenti, ia menoleh dan memandang Junghwan yang kini terlelap sepenuhnya.
Kim Junkyu benar, Doyoung memang tidak seharusnya berada dekat dengan Junghwan, karena ia sadar bahwa dirinya juga memiliki perasaan yang sama.
***
"Pulang sekarang."
"Gak bisa. Junghwan sakit, aku gak mungkin ninggalin dia sendirian."
"Sakit kenapa? Karena kamu yang terlalu banyak hisap darahnya kan? Pulang."
"Besok, besok pagi aku pulang."
"Kim Doyoung―"
Junkyu belum selesai bicara namun Doyoung buru-buru memutus panggilan, ia bersumpah akan meminta maaf pada kakaknya nanti. Namun untuk saat ini, dirinya masih ingin berada di samping Junghwan, setidaknya hingga kondisi Junghwan membaik.
"Siapa?" Suara Junghwan mengejutkan Doyoung yang berdiri di depan pintu kamar mandi, ia menggeleng lalu kembali melangkah ke tempatnya.
"Kakak gue." Jawab Doyoung singkat, dirinya kembali naik ke atas ranjang, berniat menyelesaikan laporan sebelum matahari terbit.
"Lo masih nugas?" Tanya Junghwan lagi begitu menyadari bahwa laptop yang tadinya ada di atas meja lipat justru ia letakkan di atas paha.
Doyoung mengangguk, "Tanggung." Jelasnya kemudian.
Netra Junghwan melirik jam yang ada di atas meja belajar, "Jam empat pagi? Lo juga tidur lah."
"Gapapa nanti aja."
Junghwan mengerang begitu merasakan kepalanya berputar saat ia bangkit secara tiba-tiba, "Lo ngapain sih?" Omel Doyoung, laptop yang sebelumnya ada di pangkuan dengan cepat ia pindahkan, dirinya merangkak ke tempat Junghwan yang kini bersandar di kepala ranjang.
"Gue gapapa, di rumah sakit udah banyak tidur juga tadi. Lo yang harusnya istirahat." Lanjut Doyoung lagi, dengan kedua tangan yang mulai memijit pelan kepala Junghwan.
Netra Junghwan yang sebelumnya tertutup kini mulai terbuka, dan ia disambut dengan raut khawatir laki-laki yang ada di depannya.
"Kim Doyoung."
"Apa?"
"Lo udah pernah pacaran belum?"
Gerak tangan Doyoung berhenti, pandangannya turun ke wajah Junghwan yang entah sejak kapan menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat Doyoung jabarkan.
"Lo mau gak jadi pacar gue?"
"Lo ngigo ya?"
Junghwan tertawa, sebelah tangannya terulur untuk menangkap jemari Doyoung yang masih menempel di keningnya.
"Kalo ngigo, sikap gue gak akan senormal ini."
"Emang biasanya gimana?"
Kepala Junghwan bergerak maju, Doyoung bahkan dapat merasakan bibir laki-laki itu menempel dengan salah satu sisi telinganya.
"Biasanya di mimpi gue, ada lo yang nyium bibir gue dengan brutal."
Tubuh Doyoung membeku, ia menelan ludah begitu menyadari bahwa Junghwan tahu apa yang ia lakukan selama ini.
"Kok kaget gitu? Gak mau nyoba cium pas gue udah bangun aja nih?"
Memang seharusnya Doyoung hisap habis saja darah Junghwan di gudang siang tadi.
...
ihhh aku suka banget nulis meta omg omg omg dua ratus chapter pun aku siap gapapa tangan keriting dikit gak ngaruh.
(btw reminder lagi ini konfliknya masih jauh, mau bikin mereka bahagia dulu sebelum dihantam badai angin topan tsunami banjir bandang gedebak gedebuk)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com