Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter I

Di tengah aula universitas, Junghwan sesekali tertawa mendengar tanggapan yang kerap diisi candaan oleh para mahasiswa yang menjadi pendengar seminarnya hari ini.

Sebagai Dokter spesialis jiwa, dirinya memang rutin mengisi seminar di kampus tempat kuliahnya dulu, sedikit memberi kontribusi atas apa yang sudah ia dapatkan selama bertahun-tahun menimba ilmu.

"Salah satu tanda yang sangat terlihat jelas saat seseorang sedang berbohong adalah cara bicaranya yang terbata-bata, mereka mendadak sulit bicara karena meningkatnya level stres di dalam tubuh." Ucap Junghwan ke hadapan pendengar dengan pengeras suara yang ada di tangan, banyak orang yang menganggap bahwa Junghwan sebagai dokter paling tampan yang pernah mereka temui.

Tidak heran aula yang biasa sepi kini dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas.

"Sistem saraf juga ikut memerintahkan penurunan produksi saliva. Yang mengakibatkan membran mukus mulut menjadi kering."

Sebelah tangannya bergerak ke arah layar yang menampakkan ilustrasi anatomi yang ia maksud.

"Mereka juga akan menghindari kontak mata, ekspresi yang nampak tidak yakin dengan apa yang mereka ucapkan." Lanjutnya lagi, sisi bibirnya terangkat saat menyadari bahwa semua orang yang ada di hadapan kini terdiam dan seakan menunggu kalimat selanjutnya yang akan Junghwan ucapkan.

"So basically, it's not that hard to know whether someone is lying to you or not. Especially when you're close enough to them." Final Junghwan sebelum kembali duduk di kursi yang ada di tengah panggung, ia lalu memberi isyarat kepada pembawa acara untuk mengadakan sesi tanya jawab.

Sesi kesukaan Junghwan karena kadang, pertanyaan mahasiswa terdengar konyol di telinga.

Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan dan berhasil Junghwan jawab, seminar singkat pun selesai. Banyak pendengar yang berlari ke arah Junghwan untuk sekadar berjabat tangan atau bertanya soal sosial media pribadinya, Junghwan yang memang dasarnya menyukai ketenaran itu dengan senang hati menjawab pertanyaan mereka.

Aula hampir kosong dan Junghwan sudah siap untuk keluar dari sana, namun netranya menemukan satu sosok tidak asing yang sedang duduk dan menatapnya dari ujung ruangan.

"Kim Doyoung?"

"Good afternoon, Doctor So." Ucap pemuda itu sembari berjalan ke arahnya, pakaian yang Doyoung gunakan membuat Junghwan hampir salah fokus.

Atasan penuh renda berbahan rajut tembus pandang, memperlihatkan sebagian besar kulit putih pucat yang tidak tertutup apapun, Kim Doyoung lebih cocok disebut selebriti daripada atlet yang sedang cuti.

"What the hell are you doing here?" Tanya Junghwan, berusaha memberi jarak agar Doyoung tidak menunjukkan sikap kurang ajar.

"Picking up my personal psychiatrist?" Jawab laki-laki manis itu sambil melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung bulatnya.

"Saya belum setuju soal tawaran kamu."

Doyoung berdiri tepat di hadapan Junghwan lalu meletakkan kacamata ke dalam tas tangan yang ia bawa. "Tapi barang-barang kamu udah ada di rumahku, haruskah aku keluarin sekarang dan lempar mereka ke hutan yang ada di belakang?" Jawabnya lagi dengan nada menyebalkan.

Yoon Jaehyuk adalah sepupu sekaligus asisten paling tidak berguna yang pernah Junghwan kenal.

"Kamu tau darimana saya ada di sini?"

Sekuat tenaga Doyoung menahan emosi, Junghwan terlalu banyak bertanya, rasanya ia ingin menyeret laki-laki itu ke tempat parkir sekarang juga.

Tapi Doyoung masih belum mau dikenal sebagai penculik dokter tampan kebanggaan Universitas Seoul. Maka ia memilih untuk melempar senyum, senyum paling manis sekaligus menyebalkan yang ia punya.

"Aku udah pasang gps di badan kamu." Jawab Doyoung, tangannya bergerak untuk mengetuk dada Junghwan dengan telunjuknya.

Mata Junghwan terpejam, harusnya ia tahu bahwa berkomunikasi dengan manusia tidak waras seperti Kim Doyoung adalah hal yang mustahil dilakukan.


***

Kalian boleh bilang Junghwan gila karena kini ia duduk di kursi penumpang lengkap dengan Doyoung yang ada di sampingnya, pergi bersama ke kediaman barunya terdengar lebih menguntungkan dibanding harus menyewa taksi karena jarak yang lumayan jauh dari pusat kota.

Junghwan meminta Doyoung untuk langsung membawa mereka ke rumahnya karena ia ingin istirahat sekarang, duduk selama berjam-jam membuat punggungnya mulai terasa sakit.

"Kenapa kamu milih tinggal di tengah hutan?" Tanya Junghwan, berusaha memecah keheningan dan tidak ingin membuat Doyoung bosan lalu mengantuk di tengah jalan.

"Pertanyaan itu termasuk ke dalam sesi konsultasi pengobatan kita, kah?"

Junghwan menghela napas, memang lebih mudah bicara dengan anak enam tahun dibanding dengan Doyoung yang umurnya empat kali lipat dari mereka.

"Seinget saya, dulu kamu tinggal di apartemen di tengah Seoul?"

Mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak karena Doyoung yang menginjak rem dengan kuat, dari balik kemudi ia memandang Junghwan dengan mata bulat yang terlihat cerah.

"Kamu masih inget tempat aku tinggal dulu?" Tanyanya.

Junghwan mengangguk, "Dulu kan emang saya yang harus ke tempat kamu tiap sesi konsultasi."

Mata Doyoung terlihat makin bersemangat, "Terus kenapa kamu gak pernah mampir lagi?" Tanyanya, ia bahkan memutar tubuh untuk menghadap Junghwan sepenuhnya.

Lagi-lagi Junghwan menghela napas, apa Doyoung lupa perjanjian mereka yang batal secara tidak baik karena atlet itu dengan sengaja memberi ulasan buruk pada kliniknya langsung di depan media?

"Lupa, lagian gak lama setelah itu kan kamu pindah." Jawab Junghwan sekenanya, enggan menanggapi ke mana arah pembicaraan Doyoung sebenarnya.

Jawaban Junghwan membuat Doyoung berdecak kesal, ia tidak puas dengan kalimat yang keluar dari dokter pribadinya.

Yang lebih kecil kembali memegang kemudi, ia memperbaiki spion tengah sebelum menginjak gas kuat-kuat, membuat Junghwan terpaksa berpegangan erat pada handle yang ada di atas kepala sambil berdoa dalam hati agar mereka selamat.

Ingatkan Junghwan untuk tidak membiarkan Doyoung mengemudi lain kali.

Netra Junghwan menatap pohon-pohon pinus yang berdiri tinggi, mengelilingi satu rumah mewah yang selalu Jaehyuk bilang sebagai rumah angker dan dipenuhi hantu.

Junghwan lebih takut miskin dibanding hantu, maka ia terpaksa menerima pasien satu-satunya dan menuruti ajakan untuk tinggal bersama di tempat yang lebih cocok disebut sebagai istana.

Doyoung yang pertama keluar dari mobil, diikuti dengan Junghwan yang mengekor di belakang.

Atlet itu membuka pintu depan dan Junghwan hanya melangkah dalam diam, karena entah kenapa sikap Doyoung mendadak berubah ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang kediamannya.

Keduanya berjalan menuju lantai dua, melewati ruang tengah yang luar biasa luas dan ruang makan yang menyatu dengan dapur. Langkah Doyoung berhenti di depan kamar utama.

"Ini kamarku, kamu dilarang masuk. Pagi, siang, sore, malam, pokoknya kamu gak boleh masuk. Kecuali Dokter mau ngajak aku ciuman baru aku bolehin. Lebih juga gapapa, It's even better! Aku berani sumpah kalo aku gak akan nolak ajakan ciuman-"

Ucapan Doyoung berhenti karena telunjuk Junghwan yang mendarat di depan bibirnya, "Kamar saya di mana?" Tanyanya, dan Doyoung merengut sebelum menunjuk satu kamar yang ada di seberang dengan ujung dagu.

Junghwan tersenyum, ia pun berjalan meninggalkan Doyoung menuju kamar yang dimaksud. Sebelah tangannya memutar kenop pintu dan ia terkejut karena di dalam kamar itu hanya ada kasur serta lemari yang masih kosong.

Ia kembali berjalan ke tempat Doyoung, pemuda manis itu masih berdiri di tempatnya, hanya kali ini wajahnya dihiasi dengan senyum jahil penuh arti.

"Barang-barang saya, di mana?" Tanya Junghwan dengan kesabaran yang tidak tersisa seberapa.

"Gak tau? Bisa aja di rumah kamu, atau di klinik kamu yang hampir roboh itu, kenapa nanya aku? Kan itu bukan barangku."

"Bukannya tadi kamu bilang kalo Jaehyuk udah bawa barang saya ke sini?"

"Oh jadi orang ngeselin itu namanya Jaehyuk..." Jawab Doyoung sambil mengangguk-anggukan kepala.

"Kim Doyoung, jawab pertanyaan saya."

Senyum Doyoung makin lebar, dan Junghwan berani sumpah bahwa itu adalah senyum paling licik yang pernah ia lihat. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, Doyoung menatapnya dengan raut menyebalkan.

"Katanya kamu bisa tau whether someone is lying or not, tadi aku cuma iseng ngecek apa kamu beneran bisa atau justru cuma banyak omong aja, tapi malah begini. Dokter gampang banget sih aku bohongin?"

Siapapun tolong tahan Junghwan untuk tidak menjadikan Doyoung sebagai korban pertama yang ia bunuh, karena laki-laki itu malah menjulurkan lidah sebelum berjalan menjauh dari Junghwan yang masih diam di tempat.

"Kim Doyoung!" Panggil Junghwan dengan suara keras.

"Ambil sendiri lah, kamu tau kan tempat aku gantung kunci mobil? Aku mau tidur."

Doyoung berjalan masuk ke dalam kamar, memutar kunci pintu hingga tiga kali karena ia tidak ingin Junghwan atau siapapun masuk ke dalam ruangan yang sudah ia anggap sebagai tempat persembunyian.

Meninggalkan Junghwan yang masih dipenuhi emosi karena ia baru saja dibohongi oleh pasiennya sendiri.








...

gimana... chapter satu... udah kebaca kan karakter mereka bakal gimana hehehe

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com