Chapter III
Tidur Junghwan tidak nyenyak sama sekali.
Entah sebab lampu kamar yang terasa remang atau karena pemandangan di luar hanya dipenuhi oleh pohon besar tanpa satu pun rumah di sekelilingnya, mimpi Junghwan diisi oleh hal buruk dan menyeramkan.
Pendingin ruangan bahkan tidak sanggup untuk menghentikan keringat yang keluar dari tubuhnya, membuat tenggorokannya terasa kering begitu ia terjaga. Dan laki-laki itu memutuskan untuk berjalan keluar kamar, netranya melirik jam besar yang tergantung di dekat tangga, pukul enam pagi, cahaya matahari malu-malu menampakkan diri dan mengintip samar lewat celah jendela.
Junghwan hampir berteriak saat melihat pemilik rumah yang duduk di dekat dapur, tepat di depan pintu yang mengarah langsung ke halaman belakang.
"Kim Doyoung?"
Yang dipanggil hanya menoleh sebentar sebelum kembali memfokuskan diri melihat ke depan, Junghwan yang penasaran ikut bergabung setelah meraih satu botol air mineral dingin dari dalam kulkas.
"Ngapain?" Tanya Junghwan, ia pun duduk di kursi kosong yang ada di samping Doyoung.
"Berjemur."
Junghwan tahu Doyoung gila tapi ia tidak menyangka bahwa atlet itu akan semengkhawatirkan ini kondisinya.
"Matahari bahkan belum terbit." Jawaban yang keluar dari mulut Junghwan membuat Doyoung terkekeh pelan.
"Dokter ngapain di sini? Biasa bangun pagi, atau gak bisa tidur?"
"Opsi ke dua."
Doyoung mengangguk samar, "Rumah ini emang kurang nyaman buat dipake istirahat." Jelasnya singkat.
"Terus kenapa kamu milih buat tinggal di sini?"
Yang lebih kecil menoleh, senyum tipis terukir di wajah manisnya. "Pertanyaan itu, masuk ke dalam sesi pengobatan kita?"
Junghwan mengalihkan pandang, sesuatu yang aneh berdesir dalam dirinya saat melihat wajah Doyoung yang entah kenapa nampak polos dan tidak berdosa.
Walau ia tahu kalau di balik wajah itu terdapat iblis yang sangat mudah lepas kendali.
Hening cukup lama setelahnya, Junghwan yang malas menanggapi kalimat Doyoung, dan Doyoung yang enggan mencari keributan. Keduanya kembali memandang halaman belakang yang cukup luas di depan.
Di sana bahkan terdapat kolam renang yang mungkin sengaja ditutup karena jarang digunakan, itu sepertinya akan memudahkan Junghwan dalam sesi pengobatan yang harus secepatnya ia lakukan.
"Saya mandi dulu." Ucap Junghwan sebelum beranjak dari kursinya, lagi-lagi Doyoung mengangguk dan membiarkan dokter pribadinya berjalan menjauh menuju kamar yang ada di lantai dua.
Untuk saat ini ia hanya ingin berdiam diri sambil menikmati udara pagi, sembari mengingat-ingat entah kapan terakhir kali hidupnya setenang ini.
***
Junghwan keluar dari kamar menggunakan pakaian rapi selayaknya ia akan benar-benar pergi bekerja hari ini, kemeja biru muda sebagai atasan serta celana bahan hitam sebagai bawahan, dan jangan lupakan snelli yang membuat tubuhnya makin terlihat tinggi.
Laki-laki itu berjalan menuju ruang kerja yang telah Doyoung siapkan di salah satu kamar di lantai dua, ia menyempatkan diri untuk merapikan beberapa perlengkapan yang ia bawa dari kliniknya tempo hari.
Ia masih sibuk membaca rekam medis milik Doyoung yang sebelumnya ia simpan dalam-dalam di lemari, beberapa tahun lalu Doyoung pernah menjadi pasiennya dan Junghwan berhasil membuatnya sembuh walau tidak sepenuhnya.
Post Traumatic Stress Disorder yang disebabkan oleh hal buruk saat ia remaja, yang juga membuatnya menderita Bipolar disorder.
Dua penyakit ini sudah dapat Junghwan sembuhkan sedikit demi sedikit, membuat Doyoung dapat menjalani hidup normal dan berhasil memenangkan berbagai kejuaraan.
Penyakit yang Doyoung idap memang tidak dapat sembuh sepenuhnya, apalagi jika sumber trauma masih hidup dan berkeliaran di sekitarnya. Tapi seingat Junghwan, orang itu sudah mendapat hukuman dan dilarang berada di dekat Doyoung seumur hidupnya.
"Dokter So?"
Suara Doyoung membuat Junghwan mengalihkan fokus, ia memandang pemilik rumah yang berdiri sambil bersandar di depan pintu.
"Masuk." Ucap Junghwan sambil merapikan posisi kacamata yang bertengger di hidungnya.
Keduanya duduk berhadapan di sofa yang ada di tengah ruangan, Junghwan masih membaca rekam medis Doyoung sedangkan lawan bicaranya duduk tenang tanpa berniat membuat keributan.
Begitu pikir Junghwan.
"Kim Doyoung, sekarang umur kamu―"
"Dua puluh empat, empat tahun lebih muda dari Dokter. Kita cocok banget gak sih? Terus umur Dokter kan udah matang tuh, masa gak ada niatan buat nikah dalam waktu dekat?"
Junghwan menghela napas, sepertinya sikap Doyoung sudah kembali normal.
"Jadi apa yang bikin kamu tiba-tiba rekrut saya?" Tanya Junghwan.
"Coba tebak, kalo dokter berhasil nebak nanti aku kasih hadiah."
"Saya Dokter, bukan peramal."
Jawaban Junghwan membuat bibir Doyoung merengut maju, dokter pribadinya sangat tidak seru.
"Beberapa hari yang lalu dia dateng ke tempat tinggalku, dan dokter tau gejala apa yang aku rasain begitu liat dia di sana."
Doyoung meremat tangannya sendiri saat mengingat kejadian malam itu, kakinya yang berada di bawah meja terus bergerak gelisah, jantungnya juga berdegup cepat. Junghwan yang sadar dengan tingkah pasiennya langsung meletakkan kertas yang sebelumnya ada di tangan ke atas meja.
"Breathe, gak ada dia di sini." Ucapnya sambil berusaha membuat Doyoung mengatur napas pelan-pelan.
Junghwan akhirnya bangkit dari tempatnya, meraih stress ball yang sengaja ia bawa dari dalam tas sebelum duduk di sebelah Doyoung.
"Jangan digituin terus tangannya, pake ini." Perintahnya, ia menyelipkan mainan antistress di antara kedua tangan Doyoung.
"Kamu atlet renang, tau kan gimana perihnya luka kalau kena bahan kimia? Kamu gak boleh lukain diri sendiri, apalagi kalau sengaja kayak gini."
Ia meraih rekam medis yang ada di atas meja, menulis beberapa kata di atasnya sebelum kembali memfokuskan diri ke Doyoung yang masih diam sejak tadi.
"Separah apa?" Tanya Junghwan lagi.
"Terakhir aku hampir muntah pas berdiri deket kolam renang."
Junghwan mengangguk samar sebelum kembali mencatat sesuai dengan apa yang Doyoung ucapkan.
"Kapan terakhir kali minum obat? Seinget saya manajer kamu sempet minta resep beberapa bulan lalu."
Masih dengan tangan yang sibuk meremas mainan, Doyoung kini mengalihkan pandang sebelum menjawab pertanyaan Junghwan.
"Enam bulan lalu." Jawabnya pelan tanpa menatap lawan bicara.
Satu sisi bibir Junghwan terangkat, "Bohong," Tembaknya, dan langsung tepat sasaran.
Doyoung menggeser tubuhnya ke arah berlawanan, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada Junghwan karena ia tahu, mengonsumsi obat yang hanya dapat dibeli jika diberi resep dokter secara ilegal adalah hal yang melanggar hukum.
Tapi antidepresan itu sudah rutin ia konsumsi, meski tanpa persetujuan dokter yang bahkan tidak lagi ia temui bertahun-tahun lamanya.
"Kamu tau kan fungsi obat bakal hilang kalau kamu minum terus-terusan? antidepresan udah gak lagi bisa bikin kamu gak depresi kalau kamu konsumsi tiap hari."
Doyoung tahu, tapi hanya itu obat yang mampu membuat suara-suara aneh yang entah berasal darimana di kepalanya bisa berhenti walau sejenak.
Junghwan hendak melempar pertanyaan baru sampai tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja berdering keras, ia meraih benda pipih itu lalu menekan tombol agar suaranya berhenti.
Namun hanya sebentar karena ponselnya lagi-lagi berbunyi.
"Angkat dulu aja." Ucap Doyoung, "Aku mau istirahat bentar, capek banget ngobrol sama dokter." Lanjutnya lagi.
Junghwan menurut, ia menerima panggilan masih dalam posisi yang sama karena enggan beranjak kemana-mana.
"Halo?"
"Junghwan! Kamu di mana?"
Itu kekasihnya.
"Aku kerja, kan udah aku kabarin." Jawabnya singkat.
"Oh bagus deh, aku cuma mau kasih tau kalau kita udah putus, ya. Jangan hubungin aku lagi setelah ini."
Apa-apaan ini? Apa Junghwan baru saja dicampakkan secara sepihak oleh kekasihnya sendiri? Hubungan mereka memang tidak baik dalam beberapa hari belakangan, tapi Junghwan tidak menyangka kalau kekasihnya akan setega ini.
"Gak bisa, kamu gak boleh mutusin aku gitu aja."
"Udahlah, lagian kamu tau sendiri kan udah gak ada yang bisa dipertahanin di sini, sekarang kamu mending fokus urus klinikmu yang hampir bangkrut itu."
Junghwan belum sempat menjawab namun panggilan sudah lebih dulu dimatikan, ia berdecak kesal dan berniat membanting ponsel yang ada di tangan.
Tapi niatnya urung karena Junghwan teringat kalau ia tidak memiliki uang untuk membeli ponsel baru.
"Konsultasi kita lanjut besok." Ucap Junghwan sebelum bangkit dari tempatnya, melepas snelli dan melemparnya ke sofa lalu berjalan cepat ke luar ruangan.
Sedangkan Doyoung hanya memandangnya heran. Dokter pribadinya sangat tidak profesional, ingatkan Doyoung untuk memarahinya nanti.
Beberapa saat kemudian Junghwan kembali masuk ke ruangan, berjalan lurus ke arah Doyoung yang masih diam di tempat.
"Saya boleh pinjem mobil kamu?"
Dan senyum licik kembali mengembang di wajah manis pemilik rumah.
***
Kalian boleh bilang Junghwan gila karena di sinilah ia sekarang, di tengah perjalanan menuju rumah kekasihnya dengan pasien sekaligus orang gila dan pemilik mobil yang sedang Junghwan kendarai di sampingnya.
"Kita mau ke rumah pacar kamu ya?" Tanya Doyoung, Junghwan mengangguk sebagai jawaban.
"Pacar kamu masih yang itu?"
"Yang mana?"
"Aku pernah liat kalian ciuman depan apartemenku dulu."
Junghwan berusaha mengingat namun gagal karena seingatnya ia tidak pernah melakukan hal tidak senonoh di depan umum, apalagi bersama kekasihnya.
"Ini kita mau ke tempat dia supaya bisa mergokin dia yang lagi selingkuh, ya?" Tanya Doyoung lagi
Junghwan menggeleng kuat. "Ada sesuatu yang mau saya omongin sama dia." Jelasnya singkat.
"Kenapa gak lewat telepon aja?"
"Lebih enak ngomong langsung, jadi saya bisa tau reaksinya gimana."
Doyoung diam setelahnya, ia memilih untuk memandang ke luar jendela. Siang ini langit terlihat gelap, pasti akan turun hujan dalam waktu dekat.
"Kalau nanti ada kejadian seru, boleh gak aku rekam?" Tanya Doyoung, dan kali ini Junghwan tidak menanggapi.
Mereka akhirnya sampai ke gedung apartemen yang ada di pusat kota, Junghwan berjalan cepat di depan sedangkan Doyoung hanya mengekor di belakang.
Keduanya menaiki lift yang sama dan Junghwan langsung menekan lantai tujuan. Doyoung hanya diam sejak tadi karena sepertinya masalah serius sedang menimpa dokter pribadinya.
Begitu lift terbuka, Junghwan tidak langsung keluar karena pemandangan yang menyambutnya sangat membuatnya terkejut hingga ia hanya mampu terdiam di tempat.
Doyoung yang heran pun menggeser tubuhnya, dan ia juga sama kagetnya saat melihat sosok yang nampak familiar sedang berdiri di depan mereka.
Tidak jauh dari sana, nampak dua orang sedang sibuk berbincang sambil merengkuh tubuh satu sama lain.
Itu kekasih Junghwan, dan selingkuhannya?
Dan hal yang terjadi setelahnya sungguh sangat tidak Doyoung sangka, Junghwan menarik tubuhnya cepat, dengan sebelah tangan yang ia letakkan tepat di belakang kepalanya, Junghwan langsung menyatukan bibir mereka.
Membuat dua orang yang sejak tadi sibuk berbincang kini memandang mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.
Entah siapa yang selingkuh di sini tapi yang jelas Doyoung tahu bahwa kemampuan ciuman Junghwan sangat hebat, kedua kakinya bahkan lemas dibuatnya, ia hampir jatuh kalau saja sebelah tangan yang lebih tinggi tidak menahan pinggangnya agar tidak jatuh ke belakang.
...
yea basically emang orgil dua duanya
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com