Chapter IV
cw / abusive
***
Hubungan Junghwan dan kekasihnya dimulai tiga tahun lalu, karena terlalu sibuk mengejar gelar dokter spesialis, mau tidak mau Junghwan mengorbankan keinginannya untuk mencari pasangan, maka ia mempercayai Jaehyuk yang entah kenapa selalu ingin mengenalkan teman-temannya pada Junghwan.
Nara tiga tahun lebih muda dibandingnya, ia adalah adik tingkat sekaligus teman bermain Jaehyuk saat masih kuliah.
Sikapnya baik, di awal hubungan Junghwan bahkan siap menukar apapun asal Nara bahagia. Termasuk semua uang yang didapat dari klinik yang masih ia rintis perlahan.
Klinik Junghwan mulanya berjalan lancar, banyak pasien yang datang selain karena metode pengobatan yang terhitung singkat, juga karena paras Junghwan yang sangat tampan, para klien menganggapnya bonus dan mempercepat proses penyembuhan.
Namanya cukup dikenal, hingga suatu hari datanglah pasien bernama Kim Doyoung. Atlet renang itu memang sedang mencari psikiater yang memiliki koneksi dengan orang sekitar karena Doyoung tidak ingin masalah hidupnya terbongkar dan malah menjadi konsumsi publik.
Untungnya Junghwan menyanggupi saat Doyoung memintanya untuk tutup mulut tentang semua masalah mental yang ia derita, pengobatan yang rutin dilakukan di tempat tinggal Doyoung hanya berlangsung sebentar, tidak sampai satu tahun.
Kontrak mereka mendadak berhenti karena Doyoung yang sempat memergoki Junghwan sedang bercumbu bersama kekasihnya tepat di lorong unit apartemen miliknya.
Doyoung yang memang saat itu sempat menaruh hati pada sang dokter pribadi, memilih untuk balas dendam dengan caranya sendiri; memberi penilaian buruk tentang klinik yang berhasil menyembuhkannya di depan media yang sedang mengadakan siaran langsung.
Tepat setelahnya, Junghwan menyingkirkan semua berkas yang berhubungan dengan Doyoung. Walau sebenarnya ia sedikit menyesali kebodohannya sendiri, karena seharusnya ia membicarakan hal itu dengan pasiennya dibanding memutus kontrak mereka begitu saja.
Karena Doyoung dan karirnya terus melesat naik, sedangkan Junghwan dan kliniknya justru mati pelan-pelan.
Pendapatan Junghwan makin turun tiap hari, membuatnya tidak lagi mampu membayar uang gedung yang ia sewa tahunan, Junghwan hampir diusir sampai tiba-tiba, orang yang membuatnya bangkrut menawarkan bantuan yang sangat Junghwan butuhkan.
Kontrak bernilai ratusan juta won ada di depan mata, maka tanpa berpikir panjang Junghwan menyetujui semua yang Doyoung tulis di dalam perjanjian mereka.
Dan di sinilah ia sekarang, dengan kedua tangan yang melingkar di tubuh sumber masalah sekaligus solusinya, Junghwan dapat merasakan bagaimana lembutnya bibir Doyoung begitu menyentuh miliknya.
Junghwan berusaha keras membuat pagutan mereka terlihat normal walau faktanya Doyoung seakan enggan menanggapi. Pemuda manis itu hanya diam sejak tadi, tidak berniat membalas ciuman Junghwan sama sekali walau bibir Junghwan terus bergerak kesana kemari.
Sebelah tangan Junghwan yang berada di belakang kepalanya juga terus berusaha membuat Doyoung diam, berulang kali laki-laki itu ingin menjauh namun karena tenaganya yang kalah kuat, Doyoung akhirnya pasrah dan ikut memegang bagian belakang kemeja yang Junghwan gunakan sebagai tumpuan.
Karena ia berani sumpah demi apapun yang ada di dunia, kepalanya mulai pening dan kedua kakinya lemas seketika.
Suara dentingan dari pintu lift yang kembali tertutup menyadarkan Junghwan, ia melepas kedua tangan yang melingkar di tubuh Doyoung, sekaligus menghentikan sesi ciuman mereka.
Tubuh Doyoung hampir merosot kalau saja Junghwan tidak kembali menahannya dengan sebelah tangan, "Kamu gapapa?" Tanya Junghwan dengan nada panik.
Sedangkan yang diajak bicara malah tidak menjawab dan memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Junghwan.
"Kim Doyoung?" Panggil Junghwan lagi, kali ini Doyoung menggeleng pelan sebagai jawaban.
Lift kembali ke lantai tempat di mana mereka memarkirkan kendaraan, karena Doyoung yang tidak kunjung melepas pegangan, Junghwan terpaksa mengangkat tubuhnya untuk dibawa ke mobil yang untungnya tidak jauh dari sana.
Setelah memastikan posisi Doyoung aman di kursi penumpang, Junghwan lalu duduk di belakang kemudi. Suasana mendadak canggung karena tidak ada satupun dari mereka yang berniat memulai obrolan. Mobil akhirnya keluar dari gedung, menyusuri jalanan yang masih lengang karena jauh dari jam sibuk.
Sesekali Junghwan melirik ke arah Doyoung yang diam sambil memandang ke luar jendela, penyesalan memang selalu datang di akhir karena kini Junghwan baru menyadari kalau sikapnya tadi sungguh sangat kurang ajar.
Mencium Doyoung tepat di bibir tanpa izin sama sekali, beruntung laki-laki itu tidak langsung meninjunya saat itu juga.
Gerbang terbuka saat Doyoung menekan tombol yang ada di ponselnya, perjalanan tiga puluh menit terasa begitu lama sebab mereka habiskan dalam diam, Junghwan bahkan sungkan untuk sekadar memutar radio guna memecah keheningan.
Doyoung yang pertama kali keluar dari mobil, dengan langkah sedikit terhuyung ia berjalan lurus menuju kamar tidurnya di lantai dua, tidak mengindahkan Junghwan sama sekali. Junghwan terus merutuki diri karena lagi-lagi, ia tidak berbuat apa-apa selain memandang Doyoung dalam diam.
Kepergian yang awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah, justru menambah masalah baru yang Junghwan sendiri tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.
Setelah menaruh kunci mobil di gantungan yang ada di ruang tengah, ia akhirnya melangkah ke depan pintu kamar pemilik rumah.
"Doyoung." Panggil Junghwan setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Kim Doyoung." Panggil Junghwan lagi sebab Doyoung tidak menanggapi.
Junghwan menarik napas berat sebelum kembali bicara, "We need to talk."
Ada sedikti harapan saat Junghwan lihat kenop pintu yang diputar dari dalam, Kim Doyoung muncul dengan wajah tanpa ekspresi lalu memberi isyarat agar Junghwan bicara.
"I'm sorry, gak seharusnya saya ngelakuin itu tadi."
"Ngelakuin apa?" Tanya Doyoung, ia akhirnya keluar dari kamar dan langsung menutup pintu yang ada di belakang.
"Nyium kamu, saya cuma gak mau keliatan kalah di depan mantan pacar saya." Jelas Junghwan, dan Doyoung mengangguk sebagai jawaban.
"Maaf. I'll do anything asal kamu maafin saya."
Junghwan tidak menyadari karena terlalu fokus dengan rasa bersalah yang menyelimuti, padahal di depannya Doyoung kini berusaha sekuat tenaga menahan senyum yang hendak mengembang sejak tadi.
"Anything?" Tanya Doyoung memastikan, kali ini Junghwan mengangguk kuat.
Ia tidak ingin kontrak mereka batal begitu saja, Junghwan belum mendapat uangnya.
"Okay." Ucap Doyoung singkat sebelum kembali masuk ke dalam kamar, memutar kunci tiga kali dan meninggalkan Junghwan seorang diri.
Doyoung memaafkannya, kan?
***
Sebenarnya Doyoung malu.
Itu ciuman pertama dan malah dicuri oleh dokter pribadinya sendiri, tapi ia tidak mungkin mengakui karena umurnya dua puluh empat tahun ini, dirinya tidak sepolos itu di mata Junghwan dan Junghwan tidak mungkin percaya jika Doyoung menjelaskan.
Tapi untuk tubuhnya yang lemas, itu sungguhan. So Junghwan seakan menarik semua oksigen di sekeliling mereka hingga Doyoung hampir pingsan.
Maka Doyoung memilih untuk berjalan lurus ke dalam kamar, berteriak keras, memukul bantal dan kasurnya tanpa henti karena ia malu setengah mati. Dan saat itu juga ia menyadari bahwa perasaan yang dulu sempat hinggap kini malah datang lagi.
Doyoung tidak pernah berniat untuk memulai hubungan, perasaan dengan Junghwan juga tidak pernah ia ungkapkan karena siapa yang mau berpacaran dengan orang gila sepertinya? Tanpa perlu Junghwan ucap juga Doyoung tahu bahwa laki-laki itu membencinya sejak hari pertama pertemuan mereka.
Setelah berbincang sebentar dengan Junghwan, ia kembali masuk ke dalam kamar. Netranya melirik jam yang tergantung di dinding, hampir pukul dua siang. Doyoung memilih untuk memejamkan matanya sebentar karena Junghwan pasti tidak akan pergi kemana-mana, kan?
Ia hampir terlelap sampai tiba-tiba telinganya mendengar suara yang cukup gaduh dari luar, satu jam berlalu sejak dirinya dan Junghwan sampai di rumah. Entah apa yang dokter itu lakukan tapi suara berisiknya tidak berhenti sejak tadi.
Doyoung menghela napas sebelum akhirnya bangkit dari ranjang, berjalan ke luar kamar sambil memikirkan kalimat apa yang cocok ia gunakan untuk menegur Junghwan.
Tepat setelah pintu terbuka, netranya membulat karena di depannya kini berdiri orang yang menjadi sumber traumanya sejak belasan tahun lalu.
Itu kakak tirinya.
"Here you are, lo pikir lo bisa kabur dari gue?"
Dengan jantung yang berdegup cepat, Doyoung berjalan mundur untuk masuk ke dalam kamar. Ia kembali memutar kunci berulang kali sambil berdoa dalam hati agar kakaknya tidak cukup kuat untuk mendobrak pintu yang menjadi penghalang di antara mereka.
Doyoung meraih ponsel yang ada di atas ranjang, dengan tangan gemetar ia mencari kontak darurat dan langsung menekan tombol panggilan.
Panggilan pertama Doyoung tidak mendapat jawaban, suara pintu yang digedor kuat menjadi latar belakang, Doyoung makin panik dibuatnya.
Angkat. Angkat. Angkat.
"Halo?"
Doa Doyoung dikabulkan, meski suara Junghwan terdengar samar di telinga.
"Dokter So, Dokter So di mana?" Tanya Doyoung dengan suara bergetar.
"Saya lagi beli makanan, kenapa? Kamu mau titip sesuatu?"
Doyoung menggeleng, "Pulang, pulang sekarang. Dokter So, tolong pulang sekarang."
Tanpa sadar air mata kini sudah mengalir di kedua pipi Doyoung, kakak tirinya juga terus berteriak di luar sambil menggedor pintu kamarnya tanpa henti.
"Dia di sini, Dokter. Kakakku di sini."
...
mari berdoa untuk keselamatan kedua mempelai kita
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com