Chapter V
Perjalanan yang biasanya ditempuh selama hampir satu jam, kini hanya menghabiskan waktu lima belas menit bagi Junghwan untuk sampai ke kediaman Doyoung yang ada di pinggir kota.
Netranya memandang gerbang yang terbuka lebar, sejak mereka kembali dari apartemen Nara tadi siang, Doyoung memang tidak menutupnya kembali, entah karena ia lupa atau justru sengaja, membuat Junghwan akhirnya pergi untuk membeli makanan ke restoran paling dekat dari sana.
Setelah memarkirkan mobil di depan pintu, Junghwan masuk ke dalam rumah dan berlari secepat yang ia bisa ke lantai dua. Dan dirinya tidak menemukan siapapun di sana kecuali suara tangisan samar yang berasal dari kamar utama.
"Doyoung! Buka pintunya!" Ucap Junghwan sambil menggedor pintu yang ternyata masih terkunci dari dalam.
"Kim Doyoung, ini saya. Buka pintunya!" Lanjutnya lagi, buku jarinya mulai terasa sakit karena ia terus menggedor pintu kayu yang masih tertutup rapat.
Junghwan perlahan mundur, pintu yang terbuat dari kayu jati di depannya tidak akan semudah itu untuk didobrak. Walau dalam kondisi panik, ia berusaha tenang sambil memikirkan bagaimana cara membuka paksa pintu ini seorang diri.
Obeng, Junghwan hanya harus membongkar kenop pintu dengan obeng sebagai alat bantu.
Langkahnya baru mencapai anak tangga pertama sampai tiba-tiba telinganya mendengar suara dentingan logam yang beradu, itu berasal dari Doyoung yang akhirnya membuka pintu.
Saat Junghwan menoleh, dirinya menemukan pemilik rumah sedang berdiri sambil bersandar di depan pintu kamar dengan wajah yang basah karena air mata.
"Are you okay?" Tanya Junghwan seraya mencengkram kedua bahu yang lebih kecil, dan ia tahu bahwa jawabannya adalah tidak karena kini Doyoung terlihat kesulitan untuk sekadar menarik napas.
Dengan cepat Junghwan mengangkat Doyoung dengan kedua tangan, sedikit berlari menuju lantai satu dan ia langsung meletakkan pasiennya di atas sofa ruang tamu.
Junghwan memposisikan tubuh Doyoung untuk duduk membungkuk, "Tarik napas pelan-pelan, you're safe now, ada saya di sini." Ucap Junghwan sambil mengusap punggung Doyoung berulang kali.
Sepertinya upaya mereka berhasil karena kini napas Doyoung mulai teratur dan tubuhnya tidak segemetar tadi. Laki-laki manis itu akhirnya mengangkat kepala dan memandang Junghwan dengan ekspresi paling menyedihkan yang pernah Junghwan lihat.
Ini bahkan lebih parah dibanding terakhir kali Doyoung menggila di depannya.
"Dokter... tadi kakakku ada di sini." Ucap Doyoung, berusaha menjelaskan walau napasnya masih terisak sesekali.
Junghwan mengangguk, ia sebenarnya merasa bersalah karena telah meninggalkan Doyoung sendirian di rumah. Tapi siapa yang mengira bahwa si mantan kriminal akan datang menemui adik tirinya yang sudah berusaha kabur sejauh mungkin, bahkan Doyoung tidak menyangka kalau Park Sechan akan senekat itu.
Tangan Junghwan yang bebas mulai bergerak, meraih tangan Doyoung untuk ia genggam, ibu jarinya perlahan mengusap punggung tangan yang lebih kecil, tangan yang terus bergetar tanpa henti.
"He said he wanted to kill me, gimana kalau dia masih ada di sini? Dokter, kita harusnya hubungin polisi sekarang. Kamu gak akan bisa ngelawan dia sendirian." Suara Doyoung kembali terdengar panik, Junghwan menggeleng pelan sebelum akhirnya mendekat dan membawa tubuh Doyoung untuk masuk ke dalam pelukan.
"Gapapa, kamu aman sekarang. Kalau nanti dia muncul lagi, baru kita hubungin polisi, ya?" Junghwan terus berusaha menenangkan, mengusap punggung sempit Doyoung tanpa henti. Ia berdesis pelan saat merasakan kalau tubuh pasiennya dipenuhi keringat, Junghwan tidak dapat membayangkan sepanik apa Doyoung sebelum ia datang tadi.
Kedua tangan Doyoung kini meremat kuat bagian belakang kemeja yang Junghwan gunakan, tubuhnya lemas namun pegangannya tidak mengendur sama sekali, karena Doyoung takut Junghwan akan pergi lagi.
"Maaf saya tadi pergi gitu aja." Ucap Junghwan pada akhirnya setelah hening beberapa saat di antara mereka, "Saya gak tau kalau bakal begini kejadiannya."
Dengan kepala yang kini bersandar di atas bahu Junghwan, Doyoung menggeleng pelan. "Bukan salah dokter, aku yang bego dan gak kunci pintu gerbang lagi tadi."
Pelukan mereka akhirnya terlepas, Junghwan meminta Doyoung untuk menunggu karena ia ingin membuatkan minuman hangat, namun permintaannya ditolak mentah-mentah.
"Dokter di sini aja." Ucap Doyoung sambil menarik lengan kemejanya, "Kalau kakakku dateng lagi, gimana?"
Junghwan mengulum senyum saat melihat Doyoung yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, ia kembali menunduk lalu meraih bantal untuk diletakkan di lengan sofa dan menuntun Doyoung agar berbaring nyaman di atasnya. "Tunggu di sini bentar, saya cuma mau ambil minum di dapur."
Dan untungnya Doyoung menurut, tanpa sadar tangan Junghwan bergerak untuk mengusap kening Doyoung dengan lembut sebelum berjalan menjauh.
Junghwan menyempatkan diri untuk memeriksa sekeliling, mencari jejak keberadaan kakak Doyoung kalau-kalau ia masih ada di area rumah, dan untungnya ia tidak menemukan orang itu di sudut manapun, sepertinya ia sudah pergi saat mendengar suara mobil dan Junghwan datang tadi.
Dengan segelas air hangat dan antidepresan dengan dosis paling kecil yang Junghwan bawa, ia kembali berjalan ke tempat Doyoung berbaring. Kali ini Junghwan tersenyum saat melihat Doyoung yang ternyata sudah meringkuk sambil memejamkan mata di atas sofa.
"Kim Doyoung." Panggil Junghwan, Doyoung berdehem pelan sebelum membuka mata, dan netranya disambut oleh Junghwan yang kini menatapnya sambil tersenyum. "Minum obat dulu ya."
Kali ini Doyoung yang tersenyum, jauh lebih lebar dibanding Junghwan karena akhirnya ia mendapat obat yang selalu dirinya inginkan tanpa harus membeli di tempat ilegal.
"Abis ini kamu ganti baju, saya mau siapin makan dulu, ya?" Ucap Junghwan sambil meraih gelas kosong yang Doyoung sodorkan.
Raut pemuda manis itu kembali meredup, ia kemudian menggeleng pelan. "Gak mau, aku mau di sini aja sama kamu." Jawab Doyoung dengan bibir merengut maju.
"Gapapa, Doyoung. Justru kamu bakal sakit kalau masih pake baju yang basah gini."
"Temenin."
"Hah?"
"Temenin aku ke atas, aku gak mau sendirian."
Junghwan mengangguk setuju, awalnya ia pikir Doyoung meminta menemaninya ke hal yang lain, tapi ternyata pasiennya masih waras.
Setidaknya untuk sementara.
***
Setelah menghabiskan makanan yang Junghwan bawa, kini mereka kembali duduk berdampingan di sofa ruang tamu dengan televisi yang menyala, menampilkan film klasik dengan dvd player yang Doyoung punya.
Rumah yang mereka huni beserta furniture di dalamnya memang masih dipenuhi dengan barang-barang lama, Doyoung tidak berniat untuk mengganti isi rumah karena ini merupakan peninggalan Ibunya satu-satunya.
Terakhir keluarga lengkapnya tinggal di rumah ini adalah saat Doyoung masih duduk di sekolah menengah pertama, tepat sebelum Ibunya meninggal karena penyakit yang memang lama diderita.
Setelah itu Ayahnya mengajaknya pindah ke pusat kota, dan di sana ia menemukan teman hidupnya yang lain. Hanya butuh waktu dua tahun sampai Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, membuat Doyoung akhirnya memiliki kakak tiri yang gemar menyakiti.
Tidak, Doyoung tidak berbuat salah. Sikap Ayah ke mereka juga tidak jauh berbeda, namun entah mengapa kakaknya selalu iri dengan apa yang Doyoung punya.
Termasuk kemampuan berenangnya.
Sechan berulang kali berusaha membunuhnya dengan menenggelamkan tubuhnya tanpa henti, Doyoung jelas kalah karena posturnya yang jauh lebih kecil.
Ayah serta Ibu tirinya berkata bahwa Sechan hanya bercanda, namun terakhir kali saat Doyoung sudah berhasil menjadi atlet yang mewakilkan negaranya, Sechan kembali berusaha membunuhnya.
Dan hampir berhasil, untungnya Doyoung masih dapat diselamatkan karena langsung diberi pertolongan pertama, sedangkan Sechan harus mendekam di penjara karena tubuh Doyoung kini bukan hanya menjadi miliknya.
Asahi dan pelatihnya yang membantunya untuk melaporkan tindak kriminal kakak tirinya ke pihak berwajib, membuat Ayah dan Ibu tirinya marah besar tapi Doyoung tidak peduli, karena ia yang lebih menderita, siksaan Sechan membuat luka besar yang bahkan belum sembuh hingga saat ini.
Doyoung harus menjalani terapi ratusan kali, menyewa psikiater pribadi agar traumanya tidak muncul lagi.
Entah disebut beruntung atau justru sebaliknya karena trauma besarnya itu yang membuatnya bertemu dengan cinta pertama sekaligus ciuman pertamanya, So Junghwan.
Netra Doyoung melirik Junghwan yang masih fokus dengan layar televisi, dokternya terlihat tampan dengan pakaian tidur berbahan silk sebagai atasan.
"Layarnya di depan." Ucap Junghwan, ia tahu kalau sejak tadi Doyoung terus mencuri pandang ke arahnya.
Bibir Doyoung merengut maju, "Filmnya gak seru."
"Kan tadi kamu yang milih?"
Doyoung menatap layar televisi yang menampilkan adegan film animasi, dua karakter utama sedang bernyanyi di bawah gemerlap lampion yang sengaja diterbangkan atas perintah istana.
Satu-satunya film animasi yang Doyoung punya di rumah.
"Abisnya, dokter gak mau aku ajak nonton film porno."
Junghwan juga tidak tahu kenapa Doyoung memiliki koleksi lengkap dari trilogi Fifty Shades, di rumah sebesar ini dan jauh dari keramaian, bukankah percuma menonton film dewasa sendirian?
Ia tidak menjawab dan memilih untuk kembali fokus ke televisi di depan.
"Kamu mirip dia." Ucap Junghwan sambil menunjuk salah satu karakter utama.
"Siapa? Eugene? Emang muka aku mirip pencuri?"
Junghwan menggeleng, "Rapunzel."
Doyoung berpikir sebentar sebelum menjawab, "Aku gak pernah punya rambut blonde dan sepanjang itu."
Tidak kaget, Junghwan juga tidak heran dengan jawaban bodoh pasiennya.
"Rumah ini, gak jauh beda sama menara yang dia tempatin. Sama-sama jadi tempat persembunyian, bedanya dia diculik sama nenek sihir, sedangkan kamu malah mengasingkan diri."
"Sok tau, kenapa sih Dokter selalu sok tau?" Protes Doyoung tidak terima, "Tujuan utama aku tinggal di sini tuh bukan karena mau kabur." Ucapnya lagi.
"Terus?" Tanya Junghwan, sedikit penasaran dengan alasan sebenarnya.
"Ya karena mau tinggal berdua sama kamu lah! Biar aku bebas ngapa-ngapain kamu dan kamu jadi susah lari karena rumahku jauh dari pusat kota." Jawab Doyoung sembari menggeser tubuh untuk mendekat ke arah Junghwan, ia bahkan mulai meletakkan tangan di atas paha yang lebih tua, membuat gerakan melingkar dengan ibu jari dan itu berhasil membuat naluri Junghwan terpanggil.
"Nonton film porno aja, yuk?"
Sepertinya Junghwan harus menambah dosis obat Doyoung di konsultasi selanjutnya.
...
zuzur rada nyesel ambil topik ini soalnya capek kayak ngetik 10 menit tapi googlingnya setengah jam wkwkwk tapi demi hwanbby dan kalian gpp aku rela
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com