Chapter VI
"Dokter."
"Mhm?"
"Dokter So."
"Kenapa, Kim Doyoung?"
Fokus Junghwan yang semula tertuju pada layar di depan kini beralih ke Doyoung yang terus memanggil namanya dari samping, "Ada apa?" Tanyanya lagi, dengan nada suara lembut dan berhasil membuat senyum tipis terukir di wajah lawan bicara.
"Dokter udah lama pacaran sama cewek itu?"
Terlalu banyak kejadian mengejutkan hari ini, Junghwan hampir lupa kalau tadi pagi ia baru saja memergoki kekasihnya yang selingkuh.
"Tiga tahun." Jawab Junghwan singkat.
Doyoung mengangguk paham, "Terus gimana?" Tanya Doyoung kemudian.
"Gimana apanya?"
"Hubungan kamu sama dia, gimana sekarang?"
"Ya udahan, tadi pagi saya cuma mau mastiin kalau di hubungan kami udah gak ada yang bisa dipertahanin."
Doyoung mengulum senyum, ia melirik layar yang menampilkan adegan paling akhir dari film yang mereka tonton, tangannya meraih remote dan langsung mematikan televisi agar tidak mengganggu obrolannya dengan Junghwan.
"Jadi sekarang, Dokter jomblo dong?"
Senyum Doyoung makin lebar saat melihat Junghwan mengangguk, "Bisa gak sih proses pengobatan kita dipercepat?" Tanya Doyoung lagi, dan cukup membuat Junghwan terkejut karena topik yang mendadak berubah.
"Bisa aja asal kamu ada kemauan buat sembuh." Junghwan menjawab sebelum meraih gelas kopi yang ada di atas meja dan menyesap isinya perlahan.
"Kalau aku udah sembuh, Dokter mau kan pacaran sama aku?"
Seketika Doyoung menepuk pelan punggung Junghwan saat laki-laki itu tersedak minumannya sendiri, "Pelan-pelan dong minumnya, aku gak akan minta."
Junghwan mengatur napas setelah batuknya reda lalu melirik jam yang ada di sudut ruangan, "Udah jam segini, tidur yuk?"
"Dokter ngajak aku tidur bareng?"
Siapapun tolong Junghwan sekarang.
Jika sebelumnya Doyoung tidak mengalami kejadian buruk, sudah dipastikan Junghwan akan marah karena kalimat asalnya, namun ia berusaha sabar karena mau bagaimanapun juga, Doyoung adalah pasiennya yang masih harus ia sembuhkan.
"Maksud saya kita tidur di kamar masing-masing."
Doyoung menggeleng kuat, "Aku masih mau ngobrol sama kamu, coba ceritain dong pas kamu masih pacaran sama cewek itu." Tawar Doyoung, sebenarnya ia takut tidur di kamarnya malam ini, apalagi tadi siang kakaknya datang ke sini.
"Ceritain apa?"
"Ya apa aja, hal menarik pas kalian pacaran gitu?"
"Gak ada yang menarik."
"Sayang banget, kalau pacaran sama aku pasti kamu bakal punya banyak stok cerita menarik."
Junghwan terkekeh pelan sebelum bersandar ke bagian belakang sofa, kalau boleh jujur ia sudah sangat mengantuk sekarang, ditambah tadi dirinya bangun pagi-pagi sekali.
"Kamu gak ngantuk?" Tanya Junghwan dan dibalas dengan gelengan kepala yang lebih kecil.
"Belum, dokter ngantuk?"
"Sedikit."
Sebagian besar lampu di rumah Doyoung sudah dimatikan, saat ini di tempat mereka duduk pun hanya mengandalkan cahaya yang berasal dari lampu remang yang menggantung di langit-langit ruangan.
Dan dalam penerangan seadanya, Doyoung dapat melihat wajah mengantuk Junghwan.
"Yaudah kamu tidur duluan aja." Ucapnya, dirinya tidak ingin membuat Junghwan terjaga hanya karena ia yang takut tidur sendirian.
"Terus kamu?"
"Aku masih mau nonton film." Jawabnya lalu menyalakan televisi menggunakan remote di tangan. "Tadi aku kurang fokus nontonnya." Lanjut Doyoung, ia kembali memutar film yang sudah selesai sebelumnya.
Junghwan mengangguk, ia bangkit dari duduknya lalu meraih gelas kopi kosong, membawanya ke dapur lalu kembali berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Doyoung memerhatikan langkahnya sebelum menghela napas berat, sepertinya ia harus kembali terjaga malam ini.
Sebenarnya tubuh Doyoung juga sama lelahnya, ia kesulitan tidur selama berada di rumah ini. Tapi rasa takutnya jauh lebih besar dan berhasil mengalahkan semua hal.
Netranya memandang kosong ke arah televisi yang terus memutar berbagai adegan, sementara kepalanya mulai berisik karena kini tidak lagi ada yang dapat ia ajak bicara.
Namun tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh sosok Junghwan yang berjalan ke arahnya sambil membawa dua selimut dan gelas kopi yang baru di tangan.
"Ayo begadang malam ini."
Dan Doyoung tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum lebar saat mendengar ucapan Junghwan.
***
"Jadi menurut dokter, aku gak bisa sembuh?"
Kini Doyoung meringkuk di atas sofa single, membiarkan Junghwan berbaring di satu-satunya sofa panjang yang ada di sana.
"Bukan gitu, tiap penyakit pasti bisa sembuh asal sumber sakitnya hilang." Jelas Junghwan, "Dalam kasus kamu, kamu cuma punya dua pilihan. Memaafkan, atau melupakan. Dan saya tau dua hal itu pasti berat buat kamu lakuin, makanya proses penyembuhan makan waktu panjang." Lanjutnya lagi.
Doyoung mengangguk walau sebenarnya ia masih tidak paham dengan maksud kalimat Junghwan.
"Selama kakakmu masih ada, rasa takut kamu gak akan hilang. Nah ketakutanmu itu yang bikin penyakit kamu dateng lagi."
"Apa aku bunuh aja dia ya? Biar gak ketemu aku lagi."
Netra Junghwan yang tadinya hampir tertutup kini terbuka lebar, ia bangun dari tempatnya lalu menatap Doyoung yang baru saja mengatakan hal aneh tanpa ekspresi sama sekali.
"Kamu gak boleh mikir kayak gitu, cukup dia yang jadi tersangka dan dipenjara, di sini kan kamu korbannya."
Tawa pelan keluar dari mulut Doyoung saat melihat raut panik Junghwan, padahal dia hanya asal bicara. Jangankan membunuh, mendengar suara kakaknya saja sudah mampu membuat tubuh Doyoung gemetar ketakutan.
"Gimana kalau aku yang mati? Jadi gak akan bisa ketemu dia lagi."
Junghwan menghela napas, ia tidak kaget dengan ucapan Doyoung saat ini karena ini juga bukan kali pertama pasiennya mengatakan hal serupa.
"Kamu tau kalau itu bukan solusi, saya udah berkali-kali bilang dan minta kamu untuk cari hal lain buat kamu jadiin distraksi."
"Aku bercanda." Doyoung menjawab asal dan mulai merapatkan selimut yang menutupi sebagian tubuh, merapatkan kaki yang terlipat di depan dada sebelum akhirnya menguap lebar, berbincang dengan Junghwan ternyata membuat rasa kantuknya kian menjadi.
Yang lebih tinggi pun bangkit dan berjalan ke tempat Doyoung, "Kamu tidur di sana biar saya di sini."
Tapi perintahnya Doyoung tolak mentah-mentah, "Gak usah, aku di sini aja, kan aku yang maksa kamu buat nemenin." Ucapnya dan mulai menutup mata.
Junghwan berdecak kesal, ia lalu mengangkat Doyoung dengan kedua tangan dan membaringkannya ke sofa panjang yang sebelumnya ia tempati. Setelah memastikan posisinya nyaman, Junghwan pun bergegas untuk kembali ke kursi kosong yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini.
Namun langkahnya berhenti saat merasakan tangan Doyoung mencengkram kuat ujung kaos yang ia gunakan.
"Dokter." Panggilnya dengan suara pelan.
"Ya?"
"Jangan kemana-mana."
Junghwan mengangguk lalu melepas tangan Doyoung yang ada di bajunya, ia tersenyum saat mendengar napas Doyoung yang mulai teratur, hampir jam tiga pagi dan pasiennya baru terlelap setelah seharian mengalami banyak kejadian buruk.
Ia mengambil tempat di sofa single yang menghadap ke arah Doyoung, ruang tengah terasa jauh lebih menyeramkan karena dari sini ia dapat melihat ke berbagai sudut rumah, tapi Junghwan juga tidak mungkin meninggalkan Doyoung sendirian.
Maka ia memilih untuk ikut memejamkan mata, ia harus bertahan setidaknya sampai matahari terbit nanti.
Rasanya Junghwan baru tertidur sebentar sampai tiba-tiba telinganya mendengar suara rintihan pelan. Dengan ragu ia membuka mata, jangan sampai Junghwan menemukan hantu di sini karena kalau boleh jujur, dirinya takut dengan semua makhluk tidak kasat mata.
Tapi bukannya hantu, Junghwan malah menemukan Doyoung yang menangis dalam tidurnya. Suaranya terdengar sangat menyakitkan, air mata juga terus mengalir di kedua sisi wajahnya.
Junghwan lalu berjalan ke arahnya, berjongkok tepat di depan Doyoung sebelum mengusap kepalanya dengan lembut. "Doyoung..." Panggilnya pelan.
"Hey, wake up." Lanjutnya, kali ini tangannya bergerak untuk mengusap keringat yang bercampur air mata di pipinya.
"Kim Doyoung." Panggil Junghwan lagi, kali ini dengan suara yang lebih kuat.
Dan berhasil, Doyoung mulai membuka mata dan ia disambut dengan raut khawatir Junghwan yang tengah berjongkok di depannya.
"Dokter... kakakku gak mau pergi." Ucapnya sebelum kembali menangis keras, kedatangan kakaknya siang tadi membuat Doyoung tidak berhenti memikirkan berbagai hal buruk yang sebelumnya terjadi bahkan hingga ke dalam mimpi.
Junghwan menarik tubuh Doyoung untuk duduk, mengambil tempat di sebelahnya lalu memeluknya erat. Ia tidak berhenti membisikkan kalimat penenang sambil terus mengusap punggung sempit pasiennya yang bergetar karena isakan.
"Ada saya, kamu gak perlu takut, saya bakal nemenin kamu terus di sini." Bisik Junghwan tepat di telinga Doyoung, tapi tindakannya terasa percuma karena tangis Doyoung tidak mereda sama sekali.
Dan Junghwan juga tidak menyerah, ia masih berusaha menenangkan mau sekuat apapun Doyoung meronta di pelukannya.
"Everything's gonna be fine, Doyoung. Saya gak akan biarin dia nyakitin kamu lagi."
Entah kenapa ucapan Junghwan terdengar begitu meyakinkan, meski Doyoung tahu bahwa Junghwan berkata demikian karena ia adalah dokter yang memang bertugas untuk menyembuhkan.
Tapi dalam hati dirinya berharap agar kalimat yang baru ia dengar akan terus bertahan walau kontrak mereka akan berakhir entah kapan.
***
"Saya udah transfer sebagian, Doyoung bilang sisanya nanti pas dia udah beneran sembuh dan gak butuh kamu lagi."
Junghwan mengangguk, Asahi menghubunginya tepat setelah ia selesai mandi, menjelaskan perihal pembayaran yang sebenarnya sempat Junghwan lupakan kalau itu adalah tujuan utamanya.
Ini hampir pukul tiga sore, begitu selesai menemani Doyoung semalaman, ia akhirnya tidur dan beristirahat setelah Doyoung memaksanya untuk masuk ke dalam kamar dan meyakinkan dokternya kalau dirinya sudah baik-baik saja.
Perasaan Junghwan sangat sulit diartikan, melihat bagaimana parahnya kondisi Doyoung akhir-akhir ini membuatnya berpikir soal metode pengobatan yang sepertinya harus diubah.
Tapi ia juga tidak mau menambah dosis obat, Junghwan tidak ingin Doyoung terlalu bergantung dengan itu semua.
Maka Junghwan memutuskan untuk menggunakan pakaian santai lalu berjalan menuju kamar utama. Ia berniat mengajak Doyoung keluar rumah untuk menjernihkan pikiran, berada di rumah yang menyeramkan ini sepertinya membawa pengaruh buruk untuk pasiennya.
"Doyoung." Panggilnya setelah mengetuk pintu.
Dapat Junghwan dengar suara kunci yang terputar dari dalam sebelum pintu di depannya terbuka dan menampakkan pemilik rumah.
Wajah Doyoung terlihat pucat, ini pasti karena ia terus menangis tanpa henti tadi malam. Sebenarnya Junghwan juga tidak tega untuk membawa Doyoung keluar rumah, tapi ia tidak punya pilihan lain, setidaknya mereka harus makan sesuatu dan kurir tidak akan mau melayani pesan antar ke rumah yang ada di tengah hutan seperti ini.
"Saya mau beli sesuatu di luar, kamu mau ikut?"
"Ikut, aku ikut. Bentar."
Ia kembali menutup pintu untuk mengambil sesuatu di dalam, tidak lama kemudian Doyoung keluar sambil menenteng cardigan di tangan.
"Ayo." Ucapnya, dan Junghwan mengangguk lalu menarik tangan yang lebih kecil untuk ia bawa masuk ke dalam genggaman dan menuntunnya menuju mobil yang ia parkir di depan.
Doyoung tidak paham apa maksud dan tujuan Junghwan menggenggam tangannya sekarang tapi yang ia tahu, rasa hangat dari tangan Junghwan pasti akan ia rindukan.
...
mau tanya dong, menurut kalian ini alurnya kecepetan atau kelambatan atau oke oke aja? aku niatnya emang gak mau bikin sampe banyak chapter sih tapi udah chapter 6 malah masih begini aja hubungannya hehe (bloon banget emang)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com