Chapter VII
"Emang Dokter bisa masak?" Tanya Doyoung heran.
Masalahnya sejak tadi Junghwan sibuk memasukkan berbagai macam bahan masakan ke dalam troli, mengajarkan Doyoung bagaimana cara memilih sayuran dan daging segar serta cara menyimpannya agar awet di lemari pendingin.
"Bisa." Jawab Junghwan singkat sebelum kembali meletakkan sayuran hijau ke dalam troli yang hampir penuh. "Kamu gak mau beli apa gitu? Ambil aja, saya traktir. Mumpung saya baru gajian."
Keduanya tertawa setelah Junghwan selesai bicara, gaji yang ia maksud adalah uang yang baru saja dikirim oleh manajer Doyoung tadi siang.
"Mending dipake buat bayar klinik Dokter yang hampir ambruk itu."
"Tenang, uang saya masih banyak."
Bisa-bisanya Junghwan menyombongkan uang yang diberi oleh pasiennya sendiri, Doyoung hanya tertawa sebelum kembali memandang sekeliling, supermarket nampak ramai karena ini merupakan akhir pekan, sungguh hari yang cocok untuk berbelanja bersama keluarga.
Tidak ada yang Doyoung inginkan di sini kecuali laki-laki yang kini ada di sisinya tentu saja, ia ingin cepat pulang karena kakinya pegal saat dipakai berjalan terlalu lama dan kalau boleh jujur, dirinya benci keramaian.
Doyoung terkesiap saat sebelah tangan yang awalnya ia lipat di depan dada mendadak diraih oleh Junghwan, "Ayo ikut saya." Titahnya sambil menarik Doyoung agar mengikuti langkahnya.
Tanpa sadar netra Doyoung terus memerhatikan Junghwan yang berjalan di depannya, Dokter pribadinya terlihat tampan dengan kaos hangat panjang yang digulung hingga lengan, serta bawahan berwarna cokelat tua.
Siapapun tidak akan mengira bahwa umurnya akan menginjak kepala tiga dalam dua tahun ke depan.
Langkah Junghwan berhenti di depan rak berisi puluhan merek cokelat batang, "Ambil, kamu bebas pilih yang mana aja."
"Cokelat? Buat apa?"
"Ya buat kamu, zat yang terkandung dalam cokelat bisa merangsang produksi endorfin."
"Endorfin?"
"Hormon yang bisa bikin kamu bahagia."
Andai laki-laki di sampingnya tahu kalau keberadaannya sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Tapi Doyoung sedang tidak dalam mood yang baik untuk berkata demikian dan memilih menuruti perintah Junghwan, tanpa bicara ia meraih beberapa bungkus cokelat dan memasukannya ke dalam troli belanja.
"Segitu doang?"
Doyoung mengangguk, "Nanti aku gendut kalau makan cokelat banyak-banyak."
Jawaban Doyoung membuat Junghwan tertawa, tangannya refleks bergerak untuk mengusap kepala yang lebih muda. "Justru kamu harus makan yang banyak, you're way too thin for your height. I can even lift you easily from the second to first floor."
Tepat setelah Junghwan selesai bicara, seseorang berjalan cepat dari arah berlawanan hingga menubruk bahu Doyoung, laki-laki itu hampir jatuh kalau saja Junghwan tidak menahan tubuhnya dengan sebelah tangan.
"See?" Ucap Junghwan lagi, ia kemudian menukar tempat agar Doyoung berada di sisi dalam jalan. "Kayaknya saya juga harus atur soal makan kamu mulai sekarang."
"Doctor So, you're my personal psychiatrist not my babysitter."
"But you're still a baby." Canda Junghwan.
"Umurku dua puluh empat tahun ini, but I don't mind if you want to call me baby." Jawab Doyoung, diiringi dengan kedipan mata genitnya di akhir kalimat.
Seharusnya Junghwan tahu bahwa tidak seharusnya ia berkata demikian, Doyoung akan selalu punya jawaban jika menyangkut soal hubungan romantis yang tidak mungkin ada di antara mereka.
Begitu pikir Junghwan pada awalnya.
Mereka menghabiskan cukup banyak uang untuk berbelanja, Junghwan bahkan butuh banyak waktu untuk mengatur barang-barang yang sebagian ia taruh di seat belakang karena tidak muat di dalam bagasi mobil Doyoung.
"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Junghwan, mereka masih punya waktu untuk sekadar berjalan di pinggir sungai Han atau taman terdekat dari rumah.
Mobil keluar dari parkiran bawah tanah dan kini mereka disambut dengan langit sore berwarna jingga, "Mau jalan-jalan dulu." Jawab Doyoung karena mendadak ia ingin melihat matahari terbenam.
Junghwan mengangguk lalu mengarahkan mobil ke tempat yang tidak terlalu banyak orang, ia tahu Doyoung benci keramaian setelah memerhatikan rautnya yang tidak nyaman selama di supermarket tadi.
Dan di sinilah mereka sekarang, sisi paling ujung sungai Han.
Keduanya duduk berdampingan di atas kursi panjang yang menghadap langsung ke sungai yang tenang di depan, juga langit luas yang menggelap perlahan.
"Mau naik bebek-bebekan gak?" Tanya Junghwan, berusaha memecah keheningan.
Dan usahanya berhasil karena Doyoung yang mulai tertawa di sampingnya, "Aku takut air." Tolaknya sambil menggeleng pelan.
Sungguh jawaban yang tidak masuk akal dari seorang atlet renang.
"Dokter So."
"Ya?"
"Thank you for everything you did last night."
Junghwan menoleh dan menemukan Doyoung yang masih sibuk memandang ke depan, suaranya kali ini terdengar tulus, tanpa candaan, tanpa intensi untuk menggoda seperti apa yang biasanya ia lakukan.
"Dan buat kalimat yang Dokter omongin tadi malam, I finally can sleep peacefully karena aku percaya kalau janji kamu emang bisa aku pegang."
Sekarang Junghwan paham kenapa ia tidak sedih saat memergoki kekasihnya selingkuh di tengah kesulitan yang melanda, karena kehadiran Doyoung di sampingnya membuatnya merasa bahagia.
Semua tingkah aneh, ucapan asal yang keluar tanpa dipikir lagi dari mulutnya, serta bagaimana Doyoung bersikap seolah Junghwan adalah orang yang paling ia butuhkan di dunia.
Dirinya masih sibuk dengan semua isi kepala yang terasa berkecamuk, sampai tiba-tiba Doyoung ikut menoleh, memandangnya dengan senyum paling manis yang pernah Junghwan lihat.
Junghwan mengangguk pelan, membalas senyum Doyoung dengan tangan yang sudah saling bertaut entah sejak kapan, menjadikan sore itu sebagai sore paling indah bagi Junghwan dan pasien yang duduk di sampingnya.
Dalam hati ia berjanji akan menepati semua hal yang dirinya ucap pada Doyoung tadi malam.
***
"Dokter sekolah belasan tahun buat bisa kerja jadi psikiatri?" Tanya Doyoung.
Ia kini duduk di atas kitchen counter, berdalih menemani Junghwan yang sibuk merapikan belanjaan di dalam lemari pendingin. Junghwan memang sengaja menolak saat Doyoung menawarkan bantuan karena ia tahu itu hanya akan menambah pekerjaan.
Dan Junghwan menjawabnya dengan anggukan.
"Buat apa sekolah lama-lama kalau ujung-ujungnya Dokter dibayar sama atlet yang bahkan gak kuliah."
Tepat, ucapan Doyoung menusuk tepat ke dada Junghwan. Terdengar menyakitkan namun memang begitu kenyataannya.
Dibanding marah, Junghwan justru tertawa, membuat Doyoung memandangnya heran. "Kok ketawa?" Tanyanya.
"Gapapa, lucu aja." Jawab Junghwan sebelum akhirnya bangkit, ia memandang kulkas yang kini penuh dengan berbagai bahan makanan, setidaknya mereka tidak perlu pergi jauh hanya untuk mengisi perut dalam beberapa hari ke depan.
"Apanya?"
"Kamu lucu." Ucap Junghwan sambil mencolek ujung hidung yang lebih muda.
Gerakan Junghwan yang tiba-tiba membuat Doyoung diam seketika, apa Dokternya sengaja membalas tingkah gilanya dengan melakukan hal serupa?
"Kamu gak alergi salmon, kan?" Tanya Junghwan sambil menyiapkan bahan makanan yang sengaja ia sisihkan. Ia menoleh ke arah Doyoung yang ternyata masih diam di tempat, "Kim Doyoung?"
Netra Doyoung mengerjap pelan sebelum akhirnya sadar dari lamunan, "Enggak." Jawabnya singkat lalu bergegas turun dari tempatnya duduk.
Doyoung hampir jatuh saat melompat karena ia tidak menyadari bahwa ada air yang menggenang tepat di bawahnya, beruntung Junghwan menangkap tubuhnya dengan cepat agar ia tidak terbentur lantai.
"Hati-hati." Omel Junghwan dengan raut khawatir.
Dalam jarak sedekat ini, Doyoung dapat melihat mata Junghwan yang berwarna cokelat terang, sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu.
"Harusnya di adegan kayak gini, kita ciuman gak sih?"
Dan ucapan Doyoung yang tiba-tiba berhasil membuat Junghwan melepas tangan yang melingkar di pinggangnya. Karena posisi Doyoung masih belum seimbang, tubuhnya kembali jatuh ke bawah dan dengan cepat ia menarik kaos yang Junghwan gunakan sebagai penahan.
Tapi tidak cukup kuat dan malah membuat Junghwan ikut jatuh tepat ke atas tubuhnya.
Doyoung mengerang ketika merasakan sakit di tubuh bagian belakang yang terantuk lantai marmer, ditambah beban berat yang kini berada di atasnya.
"So Junghwan!!!!"
"Oh my God."
Junghwan yang panik seketika bangkit dari posisinya dan langsung mengangkat Doyoung setelah memastikan tidak ada luka luar di tubuhnya.
"Maaf, maaf tadi saya gak sengaja." Ucap Junghwan setelah mendudukkan Doyoung di atas sofa ruang tamu, ia juga menggeret kursi kecil guna menjadi sandaran kakinya yang sengaja ia rentangkan.
Doyoung lagi-lagi meringis ketika merasakan sakit di pinggang dan sikunya. "Stupid, stupid So Junghwan." Ucapnya dengan suara bergetar, bahkan hampir menangis.
Entah apa yang kini Junghwan lakukan di dapur tapi yang jelas saat ia kembali nanti, Doyoung siap membalas semua perbuatannya.
Namun niatnya urung karena ternyata Junghwan kembali dengan cepat sambil membawa handuk kering serta baskom berisi air dingin. Dengan hati-hati Junghwan mengompres memar di siku yang lebih muda.
"Maaf, saya beneran gak sengaja." Ucap Junghwan, tapi Doyoung memilih untuk tidak menanggapi.
Karena ia tahu begitu mulutnya terbuka, pasti dirinya akan langsung menangis saat itu juga.
Sesi makan malam yang harusnya berjalan lancar malah hancur berantakan karena kebodohan So Junghwan, padahal baru tadi pagi ia berkata bahwa dirinya siap melindungi Doyoung dari apapun juga, tapi malah Junghwan sendiri yang kini menyakitinya.
Terdengar berlebihan memang tapi Doyoung benar-benar tidak menyangka bahwa Junghwan akan secepat itu menjatuhkan tubuhnya.
"Maaf." Ucap Junghwan lagi setelah selesai mengompres memar di beberapa bagian tubuh Doyoung, namun bukannya menjawab Doyoung justru memalingkan wajah.
Junghwan menghela napas sambil berpikir bagaimana cara memperbaiki mood pasiennya.
Setelah membereskan peralatan kompres di dapur, Junghwan kembali ke tempat Doyoung, duduk tepat di sampingnya sebelum mulai bicara.
"Kim Doyoung..." Ucap Junghwan pelan, telunjuknya mulai bergerak menekan pergelangan tangan Doyoung.
Dan Doyoung tidak menjawab.
"Maaf..." Lanjutnya, tapi Doyoung masih enggan menjawab.
Lagi-lagi Junghwan menghela napas, ia memejamkan mata sejenak lalu kembali bicara.
"Kamu mau saya cium di mana?"
Doyoung tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar, dirinya memandang Junghwan yang kini bergerak gelisah karena salah tingkah, ia bahkan bisa melihat telinga Junghwan yang memerah.
"Tadi katanya mau ciuman?"
Sekuat tenaga Doyoung menahan senyum, pertahanannya tidak boleh runtuh hanya karena satu ciuman yang Junghwan tawarkan.
"Ayo ciuman."
Tidak, cukup kemarin ia merelakan bibirnya dijamah begitu saja oleh orang yang bahkan tidak menyukainya. Hari ini Doyoung berniat jual mahal di depan Junghwan.
"Gak mau." Jawab Doyoung ketus.
"Kenapa?"
"Ya gak mau aja."
"Tadi katanya mau."
"Sekarang enggak."
"Apa alasannya?"
"Berisik ih kebanyakan tanya, Dokter tuh tau gak sih kalau-"
Ucapan Doyoung terpotong sebab Junghwan yang dengan santainya menyatukan bibir mereka, dengan jarak sedekat ini, Doyoung melihat mata Junghwan yang tertutup dan entah kenapa ciuman kali ini berbeda dengan apa yang mereka lakukan tempo hari.
Jauh lebih lembut, dan terasa hangat.
Jantung Doyoung masih berdegup cepat, perlahan tangannya bergerak ke depan dada Junghwan dan tanpa sadar ia tersenyum saat merasakan bahwa debar jantung Junghwan juga sama cepatnya.
Doyoung mencengkram kaos yang Junghwan gunakan saat laki-laki itu mulai menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian, mengakhiri sesi ciuman dengan jilatan pelan di seluruh sudut bibirnya.
Begitu Junghwan menarik diri, baru lah Doyoung sadar bahwa ternyata ia menahan napas sejak tadi.
"What the hell..." Racau Doyoung sambil terengah, ia meneguk ludah karena lagi-lagi tubuhnya dibuat lemas dengan mudah.
"Saya buat makan malam dulu." Ucap Junghwan pada akhirnya, laki-laki itu berjalan cepat menuju dapur, meninggalkan Doyoung yang masih belum mampu memproses semua kejadian sendirian.
...
ciuman mulu nih orang tua
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com