Chapter X
"Jadi, sejak kapan kamu cuma bisa tidur di kolong ranjang?"
Memalukan, padahal Doyoung sudah berusaha mati-matian menyembunyikan fakta itu dari Junghwan.
Bukannya membawa Doyoung untuk beristirahat di ruang tengah seperti biasa, Junghwan justru menyeret pasiennya ke ruang kerja, menulis rentetan kejadian yang baru saja ia lihat di atas kertas berisi rekam medis yang Doyoung yakini pasti makin panjang daftarnya.
"Sejak tinggal sendirian." Jawab Doyoung singkat.
"Kenapa kamu gak bilang di sesi pengobatan kita dulu?"
"Ya karena gak penting? Emangnya ngaruh?"
Junghwan menghela napas, ia merapikan kacamata yang bertengger di hidungnya sebelum mengambil tempat di sebelah Doyoung.
"Kenapa kamu cuma bisa tidur di sana?" Tanya Junghwan lagi.
"Kalau di atas kasur, tidurku gak nyenyak."
"Alasannya?"
Doyoung memejamkan mata sejenak, menarik napas berat lalu menjawab pertanyaan Junghwan. "Karena dulu kakakku sering..."
Ada jeda sesaat sebelum Doyoung melanjutkan kalimat, sementara Junghwan terus menunggu sambil berharap kalau tebakannya salah.
"Dulu kakakku sering pegang-pegang aku." Jawab Doyoung, ia langsung memalingkan wajah, menghindari tatapan Junghwan.
Junghwan mengangguk samar walau ada sesuatu yang mengganjal saat mendengar fakta baru dari pasiennya, mencatat inti dari yang ia ucap lalu berjalan ke arah meja kerja, meninggalkan pasiennya yang dongkol sendirian.
Beberapa saat kemudian Junghwan kembali mendekat, duduk di samping Doyoung dan tangannya bergerak untuk menyentuh kening yang lebih muda, Doyoung terus demam akhir-akhir ini, membuat Junghwan terpaksa menunda sesi terapi.
"Kamu makan dulu, habis itu minum obat terus istirahat lagi, besok pagi kita coba terapi di kolam renang." Ucapnya, ia bersyukur dalam hati karena malam ini suhu tubuh Doyoung tidak setinggi tadi pagi.
"It's too much, Doyoung. Saya bisa bawa kamu ke rumah sakit kalau kondisi kamu terus separah ini dan gak ada kemajuan sama sekali."
"Ya itu karena dokter yang malah sibuk sama hal lain, bukan fokus buat ngobatin aku." Protes Doyoung.
"Kamu nyembunyiin terlalu banyak hal dari saya, gimana bisa saya tau apa masalah kamu sebenernya kalau kamu gak cerita?"
"Soal ini gak penting, aku cuma mau bisa berenang secepatnya."
Junghwan tertawa miris, "Saya psikiater kamu, harusnya kamu ceritain semua hal ke saya supaya saya bisa cari solusinya. Kalau kamu aja gak jujur ke saya, terus kamu bisanya jujur ke siapa?"
Doyoung kembali memalingkan wajah, enggan menatap Junghwan yang baru saja menyerangnya dengan fakta.
"Selain tekad dan usaha keras, kejujuran kamu juga jadi kunci supaya semua masalah bisa teratasi. I won't judge you, Doyoung. Meski kamu cerita soal masa lalu paling kelam yang kamu alami, itu gak akan ubah cara pandang saya ke kamu."
Sebelah tangan Junghwan lagi-lagi bergerak, kali ini meraih milik Doyoung untuk ia bawa ke dalam genggaman, "All you have to do is believe in me, saya bakal sembuhin semua sakit kamu, saya janji gak akan pergi kemanapun sebelum kamu sembuh dan bisa berenang lagi."
Senyum tipis terukir di wajahnya saat Doyoung ikut membalas pegangan, tangan Doyoung sangat kecil dan terlihat pas di genggaman Junghwan.
"Okay, sayang?"
Dan senyum Junghwan makin lebar ketika melihat Doyoung tertawa saat mendengar kalimatnya.
"Sayang?" Panggil Junghwan lagi, kali ini dengan nada manja.
"Sayang sayang your ass." Balas Doyoung, bedanya nada bicaranya kali ini tidak seketus tadi, membuat tawa renyah keluar dari mulut mereka.
Sepertinya konsultasi kali ini berjalan baik, keduanya berharap semoga akan terus begini di pengobatan-pengobatan selanjutnya.
***
Setelah sesi makan malam dengan sup yang hampir dingin berakhir, keduanya berjalan menuju kamar masing-masing di lantai dua, dan Junghwan heran melihat Doyoung yang seakan enggan masuk ke dalam kamar utama.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Ini kuncinya sampe hancur gini, kamu apain?" Tanya Doyoung begitu melihat handle pintu kamarnya yang sudah terpisah dari tempatnya.
"Oh, saya bongkar." Jawab Junghwan enteng. "Saya gak mungkin bisa dobrak pintu sebesar ini sendirian."
Bibir Doyoung merengut maju, ia tidak bisa tidur di kamar yang pintunya tidak terkunci. Junghwan yang menyadari gerak-gerik anehnya pun memandangnya heran.
"Kenapa?" Tanya Junghwan lagi.
"Kalau pintunya gak dikunci aku gak bisa tidur."
"Yaudah tidur di kamar saya, biar saya tidur di ruang tengah."
"Ranjang itu gak ada kolongnya."
Junghwan menghela napas, "Yaudah tidur di atas ranjang aja?" Ucap Junghwan, seolah itu bukan perkara buruk bagi Doyoung.
"Gak bisa." Jelas Doyoung, "Aku udah pernah coba tapi gak bisa."
Junghwan berpikir sejenak sebelum menarik tangan Doyoung untuk masuk ke dalam kamar, ranjang yang ada di sini lebih luas dibanding di kamarnya.
"Tidur sama saya." Ucap Junghwan setelah keduanya masuk ke dalam, pintu yang kini tidak memiliki handle itu dibiarkan terbuka sebagian. "Saya gak akan macem-macem, kamu bisa langsung lari kalau saya ngapa-ngapain kamu."
Doyoung menggigit bibir bawahnya sendiri, jauh di dalam hati sebenarnya ia ingin tidur bersama dokternya karena ayolah, Junghwan sudah menarik perhatiannya sejak pertemuan pertama mereka.
"Gimana? Atau kamu mau tidur di ruang tengah?" Tawar Junghwan, kali ini Doyoung menggeleng.
"Sebenernya aku takut tidur di sana, walau sama dokter juga waktu itu."
Andai Doyoung tahu kalau Junghwan juga sama takutnya.
Dan di sinilah mereka sekarang, berbaring berdampingan di atas ranjang luas yang tidak pernah Doyoung tempati. Lampu utama sudah mati sejak tadi, menyisakan penerangan seadanya dari lampu tidur juga dari cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.
Jendela yang tidak pernah dibuka karena dibatasi oleh teralis tebal, Doyoung memang sengaja meminta tukang untuk menutupnya karena takut orang jahat akan masuk lewat sana.
"Tidur." Titah Junghwan sebab Doyoung terus bergerak gelisah di sampingnya.
"Gak bisa." Jawab Doyoung, diiringi rengekan pelan di akhir kalimat.
Entah sudah berapa kali Junghwan menghela napas malam ini, yang lebih tinggi akhirnya mendekat, berbaring menyamping dengan sebelah tangan yang mulai bergerak tepat ke depan wajah Doyoung, tangan besarnya perlahan menutup kedua mata yang enggan terpejam.
"Relax, gak ada orang jahat di sini, saya bakal jagain kamu."
Mata Doyoung memang sudah terpejam, tapi bagaimana caranya ia bisa tidur kalau jantungnya terus berdegup tidak karuan.
"Dokter." Bisik Doyoung.
"Mhm?"
"Mau peluk, boleh gak?"
"Enggak."
Doyoung mendorong keras tangan Junghwan yang ada di wajahnya, "Kenapa gak boleh?" Protesnya, karena seingatnya beberapa hari ini Junghwan terus menggodanya, memeluknya, bahkan menciumnya berkali-kali.
Dapat Doyoung dengar tawa pelan Junghwan di sampingnya, "Kamu tuh, saya deketin gak mau, saya tolak marah, maunya apa sih?"
"Mau peluk."
"Peluk peluk, your ass."
Kali ini Doyoung menoleh dan ia menemukan Junghwan yang memandangnya dengan senyum jahil di wajah, "Nyebelin." Protesnya lagi. "Udah sana dokter tidur di kamar tamu aja." Usirnya sambil mendorong tubuh Junghwan, namun rasanya percuma karena posisi Junghwan tidak bergerak sama sekali.
Tubuh Doyoung mendadak kaku saat Junghwan benar-benar membawanya masuk ke dalam pelukan, sebelah tangannya ia selipkan di belakang kepalanya dan yang satu lagi dibiarkan melingkar di perutnya.
"Tidur, sayang." Ucap Junghwan dengan suara serak.
Doyoung berdehem pelan sebelum mengangguk, ikut melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Junghwan. Dalam jarak sedekat ini, Doyoung dapat mendengar jantung Junghwan yang juga berdetak cepat.
Dan hanya butuh waktu beberapa menit hingga keduanya mulai terlelap, entah sebab terlalu lelah atau karena posisi mereka yang terlampau nyaman, namun ini merupakan kali pertama bagi Doyoung dapat tidur nyenyak di atas ranjang.
***
"Udah?" Tanya Junghwan, ia menatap Doyoung yang mendekat ke arahnya.
Setelah sarapan, mereka memutuskan untuk langsung memulai sesi terapi yang tertunda. Junghwan memakai kaos serta celana pendek sebab ia tidak membawa pakaian renang, sedangkan Doyoung memakai atasan renang dan boxer sebagai bawahan, keduanya berjalan menuju halaman belakang yang terdapat kolam renang.
"Mual? Pusing?" Tanya Junghwan, Doyoung yang ada di sampingnya pun menggeleng pelan.
Kondisinya terasa jauh lebih baik, tidurnya juga cukup nyenyak tadi malam, ranjang yang empuk membuat tubuhnya tidak sakit di sana sini.
Junghwan duduk di pinggir kolam, dengan kedua kaki masuk ke dalam air. "Sini." Ucapnya sambil menepuk sisi kosong di sebelah, dan Doyoung pun ikut duduk di sana.
"Mau muntah gak? Gimana perasaannya?"
Doyoung menggeleng, tidak ada perasaan aneh ketika ia melihat kolam seperti yang dirinya alami di gelanggang olahraga beberapa minggu lalu.
"Kolam renang harusnya jadi tempat yang buat kamu nyaman, bukan sebaliknya. Siapa yang bakal bawa pulang medali emas di kompetisi kalau atletnya aja malah takut kayak tempo hari." Ucap Junghwan, tanpa sadar tangannya bergerak menepuk-nepuk lutut Doyoung yang ada di samping.
"Jangan pegang-pegang." Protes Doyoung sambil mendorong tangan Junghwan dari kakinya.
"Kenapa? Semalem aja kamu peluk-peluk saya?"
"Beda urusan, ih."
"Gak adil, kamu boleh suka sama saya tapi saya gak boleh suka sama kamu gitu?"
Doyoung tidak menjawab pertanyaan Junghwan dan memilih untuk masuk ke dalam kolam, Junghwan cukup terkejut namun ia tersenyum setelah melihat Doyoung juga bersikap serupa.
"Dokter bisa berenang?" Tanya Doyoung, kolam renang rumahnya tidak terlalu dalam, hanya sebatas atas perut jika Doyoung berdiri tegak.
"Kalau saya bilang nggak, kamu mau ajarin saya?"
Lagi-lagi Doyoung tidak menjawab dan malah berjalan mundur, netranya masih menatap lekat wajah Junghwan yang tersenyum di pinggir kolam.
Doyoung rindu perasaan ini, alasan ia menyukai renang adalah karena dirinya merasa bebas bergerak kesana kemari saat ada di dalam air, tubuhnya menjadi jauh lebih ringan.
Sebelum ayahnya menikah lagi, Doyoung tidak pernah absen menghabiskan waktu berjam-jam di kolam yang sengaja dibuat untuknya, menjadikannya ahli bahkan direkrut menjadi atlet saat masih anak-anak.
Saat hampir mencapai ujung kolam yang satunya, Doyoung tersenyum jahil lalu mulai menciprati air ke arah Junghwan, membuatnya protes karena cipratan itu langsung mengenai wajahnya.
"Saya males mandi lagi." Omel Junghwan karena ia juga tidak berniat untuk masuk ke dalam kolam. Tangannya berusaha menutupi wajah yang menjadi sasaran utama.
Tapi Doyoung tidak peduli, jika ia basah maka dokternya juga.
Junghwan yang hampir basah kuyup pun turun, melangkah ke arah Doyoung yang mulai menghindari dengan berenang ke lain sisi, dan dengan tangan panjangnya, Junghwan berhasil menarik tubuh itu untuk mendekat ke arahnya.
"Dokter!" Kali ini giliran Doyoung yang protes karena tangan Junghwan mulai menggelitik perutnya, "Geli, ih." Lanjutnya sambil tertawa.
Karena langsung berenang tanpa pemanasan, otot kaki Doyoung mendadak kejang. Ia hampir jatuh kalau saja tidak memegang kedua bahu Junghwan sebagai penahan.
"Kenapa?" Tanya Junghwan saat melihat raut Doyoung yang berubah seketika.
"Kram." Jawabnya sambil meringis, Junghwan refleks tertawa sebab ekspresi lucu pasiennya.
"Lagian belum pemanasan main turun aja." Omel Junghwan, kedua tangannya melingkar di pinggang yang lebih muda, sedikit mengangkatnya agar Doyoung tidak berdiri dengan bertumpu pada kakinya.
Ia melangkah pelan menuju bibir kolam, masih dengan Doyoung yang berpegangan di kedua bahunya.
Tanpa sadar Doyoung meneguk ludah, rambut Junghwan basah sebagian, otot tubuh bagian atasnya juga tercetak jelas, dokternya terlihat sangat sangat indah untuk sekadar dipandang.
"Kenapa? Saya ganteng ya?" Ucap Junghwan, ia sadar kalau Doyoung terus menatapnya tanpa henti.
Doyoung berdecak tidak terima, "Apa sih, kepedean." Omelnya sambil menepuk bahu Junghwan.
"Masih kram?" Tanya Junghwan, ia membiarkan Doyoung untuk berdiri sambil bersandar di tembok pinggir kolam, Doyoung pun menggeleng sebagai jawaban.
"Udah gak terlalu, tapi kayaknya kesemutan deh."
"Kamu sengaja ya biar saya pegang terus?"
Doyoung kembali menepuk bahu Junghwan, kali ini lebih kuat dibanding sebelumnya. "Asal banget sih? Aku gak selicik itu."
"Bener, tanpa pura-pura kram juga saya rela gendong kamu kemana-mana."
Kali ini Doyoung tertawa, tinggal beberapa hari bersama Junghwan membuatnya sadar kalau Dokternya memang tidak lebih waras dibanding dirinya, Junghwan kini selalu mempunyai kalimat untuk membalas ucapannya.
Sebelah tangan Junghwan yang sebelumnya ada di pinggang Doyoung kini mulai bergerak naik, jemarinya yang basah terasa dingin saat menyentuh kulit pipinya.
"I love your smile." Kalimat Junghwan lebih terdengar seperti bisikan, tengkuk Doyoung meremang dibuatnya.
Jari besar Junghwan kembali bergerak dan berhenti tepat di dagunya, sedikit mengangkat wajah Doyoung agar sejajar dengan wajahnya.
"Can I?" Tanya Junghwan, tanpa perlu memastikan Doyoung tahu apa maksud dari pertanyaannya. Doyoung mengangguk, membuat Junghwan mulai bergerak mendekat untuk menyatukan bibir mereka.
Rasanya dingin, dan basah. Tidak sehangat kali pertama dan kedua Junghwan menciumnya.
Tangan Doyoung mencengkram kuat bahu Junghwan saat laki-laki itu membelah bilah bibirnya dengan lidah, menjilat seluruh bagian tanpa cela setelah menghisapnya tanpa jeda.
Doyoung mengerang ketika tangan Junghwan yang lain mendorong pinggangnya agar mendekat, sungguh saat yang tepat bagi Junghwan untuk melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut yang lebih muda.
Menyapa langit-langit mulut, bertemu dengan milik Doyoung yang terasa kaku karena ayolah, ini ciuman ketiganya.
Lidah mereka beradu di dalam, Junghwan membawa milik Doyoung untuk keluar dan dengan cepat ia menghisapnya, kaki Doyoung kembali lemas dibuatnya.
Kedua tangan Doyoung kini melingkar di leher yang lebih tua, menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah sementara Junghwan terus mengobrak-abrik isi mulutnya.
Junghwan mengecup bibir Doyoung sebelum mengakhiri sesi ciuman mereka, dengan napas terengah mereka saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
Keduanya melempar senyum termanis yang mereka punya, Junghwan mengusap bibir Doyoung yang basah dan sedikit bengkak dengan ibu jari, "Kok udah jago ciumannya? Diajarin siapa?" Tanyanya tiba-tiba.
"Diajarin dokterku yang gak profesional karena suka cium-cium pasiennya." Jawab Doyoung asal, ia mengeratkan pegangannya di leher Junghwan sebelum menyandarkan kepala di atas bahu yang lebih tua.
"Gendong dong, aku lemes banget abis ciuman."
...
di sini siapa yang gak pacaran tapi ciuman
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com