Chapter XI
"Cctv?" Tanya Doyoung saat melihat Junghwan sibuk mencari kamera pengintai itu di toko daring.
Setelah selesai membilas tubuh sehabis berenang tadi, keduanya memilih untuk bermalas-malasan di sofa ruang tengah. Doyoung yang duduk sembari mengunyah cokelat batang yang dibeli Junghwan tempo hari, sedangkan Junghwan sibuk mengutak-atik ponsel di tangan sambil berbaring dengan kepala di atas paha yang lebih muda.
What a lazy way to spend a day.
"Kalau nanti kakakmu dateng lagi, kita punya bukti buat masukin dia ke penjara." Ucap Junghwan, ia menekan tombol order sebelum mematikan layar ponsel dan fokus menatap Doyoung yang hanya mengangguk paham menanggapi kalimatnya.
"Mau dong."
"Apa?"
"Cokelatnya."
Doyoung tersenyum lalu menyuapi cokelat yang ada di tangan ke mulut Junghwan, "Makannya jangan sambil tiduran." Ucapnya kemudian.
"Gapapa sekali-sekali." Jawab Junghwan asal.
"Dasar dokter gadungan."
Keduanya tertawa, Doyoung membersihkan sisa cokelat di jari dengan tisu sebelum mengusap pelan kepala Junghwan yang ada di atas pahanya.
"Saya ngantuk kalau digituin, nanti malah tidur."
"Gapapa tidur aja," Balas Doyoung, netranya melirik jam besar yang tergantung di dinding. "Masih jam segini, nanti aku bangunin."
Junghwan menggeleng, ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan terlalu banyak tidur. "Laper gak? Buat ramen, yuk?"
"Aku baru makan cokelat?"
"Oh iya." Junghwan berpikir sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya, "Yaudah, saya mau buat makan malam aja."
Yang lebih tinggi beranjak dari tidurnya, duduk di sebelah Doyoung dan menyempatkan diri mencuri kecupan singkat di bibir merah mudanya, "Manis, makasih cokelatnya." Ucapnya, ia berjalan ke dapur, meninggalkan Doyoung yang terpaku di tempatnya sendirian.
So Junghwan memang tidak pernah gagal membuat Doyoung salah tingkah akhir-akhir ini.
Setelah menepuk-nepuk kedua pipinya yang memerah, Doyoung ikut bangkit dan menyusul Junghwan yang sudah sibuk dengan berbagai bahan makanan di dapur.
"Aku mau bantuin." Ucap Doyoung yang kini berdiri di sebelah Junghwan.
"Gak usah, kamu tunggu aja di sana." Tolak Junghwan sambil menunjuk kursi meja makan.
Doyoung menggeleng, "Mau bantuin," Ucapnya lagi, kali ini dengan nada manja. Kedua tangannya bergerak untuk melingkar di lengan Junghwan, "Dokter, Doyoung mau bantuin."
Dan bagaimana bisa Junghwan menolak jika Doyoung mulai bertingkah menggemaskan, ia mencuci tangan sebelum berbalik menghadap pasiennya yang menatapnya penuh harap.
"Yaudah, sekarang kamu ambil kentang dari kulkas terus cuci, baru kasih saya."
Senyum manis terukir di wajah yang lebih muda, dirinya mengangguk semangat lalu berjalan ke arah dapur sesuai instruksi Junghwan.
"Nih, terus mau diapain lagi? Dipotong? Biar aku yang potongin." Ujar Doyoung sembari menyerahkan kentang yang sudah bersih.
Tapi kali ini Junghwan kembali menggeleng, "Kamu gak boleh pegang pisau, ini juga udah hampir selesai jadi mending kamu duduk. Nanti kakinya sakit kalau berdiri terus, pasti pegel kan habis berenang?"
Bibir Doyoung merengut maju, padahal ia ingin bereksperimen dengan bahan makanan, dirinya hampir tidak pernah menyentuh kompor kecuali saat membuat ramen dulu.
Junghwan yang menyadari kalau Doyoung hanya diam sejak tadi mulai mengalihkan fokus, setelah memastikan semua bahan makanan sudah masuk ke dalam panci berisi air mendidih, ia pun mendekat ke arah Doyoung.
"Kenapa?" Tanyanya.
Tapi Doyoung tidak menjawab dan malah menghindari tatapan Junghwan, "Marah?" Tanya Junghwan lagi, dan Doyoung masih tetap diam.
Doyoung hampir berteriak saat Junghwan mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan, membuatnya duduk di atas kitchen counter di dekat lemari pendingin. Dari atas sini, dapat Doyoung lihat netra cokelat terang Junghwan yang menatap lurus ke arahnya.
"Maaf ya," Ucap Junghwan dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang yang lebih muda. "Lagian udah selesai kok masaknya."
"Dokter jelek." Umpat Doyoung.
"Iya saya jelek."
"Dokter bego."
"Iya saya bego."
Jawaban Junghwan membuat Doyoung makin kesal, ia mulai meronta dan hendak turun dari tempatnya, tapi kedua tangan Junghwan seakan menahannya untuk tetap diam di sana.
"Saya harus gimana supaya dimaafin?" Tanya Junghwan yang berdiri di antara celah kaki Doyoung.
"Gak tau." Jawab Doyoung ketus.
Sekuat tenaga Junghwan menahan diri untuk tidak menggigit pipi bulat pasiennya, Doyoung terlihat lucu saat merajuk, berbanding terbalik dengan Doyoung yang terbiasa dipenuhi amarah dan bertingkah gila.
Kepala Doyoung otomatis mundur saat melihat Junghwan mendekat, "Dokter stop ya cium-cium aku!" Omelnya.
"Kenapa? Gak mau?" Ucap Junghwan, ia mulai melepas pegangan di pinggang Doyoung namun dengan cepat Doyoung menahan.
"Bukan gitu, ih!" Protes Doyoung lagi, ia hanya kesal karena jika Junghwan menciumnya lagi, amarahnya pasti akan menguap dengan mudah sedangkan dirinya masih ingin dibujuk sekarang.
"Dokter So." Panggil Doyoung tiba-tiba, nada suara yang mendadak berubah membuat Junghwan menatapnya heran.
"Kenapa?"
"Sikap Dokter aneh akhir-akhir ini."
"Aneh gimana?"
"Ya aneh, suka peluk aku, cium aku, manggil aku sayang juga." Ucapan Doyoung diakhiri dengan ekspresi mual di penghujung kalimat, dan sukses membuat Junghwan terkekeh pelan.
"Terus, kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya, kenapa Dokter kayak gitu?"
Sebelah tangan Junghwan bergerak untuk mengusap pipi Doyoung yang memerah, "Menurut kamu?"
"Kenapa malah balik nanya?" Omel Doyoung lagi, membuat Junghwan mencubit pipinya gemas.
"I like you."
Here we are, the confession part.
"Kamu gimana?" Kali ini giliran Junghwan yang bertanya.
"Gimana apanya?"
"Your feelings."
Jelas tidak akan semudah itu bagi Doyoung untuk mengaku bahwa jauh sebelum ini, ia sudah jatuh terlebih dulu kepada Junghwan.
"Pegel soalnya nunduk terus." Canda Doyoung, dan siapa yang menyangka bahwa kedua tangan Junghwan dengan cepat melingkar di belakang pinggangnya, mengangkat tubuh yang lebih muda untuk bangun dari duduknya.
Dan bisa apa Doyoung selain berpegangan erat dengan kedua tangan yang melingkar di belakang leher Junghwan.
"Dokter! Nanti jatuh!" Protes Doyoung, ia masih teringat kejadian jatuh tertimpa Junghwan beberapa hari lalu, dia jelas enggan merasakan kesialan itu lagi.
Junghwan tidak menjawab dan memilih untuk terus berjalan menuju ruang tengah, membaringkan Doyoung di atas sofa panjang sebelum duduk di sisi kosong sebelahnya.
"Tunggu sini, saya mau lanjutin buat makanan dulu." Perintah Junghwan, ia hendak beranjak dari sana tapi dengan cepat Doyoung menahan gerakannya.
"Dokter."
"Mhm?"
Doyoung meneguk ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Kenapa, Doyoung?"
Yang lebih muda mengatur napas lalu ikut duduk di sebelah Junghwan, "Aku juga suka sama Dokter." Jawabnya.
Andai Doyoung tahu bahwa Junghwan tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari perasaannya, Junghwan juga paham kalau Doyoung terlihat enggan menerima semua sikap manisnya adalah sebab ia takut, takut dengan semua kemungkinan buruk yang terjadi di antara mereka.
"Terus?"
"Kenapa malah nanya aku? Dokter yang lebih tua di sini."
Junghwan tertawa, ingatkan dia untuk mengajarkan Doyoung cara mengatur emosi nanti. Karena sekarang, ia memilih untuk kembali mendorong Doyoung untuk berbaring, mengukungnya dengan kedua tangan di masing-masing sisi tubuhnya dan membubuhkan banyak kecupan di wajah Doyoung yang makin merah.
Doyoung pikir kegiatan Junghwan hanya sebatas itu, sekuat tenaga ia menahan desahan saat kepala Junghwan mulai turun, mengecup basah permukaan lehernya sebelum menjilat dan menghisap satu titik yang berhasil membuat desahannya meledak.
"Sekarang kamu punya saya." Ucap Junghwan, ia memandang tanda yang baru saja ia buat dengan senyuman bangga.
Sedangkan Doyoung hanya mampu membalas perbuatan Junghwan dengan cubitan keras di lengan, tenaganya seakan ikut dihisap habis oleh laki-laki yang terus menatapnya dari atas.
"Lemes ya? Padahal baru digituin doang."
Doyoung definitely wasn't going to admit that there was something hard down there, instead.
Dan lebih memilih untuk bangkit lalu menggigit bahu Junghwan dari balik kaos yang ia gunakan, Junghwan berani sumpah demi apapun yang ada di dunia kalau rasanya sakit bukan main.
"Sakit?" Protes Junghwan sambil mengusap bahunya.
"Biarin, itu tanda dari aku."
Kalimat Doyoung membuat keduanya tertawa, sebelah tangan Junghwan bergerak untuk mengusap rambut yang lebih muda. "Bandel." Ucapnya sambil mendorong pelan kepala Doyoung.
Bukannya menjauh, Doyoung justru bergerak maju dan mendekat dengan Junghwan, duduk tepat di sebelahnya hingga lengan dan lutut mereka saling bersinggungan.
"Dokter." Panggil Doyoung, ia menekan-nekan sebelah lengan Junghwan dengan telunjuk.
"Kenapa?"
"Mau cium." Ucapnya pelan, lebih terdengar seperti bisikan.
Junghwan tersenyum menang lalu menepuk pahanya sendiri, seakan meminta Doyoung untuk duduk di sana. Dan tanpa banyak bicara, Doyoung menuruti perintahnya, duduk tepat di atas paha Junghwan yang terasa nyaman.
Kedua tangannya melingkar di leher yang lebih tua, sedangkan tangan Junghwan mendorong pinggang Doyoung untuk lebih dekat dengan tubuhnya.
Kepala Doyoung bergerak miring seiring dengan Junghwan yang mulai mendaratkan kecupan di bibirnya, satu kali, dua kali, tiga kali. Dan di kecupan keempat Junghwan mulai menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian.
Tanpa sadar pinggul Doyoung mulai bergerak maju mundur, lidah Junghwan terus menari di dalam mulut, membuatnya ikut terbawa nafsu dan hampir kehilangan akal sehat.
Karena tiba-tiba hidungnya mencium bau gosong dari arah dapur.
Netra Doyoung terbelalak, ia menepuk kuat bahu Junghwan. "Dokter!" Protesnya.
"Kenapa?" Tanya Junghwan yang terpaksa mengakhiri sesi ciuman mereka.
"Kompornya! Dapurku nanti kebakaran!"
Dengan cepat Doyoung turun dari pangkuan Junghwan dan berlari ke arah dapur yang kini dipenuhi asap. Sepertinya mereka harus makan malam di luar hari ini, tentu setelah merapikan dapur yang terlihat seperti kapal pecah.
***
"Kamu gak terlalu laper kan?" Tanya Junghwan, Doyoung yang duduk di kursi penumpang pun menggeleng pelan.
"Kenapa emangnya?" Tanyanya.
"Kita ke tukang servis dulu, hpmu rusak udah berapa hari ini."
Ah, Doyoung hampir lupa. Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Junghwan membuatnya dengan mudah melupakan hal yang terjadi di luar.
"Yaudah." Jawab Doyoung sebelum kembali fokus menatap jalanan di depan.
"Jangan mikir aneh-aneh, kamu gak boleh banyak bengong." Ucap Junghwan, karena lebih baik ia berhadapan dengan Doyoung yang terus mengoceh dibanding yang hanya diam saat diajak bicara.
Rumah yang saat ini Doyoung tempati bagaikan benteng yang menghalangi segala hal buruk, membuatnya dengan nyaman menghabiskan waktu di dalamnya, ditambah kini ia memiliki Junghwan yang ikut tinggal.
Itu juga yang membuatnya kurang suka jika dipaksa keluar, melihat banyak orang berlalu-lalang membuatnya mual.
Doyoung mengalihkan pandang ke tangan yang terus digenggam hangat dengan sebelah tangan Junghwan, tanpa sadar ia terkekeh pelan karena siapa yang menyangka kalau dalam proses penyembuhan, dirinya malah mendapat bonus besar.
Ia jelas belum tahu bagaimana nasib mereka ke depan, tapi untuk sekarang Doyoung hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan Junghwan. Doyoung ingin mengalihkan semua ketakutan yang kakaknya sebabkan dengan bersenang-senang bersama Junghwan.
Junghwan memarkirkan mobil di depan ruko, meminta Doyoung untuk menunggu karena ia tidak akan lama di dalam, dan Doyoung menyanggupi.
"Kuncinya saya tinggal, kamu jangan keluar, ya? Kunci terus pintunya." Pesannya sebelum masuk ke dalam salah satu toko ponsel.
Ditemani dengan musik yang mengalun dari radio, Doyoung memandang ke luar jendela sambil duduk bersandar.
Doyoung hampir terlelap karena bosan sampai tiba-tiba, netranya menangkap sosok tidak asing yang berdiri tidak jauh dari mobilnya.
Itu kakaknya.
Dan ia hampir berteriak saat mata mereka bertemu, kaca mobil Doyoung tidak cukup gelap untuk membuatnya tidak dapat dilihat dari luar.
Dengan cepat Doyoung melepas seatbelt, memastikan bahwa pintu mobil masih terkunci dari dalam sebelum duduk di bawah jok.
Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, membuat suara debar jantungnya terdengar jelas.
Keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya, dalam hati Doyoung terus berdoa agar Junghwan cepat selesai dengan semua urusannya dan menyelamatkannya sekarang.
Entah sudah berapa menit berlalu, Doyoung mulai membuka mata karena mungkin kakaknya tidak menyadari bahwa Doyoung ada di sini. Dan suara kaca jendela yang digedor kuat membuat Doyoung terperanjat.
Doyoung hampir menangis saat melihat Junghwan yang berdiri di luar, dengan sisa tenaga yang ia punya, Doyoung mulai bangun dan menekan kunci yang ada di pintu pengemudi, membuat Junghwan masuk dan memandangnya heran.
"Kenapa?" Tanyanya dengan nada khawatir saat melihat wajah Doyoung yang pucat pasi.
Doyoung menggeleng, dirinya menutup wajah dengan kedua tangan sebelum benar-benar menangis. Entah sebab ketakutan yang mendadak datang, atau karena Junghwan yang lagi-lagi membuatnya merasa aman.
...
besok konflik deh ya aku udah bosen nih ngetik ciuman mulu ok ok ok
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com