Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XV

"Happy birthday, sayang."

Entah sudah berapa kali Doyoung mengucapkan selamat ulang tahun pada Junghwan, hari hampir pagi dan keempat penghuni rumah memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing tepat sebelum matahari terbit.

Sebuah pesta kecil-kecilan yang dapat membuat Doyoung senang, juga mampu membuat atensinya pada Sechan sedikit teralihkan. Ia tidak lagi bertanya bagaimana keadaan kakaknya, kecelakaan tadi siang seakan menguap begitu saja dari ingatannya.

Ya walau sesekali ia sangat ingin melepas plester di keningnya.

Dengan kepala di atas sebelah lengan Junghwan, telunjuk Doyoung tidak berhenti menekan pipi kekasihnya.

"Kamu mau hadiah apa?" Tanya Doyoung, Junghwan berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Mau sama kamu terus." Jawabnya.

"Serius! Nanti aku beli kalau udah mobilku udah keluar dari bengkel."

"Yaudah kalau gitu nanti aja, biar aku pikirin dulu." Jawab Junghwan asal sebelum menarik tubuh Doyoung untuk mendekat, sebelah tangannya yang lain kini melingkar di pinggangnya, telapak tangan Junghwan mulai menepuk pelan punggung kekasihnya.

"Tidur." Bisik Junghwan, ia sangat mengantuk sekarang, matanya bahkan mulai terpejam.

Tapi lain cerita dengan Doyoung, ia malah sibuk menatap wajah Junghwan, entah kenapa hari ini Junghwan terlihat sangat kelelahan.

"Ngapain?" Tanya yang lebih tua setelah Doyoung mengecup bibirnya singkat.

"Recharge energy, kamu keliatan capek banget."

Sebelah sisi bibir Junghwan terangkat, ia membuka mata dan disambut dengan Doyoung yang tidak berhenti menatapnya. Wajah Doyoung sangat lucu, plester luka di kening bahkan tidak mengganggu kecantikannya sama sekali.

"Cium yang bener dong." Pinta Junghwan, dan Doyoung tidak memiliki alasan untuk tidak mengabulkan permintaannya.

Tubuh Doyoung beringsut naik, menyejajarkan posisinya dengan yang lebih tinggi. Ia menangkup wajah Junghwan dengan kedua tangan, mengusap pipinya dengan ibu jari sebelum bergerak maju, membubuhkan banyak kecupan ke bibir penuh kekasihnya.

Kegiatannya seketika berhenti saat Junghwan meminta lebih, Doyoung tersenyum kala bibir bawah dan atasnya mulai dihisap bergantian. Kedua tangannya ikut berpindah ke belakang leher yang lebih tinggi.

Junghwan terus menarik tubuh Doyoung untuk mendekat agar tidak lagi ada jarak di antara mereka, kepalanya sibuk bergerak ke kanan kiri, memagut bibir Doyoung yang terasa manis makin hari.

Lenguhan pelan keluar dari yang lebih muda saat lidah Junghwan melesak masuk, menyapa isi mulut, membelai lembut miliknya sebelum beradu di dalam sana.

Dikecupnya ujung bibir Doyoung saat merasakan napas kekasihnya mulai terengah, kepala Junghwan bergerak turun, mencium leher Doyoung secara berulang, dijilatnya sesekali lalu tanpa aba-aba, Junghwan menghisap jejak basahnya sendiri.

Tanpa sadar Doyoung mendorong kepala Junghwan, menyalurkan semua hasrat tertahan ke rambut panjang kekasihnya.

Tangan Junghwan terus bergerak acak di balik baju tidur yang Doyoung gunakan, terasa hangat saat menyentuh kulitnya yang selalu kedinginan. Doyoung nyaris gila ketika Junghwan hampir menarik ujung kaosnya.

Suara desahan Doyoung membuat Junghwan sadar dari nafsu yang nyaris menggebu, ia menarik tangannya keluar, mengangkat kepala dan disambut dengan pemandangan paling indah yang pernah dirinya lihat.

Doyoung masih menutup mata, bibirnya bengkak karena dihisap tanpa henti, rambutnya berantakan karena kepalanya juga ikut bergerak kesana kemari, dan jangan lupakan beberapa bekas kemerahan yang Junghwan yakini tidak akan hilang dalam beberapa hari.

"Cantik." Puji Junghwan. Doyoung akhirnya membuka mata, seketika dirinya tersipu sebab dipandang dengan tatapan memuja oleh kekasihnya.

"Doyoung cantik banget, pacarnya siapa?" Tanya Junghwan, walau jelas ia sudah tahu jawabannya.

"Apa sih." Jawab Doyoung salah tingkah, ia menarik tubuh Junghwan untuk kembali berbaring di sampingnya.

Mereka kembali merengkuh tubuh satu sama lain, kepala Doyoung bersandar nyaman di dada Junghwan, ia hampir terlelap sampai tiba-tiba Junghwan memanggilnya.

"Sayang."

"Mhm?"

"I love you." Bisik Junghwan, nyaris tidak terdengar.

"Apa? Gak kedengeran." Protes Doyoung.

Junghwan terkekeh dibuatnya, "I love you, I love you so much." Ucap Junghwan lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras.

Doyoung mengangguk, tanpa Junghwan ucap juga Doyoung tahu kalau Junghwan benar-benar mencintainya, sebesar itu.

"I love you too." Balas Doyoung pada akhirnya.

Hening beberapa saat, Doyoung kira kekasihnya sudah tidur terlebih dulu, namun Junghwan kembali memanggilnya, membuat Doyoung terpaksa membuka mata.

"Sayang."

"Ya?"

"Aku boleh tanya sesuatu?"

Yang lebih muda mengangkat kepala, ia menatap Junghwan yang sibuk memandang langit-langit kamar, entah memikirkan apa.

"Tanya apa?"

"Pertama kali kakakmu ke sini, bisa kamu gambarin sosoknya?" Tanya Junghwan setelah mengalihkan pandang ke Doyoung yang bersandar di dadanya.

Junghwan dapat merasakan Doyoung yang mulai meremat baju yang ia gunakan, sebelah tangan Junghwan bergerak untuk menepuk punggungnya, berusaha menyalurkan sedikit ketenangan.

Dan berhasil, Doyoung tersenyum sambil memandang wajah Junghwan dari bawah.

"Dia... kayak biasa. Masih pake baju sekolah, sama jaket gang kebanggaannya. Rambutnya berantakan karena Sechan emang jarang rapi, padahal Papa beberapa kali ngomel soal itu."

Junghwan membalas senyuman manisnya, Doyoung menutup mata sejenak kala ia mengecup keningnya.

"Baju sekolah? Emang umurnya berapa?"

"Sechan tiga tahun lebih tua dari aku."

"Umur kamu dua empat, berarti dia dua tujuh, kan? Sayang, di umur segitu kakakmu masih sekolah?"

Doyoung menggeleng, "Udah enggak."

Senyum Junghwan masih belum luntur, ia juga terus memandang Doyoung dengan hangat, tidak menuntut, tidak ada atensi untuk mengajaknya berdebat, Junghwan hanya ingin mendengar jawaban Doyoung tanpa paksaan.

"You sure it was real?"

Pertanyaan Junghwan kembali dibalas dengan gelengan pelan, "Aku gak tau."

Junghwan mengeratkan pelukan, merengkuh tubuh rapuh kekasihnya yang mudah runtuh. Dan Junghwan berusaha keras untuk menguatkan, berusaha keras untuk membuat Doyoung tidak hancur karena terus diliputi rasa bersalah atas hal yang tidak ia lakukan.

"Sayang, If someday you saw him again, can you just remember our happy moment? Inget aja yang kita lakuin hari ini, inget kalau kamu berhasil bikin ulang tahunku jadi ulang tahun paling bahagia. Nanti kakakmu gak akan dateng lagi." Pinta Junghwan penuh harap, mata Doyoung mulai basah dan ia tahu kalau dirinya siap menangis kapan saja.

"Ssst, jangan nangis." Ucap Junghwan saat melihat Doyoung mulai menitikkan air mata, "Ini ulang tahunku, kamu gak boleh nangis." Lanjutnya sambil mengusap pipi Doyoung yang basah.

"Maaf." Bisik Doyoung pelan. Junghwan menggeleng, kembali mendaratkan kecupan di kening yang lebih muda.

"Gak perlu minta maaf, yang harus kamu lakuin cuma nurutin omonganku mulai sekarang. Aku janji gak akan biarin kamu sendirian, tiga orang di rumah ini bakal terus nemenin kamu supaya kamu gak ketemu Sechan lagi."

Doyoung mengangguk dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Junghwan.

"Pinter, sekarang tidur ya."

Senandung pelan yang keluar dari mulut Junghwan juga usapan tanpa henti di punggungnya membuat Doyoung tertidur pulas. Pagi itu Doyoung masih belum sepenuhnya sadar kalau kakaknya sudah pergi, tapi yang Doyoung pahami adalah Junghwan pasti akan terus tinggal dan menemani bahkan hingga ia sembuh nanti.

***

Tepukan pelan di sebelah wajahnya membuat Doyoung membuka mata, Junghwan duduk di sisi kasur sambil berusaha membangunkan kekasihnya.

"Wake up, Aurora." Bisik Junghwan dan dibalas dengan kekehan pelan.

"Kemarin Rapunzel, sekarang Aurora. Besok siapa?" Tanya Doyoung sambil mengusap mata yang terasa berat karena masih mengantuk, tadi malam ia tidur saat matahari hampir terbit karena Junghwan yang terus mengajaknya bicara.

"Ariel, aku mau liat kamu renang lagi terus menang dan bawa pulang medali emas lebih banyak."

Doyoung kembali terkekeh, ia bangkit dari tidurnya untuk duduk di hadapan Junghwan. "Good morning." Ucapnya setelah mengecup sebelah pipi yang lebih tua.

"Ini jam dua siang." Balas Junghwan, "Ayo turun, kamu masih harus minum obat jadi sekarang kamu makan dulu." Lanjutnya sambil berdiri di samping ranjang.

"Gendong." Ucap Doyoung sambil merentangkan kedua tangan, dan bisa apa Junghwan selain menurut, mengangkat tubuh yang lebih muda dengan kedua tangan lalu berjalan ke kamar mandi yang ada di ujung ruangan.

Dengan hati-hati Junghwan menurunkan Doyoung untuk duduk di samping wastafel, "Cuci muka dulu terus gosok gigi." Perintahnya.

Doyoung menggeleng, "Males cuci muka, mau gosok gigi aja. Bantuin." Rengeknya manja.

Sekuat tenaga Junghwan menahan gemas, ia meraih tisu basah dari dalam laci dan mengusap wajah kekasihnya perlahan. "Cantiknya." Ucap Junghwan setelah memastikan tidak ada sisi wajah Doyoung yang belum ia bersihkan.

Pipi Doyoung bersemu dibuatnya, Junghwan kembali meraih sikat gigi milik kekasihnya, mengoles pasta gigi di ujungnya dan kembali berdiri di hadapan Doyoung. "Senyumnya mana, cantik?" Seketika Doyoung tersenyum, memamerkan deretan gigi miliknya.

"Hari ini yang masak Asahi sama Jaehyuk karena aku telat bangun tadi, tapi makanannya aku jamin enak." Ucap Junghwan di sela kegiatan, dan Doyoung hanya dapat mengangguk sebagai jawaban.

Junghwan membantu Doyoung untuk berkumur sebelum kembali mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan, dan ia sedikit terkejut saat Doyoung mengecup bibirnya singkat. "Ucapan terima kasih." Ucapnya.

"Segitu doang? Kurang." Protes Junghwan.

"Semalem kan udah banyak." Sanggah Doyoung.

"Ulang tahunku masih berlanjut sampe jam dua belas nanti."

"Yaudah nanti malem lagi, ih! Kamu kayak remaja kelebihan hormon tau nggak?"

Bibir Doyoung merengut maju saat Junghwan menurunkannya di atas ranjang, "Katanya mau makan?" Protesnya.

"Jalan sendiri aja." Balas Junghwan yang justru berjalan ke arah pintu, Doyoung menyusul langkahnya dengan cepat dan berhasil menarik sebelah tangan Junghwan agar ia berhenti.

Kedua tangan Doyoung menangkup pipi Junghwan, ia bahkan harus sedikit berjinjit untuk kembali mencium bibir kekasihnya. Doyoung masih belum paham caranya tapi setidaknya, ia berusaha.

Berusaha untuk mencium Junghwan seperti apa yang kekasihnya lakukan tadi malam, tapi ia justru menggigit bibir bawah Junghwan dengan kuat, terlampau kuat hingga Junghwan mengerang kesakitan.

"Oh my God." Doyoung hampir teriak saat melihat darah di sudut bibir yang lebih tua.

"Dasar newbie." Omel Junghwan sambil mengusap ujung bibirnya, "Brutal banget sih sampe berdarah gini?" Lanjutnya lagi ketika menyadari kalau Doyoung memandangnya dengan tatapan bersalah.

"Maaf, maaf aku gak sengaja."

Kali ini Junghwan tertawa, ia meraih tangan Doyoung yang ada di wajahnya dan mengecup punggung tangan kekasihnya dengan lembut.

"Gapapa, gak sakit kok." Ucapnya berusaha menenangkan dan ia kembali merentangkan kedua tangan, "Mau digendong lagi gak?"

Namun Doyoung justru tersenyum jahil, ia sedikit mendorong tubuh Junghwan sebelum berlari ke luar ruangan. "Udah hampir sebulan tinggal bareng tapi kamu masih bloon aja." Ledeknya setelah menjulurkan lidah.

Karena sebenarnya ia sengaja menggigit bibir Junghwan, siapa suruh terus meminta ciuman padahal kini ada dua orang lain yang tinggal bersama mereka. Junghwan memang harus diberi pelajaran.














...

apa bener hwanbby a nya aduhkalianputusya

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com