4 - Sharing Problems
Setelah berita kehamilan sampai ke ibuku dan mom Anne, mereka mengirimiku pesan singkat setiap harinya. Begitu juga dengan anggota keluargaku yang lain seperti Dee, Billy, Gemma dan Mike. Mereka sangat perhatian. Aku diperintahkan untuk pulang saja karena khawatir akan kondisi kehamilanku. Tapi aku lebih senang di sini. Aku memiliki teman yang baik. Perrie, Ele dan Sophia sangat menjagaku. Apalagi awal mula kehamilanku yang kurang baik.
Meski semakin hari sikap Harry semakin dingin, aku merasa hendak berhenti saja peduli. Toh, ia memang pria yang seperti itu.
***
Malam ini di sebuah konser, aku sedang duduk dan bercanda bersama the girls di bangku stadium. Sementara the boys saat ini sedang istirahat sejenak, mereka berganti kostum di belakang panggung.
Aku melihat ada penonton yang menatapku tajam. Awalnya aku tidak peduli, tetapi lama kelamaan tatapan mata kami semakin sering bertemu. Dan tatapannya seolah menunjukkan keagresifannya padaku. Aku takut. Jujur, tentu saja aku takut. Meski aku merasa tidak punya musuh selama ini.
"Aku mau pergi ke tempat Lou sebentar ya, girls," kata Ele lalu bangkit dengan bersusah payah karena perutnya yang membuncit, ia tengah hamil tua.
"Aku ingin ke toilet deh. Kalian bagaimana?" tanya Perrie padaku dan Sophia.
"Aku sedang tidak ingin, Pez."
"Ayo denganku saja. Aku juga kebelet," balas Sophia yang sudah sigap berdiri untuk ke toilet.
"Hati-hati, Ann," pamit Perrie dan Sophia lalu mereka bergegas ke toilet.
Aku masih duduk dengan santai pada bangkuku. Kupandangi layar ponsel. Melihat-lihat foto konser malam ini yang beredar di timeline twitterku.
Tiba-tiba saja ada seorang wanita duduk di sebelahku. Tempat duduk milik Perrie—yang duduk persis di sebelahku.
"Maaf, sepertinya kau salah seat?" tanyaku ramah pada si wanita.
"Oh, Anna! Aku tahu ini benar-benar kau!" katanya girang, tidak sama sekali menggubris pertanyaanku.
"Eum? Ada apa ya?" tanyaku diselangi dengan sebuah senyuman.
"Boleh aku minta tanda tangan, please?" tanyanya kemudian menyodorkan sebuah notebook lengkap dengan pulpen.
"Sure. Tapi tidak berfoto kan? Di sini gelap," balasku sembari terkekeh, masih fokus dengan notebook yang kutandatangani.
Saat aku menatap ke arah wanita itu mulutku dibekap dan aku mencium aroma tajam yang membuat hidungku seperti tertusuk-tusuk.
Perrie's pov
Aku kembali dengan Sophia dari toilet. Menemukan Anna yang berdarah-darah pada bagian pergelangan tangan, terlihat urat nadinya tersayat. Aku sangat panik dan langsung mengguncang-guncang tubuh Sophia untuk memberitahu Sophia keadaan Anna.
Sophia yang sama paniknya denganku menutup mulutnya karena begitu terkejut. Lalu dia berinisiatif untuk membawa Anna ke belakang panggung untuk meminta pertolongan pertama.
Sampai di belakang panggung semua kru mengalihkan pandangannya pada kami. Aku yang terengah-engah bersama Sophia karena beratnya Anna langsung berteriak untuk bantuan. Untungnya mereka cepat tanggap dan melarikan Anna ke rumah sakit terdekat. Aku sangat takut dia kehabisan darah, karena aku tidak tahu sudah berapa lama Anna dengan kondisi seperti itu.
"Apa yang terjadi, Perrie?!" tanya Harry galak padaku saat ia keluar dari ruang ganti bersama the boys. Ele juga ada di sana.
"Istrimu. Aku tidak tahu. Tadi Ele kesini, sementara aku dan Sophia ke toilet. Anna bilang tidak ingin ke toilet, maka aku meninggalkannya di tempat duduk. Saat aku kembali dia sudah pingsan dengan keadaan tangan berdarah-darah seperti habis disayat. Mengerikan Harry!" jelasku panjang lebar pada Harry.
"Lalu dimana dia sekarang?!" tanya Harry lagi, kali ini air wajahnya berubah khawatir.
"Sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh kru. Kau tenang saja di sini. Aku, Ele dan Sophia akan segera ke sana dan memastikan ia baik-baik saja untukmu, Har" kataku menenangkan Harry.
"Tidak bisa! Dia kan istriku. Masa aku di sini diam saja menunggunya dari kejauhan!" bentaknya kasar padaku.
"Bersikaplah profesional, Har. Konsernya kan akan segera selesai sejam lagi!" ucapku balik membentak Harry.
"Calm down, baby," peringat Zayn seraya memeluk pinggangku.
Segera aku putar arah agar dapat bertatap muka dengan Zayn. "Aku pergi dulu, baby. Kasihan Anna di sana sendirian. Bye," kukecup Zayn singkat lalu mencari Ele dan Sophia yang sudah siap untuk berangkat.
***
Di rumah sakit ternyata dokter sedang mencari donor darah yang cocok untuk Ann. Benar saja dugaanku, dia kehabisan banyak darah karena urat nadinya terpotong cukup dalam.
Golongan darah Ele cocok dengan milik Anna tetapi dia tidak diizinkan karena sedang mengandung. Jadi aku terpaksa menelepon Harry agar dia menemukan donor darah secepatnya untuk Anna.
Dasar Harry. Dengan santai menjawab beri saja darah yang tersisa di rumah sakit dan mengatakan ia sedang sibuk. Harry benar-benar aneh. Sesaat dia bisa sangat khawatir terhadap Anna dan lain waktu dia bisa jadi sangat dingin. Padahal sepertinya rumah tangga mereka baik-baik saja.
Akhirnya aku, Ele dan Sophia terpaksa turun ke sosial untuk mencari donor darah. Beruntungnya ada seorang directioner yang bersedia dan datang ke rumah sakit. Sebagai imbalannya kami memberi tanda tangan kelima anggota juga tanda tangan kami beserta beberapa buah tangan asli dari toko One Direction.
Cukup lama Anna tidak sadarkan diri. Aku sangat khawatir karena dia sedang mengandung. Setelah tiga hari menunggu, akhirnya Anna sadarkan diri pada pagi hari, membuatku dan Sophia tersentak karena ada suara erangan kesakitan. Sementara Ele pulas tertidur karena ia bilang butuh istirahat.
"Ukh," erang Anna.
"Anna kau sudah siuman?!" tanyaku panik.
"Perrie?" tanyanya balik dan bermaksud mengangkat tangannya.
"Hei hei jangan diangkat dulu!" kataku panik langsung menghambur ke hadapannya.
"Kenapa? Akh! Sakit.." Anna merintih.
"Kan sudah kubilang. Keras kepala sekali persis seperti Harry," ujarku menggodanya.
"Ah iya, dimana dia? Aku dimana?" tanyanya menyadari asingnya tempat ini.
"Ini di rumah sakit," jawabku.
"Loh, jadi dimana Harry?" tanyanya masih keras kepala mencari keberadaan suaminya. Ergh.
"Dia tetap konser bersama the boys. Teganya Harry tidak menjengukmu kesini selama tiga hari ini kau pingsan," balasku lagi secara perlahan, takut-takut dia tersinggung dengan opiniku pada Harry.
"Tak apa. Harry harus profesional dengan kariernya," tanggap Anna yang terlihat melemas.
"Oh iya, kenapa aku bisa di sini? Seingatku kemarin malam kita ada di konser," kata Anna mengoceh berusaha mengalihkan topik tentang Harry.
"Anna sadarlah. Kau sudah tiga hari tidak siuman. Kau jatuh pingsan dengan keadaan pergelangan tangan tersayat. Siapa yang tega melakukan ini semua padamu Ann?" tanyaku kemudian, air mataku begitu saja jatuh menuruni pipiku. Aku sangat sedih melihat Anna yang tidak diperhatikan suaminya, juga dia tidak memperhatikan diri sendiri.
"Aku tidak ingat, Perr. Waktu itu ada seorang directioner yang meminta tanda tanganku, lalu gelap semua," katanya menerawang, berusaha mengingat kejadian malam itu.
"Sudahlah, Perrie. Sebaiknya kau makan dulu, Ann" kata Sophia bijak menengahi kami. Dia benar juga, Anna tidak makan selama tiga hari. Kasihan bayinya.
"Iya! Anna ayo sarapan! Sudah ada bubur yang diantar suster pagi ini," ucapku semangat lagi.
"Terima kasih. Tapi nanti saja makannya aku belum lapar," jawabnya sambil memaksakan senyum dan pura-pura tidur.
"Ayolah, Annaaa," rajukku.
"Baiklah," balasnya menyerah. Hehe, ampuh kan.
Sambil Anna makan, kami semua bertukar cerita. Sampai-sampai Ele yang sedang nyenyak tidur terbangun karenanya. Jadi kami berempat tertawa bersama dan berbagi cerita. Namun ketika kami tanya tentang hubungan Anna dan Harry dia selalu bilang semuanya baik-baik saja, kami tak perlu mengkhawatirkan mereka dan mengalihkan pembicaraan. Aku tidak tahu apa hanya aku yang merasakan keanehan Anna atau semuanya juga merasakan hal yang sama. Tetapi jelas bahwa Anna dan Harry punya masalah, mereka harus menyelesaikannya sebelum masalah ini semakin rumit.
"Ann, kali ini aku serius. Ada masalah apa dengan Harry?" tanyaku serius dan memandang Anna dengan ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa kok. Ini semua hanya karena Harry sibuk sehingga dia belum punya waktu untuk lebih mengenalku. Kalian tidak perlu khawatir," jawabnya lalu tertawa.
"Jadi bagaimana dengan kandunganmu, Ele? Kau sudah mengeceknya? Bayinya laki-laki atau perempuan?" lanjutnya lagi dengan ceria.
"Anna!" bentakku dan Ele berbarengan.
"Ya?" dia merespons dengan bingung.
"Beritahu kami ada masalah apa kau dengan Harry? Jangan sungkan. Kau sudah jadi bagian dari keluarga kami semenjak kau menikah dengan Harry," kataku pada akhirnya mendesak Anna.
"Sungguh tidak apa.." ucapnya lirih. Dan terlihat setitik bulir air mata jatuh dari ujung matanya.
"Anna, please?!" sedikit kudesak Anna agar ia mau membicarakan masalah yang ia miliki dengan Harry.
"Sudah, Perrie. Sebaiknya kita segera istirahat. Jangan mendesak Anna. Mungkin dia belum siap bercerita pada kita, Per," ujar Sophia dengan lembut, berusaha menenangkan apiku yang meledak-ledak.
"Baiklah.." sahutku sambil pergi keluar pintu kamar. Sophia dan Ele tinggal untuk menjaga Anna. Aku keluar sebentar untuk cari angin dan menenangkan diri. Aku hanya kasihan pada Anna yang terus-terusan begitu.
***
Ann's pov
Setelah kejadian hari itu aku masih tetap berhubungan baik dengan the girls. Aku yang sudah siuman akhirnya dipulangkan ke rumah mom Anne karena takut aku mengalami hal-hal serupa. Sementara Harry masih terus melanjutnya tur dunianya sampai akhir tahun nanti. Padahal aku ingin lebih dekat dengan Harry dengan cara ikut dengannya dalam tur tersebut.
"Anna, ada telepon dari Harry," panggil mom Anne.
"Ya sebentar, mom," sahutku dari halaman belakang rumah. Saat ini aku sedang duduk santai dengan Gemma.
Langsung saja ku sambut telepon dari Harry dengan gembira.
"Ada apa?" tanyaku ceria pada Harry.
"Take care the baby by yourself. Jangan merepotkan aku lagi. Kau tahu kan aku sibuk. Seberapa banyakpun biaya yang kau butuhkan akan aku beri. Tapi tolong jangan minta perhatianku," katanya tajam. Menyakiti hatiku dengan sangat.
"Orang tuaku masih mampu memberiku uang untuk membesarkan anak ini. Sudahlah tidak usah lama-lama teleponnya, kau kan sedang kerja. Bye," balasku tanpa ekspresi. Padahal aku mati-matian menahan air mataku dan menahan suaraku agar tidak bergetar.
Aku sangat sedih dengan keadaanku sebagai Mrs. Styles sekarang ini.
Aku langsung masuk ke kamar Harry dan mengunci pintu. Aku menangis sejadi-jadinya di atas bantal agar tidak ada yang mendengar. Silent cries. Sangat menyedihkan menikah diwarnai dengan isak tangis.
Aku merasa dadaku sangat sesak. Kupukul dengan kepalan tangan, berharap sakit itu akan segera hilang. Di saat itu, pintu kamar diketok sebanyak dua kali dari luar.
"Anna, the girls datang ingin bertmu dengamu. Ayo keluar," panggil Gemma.
Aku segera merapihkan diri agar tidak terlihat seperti habis menangis.
"Hey," sapaku sekeluar aku dari kamar.
"Anna keadaanmu sudah lebih baik? Aku rindu padamu," kata Perrie lalu memelukku.
"Kami bawakan ini, babe," ujar Eleanor kala menyodorkan kepadaku sebuah bungkusan warna-warni, sangat cantik.
"Apa ini, Ele?" tanyaku.
"Buka saja. Tapi nanti ya. Karena kita akan mengajakmu jalan-jalan. Yah, hanya sekedar nongkrong di café. Bagaimana? Kau mau kan?" tanya Ele dengan wajah yang sangat berharap.
"Oke, aku ikut. Tapi aku ganti baju dulu, ya?" pintaku pada keduanya.
"Pastinya," mereka tertawa.
Kami pergi ke sebuah café yang menawarkan suasana tenang dan pas sekali untuk berbincang.
Pertama kami membicarakan hal-hal ringan seperti halnya menjadi istri yang baik dan sebagainya. Namun, setelah itu pembicaraan mengarah kepada yang lebih serius. Aku agak curiga mereka akan memaksaku menceritakan ada apa antara aku dan Harry. Pasti.
"Oh iya, ngomong-ngomong lama sekali ya mereka turnya," kata Perrie.
"Iya, aku rindu bermanja dengan Liam," sambung Sophia.
"Bagaimana denganmu, babe? Apa Harry masih khawatir tentang peristiwa waktu itu?" tanya Ele padaku.
"Ya, dia masih suka menanyai kabarku. Setiap hari dia mengirim pesan singkat, untuk membuatku senang, hehe," ucapku berbohong. Bohong besar tentu saja.
"Benarkah? Kok Lou sering mengeluh dengan kelakuan Harry yang jarang meneleponmu," kata Ele. Mati aku. Tamat sudah nasib rahasiaku.
"Benar kok. Mungkin Lou saja yang tidak melihat saat Harry meneleponku?" jawabku yang terdengar ragu-ragu.
"Trust us, dear. Kenapa kau menyembunyikan masalah yang kau hadapi saat ini?" tanya Sophia yang langsung menohokku.
"Me- menyembunyikan apa? Hahaha," jawabku dengan tawa yang dibuat-buat.
"Menyembunyikan bahwa Harry berlaku kejam selama ini. Right, girls?" kata Ele meminta persetujuan Perrie dan Sophia.
"Uhh, maafkan aku..." kataku lirih pada akhirnya.
"Kami tidak masalah bila kau berbohong pada kami. Hanya saja kami tidak ingin melihatmu menderita. Kau bisa berbagi masalah pada kami," kata Ele sambil menenangkan aku yang mulai menangis.
"Aku...tidak ingin ada yang tahu bahwa pernikahan kami rumpang, berantakan, dan hanya dilandasi keterpaksaan.." ucapku sambil menangis dipelukan Ele.
"Apakah kau akan membiarkan kami tahu dan membantumu, Anna?" tanya Perrie merajuk.
"Tentu," jawabku singkat dan menyeka air mata yang membasahi pipiku.
Lalu kuceritakan semua tentang pernikahan ini hingga yang paling buruk.
"Aku pikir Harry sangat penyayang?" tanya Sophia pada Ele dan Perrie. Mereka mengangguk setuju.
"Dulu saat jadi fans, aku juga berpikir begitu," kataku terkekeh.
"Tapi tenang saja, aku tidak yakin bila dia tidak mencintaimu?" ujar Perrie seolah hendak meyakinkanku tetapi ia sendiri tidak yakin.
"Tentu saja dia tidak menyukaiku sedikit pun. Dia selalu menolak kehadiranku, kami bahkan tidak tidur satu kamar. Hampir tak satu rumah. Asal kalian tahu saja," ceritaku, menerawang betapa kesepiannya aku sendirian di flat. Ah, semoga bayi ini cepat lahir walaupun Harry tidak akan menyukainya.
"Aku harap pernikahan ini akan membaik ketika bayimu lahir," ucap Sophia prihatin.
"Semoga saja. Walaupun dia bilang dia akan membiayai anak ini tapi dia tidak membiarkan anak ini mendapat perhatiannya, sayang sekali," kataku lirih.
"Tenang saja. Dia pasti luluh dengan bayi ini. Harry sangat menyukai anak kecil, Ann," kata Ele dengan keyakinan besar.
"Terima kasih, ya. Aku lega bisa berbagi dengan kalian," kataku sambil tersenyum tulus. Mereka semua sahabatku yang baik. Aku sangat beruntung mengenal mereka.
***
-Author's note-
Hiii, readers.
Sorry baru upload. Baru inget kalo udah lama ga lanjut hihi.
Maafkan juga typo(s) nya yaa.
Semoga part ini cukup layak untuk dibaca.
Untuk next part ga akan lama-lama deh hehe.
Warm regards♡
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com